Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Terakhir — Jebakan Beraksi
Pukul 06.00. Kabut tebal menyelimuti Puncak.
Aku bangun lebih awal dari yang lain. Sasha sudah bersiap—memakai jaket tebal dan sepatu lari.
"Sha, kamu yakin nggak ketiduran?"
"Jam 4 pagi aku udah bangun, Nay. Deg-degan."
Aku tertawa. "Aku juga."
Kami berjalan menuju Villa C—tempat para guru menginap. Di sana, Rasya sudah menunggu di depan pintu, ditemani oleh Pak Bambang, guru BK yang baik hati namun mudah panik.
"Kamu yakin ini perlu, Nak?" tanya Pak Bambang pada Rasya.
"Saya yakin, Pak. Nyawa saya terancam."
"Aduh... aduh..." Pak Bambang mengusap wajahnya. "Kenapa anak-anak zaman sekarang begini, ya..."
"Bukan zaman sekarang, Pak. Ini masalah orang per orang."
"Ya, ya..."
Kami masuk ke dalam Villa C. Pak Bambang mempersilakan Rasya untuk berpura-pura mati di dipan ruang tamu.
"Tutup mata," perintahku.
Rasya memejamkan mata. Wajahnya dibuat pucat—Sasha sudah meminjamkan bedak putihnya untuk efek dramatis.
"Nafas jangan terlalu kencang," bisik Sasha.
"Iya."
Kami semua bersembunyi di balik pintu ruangan sebelah, meninggalkan Rasya terbaring di dipan, dengan selimut menutupi sebagian besar tubuhnya.
Tinggal menunggu.
---
Pukul 07.30 — Rio Tiba
Rio masuk ke Villa C dengan wajah penasaran—tapi bukan penasaran biasa. Matanya menyapu ruangan, mencari. Seperti predator yang mengendus mangsanya.
"Selamat pagi, Pak Bambang," sapanya ramah.
"Pagi, Rio. Ada perlu?"
"Saya dengar... Rasya sakit?"
Pak Bambang menatapku sekilas—aku mengangguk dari balik pintu.
"Iya," kata Pak Bambang, berusaha terdengar natural. "Dia pingsan tadi pagi. Kami masih menunggu ambulans."
"Pingsan?" Rio berjalan mendekati dipan. "Kasihan. Boleh saya lihat?"
"Si-silahkan."
Rio mendekati Rasya. Aku bisa melihat tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena senang. Dia pikir rencananya berhasil.
Dia mengulurkan tangan, hendak membuka selimut—
Dan saat itu juga, Rasya membuka mata.
"Mampus kau, Rio."
Rio tersentak mundur. "APA—"
Dari balik pintu, Sasha melompat keluar dengan handphone merekam. "Tersangka, angkat tangan!"
"RAKAMAN—RIO ANCEM—" teriak Sasha dengan gaya detektif di film-film.
Rio pucat pasi. Dia berbalik hendak lari, tetapi Andre sudah berdiri di pintu masuk, memegang botol kecil berisi sisa racun.
"Cari ini, Rio?" tanya Andre, suaranya dingin.
"ANDRE, KAU—"
"Aku sudah selesai jadi budakmu."
---
Pukul 08.30 — Polisi Tiba
Dua mobil polisi datang ke villa. Rio dibawa dengan tangan diborgol. Vania yang ikut datang untuk memeriksa (entah bagaimana dia tahu) ikut digelandang karena terlibat.
"Tapi aku nggak tahu apa-apa!" teriak Vania sambil menangis.
"Kamu tahu," kata Sasha, berdiri dengan tangan di pinggang. "Kamu cuma pura-pura nggak tahu."
Vania menangis histeris. Aku hanya menatapnya dingin.
Di kehidupan sebelumnya, aku juga menangis seperti itu saat ditangkap. Saat difitnah. Saat semua orang memandangku dengan jijik.
Tapi kali ini, air mata itu bukan untukku.
"Nayla," Andre mendekat. "Aku... aku minta maaf."
"Permintaan maafmu belum cukup, Andre. Tapi setidaknya, ini awal yang baik."
Andre mengangguk. "Aku akan menjadi saksi. Aku akan mengatakan semua yang aku tahu."
"Pastikan kamu melakukannya. Bukan hanya untuk aku—tapi untuk dirimu sendiri."
---
Pukul 10.00 — Perjalanan Pulang
Bus berangkat lebih cepat dari jadwal. Rio dan Vania dibawa dengan mobil polisi terpisah. Kami bertiga—aku, Rasya, Sasha—duduk di kursi belakang yang sama.
Sasha sudah tertidur, kepalanya bersandar di pundakku.
"Sha, jangan tidur, nanti kaku lehernya."
"Biarkan," bisik Rasya. "Dia layak istirahat."
Aku tersenyum.
"Kita berhasil, ya?" kataku.
"Kita baru memenangkan satu pertempuran. Masih ada perang yang lebih besar."
"Apa maksudmu?"
Rasya menatap ke luar jendela, ke pemandangan pegunungan yang mulai disinari matahari pagi.
"Rio bilang, ada bos di belakangnya. Seseorang yang lebih berbahaya. Dan orang itu... belum muncul."
Jantungku berdegup kencang.
"Kamu tahu siapa itu?"
"Aku punya beberapa nama. Tapi aku belum yakin."
"Ceritakan."
Rasya menggenggam tanganku erat.
"Nanti. Di Jakarta. Saat kita sudah aman."
Aku mengangguk.
Di luar jendela, kabut mulai mencair. Perjalanan pulang masih panjang.
Tapi setidaknya, kami tidak sendirian.