NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nnot Senssei

Note: Ini adalah novel wuxia berlatar belakang zaman dahulu. Jadi jangan disamakan dengan novel sekarang yang sedang marak. Karena sudah pasti akan berbeda jauh.

Ini adalah novel lanjutan dari Kisah Pendekar Maung Kulon edisi pertama.

Di novel ini, perjalanan Cakra Buana yang bergelar Pendekar Maung Kulon atau yang sekarang sering disebut Pendekar Tanpa Nama, akan lebih menantang lagi. Bakal ada banyak intrik, propaganda, siasat, misteri, semuanya mungkin akan dihadirkan di novel ini.

Novel ini akan menceritakan kisah petualangan Cakra Buana di negeri Tionggoan (Tiongkok –kalau tidak kepanjangan mungkin sampai kembali ke Tanah Pasundan lagi–) untuk menyelesaikan tugas dari mendiang Pendekar Tanpa Nama yang menyuruhnya agar memberikan sebuah kitab pusaka kepada Perguruan Rajawali Putih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adu Ilmu Pedang dan Ilmu Golok

Semua orang kaget. Mereka tidak mengetahui kapan dan bagaimana caranya pendekar muda itu meloloskan pedang.

Terlebih lagi, ada kekuatan besar yang terkandung di dalam senjata pusaka tersebut. Sinar merah terus memancar. Padahal pedangnya belum dicabut.

Namun, siapapun pasti sudah dapat menduga bahwa senjata si pendekar muda, pastilah senjata pusaka kelas satu. Terlihat gagangnya sangat indah. Apalagi sarungnya.

Begitu pedang diloloskan, sinar merah yang lebih terang segera menyeruak untuk sesaat.

Pedang Naga dan Harimau.

Pendekar Tanpa Nama tahu bahwa dua lawan itu mempunyai kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh. Sehingga dia langsung mengeluarkan senjata pusaka andalannya.

Anak muda itu kembali membuat semua orang terkejut. Terlebih lagi Dua Setan Pelabuhan Lemah Jawi. Mereka kaget setengah mati.

Siapapun tahu nama pedang pusaka itu. Dan siapapun sudah mulai tahu, siapa pemiliknya sekarang.

"Pendekar Tanpa Nama …" gumam Dua Setan Pelabuhan Lemah Jawi secara bersamaan.

"Kau mengenalku?"

"Tentu saja, sudah lama sekali aku mencarimu anak muda," kata Pedang Ombak Mengamuk, suaranya tidak sgaarang tadi. Wajahnya juga tidak terlihat kesal seperti sebelumnya.

"Aku rasa kita tidak mempunyai masalah sebelumnya, kenapa kau mencariku?"

"Aku penasaran dengan ketenaran namamu. Sekarang kebetulan kita berjumpa,"

"Kalau sudah berjumpa, memangnya mau apa?"

"Aku ingin berduel denganmu untuk beradu ilmu pedang," tantang Pedang Ombak Mengamuk.

"Baik. Aku terima tantanganmu," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan tenang.

"Bagus. Sekarang, mari kita mulai,"

Pedang Ombak Mengamuk langsung menerjang Cakra Buana. Pedang pusaka yang dia genggam mengeluarkan pamor cukup mengejutkan orang.

Sabetan pertama dia lancarkan. Arah tujuannya ke leher, namun dengan tenangnya Pendekar Tanpa Nama menghadapi serangan tersebut.

Pedang Naga dan Harimau dia angkat untuk menangkis pedang lawan.

"Trangg …"

Bunyi benturan senjata pertama terdengar.

Pedang Ombak Mengamuk tidak berhenti, dia melepaskan kembali serangan lainnya. Gempuran sabetan pedang langsung dia keluarkan ke arah Cakra Buana.

Setiap pedangnya bergerak, selalu menimbulkan sinar hitam yang membelah udara.

Semua orang yang menyaksikan pertarungan ini menahan nafas mereka. Bahkan berkedip pun rasanya tidak. Seolah mereka tidak ingin kehilangan adegan pertarungan yang luar biasa tersebut.

Ini adalah pertarungan kelas atas. Semua orang pasti ingin menyaksikan jalannya pertarungan.

