Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'MOMMY'
"Mommyy..." Samudra berlari dari kamarnya menuju dapur rumah. Dia mendapati Raniya tengah membuat sarapan pagi itu.
Raniya terkejut. Bukan karena dekapan Samudra yang begitu tiba-tiba dari belakangnya, tapi panggilan baru bocah itu terhadap dirinya.
"Mo-mommy?" Ulang Raniya seraya membalikkan badannya dan menatap lekat wajah sumringah Samudra.
"Iya... Mommy... Tante suka kan? Jika Sam, Sunny dan Langit memanggil Tante, Mommy?" Tanya Samudra tampak berharap.
"Eh?" Raniya masih bingung. Dia berjongkok di depan Samudra.
"Kenapa Tante? Tante tidak suka ya?" Tanya Samudra tersurut iba.
"Tidak, Sayang... Tante suka sekali malah, Nak..."
"Daddyyyy..." Samudra kembali sumringah. Belum selesai Raniya mengucapkan kata-kata, Samudra telah berlari sembari menyerukan Daddy. Hal itu membuat Raniya semakin bingung. Mata Raniya mengikuti langkah Samudra hingga ke arah pintu dapur. Di sana, di ambang pintu, Taufiq telah berdiri dan bersiap menyambut tubuh Samudra.
"Kenapa, Sam?" Tanya Taufiq girang mengikuti suasana hati Samudra yang tergambar jelas di wajah bocah itu.
"Tante Raniya mau Sam panggil Mommy, Dad..." Ujarnya senang.
Raniya melirik Taufiq seakan meminta penjelasan.
"Kalau boleh, jangan panggil Tante lagi dong." Ujar Taufiq ikut bersemangat menyahuti ucapan Samudra.
"Oh iya. Sam lupa. Mommy..." Ulang Samudra kesenangan.
"Ya sudah... Sam bangunkan Sunny ya. Ajak dia sarapan bersama kita." Perintah Taufiq seraya menurunkan Samudra dari dalam gendongannya.
"Baik, Daddy..." Samudra mengiyakan perintah Daddy-nya dan segera berlari meninggalkan mereka dalam kecanggungan.
"Mommy? Kamu kah yang menyuruh Samudra memanggilku dengan sebutan itu?" Tanya Raniya menatap curiga ke arah Taufiq berdiri.
"Tidak salah, bukan? Kalau pun bukan aku, mereka mestinya memang harus memanggil kamu Mommy. Kamu sekarang sudah menjadi ibu mereka, Raniya." Sahut Taufiq ketus. Dia mulai melangkah ke meja makan.
Benar, Fiq... Aku sekarang memang telah menjadi ibu mereka. Tapi bukan berarti aku setuju dengan caramu. Ini tidak adil untuk mereka, Fiq. Kamu boleh untuk terus-terusan mengunci hatimu dan tetap hidup dalam bayang-bayangan Renima, sedangkan mereka tidak. Kamu egois, Fiq... Tidak akan aku biarkan mereka melupakan ibu yang telah melahirkan mereka ke dunia ini.~ Gumam Raniya marah. Dia kecewa dengan sikap Taufiq yang baru saja dia ketahui.
Yaa Allah... Sebegitu jahatnya dia, tetapi kenapa rasa cinta ini masih ada untuknya?
"Mommy..." Suara merdu Sunny membangunkan Raniya dari lamunannya. Mendengar panggilan Sunny, membuat bulu kuduknya meremang seketika. Matanya memerah dan berkaca-kaca.
Raniya menoleh ke arah Sunny yang datang sambil bergandengan tangan bersama Samudra. "Eh... Sunny sudah bangun, Nak?" Ucap Raniya menyahuti panggilan Sunny.
"Suda Mommy... Tadi Tak Cem bilang, Canny boleh pandil Tante Mommy... Bennel?" Ucap Sunny dengan suara cadelnya. Dia tampak berharap ketika memandangi wajah Raniya yang masih dilanda kebingungan saat itu.
Sejenak, Raniya menoleh ke arah Taufiq yang terlihat acuh tak acuh di meja makan. Raniya kembali memandang wajah teduh Sunny.
Ingin sekali, Sayang. Itu yang Mommy harapkan. Tapi Mommy tidak ingin menjadi egois. Walau bagaimanapun, kalian punya Mommy yang telah melahirkan kalian...
Raniya mengangguk, memberi kepastian kepada Sunny yang telah menunggu jawaban darinya sedari tadi.
"Yeee... Ma aci Mommy..." Soraknya kegirangan. Dia memeluk Raniya dengan begitu erat, Samaudra juga mengikut.
"Sampai kapan kalian akan memeluk Mommy begitu? Daddy sudah lapar ini..." Sungut Taufiq berlagak cemberut.
Sunny dan Samudra melepaskan Raniya dan menoleh cepat ke arah Taufiq.
HAHAHA...
Mereka serentak tertawa melihat Taufiq yang memanyunkan bibirnya sambil memegangi perut atletisnya yang berbalut oblong bewarna coklat.
Raniya ikut tersenyum. "Ayo Samudra, Sunny... Kita sarapan, