Sebuah kisah tentang seorang anak yang sejak lahir sudah merenggut banyak nyawa. Kisah tersebut dijulukki dengan sebutan Malam Berdarah kota Ling.
Bagaimanakah cara anak tersebut mencari teman yang akan selalu menemaninya sehidup srmati?
Penasaran dengan kisah ceritanya?, Mari ikuti dengan membaca bersama!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerry Napukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Guild Petualang
Seorang laki-laki berumur 26-27 tahunan berjalan marah ke arah meja milik Ling Ro Bai dan lainnya. Laki-laki tersebut memilih meja Ling Ro Bwi karena melihat tidak adanya orang kuat dalam kelompok tersebut. Berbeda dengan dua orang yang saat ini masih santai memakan hidangannya.
Bruak!
Dengan satu hantaman keras membuat meja tersebut terbelah dua, makanan yang tersaji jatuh tak layak di cerna.
Namun ada yang aneh dengan situasi ini, karena salah satu bocah masih memegangi daging dengan sumpitnya.
"Huh, untung tak ikut jatuh", ujqrnya pelan. Sayangnya tak ada yang menghiraukannya.
"Siapa pemimpin kalian?", tanyanya dengan menekankan setiap kata.
Tiga pandangan orang tersebut menuju ke arah Ling Ro Bai yang sedang memasukkan daging ke mulutnya. Melihat dirinya diperhatikan, membuat Ling Ro Bai tak jadi memakan dagingnya.
"Kalian mau?", tanya Ling Ro Bai dengan polos. Ketiganya hanya menggeleng kepala melihat tingkah dari tuan kecil yang dilayani.
Merasa diremehkan, laki-laki tersebut marah.
"Kalian!", dengan gerakan cepat ia memukul paman sopir sekuat tenaga karena merasa paling miskin diantara semuanya.
Pluk!
Bukan suara dentuman yang terdengar namun suara sesuatu yang menancap.
"Aakhh!", laki-laki tersebut berteriak kesakitan tanpa tahu penyebabnya.
Para prajurit yang dari tadi diam langsung menuju tuannya. Mereka mengarahkan pedangnya ke arah Ling Ro Bai dan lainnya.
"Pertama, tidak ada yang boleh memukul bawahanku di depan mataku sendiri. Kecuali sedang berperang atau memang bercanda dengan temannya. Kedua, kalian telah mengganggu ketenangan di restoran ini. Ketiga, jangan menodongkan senjata kalian ke arahku. Itu bukan mainan untuk anak kecil", ucap Ling Ro Bai yang entah sejak kapan sudah menghabiskan dagingnya.
Salah satu sumpit yang ia gunakan juga menancap di mata lelaki tadi atau Tuan Muda Sang. Para prajurit marah saat diejek seperti itu oleh seorang bocah. Namun karena belum ada perintah. Mereka memilih diam.
"Kenapa kalian diam saja!, Bunuh bocah itu!", Tuan Muda Sang berteriak marah pada prajuritnya.
Salah satu dari mereka yang kelewat marah menerjang maju ke arah Ling Ro Bai, namun sebelum sampai kepalanya telah terbang dari tubuhnya.
Buk!
Suara kepala jatuh terdengar, "Kalian tak memiliki kualifikasi untuk bertarung dengan Tuan Muda", ujar Chen dengan dingin.
Perkataan dinginnya menusuk dan membuat para prajurit gentar. Tuan Jhi yang melihat kejadian ini jika diteruskan tak baik untuk pihaknya. Langsung berinisiatif untuk melerai.
"Hentikan!", katanya.
Semua orang memandang ke arahnya namun Tuan Jhi tetap tenang. "Tuan Muda Sang, kita pergi dari sini", ucapnya.
Walaupun marah karena diperintah oleh orang lain, Tuan Muda Sang berdiri dan berjalan ke arah Tuan Jhi. Sebelum Chen berkata, Tuan Jhi melemparkan beberapa koin emas kepada manager yang kebetulan berada ditempat kejadian untuk ganti rugi.
"Urusan kita belum selesai bocah", tunjuk tuan muda Sang yang berjalan tertatih memegangi matanya.
Mereka turun secara bersamaan membuat getaran pada restoran tersebut. Manager restoran sendiri meminta maaf kepada Ling Ro bai atas kenyamanannya.
