Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Pagi itu, mentari Jakarta merangkak naik dengan angkuh, menyelinap di sela-sela gorden sutra kamar Siham yang tertutup rapat. Di luar kamar, suara langkah kaki Dewangga yang tegas terdengar beradu dengan lantai marmer, menandakan pria itu sudah siap dengan rutinitas paginya. Biasanya, aroma kopi yang kuat dan wangi nasi goreng margarin akan memenuhi udara, menyambut Dewangga di meja makan. Namun, pagi ini, rumah itu sunyi sesunyi kuburan.
Dewangga berdiri di ruang makan dengan setelan jas abu-abu yang licin sempurna. Ia menatap meja makan yang kosong melongpong. Tidak ada piring yang tertata, tidak ada uap panas dari cangkir kopi, dan yang paling utama, tidak ada sosok wanita yang selalu menunduk patuh menunggunya sarapan.
Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh lebih lima belas menit.
"Siham!" panggilnya dengan nada kesal. Suaranya menggema di langit-langit rumah yang tinggi.
Tidak ada jawaban. Dewangga mendengus, egonya merasa tersentil. Pasti dia masih marah soal kemarin, batinnya. Dewangga memilih untuk bersikap cuek. Ia mengambil kunci mobilnya di atas meja konsol dan melangkah keluar tanpa berniat mengecek kamar istrinya. Baginya, ketidakhadiran sarapan pagi ini hanyalah bentuk protes kekanak-kanakan Siham atas perdebatan mereka soal Agata dan harga dirinya. Ia tidak punya waktu untuk meladeni drama rumah tangga di tengah jadwal rapat yang padat.
Dewangga melajukan mobilnya keluar pagar, meninggalkan rumah mewah itu tanpa menyadari bahwa di balik pintu kamar yang terkunci, istrinya sedang bertaruh nyawa.
Di dalam kamar, Siham meringkuk di atas lantai dingin di samping tempat tidurnya. Tubuhnya gemetar hebat, peluh dingin membasahi dahi dan punggungnya hingga daster yang ia kenakan terasa lembap. Tangannya mencengkeram erat seprai, berusaha menahan erangan yang nyaris lolos dari bibirnya yang sudah memucat.
Rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti sayatan, melainkan seperti bara api yang membakar paru-parunya dari dalam. Setiap kali ia mencoba menarik napas, dadanya terasa ditusuk oleh ribuan jarum tak kasatmata. Siham meraih botol obat di atas nakas dengan tangan yang gemetar hebat, namun botol itu justru terjatuh dan menggelinding menjauh.
"Sabar, Siham... sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau dan nyaris hilang.
Ia tidak boleh menyerah di sini. Ia harus sampai ke rumah sakit. Ia harus memastikan kondisinya cukup stabil untuk menyelesaikan bab terakhir naskah Aksara Renjana. Dengan sisa tenaga yang seolah ditarik dari sumsum tulangnya, Siham merangkak menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak seperti bayangan maut; matanya cekung, tulang pipinya sangat menonjol, dan kulitnya memiliki rona keabu-abuan yang mengerikan.
Siham mengenakan jaket tebal yang ia pakai semalam untuk menutupi tubuh ringkihnya. Ia merogoh tasnya, memastikan ponsel dan kartu identitasnya ada di sana. Ia tidak akan memanggil sopir rumah, apalagi memberi tahu Dewangga. Pria itu sudah cukup menganggapnya sebagai beban, dan Siham tidak ingin sisa hidupnya diisi dengan tatapan kasihan atau amarah Dewangga yang merasa martabatnya terganggu karena memiliki istri penyakitan.
Dengan langkah yang diseret, Siham keluar dari rumah melalui pintu samping agar tidak terlihat oleh asisten rumah tangga yang sedang sibuk di belakang. Ia memesan taksi daring melalui aplikasi, tangannya masih gemetar saat mengetik alamat rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Siham menyandarkan kepalanya di kaca jendela taksi. Jakarta yang riuh tampak seperti film bisu di matanya. Ia melihat sepasang suami istri yang sedang tertawa di atas motor, seorang ayah yang menggandeng tangan anaknya menyeberang jalan, dan ia merasa iri. Iri pada kehidupan sederhana yang penuh cinta, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dalam lima tahun pernikahannya dengan Dewangga.
Tiba di rumah sakit, bau antiseptik yang tajam langsung menyapa indra penciumannya. Siham mendaftar di bagian onkologi. Perawat yang melihat kondisinya langsung sigap mengambilkan kursi roda.
"Bu Siham? Anda datang sendiri lagi?" tanya Suster Rani, perawat yang sudah hafal dengan jadwal kemoterapi dan kontrol Siham. Ada nada prihatin yang dalam di suaranya.