Pendekar Tanpa Nama mulai bergerak mengimbangi setiap serangan Pedang Ombak Mengamuk. Tubuh kedua tokoh itu terbungkus oleh sinar yang mereka ciptakan karena dahsyatnya jurus serangan.

"Ombak Mengamuk di Tengah Samudera …"

"Wushh …"

Jurus terkuat yang dia miliki sudah keluar. Jurus ini adalah jurus yang mengangkat namanya hingga menjadi penguasa di Pelabuhan Lemah Jawi. Jurus pedang tersebut mengandalkan kecepatan dengan serangan kilat yang ringan namun mematikan.

Gerakannya seperti ombak yang menggempur batu karang di lepas pantai. Datang bergulung-gulung tanpa henti dan tanpa ampun.

Seperti juga saat ini. Pedang itu mengurung Pendekar Tanpa Nama dari segala sisi. Bentakan nyaring keluar dari mulutnya mengiringi jalannya pertarungan.

Cakra Buana tidak mau kalah, apalagi lawan sudah menantangnya di depan banyak orang. Jurus dahsyat segera dia keluarkan saat itu juga.

"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"

Jurus terkuat sudah keluar. Jurus yang sangat mengerikan dan dahsyat serta selalu menggetarkan sukma setiap lawannya.

Pedang Naga dan Harimau seperti terlihat ribuan banyaknya di mata lawan. Sinar pedang memotong sinar yang dihasilkan dari senjata lawan.

Benturan senjata terdengar nyaring membuat bising telinga. Pedang Ombak Mengamuk mulai berada dalam tekanan serangan Pendekar Tanpa Nama. Telinganya mendengar begitu banyak ledakan halilintar. Matanya melihat kilat menyambar ke arahnya.

Serangan mereka semakin ganas. Mencapai jurus ketiga puluh sembilan, Pedang Naga dan Harimau dia benturkam dengan senjata lawan.

"Trangg …"

Pedang milik lawan patah menjadi dua bagian. Detik berikutnya, Pendekar Tanpa Nama memberikan tusukan yang tepat mengarah ke jantung, titik paling mematikan dalam tubuh manusia.

"Slebb …"

Pedang itu tembus hingga ke belakang. Kutungan pedang yang masih digenggam sebelumnya, mendadak terlepas.

"Ka-kau menang. Aku bangga bisa tewas di tangan pendekar sepertimu," gumam Pedang Ombak Mengamuk, suaranya kurang jelas karena mulutnya penuh dengan darah segar.

Setelah pedang dicabut, si Golok Penggetar Sukma telah melompat lalu mengatakan hal yang sama seperti Pedang Ombak Mengamuk.

Dia ingin beradu ilmu golok dengan ilmu pedang lawan.

Bedanya, orang tua gemuk itu langsung mengeluarkan jurus tertinggi yang dia kuasai.

"Golok Hitam Menarik Sukma …"

Babatan golok langsung keluar mengincar batok kepala Cakra Buana. Serangannya jauh lebih hebat dan sangat cepat. Walaupun tubuhnya gemuk seperti gajah, tetapi nyatanya hal tersebut tidak mempengaruhi gerakannya.

Justru dengan tubuhnya yang gemuk, si Golok Penggetar Sukma dapat bergerak lebih dari apa yang sudah dibayangkan.

Tubuhnya melompat lalu mendaratkan sabetan golok dari samping kanan ke samping kiri.

Saat itu Pendekar Tanpa Nama masih menggunakan jurus yang sama. Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang.

Sehingga dia tidak merasakan kesulitan sama sekali. Pedangnya langsung menyambar golok lawan. Benturan terjadi, namun dia segera melancarkan serangan berikutnya.

Sabetan pedang terlihat membungkus tubuh lawan. Desingan angin tajam yang dapat merobek kulit segera tercipta. Si Golok Penggetar Sukma merasakan sebuah tekanan yang sangat dahsyat.

Gerakannya melambat. Setiap serangan yang dia berikan selalu dapat dicegah dengan mudah oleh Pendekar Tanpa Nama.

Pertarungan keduanya telah mencapai jurus ketiga puluh delapan.

Serangan dari dua belah pihak semakin menggila. Golok yang tajam menyapu keadaan di sekitar. Pedang pusaka yang luar biasa menebarkan hawa kematian.

