Jodoh itu misteri, siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak, tak seorang pun mengetahuinya.
Sejak masih belia, Rian dan Dina dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang berkawan baik.
Mereka tidak kuasa menolak perjodohan, hingga pernikahan pun terjadi dan membuat orang yang mereka cintai patah hati.
Maretha, mantan pacar Ryan, yang terpaksa harus menikah dengan calon suami kakaknya.
Serta Fardhan, yang setengah hati menerima pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya, berharap bisa segera move-on dari Dina.
Apakah Ryan jodoh sejati untuk Dina? Bagaimana dengan para mantan, Maretha dan Fardhan?
Akankah rumah tangga mereka bertahan atau berpisah menjadi keputusan akhir mereka?
Bagaimana dengan para mantan yang patah hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Datang dan Pergi
Ryan sudah memarkirkan motornya beberapa saat yang lalu. Tapi Dina masih belum turun, tetap di atas motor memeluknya.
"Turun, Din udah nyampe..." Ryan berkata sambil mengusap lembut tangan Dina.
Ryan bukannya tidak senang, Dina memeluknya sangat erat, tapi saat ini mereka di luar rumah, risih jika ada tetangga yang melihat dan menggoda.
Tidak ada respon apapun dari Dina. Ryan membuka helmnya, dan menoleh ke belakang. Alangkah kagetnya saat melihat mata Dina tertutup rapat.
"Dina kamu tidur." Teriakan Ryan yang sedikit keras, terasa seperti bentakan untuk Dina. Sontak Dina melepaskan pelukannya pada Ryan. Dalam ingatan Dina, Ryan masih mendiamkannya. Dengan bentakan yang, dia dengar tadi membuat Dina menarik kesimpulan jika Ryan memang marah kepadanya.
Dina turun dari atas motor dengan tergesa, bahkan Dina yang belum seratus persen sadar, nyaris limbung, jika Ryan tidak menahannya.
"Pelan-pelan, Din..."
Tanpa di duga, Dina menepis tangan Ryan yang memegang lengannya. Sebagai bungsu dan anak perempuan satu-satunya, membuat Dina selalu dimanja oleh kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Bentakan Ryan tadi, sangat membuatnya kaget dan menyakiti hatinya.
Ryan melihat mata Dina berkaca-kaca, dia membuka pintu dengan tergesa dan dengan cepat masuk ke rumah, tak sadar jika masih mengenakan helm. Ryan masih terpaku di tempatnya melihat Dina.
Setelah memarkirkan motor di atas teras, Ryan masuk ke rumah mencari istrinya. Ryan duduk di atas tempat tidur, menunggu Dina yang masih di kamar mandi. Ryan memijat pelipisnya, harusnya dia yang marah pada Dina, kenapa sekarang jadi terbalik seperti ini.
Cukup lama, Dina tak kunjung keluar, hingga saat Ryan hendak mengetuk pintu kamar mandi, Dina keluar dengan mata merah dan pipi sembab.
Dina berlalu seolah tidak melihat Ryan, namun tangannya segera dicekal oleh Ryan.
"Kamu nangis, kenapa?" tanya Ryan panik, dalam benaknya dia memikirkan kesalahan apa yang dia lakukan sampai membuat Dina menangis.
Dina tetap diam, dia berusaha melepaskan cekalan tangan Ryan, namun tenaga Ryan tak dapat dikalahkan olehnya. Ryan menuntun Dina ke arah tempar tidur, mendudukkannya di sana.
"Aku minta maaf jika ada salah, tapi jangan diam saja, aku nggak tahu apa salahku." Ryan duduk berjongkok di hadapan Dina, memegang tangan Dina dan menatap istrinya yang menundukan kepala.
"Pliiiis, kita udah berjanji untuk saling terbuka," lanjut Ryan lagi.
Dina memandang mata suaminya
"Tadi di toko kakak mendiamkan aku tanpa sebab, tapi aku nggak suka kakak bentak aku."
"Aku bentak kamu, kapan?"
"Tadi di atas motor."
Ryan tampak mengingat.
"Ya Alloh, Din. Aku bukan bentak kamu, aku cuma kaget, ternyata kamu tidur di atas motor, itu berbahaya, Din. Tahu nggak kamu, tadi aku menjalankan motor dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai rumah. Kalau tadi sampai terjadi sesuatu sama kamu, aku nggak akan bisa memaafkan diri aku selamanya.
Jadi aku nggak ada maksud bentak kamu, tadi aku spontan saja berteriak."