Siham hanya tersenyum lemah, sebuah senyuman yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa sesak. "Iya, Sus. Suami saya sedang sibuk di kantor."
Kalimat itu sudah menjadi kaset rusak yang diputar Siham berkali-kali setiap kali ia datang sendirian. Padahal, kenyataannya Dewangga bahkan tidak tahu istrinya memiliki kartu pasien di rumah sakit ini.
Di dalam ruang periksa, Dokter spesialis onkologi yang menangani Siham menggelengkan kepala saat melihat hasil pemindaian terbaru dan memeriksa fisik Siham.
"Nona Siham, saya harus jujur. Kondisi paru-paru Anda sudah sangat kritis. Kankernya sudah menyebar lebih luas ke area pleura. Cairan di paru-paru Anda juga bertambah," ujar sang dokter dengan nada berat. "Anda harus menjalani rawat inap hari ini juga. Kami perlu melakukan prosedur untuk mengeluarkan cairan itu agar Anda bisa bernapas lebih lega."
Siham menggeleng pelan. "Tidak bisa hari ini, Dok. Saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Beri saya obat pereda nyeri yang paling kuat saja. Saya mohon."
"Nona Siham, ini bukan soal pekerjaan lagi. Ini soal nyawa Anda!" Dokter itu sedikit meninggikan suaranya, frustrasi melihat pasiennya yang begitu keras kepala.
"Saya tahu, Dok," potong Siham, matanya menatap dokter itu dengan kejernihan yang menyayat hati. "Justru karena saya tahu waktu saya tidak banyak, saya harus menyelesaikan ini. Pekerjaan ini adalah satu-satunya warisan saya. Beri saya waktu dua minggu lagi. Setelah itu, saya akan menyerahkan tubuh saya sepenuhnya pada rumah sakit ini."
Dokter itu terdiam. Ia melihat tekad yang luar biasa di mata wanita ringkih di depannya. Akhirnya, dengan berat hati, ia meresepkan dosis morfin oral yang lebih tinggi dan beberapa obat pendukung lainnya.
Sementara itu, di kantornya yang mewah, Dewangga baru saja menyelesaikan rapat. Ia duduk di kursi kebesarannya, namun pikirannya tidak tenang. Entah kenapa, bayangan wajah pucat Siham saat terjatuh di pangkuannya kemarin terus membayanginya.
Ia meraih ponselnya, hendak mengirim pesan pada Siham. Tangannya mengetik:
Kamu di mana? Sudah makan?
Namun, egonya kembali berbisik. "Kenapa kamu yang harus memulai duluan? Dia yang tidak membuatkanmu sarapan, dia yang mempermalukan mu di depan satpam." Dewangga menghapus pesan itu dan melempar ponselnya ke meja.
"Siham itu kuat. Dia hanya sedang cari perhatian," gumamnya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mendadak merasa hampa.
Dewangga tidak tahu bahwa saat itu, Siham sedang duduk di kursi tunggu apotek rumah sakit, berusaha menahan batuk yang menyakitkan agar tidak menarik perhatian orang sekitar. Ia tidak tahu bahwa setiap napas yang diambil istrinya saat ini adalah sebuah perjuangan yang luar biasa besar.
Siham pulang ke rumah saat hari sudah siang. Rumah masih sepi. Ia langsung menuju kamar, mengunci pintu, dan menelan obat pereda nyeri yang baru ia dapatkan. Rasa kantuk yang hebat menyerangnya sebagai efek samping obat, namun sebelum ia memejamkan mata, ia membuka laptopnya.
Dengan napas yang tersengal, ia mengetik bab 31 naskah Aksara Renjana.
"Ia mencari kesembuhan di lorong-lorong putih yang dingin, sementara di rumah yang ia sebut tempat pulang, suaminya bahkan tidak menyadari bahwa separuh nyawanya sudah tertinggal di sana. Kesunyian adalah kawan paling setia, dan rasa sakit adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa ia masih bernapas."
Siham menutup laptopnya saat kesadarannya mulai hilang karena pengaruh obat. Ia tertidur dalam posisi meringkuk, masih mengenakan jaket tebalnya, di tengah hari yang terik.
Di kantor, Dewangga memutuskan untuk pulang larut malam ini. Ia sengaja ingin menunjukkan pada Siham bahwa ia tidak butuh keberadaan istrinya itu. Ia tidak tahu, bahwa setiap detik yang ia buang untuk memupuk egonya, adalah detik-detik berharga yang hilang dari sisa waktu Siham di dunia ini. Dua insan itu terjebak dalam satu rumah, namun yang satu sedang bersiap untuk pergi selamanya, sementara yang lain masih terlalu buta untuk melihat bahwa ia akan segera kehilangan segalanya.