Baby Grezyca Aurora, Nama yang bagus tapi tidak dengan nasibnya. sedari kecil Baby sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan yang menimpa mereka. Dan sejak saat itu Baby harus menjalankan hidupnya hanya dengan Marvel pratama, Kakak kandungnya.
Suatu hari Baby dipecat dari pekerjaannya tanpa alasan dan itu membuatnya uring uringan. Karena Baby sangat membutuhkan uang untuk pengobatan kakaknya yang sedang sakit.
Seorang teman Baby memberikan informasi bahwa di perusahaan Xington group sedang membuka lowongan pekerjaan. Baby sangat bahagia, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan disana.
"Pendidikan terakhir?"
"SMA pak"
Pria itu diam sesaat dan menatap Baby dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu ditolak, saya tidak bisa menerima Sekretaris yang hanya lulusan SMA"
"Bapak menolak saya karena saya lulusan SMA, memangnya bapak pikir lulusan SMA tidak bisa bekerja jadi sekretaris. Saya pastikan bapak menyesal karena menolak saya.
Leon pradipta Xington, orang yang baby bentak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Calliesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Marah
Leon bersiap untuk pergi ke kantor, ia merapikan penampilan dan jas nya seperti biasa. Tapi kali ini Leon ingin sesuatu yang berbeda misalnya menjemput Baby gitu. Ya Leon akan menjemputnya.
Leon memilih kunci mobil yang akan ia gunakan hari ini. Leon sudah bosan dengan mobilnya yang biasa ia pakai. Sepertinya minggu depan Leon harus menambah koleksinya.
Dalam lima menit Leon memilih kunci mobil, akhirnya Leon memilih untuk menggunakan mobil lamborgini nya, mobil itu sangat cocok ketika digunakan untuk menjemput Baby.
Saat Leon bersiap siap, ponsel di sakunya berbunyi. Leon menghentikan aktivitasnya dan mengangkat telfon itu. "Iya ini siapa ya?" Suara yang Leon dengar sangat tidak jelas sehingga dia tidak bisa mengetahuinya.
"Dasar orang aneh" batin Leon."Penampilan? Oke, Mobil? Banyak, tampang? Di atas rata rata. Kayaknya aku harus bersyukur banget diciptakan sebagai Leon.
Leon menggelengkan kepalanya dan segera pergi. Pertama ia harus menjemput Baby dulu, walaupun mereka tidak janjian tapi tetap saja Leon menjemputnya. Alhasil terjadilah perdebatan sebelum berangkat ke kantor.
"Tidak usah pak saya bisa sendiri, Abang saya juga masih bisa nganterin kok" Baby menatap Leon sebentar. "Iya saya tahu, tapi sekarang kamu harus ikut saya dulu. Saya sudah terlanjur menjemput kamu juga"
"Pak saya itu...."
Tin tin
Sebuah klakson mobil menghentikan perdebatan itu, Baby memilih untuk melihat sang pemilik mobil itu. Lalu ia mengingat siapa pemiliknya. "Kak Vion"
Vion turun dari mobil lalu menghampiri Baby. "Kamu mau berangkat kantor, mau bareng sama kakak enggak? Mungkin sekalian kita ngobrol bareng" ucap Vion pada Baby.
Leon mendengus kesal, kenapa kalau ia bersama Baby si kunyuk itu harus mengganggunya. "Tidak usah kak, Baby bisa sendiri kok" tolak Baby dengan tidak enak.
"Rasain tuh ditolak, ngeyel banget sih jadi orang" gumam Leon yang masih di dengar Baby. Baby menginjak sepatu Leon dengan keras hingga pemiliknya mengaduh kesakitan.
"Maaf ya kak, sepertinya Bos baby lagi butuh Baby. Semalam dia mabuk di club, Baby khawatir kalau membiarkannya menyetir sendiri takut kecelakaan. Jadi Baby pergi sama Bos aja ya. Nanti kapan kapan aku akan pergi sama kakak"
Vion menghela nafasnya lalu mengangguk. "Kalau begitu kakak pergi dulu, kalau kamu butuh apa apa silahkan hubungin kakak aja. Kakak pasti akan selalu siap untuk kamu"
"Terasi 5 kg harganya lima ribuan, gombalan 1 kalimat rasanya receh banget" Leon tak bosan bosannya mengganggu percakapan Vion dan Baby. Entah sejak kapan sifatnya mulai berubah, dari yang sedingin Es menjadi selicin tubuh lumba lumba.
