Hanya sepenggal kisah tentang Andra dan Rhania, tidak ada yang spesial. Kisah sederhana dari pria humoris dan wanitanya.
Tidak disarankan untuk dibaca, risiko kalau sakit mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami Dadakan.
Bias cahaya menembus jendela kaca, kamar wanita cantik itu sungguh jauh dari kata rapi. Tidur dengan posisi seenaknya, boneka-boneka tak bersalah yang berada di sisi kanan kirinya kini bertebaran di lantai.
"Hoaaam." Rhania menggeliat dengan mata yang masih tetap saja terpejam.
Bukannya teebangun, cahaya matahari yang sedikit menyilaukan itu membuatnya kembali bersembunyi dibalik selimut tebal.
Badannya terasa begitu berat pagi ini, mungkin karena tidur terlalu larut lantaran membaca ulang pesan singkat yang Andra kirimkan berulang-ulang.
"Rhani!"
Tok tok tok
"Nia, kau masih tidur?"
Ketukan pintu kamar cukup membuat Rhania membuka matanya cepat, dengan rambut yang masih menyerupai singa itu Rhania beranjak keluar kamar.
"Heem, iya, Yah."
Rhania menjawab seadanya, menggosok matanya berkali-kali lantaran masih menyesuaikan dengan cahaya di sana.
Ceklek
Rhania menempelkan wajahnya di daun pintu, rasa kantuk masih menguasai dirinya. Sang Ayah hanya bisa menarik sudut bibir menyadari putrinya keluar kamar, ia begitu merindukan wajah itu, wajah yang kini hanya bisa ia tatap dalam gelap.
"Ada apa, Ayah?" tanya Rhania begitu malasnya.
Rhania menggenggam tangan pria yang menjadi pahlawan untuknya, tatapan kosong sang Ayah kerap membuat batin Rhania teriris. Kebutaan yang dialami sang Ayah sejak 4 tahun terakhir cukup menjadi alasan derasnya air mata Rhania kala ia sendirian.
"Calon suamimu ada di ruang tamu, lekas temui." Senyum itu masih sama tulusnya, wajah yang kini tak muda lagi masih akan tetap tampan di mata Rhania.
"Mas Mahran?" Rhania mengernyit, mungkin saja Mahran telah pulih, pikirnya.
"Lekas temui, Rhan." Pria itu menepuk pundak sang Putri, tak lama lagi Rhania akan resmi menjadi milik pria lain yang akan menjaganya, tak dapat dipungkiri kesedihan dan duka itu pasti ada.
"Iya, Ayah, sebentar lagi."
Rhania kembali ke kamar, mana mungkin ia menemui tamunya dalam keadaan begitu kacaunya. Terutama jika itu Mahran, tentu saja ia harus terlihat cantik, pikir Rhania.
"Oh no!! Kantung mata gue segede gaban."
Rhania membeliak menyadari kondisi wajahnya, andai saja ia tak begitu berlebihan tadi malam, mungkin hal semacam ini takkan ia dapatkan.
Rhania berjalan pelan, takut jika Mahran akan terkejut melihat penampilannya. Wanita itu sengaja mengganti pakaiannya meski belum mandi, meski cukup lama mengenal Mahran tetap saja ia merasa malu.
"Baru bangun ya?"
Pertanyaan itu membuat Rhania menghentikan langkahnya. Sejenak ia sadar, ini bukanlah Mahran. Rhania mengangkat wajah yang sedari tadi tertunduk malu, dan saat ini ia semakin malu kala menyadari Andra lah yang berada di rumahnya.
"Kau?" tanya Rhania tak percaya, bukankah tadi malam Rhania memintanya untuk datang siang hari, pikir Rhania.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh bertamu ke rumahmu?" tanya Andra diselingi dengan candaan sembari menghangatkan suasana.
"Iya boleh saja, aku hanya terkejut." Rhania berucap datar seraya menghampiri Andra, duduk di sofa yang berhadapan dengan pria tampan itu.
"Hahaha memangnya kenapa?" Andra menatap heran Rhania, wajahnya tak dapat diartikan.
"Ah tidak, aku pikir mas Mahran, karena kata Ayah ...." Rhania tak jadi meneruskan ucapannya, ia takut ini akan menyinggung perasaan Andra.
"Ah itu ... aku yang minta, Rhan." Andra mengerti maksud ucapan Rhania. Sengaja ia mengenalkan diri sebagai calon suami Rhania, bahkan ia sempat berbincang singkat bersama ayah Rhania.
"Hah?" Rhania menatap heran Andra sekaligus menahan debaran dada yang luar biasa.
Sebisa mungkin ia sembunyikan perasaan itu, tak ingin telihat gugup di depan Andra. Dan ini sungguh sulit, semakin ia sembunyikan semakin Rhania memerah.
"Kenapa? Kau tak suka?" Rhania menggeleng cepat, dan hal itu semakin membuat Andra terkekeh.