Ia juga menjelaskan jika kedatangan Tuan Muda Sang akan berakhir dengan kerusuhan atau penindasan. Ling Ro Bai memakluminya. Setelah membayar Ia dan bawahannya pergi keluar. Begitu juga 2 orang lainnya yang sempat berada di lantai atas tersebut.
*****
Ling Ro Bai berencana menuju guild petualang. Ia ingin berbicara dengan manager di guild petualang cabang kota Wengsang.
Setelah sampai, ia pergi ke tempat resepsionis. Pandangan kultivator biasa saja saat melihat baju Ling Ro Bai. Mereka mengira rombongan tersebut ingin mengajukan misi.
Sekretaris Lu memberikan token petinggi Asdalob kepada resepsionis. Setelah di cek kebenarannya, resepsionis tersebut berlari tergesa-gesa menuju tempat ketua guild.
Tidak lama, pria paruh baya turun dari lantai dua bersama resepsionis tadi.
"Ma-maaf menunggu lama tuan muda. Mari masuk ke ruangan saja. Agar enak ngobrolnya", Ling Ro Bai mengangguk dan berjalan mengikuti ketua guild.
Pandangan heran dari para kultivator yang berada disitu tak bisa terelakkan. Mau bagaimanapun. Ketua Guild adalah eksistensi paling tinggi di guild petualang. Sehingga mereka terkejut melihat ketua menyambut tamu secara langsung. Bisa dipastikan bahwa mereka bukan rombongan biasa.
*****
(Di Ruangan Ketua guild)
Setelah perkenalan kecil, ketua guild bertanya dengan serius.
"Ada keperluan seperti apa hingga tuan muda Asdalob turun secara langsung?"
"Hahaha, memang jabatanmu bukan isapan jempol belaka", pujian Ling Ro Bai membuat ketua menjadi sedikit bangga. Entah apa yang menyebabkan ia seperti itu, padahal hanya pujian kecil dari seorang bocah.
"Tiga hari lagi aku butuh sekitar seribu kultivator tingkat jendral ke atas untuk menerima misi dariku. Apa kau sanggup menyediakannya", tanya Ling Ro Bai dengan ekspresi serius.
Melihat itu membuat ketua menjadi sedikit gugup.
"Jika hanya kota Wengsang kami tak bisa menyiapkannya. Namun meminta bantuan cabang lainnya bisa saya siapkan. Lalu soal misi?"
"Bilang saja untuk penjagaan dengan taruhan nyawa. Tapi tenang saja aku akan memberikan setiap orang 1000 emas kecil. Bagaimana?", ketua guild melototkan mata mendengar nominal tersebut.
Bukannya apa-apa, tapi seumur hidupnya menjadi ketua baru kali ini ada misi bayaran setinggi itu. Apalagi hanya misi pengawalan bertaruh nyawa. Para petualang tentu sudah biasa bertaruh nyawa tiap hari. Dan bayaran paling tinggi hanya 1 koin emas kecil.
"Ba-baik Tuan Muda, saya akan menyiapkan para ahli untuk datang juga", dengan gugup ketua menyetujuinya.
"Suruh mereka berkumpul di asosiasi kota wengsang ini. Untuk pembayaran lengkapnya akan ku berikan setelah pekerjaan kalian selesai. Ini ada sedikit tips untukmu", Ling Ro Bai memberikan setengah harga terlebih dahulu. Dan tidak lupa tips untuk ketua guild.
Dengan perasaan gembira ia menyambut pundi-pundi koin emas tersebut. Ia memang terkejut namun karena melihat umurnya membuat sang ketua menutupi kegirangannya.
"Saya akan melakukan yang terbaik Tuan Muda", ucapnya penuh semangat.
"Hihihi, tentu ketua. Jika nanti pekerjaan mereka berhasil akan kuberi tambahan untuk bonusnya".
Setelah urusan selesai, Ling Ro Bai dan lainnya pergi meninggalkan bangunan guild petualang. Mereka kembali ke asosiasi dagang Lob.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai. Ling Ro Bai langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan lainnya melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Ahh, lelahnya. Ternyata bekerja dengan pikiran lebih menguras energi daripada bertarung. Tau seperti ini, kemarin ku serahkan saja pada kak mei". gerutu Ling Ro Bai.
"Xixixi", suara tawa dari kegelapan terdengar. Mendengar tawa tersebut membuat Ling Ro Bai jengkel dan memilih langsung tidur.
keren... bener keren