Baby merasa dongkol dengan Leon karena terus terusan mengganggunya. Setelah Vion pergi ia melototi Leon yang sudah menyengir tak jelas. "Udah, ayo masuk. Nanti telat ke kantor saya potong lho gaji kamu"
"Bukan cuma bapak yang bisa memotong gaji saya, saya juga bisa lho memotong burung bapak buat dijadikan sate. Awas aja, kalau bapak nyinyir sama Kak Vion lagi. Tak bikin sate tuh burung. Biar gak punya masa depan lagi"
"Haha mau dong dipotong sekarang juga, asal sebelum dipotong dielus dulu ya, dijilat, diputar, lalu dimakan. Berani gak?" Leon menarik turunkan alisnya pada Baby. "Gak berani kan? Saya tahu kamu itu cuma omdo doang Baby alias omong doang"
Plakkkkkk
Baby tak sengaja menggampar wajah Leon. "Aduh pak, maaf banget. Saya tidak sengaja, saya tidak bermaksud buat bapak...
Cup
"Saya juga minta maaf, saya tidak sengaja mencium kamu" balas Leon. Gamparan Baby cukup kuat di wajahnya membuat Leon sedikit meringis. "Bapak tidak apa apa?" Tanya Baby.
"Tidak, ayo kita ke kantor"
.
.
"Jadi cara kerja aplikasi ini adalah dengan menggunakan faktor X dan Faktor K. Kedua faktor tersebut saling bersambungan sesuai dengan aplikasi yang digunakan.
Nah untuk aplikasi kali ini, kita akan menambah fitur terbarunya dengan cara memperbaiki kualitasnya, dan sedikit merombak di bagian menu karena terlihat sudah kuno."
"Jadi menurut bapak gimana? Apa ide saya Bagus?" Baby menatap Leon yang sedang duduk di kursinya sambil menilai dirinya. "Bagus, saya juga setuju dengan pemikiranmu"
"Saya mungkin akan mengajukan ide mu nanti saat rapat. Kalau mereka setuju, saya akan memakai konsepmu" ucap Leon. Baby tersenyum senang, ia merasa bangga karena dipuji oleh Leon.
"Sekarang apa saja jadwal saya?" Tanya Leon. "Oh iya tunggu sebentar pak, saya akan bacakan jadwal bapak hari ini." Baby membuka catatan miliknya dan melihat jadwal Leon yang telah ia catat.
"Hari ini bapak tidak memiliki jadwal apapun selain menghadiri acara ulang tahun yang diselenggarakan oleh PT MAHMUD ALGIFARI. Undangannya juga sudah saya kasih sama bapak dua hari yang lalu" ucap Baby.
"Undangan yang itu? Baiklah saya akan menghadirinya. Sekitar jam berapa ulang tahun itu?' Tanya Leon lagi. "Nanti jam 10 siang pak" lanjut Baby. Leon mengangguk singkat.
.
Semenjak Sinta mengenalkan Leon sebagai putranya kini rumahnya selalu dipenuhi oleh semua wanita yang penasaran akan kebenaran itu. Kadang Sinta sampai malas untuk membukakan pintu.
"Jadi gosip itu benar atau bohong? Kamu tidak bohong kan. Lagian Leon Pradipta selama ini belum mengenalkan keluarganya secara resmi. Kalau dia memang anakmu kenapa tidak menggunakan marga belakang nama suamimu?"
Sinta menghela nafasnya sambil menatap mereka semua. "Terserah kalian kalau tidak percaya, percaya bagus gak percaya ya udah. Oh iya kalau mau pulang pintu keluar ada di sebelah sana"
Sinta mengusir mereka dengan halus hingga mereka berdecak semuanya. "Kenapa lagi sih Ma, tiap hari ada aja orang yang datang kesini. Mama punya hutang apa sama mereka?"
