Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25.
"Walaupun sudah punya calon istri tetap saja kepikiran, Bun! Untuk membahagiakan calon istri kita nanti," timpal Rafan pada bunda-nya.
"Memang benar, Fan! Menjalani kehidupan itu tak semudah membalikan telapak tangan, banyak rintangan yang harus kita hadapi dengan kesabaran, bunda harap kalian menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab."
"Aamiin! Insya Allah, Bunda!"
Selesai makan Rafan dan Doni menyuruh bunda untuk istirahat, karena Doni dan Rafan yang akan mengerjakan pekerjaan rumah, membereskan meja makan, dan yang lainnya.
"Nggak usah Fan, Don, biar bunda saja yang mengerjakan! Itu-kan pekerjaan perempuan?"
"Bunda! Pria pun tidak masalah mengerjakan pekerjaan rumah! Lagian, Rafan sudah terbiasa membereskan apartemen Rafan sendiri."
Bunda akhirnya mengalah, dan memilih untuk beristirahat di sofa.
Bunda melihat keakraban Doni dan Rafan bagaikan saudara kandung mereka bercanda dan tertawa bersama, berbeda dengan Afandi. Walaupun dia kakak kandung Rafan tapi sikapnya sangat cuek dan kurang peduli terhadap adik-nya sendiri. Hati Bunda merasa sedih bila teringat akan kisah putra bungsu-nya yang selalu diacuh-kan oleh ayah-nya sendiri, cuma karena Rafan menolak sekolah di luar negeri ayah-nya sampai tega bersikap dingin dan juga acuh kepada putra kedua-nya itu, padahal sikap Rafan penuh dengan kasih sayang, perhatian, juga dia sangat peduli dengan keadaan sekitar-nya.
Bunda hanya bisa berandai-andai bila Afandi dan Rafan bisa seakrab itu dan juga saling peduli satu sama lain. Bunda berharap suatu saat nanti ayah-nya akan memberikan kasih sayang yang sama seperti yang diberikan kepada Afandi, tak terasa air matapun menetes di pipi, hanya doa yang bisa ia panjatkan untuk ke-dua anak-nya.
Bunda segera menghapus air matanya karena tak mau Rafan melihatnya, ia akhirnya tertawa karena melihat Rafan memakai afron terlihat sangat lucu.
"Fan! Bunda jadi nggak sabar pengen punya mantu dari kamu! Ayolah Fan, kenalkan pacar kamu kepada bunda, bunda sudah kepengen menimang cucu, Fan?"
Doni menyikut lengan Rafan. "Wah! Kode keras tuh Fan! Bunda minta calon mantu tambah cucu lagi.
Bisa enak-enak tiap malam lo, Fan?" Doni pun tertawa geli, apalagi melihat ekspresi Rafan yang sangat lucu menurut Doni membuat dia tertawa semakin keras.
Rafan merasa jengkel ditertawakan seperti itu oleh Doni, pikiran jailnya pun muncul, dia memasukkan sepotong roti ke mulut Doni membuatnya menjadi tersedak.
Doni segera mengambil air minum. "Sialan lo, Fan! Tapi enak juga tuh roti, ada lagi nggak?" ujar Doni sambil terus tertawa.
"Huh! Dasar perut karet!" ujar Rafan sambil beranjak pergi meninggalkan Doni yang sedang tertawa, dia menghampiri bunda-nya yang sedang duduk disofa, bunda pun terlihat tertawa melihat kelakuan Doni dan Rafan.
"Kalian itu sangat lucu! Bunda senang melihat keakraban kalian, seandainya saja kamu dan Afandi bisa seakrab itu, bisa bercanda bersama, mungkin itu akan sangat menyenangkan." Ujar bunda dengan wajah sendu-nya.
Hanya pelukan yang Rafan bisa berikan untuk bunda-nya saat ini.
"Lo beruntung banget, Fan! Memiliki seorang bunda yang sangat sayang dan juga mendukung lo," batin Doni.
"Kok malah bengong Don! Sini peluk bunda bersama-sama dengan Rafan," ujar bunda dengan senyuman-nya yang sangat lembut."
Semenjak pertemuannya dengan Rafan di restoran milik Safira, Askana lebih banyak melamun dan berdiam diri di dalam kamar, ia sungguh tak percaya pria yang telah menodai-nya ternyata dia itu adalah laki-laki yang sedang disukai oleh sahabatnya sendiri.
"Aku sangat benci pria itu! Benci!" Askana memukul-mukul guling yang dia pegang, ia menahan tangisnya karena takut terdengar oleh ibu-nya.
Hatinya sangat terasa sakit, bahkan lebih sakit, pertemuannya kembali dengan pria itu membuat Askana merasa frustasi, ia kembali mengingat perlakuan pria itu terhadapnya, yang sudah merenggut kehormatannya dalam semalam.
Askana tak kuasa lagi menahan tangisnya, akhirnya airmata-pun pecah, lolos membasahi pipi-nya, tangisan itu menjadi semakin keras dan tak tertahankan.
"Ana! Apakah kamu menangis? Kenapa dari pagi sampai sekarang kamu juga belum keluar kamar, ibu sangat khawatir!" ujar Bu Assyifa sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Askana.
Bibir Askana tak mampu lagi untuk menjawab pertanyaan ibu-nya, untuk membuka pintu-pun kaki-nya sangat terasa lemas seakan sulit untuk melangkah.
Bu Assyifa tidak hentinya mengetuk-ngetuk pintu kamar Askana karena dia begitu sangat khawatir.
"Ana! Buka pintunya? Kamu juga belum makan dari pagi."
Askana tersadar, bahwa dia sudah mengacuhkan ibu-nya sendiri. "Tidak, Ana! Kamu nggak boleh begini, kamu harus kuat!" Askana menyemangati dirinya sendiri, walaupun sebenarnya sangat berat untuk ia rasakan dengan terus berpura-pura tegar.