Ryan bangun dari duduknya, duduk di samping Dina, menarik badannya hingga berada dalam rengkuhannya.
"Kakak kenapa mendiamkan aku tanpa sebab?"
"Aku nggak suka kamu senyum-senyum sama si tiang listrik itu."
"Tiang listrik?"
"Itu tuh mantan kamu yang tinggi kayak tiang listrik."
"Astagfirulloh, ka... Nggak baik iih menghina orang kayak gitu."
Ryan menarik tangannya yang membelit tubuh Dina.
"Trus aja belain," rutuk Ryan kesal. Dia mengubah duduknya membelakangi Dina.
"Bukan belain dia, justru aku belain kakak. Mengingatkan suami aku, jika menghina orang itu nggak baik. Sebagai suami istri kan harus saling mengingatkan dalam kebaikan," Dina berkata lembut, tangannya masuk ke pinggang Ryan, memeluknya dari belakang. Dina meletakan dagunya di pundak suaminya.
Ryan menyunggingkan senyum samar, senang karena Dina memikirkan kebaikan untuknya, senang karena dipeluk oleh Dina.
"Tapi ingat, kamu jangan senyum lagi sama dia... eh sama laki-laki lain juga, senyum itu hanya buat aku, hanya boleh senyum di hadapan aku."
"Mana boleh seperti itu. Senyum itu ibadah, ka... Kalau aku jutek, nanti nggak ada yang mau belanja di toko aku." Dina hendak melepaskan pegangan tangannya, tapi di tahan oleh Ryan. Dia suka Dina terus memeluknya.
"Boleh sama pembeli, tapi sedikit aja jangan lebar-lebar senyumnya."
Dina tertawa renyah di balik punggung Ryan.
"Kakak mau aku masakin apa untuk makan malam?"
"Kita shalat maghrib dulu, sebentar lagi adzan. Nanti kita masak bareng."
"Oke..." jawab Dina sambil menghidu aroma tubuh suaminya yang kini seakan menjadi candu untuknya.
"Sekarang aku mau bersih-bersih dulu."
"Oke..." Dina mengiyakan, namun tak juga melepaskan pelukannya pada Ryan.
"Masih sore, Din... jangan mancing-mancing. Mau aku buat keramas sore?"
Sepersekian detik, Dina belum paham maksud perkataan suaminya. Namun seketika Dina melepaskan pelukan pada suaminya dan sedikit menjauh, membuat Ryan tertawa terbahak-bahak.
Ryan mencondongkan wajahnya pada Dina, membuat Dina ketakutan dan menutup wajahnya. Dan tawa Ryan semakin menjadi. Setelah mengacak rambut Dina, Ryan berlalu ke kamar mandi.
Dina merasa wajahnya sangat panas hingga mengibas-ngibaskan kedua tangan di depan pipinya. Dia berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan baju Ryan.
Dina yang akan keluar kamar mengurungkan niatnya saat mendengar ponsel Ryan yang di simpan di atas nakan berbunyi.
Melalui bilah notifikasi, Dina mengetahui dari siapa dan isi pesan yang masuk ke ponsel suaminya. Seketika raut wajah Dina berubah. Dia melemparkan ponsel itu ke atas tempat tidur lalu keluar kamar dengan membanting pintu.
Tepat saat Dina keluar kamar, Ryan keluar dari kamar mandi. Dia terlonjak kaget saat mendengar suara pintu yang dibanting. Ryan mengernyitkan dahinya, heran Dina bersikap seperti itu.
Ryan tersenyum saat melihat baju ganti untuknya sudah tersedia di atas tempat tidur. Setelah berganti pakaian, Ryan teringat belum mengirimkan email untuk temannya, Fajar.
Saat melihat ponsel, Ryan heran karena berada di atas tempat tidur, karena seingatnya dia menyimpan di atas nakas. Matanya membulat sempurna saat membaca pesan masuk untuknya, meski tanpa nama kontak, dia tahu jika pesan itu dari Maretha.
Teringat Dina yang membanting pintu, membuat Ryan berpikir, jika Dina sudah melihat pesan tersebut, karena itu Dina marah. Ryan memijat pelipisnya.
"Baru juga baikan, sekarang harus ngebujuk Dina lagi," bisik Ryan dalam hatinya.
Dia mengacak rambut frustasi, lalu segera melesat keluar kamar untuk menjelaskan pesan tersebut pada Dina.
BERSAMBUNG
dan adzan maupun iqomah hanya dilakukan laki2