"Papa, ini bukan hutang lho. Ini tentang anakmu. Mereka tidak percaya kalau Leon pradibta itu anak mama. Rasanya pengen tak hih mereka satu persatu.
"Udah lah Ma, ngapain harus kesal karena masalah begituan. Yang penting kamu adalah ibu kandung Leon itu aja sudah cukup bagi Leon. Leon tidak terlalu menuntut kesempurnaan dari seseorang.
"Iya deh. Oh iya gimana pinggang papa masih sakit enggak? Mau aku pijit atau aku beliin koyo aja?" Tanya Sinta. Semalam Gilang tidak bisa tidur karena pinggangnya yang sakit.
"Udah baikan kok, istirahat sebentar lagi mungkin juga akan mereda sakitya" ucap Gilang. Sinta mengangguk laku mereka pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi.
Sinta menidurkan dirinya di atas paha gilang sambil matanya menatap ke arah Tv. "Pa belakangan ini mama merasa ada yang aneh dengan Leon" ucapnya sambil menatap Tv.
"Aneh gimana maksud Mama?" Gilang balik bertanya. "Ya aneh aja, masa waktu Mama pergi ke apartemennya terus mama nyari Leon di kamar. Leon itu tidur sih pa tapi nyebut nama Baby sambil desah desah gitu" ucap Sinta.
"Hah? Mama yakin Leon seperti itu?' Tanya Gilang tak percaya. Karena yang ia tahu selama ini Leon itu kalem. "Apa mungkin Leon menyukai Baby ya pa?" Tanya Sinta lagi.
"isa jadi, ternyata anak kita sudah dewasa ya Ma" Sinta memilih menatap suaminya. "Umurnya sudah kepala tiga tapi masih belum punya pasangan. Mama khawatir aja sih sama dia"
"Mama khawatir Leon tidak suka dengan wanita lagi maksud mama adalah Leon berubah menjadi gay" ucap Sinta. Gilang menunduk dan melihat wajah Sinta yang ada di pahanya.
"Mama baru saja bilang kan kalau Leon mimpi dengan menyebut nama Baby apalagi sampe desah, itu sudah cukup sebagai bukti bahwa Leon tidak gay. Tunggu saja sebentar lagi, papa yakin Leon 100% akan segera membawa pasangannya kesini.
"papa yakin?" Tanya Sinta dengan ragu. "Yakin seyakin yakinnya. Kalau tidak yakin maka tetap harus yakin dan terus meyakini selama meyakini" ucap Gilang dengan tak biasa.
"Papa ngomong aja dah belibet, efek sudah tua nih" ejek Sinta pada suaminya. "Walaupun sudah tua tapi rambut papa tidak ada ubannya, coba lihat kamu. bahkan uban kamu sangat banyak".
"Oh my god, mama harus apakan rambut putih yang tak berguna ini" ucap Sinta dengan bingung. "Gampang Ma, beri aja ke tukang kredit dan bayar dengan rambut itu."
"Ide yang sangat bagus, tapi papa yang harus mencobanya" Sinta menatap Gilang dengan tatapan kesalnya. "Maaf papa tidak bisa hehe"
"Enggak anak, enggak bapak dua duanya sama sama ngeselin. Untung aku masih punya banyak stok kesabaran. Liat aja mereka"
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, sesuai dengan apa yang dikatakan Baby. Leon bersiap siap untuk pergi ke pesta ulang tahun perusahaan rekan bisnisnya itu. Leon tidak mungkin pergi sendirian, ia harus mengajak seseorang.
"Baby, bereskan semua barangmu dan cepat ikut saya" Leon memilih untuk mengajak Baby karena Baby adalah sekretarisnya sendiri. Jadi wajar jika Leon mengajaknya.