Cakra Buana menggempur tanpa ampun. Lima jurus berikutnya, tubuhnya berputar di udara sambil tetap melancarkan serangan.

"Crashh …"

Satu kepala menggelinding ke bawah. Si Golok Penggetar Sukma tewas tanpa kepala.

Darah menyembur ke tempat sekitar. Tetapi tidak ada darah yang menempel pada batang Pedang Naga dan Harimau.

Tak ada suara jeritan. Tak ada kata terakhir dalam pertarungan.

Sebab sebelum dia sempat berkata, nyawanya telah melayang lebih dulu meninggalkan raganya.

Debu masih mengepul menghalangi pandangan mata. Cakra Buana keluar dari kepulan debu tersebut dengan langkah ringan dan wajah yang dingin.

Walaupun dua pertarungan berjalan dengan dahsyat hingga menyebabkan korban jiwa, tetapi nyatanya pakaian pendekar muda itu sama sekali tidak terkena noda darah.

Bahkan pedangnya sudah berada di punggung kembali dan telah dibungkus oleh kain putih.

Setelah dua lawannya tewas, Pendekar Tanpa Nama segera pergi lagi ke kedai makan untuk menghabiskan arak yang tadi masih tersisa.

Satupun tidak ada yang berani menghalanginya. Jangankan begitu, yang bicara saja tidak ada yang berani. Semua orang langsung menyingkir dan menundukkan kepalanya saat Cakra Buana lewat di hadapan mereka.

Mereka takut menyinggung perasaan Pendekar Tanpa Nama. Apalagi, kekesalan jelas tergambar di wajahnya.

1
Wan Trado
yg sering terjadi tidak mau disalahkan, selalu mencari celah untuk pembenaran
Wan Trado
seseorang yg lagi tinggi tingkat fokusnya harusnya tidak bisa ada perasaan marah bercampur gemas, karena bisa mengakibatkan debar jantungnya meningkat dan aliran darah yg tidak stabil dapat membuat orang yang ditolong juga terkena efeknya.. apa mungkin karena pendekar tanpa tanding yaa sehingga apapun perasaan yang timbul tidak berpengaruh terhadap energi murni yang dikeluarkan..
Wan Trado
bercadar hitam tapi tampak cabang dan kumisnya.. hadehhh
Wan Trado
katanya siap dimadu... helehhh
Wan Trado
berapa orang yg mengerti bahasa Pasundan di Tiongkok sana ling ling, belajar sama mbah..??
Wan Trado
benar-benar bisa bahasa Pasundan ling ling 🤣🤣🤣
Wan Trado
dari Tiongkok sampai kembali ke Pasundan pilihan kedainya selalu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil 😅
Wan Trado
tuh kann, bisa membalas anggukan juga..
Wan Trado
buta kok bisa memandang satu persatu ya..
Wan Trado
yeye harusnya bukan yaya
Wan Trado
tidak ada saksi, semua terbunuh.. bagaimana dan siapa yang menyebarkan beritanya..???
Wan Trado
satu keping emas dan 80 keping perak, dibayar 2 kepung perak, disuruh ambil semua lagi.. 🤣🤣🤣
Wan Trado
yg disebut Liu bing adalah tuan ong, kok jadi tuan Zhu yang dipikirkan cakra.. 🤔
Wan Trado
biasanya orang cina daratan tidak bisa melafalkan kata yang mempunyai dua huruf mati yg berdempetan, jadi mungkin nama cakra bisa jadi dilafalkan ca ke la, begitu ya kira-kira Thor..
Wan Trado
1 0 0 1
Wan Trado
lebih mendekati kenyataan dengan tingkat kehaluan yang rendah, tidak seperti cerita kultivasi yang halu nya tinggi dan hampir tidak ada logikanya.. mantap 👍👍
Wan Trado
jaman itu hitungan jarak dengan hitungan tombak, bukannya meter
Wan Trado
berjabat tangan tidak lazim di Tiongkok
Wan Trado
kalau kisaran umur itu bisanya dalam bilangan genap, misal tiga puluhan,.. kalau disebut tigapuluh sembilan berarti sudah tau pasti dong..
Wan Trado
dijaman itu belum ada tiket ya, jadi bisa naik sesuka hati tanpa melewati pemeriksaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!