NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Gelap yang Menatap Balik

Tiga hari pasca-krisis penolakan alat VAD, ruang ICU akhirnya diturunkan statusnya menjadi ruang perawatan intensif privat bertekanan negatif. Efek dari obat imunosupresan dosis tinggi yang disuntikkan Profesor Gunawan berhasil menekan antibodi Aurora agar tidak menolak pompa mekanis di jantungnya.

Namun, obat itu menguras habis sistem imun tubuhnya yang memang sudah berada di titik nadir.

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis rumah sakit. Arvin, yang matanya menghitam karena menolak tidur lebih dari dua jam sehari, melihat jemari Aurora bergerak. Kali ini bukan sekadar kedutan halus.

"Ra? Aurora?" Arvin langsung condong ke depan, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah adiknya.

Kelopak mata Aurora bergetar. Perlahan, mata bulat itu terbuka. Alat ventilator yang menyumbat mulutnya sudah diganti dengan kanula oksigen kecil di bawah hidungnya sejak kemarin, membuat napasnya terdengar lebih alami.

"Ar... vin..." bisik Juna dari belakang, menahan napasnya. Eros pun langsung berdiri dari sofa, menghentikan aktivitas laptopnya.

Aurora mengerjap-ngerjap beberapa kali. Matanya yang hitam pekat terbuka lebar, menatap lurus ke depan. Ke arah langit-langit, lalu bergeser ke arah dinding, lalu ke arah wajah Arvin yang berada tepat di depannya.

Namun, tidak ada fokus di mata itu. Pupilnya melebar, namun pandangannya kosong, seolah menembus tubuh Arvin.

"Kak..." suara Aurora terdengar sangat parau, nyaris seperti gesekan amplas. Ia mencoba menggerakkan tangannya, meraba-raba udara di depannya. "Kenapa... lampunya dimatikan? Ini... sudah malam ya?"

Arvin membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Hari masih jam sembilan pagi, dan lampu kamar rawat ini menyala dengan sangat terang, ditambah kilauan sinar matahari yang cukup menyilaukan.

"Ra... lo ngomong apa? Ini pagi. Lampunya

nyala kok," Arvin mencoba tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat hancur. Ia melambaikan tangannya tepat di depan mata Aurora.

Mata Aurora tidak berkedip. Pandangannya tetap lurus, kosong, dan mati.

"Tapi... gelap, Kak..." Aurora mulai panik. Napasnya kembali pendek-pendek. "Aku nggak bisa lihat apa-apa. Kak Arvin di mana? Kak Eros? Juna? Semuanya hitam..."

"Dokter! Profesor Gunawan! Sialan, panggil dokter!" teriak Arvin histeris. Ia merengkuh tubuh Aurora yang mulai meronta ketakutan karena kegelapan yang tiba-tiba mengurungnya.

"Gue di sini, Ra! Gue di depan lo! Pegang tangan gue!"

Aurora menangis. Rasa takut kehilangan penglihatan membuat jantungnya yang ditopang alat VAD kembali berdegup kacau.

"Jangan matikan lampunya... aku takut gelap... Kamar bawah gelap, aku nggak mau balik ke sana..." igau Aurora, trauma masa lalunya tentang kamar pelayan yang gelap kembali terpicu oleh kebutaannya.

Profesor Gunawan melakukan pemeriksaan refleks pupil menggunakan penlight selama beberapa menit yang terasa seperti neraka bagi ketiga abang Aurora.

Setelah memeriksa saraf-saraf di sekitar wajah Aurora, dokter senior itu menghela napas berat dan menatap Eros serta Bramantyo yang baru saja masuk karena mendengar keributan.

"Ini efek samping dari iskemia otak saat dia mengalami flatline lima menit di rumah, ditambah dengan toksisitas obat imunosupresan yang memengaruhi saraf optiknya," jelas Profesor Gunawan di sudut ruangan, berbisik agar tidak terdengar oleh Aurora yang sedang ditenangkan oleh Arvin menggunakan buku catatan birunya. "Dia mengalami cortical blindness—kebutaan sementara. Matanya sehat, tapi bagian otak yang memproses visual kehilangan pasokan darah terlalu lama."

"Bisa sembuh, Dok?" tanya Eros, rahangnya mengeras.

"Saya tidak bisa menjamin. Bisa hitungan minggu, bulan, atau... jika kerusakan sel otaknya permanen, dia tidak akan bisa melihat lagi seumur hidupnya. Kita hanya bisa berdoa agar komplikasi ini mereda seiring tubuhnya mendetoksifikasi

obat-obatan."

Arvin yang mendengar itu dari kejauhan hanya bisa mengepalkan tangannya ke kasur. Hukuman apa lagi ini? Aurora sudah melupakan mereka, dan sekarang, dunia luar pun direnggut dari pandangannya.

Di luar ruang rawat, suasana berubah menjadi formal dan dingin. Kepala Sekolah SMA Cakrawala bersama ketua yayasan pendidikan mereka datang dengan wajah pucat, berdiri membungkuk di depan Eros Tenggara yang duduk di kursi koridor dengan aura intimidasi yang pekat.

"Den Eros... kami dari pihak sekolah benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami," ucap Kepala Sekolah dengan suara gemetar. "Kami tidak tahu kalau Aurora adalah putri dari Tuan Besar Bramantyo. Kami... kami sudah mengeluarkan Kaila secara tidak hormat dari sekolah."

Eros tidak bergeming. Ia menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu menatap kedua pria paruh baya itu dengan tatapan merendah.

"Kalian mengeluarkan Kaila karena dia bersalah, atau karena kalian takut Tenggara Group menarik seluruh dana yayasan dan meruntuhkan gedung sekolah kalian besok pagi?"

Ketua yayasan berkeringat dingin. "Den Eros, tolong... ada ribuan siswa lain yang bergantung pada beasiswa dari yayasan Tenggara. Jika dana itu dicabut, sekolah kami akan kolaps."

"Saat adikku disiram susu cokelat di koridor kalian, di mana beasiswa dan perlindungan yang kalian banggakan?" sela Juna, berjalan mendekat sambil membawa map berkas hitam. "Kami sudah mengecek laporan keuangan sekolah. Kalian menerima suntikan dana dari ayah Kaila sebesar dua ratus juta bulan lalu untuk menutupi kasus-kasus perundungan sebelumnya, kan? Jangan berlagak suci di depan kami."

Eros berdiri, menjulang di depan Kepala Sekolah yang kini nyaris berlutut. "Dana yayasan tetap akan dicabut. Manajemen sekolah akan diambil alih oleh tim hukum Tenggara per senin depan. Jika kalian menolak, surat tuntutan atas kelalaian menjaga keselamatan siswa di bawah umur akan sampai ke pengadilan sore ini. Pilihannya ada di tangan kalian."

Tanpa menunggu jawaban, Eros membalikkan badannya, berjalan kembali menuju pintu kaca ruang rawat Aurora. Di dalam sana, melalui kaca transparan, ia melihat Arvin sedang menuntun tangan Aurora yang buta untuk meraba huruf-huruf timbul di sampul buku catatan birunya.

Aurora tersenyum kecil—sebuah senyuman rapuh di tengah kegelapan dunianya. Dan bagi ketiga kakak laki-laki itu, melihat senyuman tersebut di tengah rasa sakit yang mendera justru terasa seperti siksaan batin yang paling kejam, karena mereka tahu, mereka adalah alasan mengapa dunia adiknya menjadi segelap ini.

1
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!