Baby yang saat itu sedang menyusun laporan langsung menatap Leon. "Saya pak? Ikut kemana?" Tanya nya. "Pergi ke pesta ulang tahun itu, saya tidak bisa datang sendirian. Kamu sebagai sekretaris saya harus menemani saya"
"Tapi pak saya tidak bisa" ucap Baby sambil menatap Leon. "Kalau kamu mau ikut saya gaji kamu bulan ini akan saya tambah menjadi dua kali lipat" Baby menggelengkan kepalanya. "Tidak pak kali ini bukan soal urusan uang..."
"4 kali lipat Baby, kalau kamu tidak mau saya bisa membayar orang lain saja" kali ini adalah penawaran terakhir dari seorang Leon praditpa untuk Baby Grezyca. "Oke deal, 4 kali lipat, ini karena bapak maksa aja ya? Bukan karena uangnya"
"Ck saya sudah hafal modus kamu. Ya udah ayo kita pergi. Sebelum pergi ke sana saya akan membelikan kamu gaun terlebih dahulu. Tidak mungkin kan kamu memakai pakaian kantor saat datang ke pesta ulang tahun?"
Baby melirik penampilannya sendiri dan mengangguk. "Tidak usah beli pak, saya di rumah masih punya gaun yang bagus. Mending anterin saya pulang dulu habis itu nanti saya ganti disana"
"Lalu bagaimana dengan make up nya? Kamu kan harus pergi ke salon dulu" Meski wajah Baby cukup cantik tetap saja harus di make up in supaya terlihat semakin cantik. "Saya bisa make up sendiri kok pak, enggak semua wanita harus pergi ke salon untuk make up"
"Baiklah, tapi make up nya yang benar. Jangan macam kucing garong nanti kamu malu maluin saya lagi" ucap Leon sambil menatap Baby. "Bukan saya yang malu maluin bapak, tapi bapak yang malu maluin saya" Baby membalikkan perkataan Leon.
"Kok saya? Memangnya saya memalukan karena apa?" Tanya Leon. Baby mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Sudah lah tidak usah dibahas ayo pak kita tidak boleh datang terlambat ke pestanya"
Leon menggelengkan kepalanya, ini yang diundang dirinya atau Baby sih. Baby terlihat bersemangat sekali dengan pesta ini. Padahal hanya acara formal saja. Lalu Leon mengikuti Baby dan membawanya ke tempat mobilnya yang diparkir.
"Mobil bapak yang mana?" Tanya Baby sambil melirik ke semua mobil yang terlihat di hadapannya. Leon tersenyum, Baby tidak mengenali mobilnya karena Leon sangat jarang menggunakan Lamborgini nya. "Tuh yang warna merah"
Baby menatap ke arah mobil butut yang berwarna merah, Baby mengira itu adalah milik Leon. "Ampun pak, kenapa gak bawa mobil lain aja. Kalau gini caranya bapak gak malu apa datang ke pesta ulang tahun dengan mobil butut?"
"Mobil butut?" Baby mengangguk. "Iya, ini mobil bapak kan?" Baby menunjuk ke arah mobil butut itu. Leon jadi gemas sendiri dibuatnya. Ia mendekati Baby dan memegang kepalanya lalu mengarahkan ke arah mobilnya sendiri. "Tuh mobil saya, bukan yang itu"
"OH MY GODD ini beneran mobil bapak kan? Atau bapak cuma minjam doang atau masih kredit." Ucap Baby sambil mengelilingi mobil Lamborgini milik Leon itu. "Gak usah norak, itu mobil saya. Kamu gak pernah liat mobil ini karena saya jarang pakai ke kantor"
"Bukan hasil pinjaman?" Tanya Baby sekali lagi. Membuat otak Leon semakin mendidih. Tanpa pikir panjang Leon mendorong Baby masuk ke dalam mobilnya. "Gak usah bawel dan duduk yang tenang"
"Lah kenapa? Mulut mulut saya. Kenapa bapak yang repot" Leon merasa jengah karena sedari tadi Baby terus mengomel inilah itulah sampai akhirnya bibir Leon membungkam bibir Baby. Cupp
"Diam atau saya cium kamu sampai gak bisa bernafas" Baby mengangguk lemah dan tidak berani membuka suara lagi. Leon tersenyum lalu menepuk kepala Baby dengan pelan. "Anak pintar" ledeknya.