"Ehem, ada apa kau mendatangi rumahku sepagi ini, Andra?" tanya Rhania berusaha terlihat senormal mungkin, menutupi rasa gugup luar biasa yang tengah menguasai dirinya.
"Ah tidak, aku bosan di rumah," sahut Andra singkat.
"Kau bilang apa? Pagi? Rhania, pagi darimana?" Rhania menelan salivanya susah payah, mengikuti arah mata Andra keluar rumah.
Sungguh, kali ini Rhania merasa mati kutu. Jam berapa ia tidur hingga tak mampu mengendalikan diri, matahari bahkan sudah meninggi. Dan bisa jadi tukang bubur langganannya telah pergi lantaran pagi telah berlalu sejak tadi.
"Hahah iya-ya, aku lupa." Rhania merasa dirinya diselimuti rasa malu, bahkan menatap balik Andra saja ia tak mampu.
"Huft, tidur jam berapa kau? Hmm?" Rhania tak mungkin bisa menahan perasaan, hatinya luluh mendengar ucapan lembut Andra yang begitu menyentuh hatinya.
"Aku lupa, Ndra, terakhir lihat jam 3 pagi sepertinya." Rhania menjawab seadanya, pasalnya memang benar tadi malam ia tak bisa tidur.
"Ck, bukankah katamu akan tidur setelah aku pergi?" Andra mengerutkan dahi, merasa tak suka Rhania berpaling dari ucapannya.
"Iya, tapi nyatanya aku tak bisa." Rhania tengah mencari jawaban jika nanti Andra bertanya apa yang membuatnya tak bisa tidur.
"Hah? Wajar saja matamu seperti makhluk halus." Rhania melotot tak suka, selama ini tak pernah ia mendapatkan ucapan spontan dan seenaknya dari lawan bicaranya.
"Bisa diam tidak?!!" Rhania meninggi kala Andra tak mampu menahan tawanya, sungguh menyesal ia rela tak tidur demi memikirkan pria itu.
Andra mengatur napasnya, benar kata Raka, bisa jadi Rhania akan lebih membahayakan di banding Jelita jika nanti benar-benar resmi menjadi istrinya.
"Non, Non Nia!!" seru Nadia yang tiba-tiba menghampiri Andra dan Rhania yang tengah berbincang, jelas saja hal itu membuat Rhania panik.
"Kenapa, mba?" Rhania menangkap kekhawatiran di wajah Nadia, pekerja di rumah Mahran yang mendapat tugas mendampingi Rhania.
"Tuan muda ...." Ucapan Nadia terpotong kala Rhania berdiri dan merebut ponsel Nadia, ia tahu keluarga Mahranlah yang menghubungi Nadia.
Jujur, Andra tak suka dengan kehadiran Nadia pagi ini. Sungguh merusak suasana hatinya, Andra menatap teliti wajah serius Rhania yang kini bicara dengan seseorang di balik ponsel itu.
Tbc
Nanti aku up lagi ya, Keyboard hp nya ngajak ribut asli😣😣
Babang Andrwa : Thor nikahin aja gue buruan😭😭
Author : Sabar, Ndra. Kalian bukan Raka sama Jelita, salah sendiri di jodohin sama Sheinna gamau🙄
Babang andrwa : Ga gitu juga kali, sebenernya lu ada masalah apa? Dulu pas Raka tiap pagi udah up, kenapa pas gue ogah"an lu.
Author : Protes mulu, untung aja masih gue pikirin elu. Iya, Ndra gue janji dah rajin up, tapi gue males pembaca lu tu ganaik-naik heran gue. Like sama komen juga banyakan mantan gue apaan begitu🙄
Babang Andrwa : Stres nggak usah ngajak-ngajak, Thor. gosah bandingin gue sama Raka lah.
Author : Makanya diem, terima nasib aja dah. Ntar juga gue kawinin elu sama soto betawi, sabar napa. Kalau nggak sama dia ya sama gue, Ndra, santuy.
Babang Andrwa : Dih enak aja sama elu, mending gue ga nikah dah thor😣
Author : Sethaan elu, Ndra😊 udah sono sapa pembaca yang setia nungguin elu.
Babang Andrwa : Ngookey, Thor. Terima kasih buat kalian semua yang udah setia nemenin dari eps 1, dari popnya enul. Dampingin terus ya kalau bisa mau ngalahin Raka, love you guys💖💖
Author : Andra sok manis😒
Babang Andrwa : Dih suka-suka gue, sewot amat jadi cewek lu-_
Sekian, doain ya semua kembali normal. Keadaan, dunia, semesta, hati dan kita semua kembali baik-baik saja. Andra akan tetap jadi prioritas meski aku juga bangun Alvino, nanti kalau Alvino dah banyak eps nya aku bawa kemari ya. 💖🤗
Sehat selalu kalian semua💖🤗🤗
Singkat tapi jelas
Akhirnya abang giant bakal punya spp ni
berenang ke tepian,,,
remuk badan dahulu
baru bisa jadian..../Joyful/