"Huh dasar Singa, aku kira Singa nya udah hilang semenjak pernyataan itu keluar dari mulutnya. Eh tapi sama ajalah. Leon yang singa akan tetap menjadi Leon singa"
"Sudah siap?" Tanya Leon.
Baby tidak menjawab, matanya fokus menatap ke jalan raya. Ia tidak menjawab pertanyaan Leon. "Kamu marah sama saya? Kok enggak jawab pertanyaan saya?" Dalam hati Baby menggerutu tentang Leon.
"Nih orang maunya apa sih, katanya dari tadi disuruh diam. Tapi pas diam malah disangka marah, pengen ku jambakin aja rambutnya sampe botak." Batinnya.
Leon melambaikan tangan di depan wajah Baby. "Kalau kamu marah sama saya bilang bukan kayak gini caranya". Leon benar benar menghabiskan stok kesabarannya.
"Mau bapak gimana? Tadi bapak yang nyuruh saya diam. Kalau saya ngomong nanti bapak cium saya. Ya udah saya diam, giliran saya diam malah bapak yang merecoki saya. Mau bapak apa? Mau dijambak? Sini dengan senang hati saya akan melakukannya"
Leon hanya tertawa dalam hati. Ia sangat menyukai wajah Baby yang kesal seperti ini. Baby jadi terlihat imut saat sedang seperti ini. "Enggak deh, saya minta maaf. Udah gak usah marah seperti itu. Saya masih nahan nih buat gak nyubit pipi kamu"
"Siapa juga yang marah, saya cuma kesal aja sama bapak." Ucap Baby sambil mengalihkan pandangannya. Leon terkekeh pelan lalu membawa mobilnya pergi ke rumah Baby dulu.
Setelah sampai disana, Baby dan Leon turun bersama. "Bapak mau nunggu saya di dalam atau di luar?" Tanya Baby. "Di dalam saja, saya sekalian mau ketemu Marvel" jawab Leon. Baby mengangguk.
Baby dan Leon masuk ke dalam rumah dan menemukan rumah yang dalam keadaan berantakan. Kolor Pria ada dimana mana, bungkus makanan dan masih banyak lagi yang berserakan. "Ini pasti ulah Bang Marvel"
Leon hanya menatap ruangan itu dengan wajah yang tidak dapat ditebak. "BANG MARVELLLLLLLLLLL" Baby berteriak memanggil nama Marvel. Marvel yang saat itu masih boker terpaksa harus mengeluarkannya dengan cepat. Dan segera memenuhi panggilan Baby.
"Apa sih dek, baru datang bukannya salam kek atau apa ini malah teriak teriak. Disini bukan hutan Dek" tegur Marvel tanpa menyadari perbuatannya. "APA? MASIH NASEHATIN BABY. LIHAT RUMAH BERANTAKAN GARA GARA ABANG. INI ADA IUHHH KOLOR APAAN NIH BAU AMAT. TERUS BANYAK BUNGKUS MAKANAN. ABANG DI RUMAH NGAPAIN AJAA?"
Leon menutup kedua telinganya dengan tangannya. Suara Baby benar benar melengking. Leon hanya menatap Marvel dengan kasihan. "Sabar dek sabar, tadi abang cuma kebelet boker aja, ya udah abang buka disini terus pas mau lari gak sengaja nyenggol sampah makanannya dan beginilah hasilnya"
Baby menatap tajam Marvel sambil berkacak pinggang. "Pokoknya Baby tidak mau tahu, abang beresin ini semua. Baby mau pergi dulu sama pak Leon"
"Iya abang beresin tapi nanti ya? Abang belum selesai boker"
"SEKARANG ABANG, BUKAN NANTI"
"Iya iya, abang beresin sekarang"
Dalam hati Leon menertawai Marvel yang terlihat pasrah dengan omelan Baby. "Rasain, emang enak kena semprot adek lo"
Baby hanya orang tertentu aja 🙂
Jangan lupa mampir di novel ku juga ya~ Judulnya cinta kedua
Terimakasih🤗
KRNA ORNG NYA TLAH MENDAHULUI KITA...
TAMAT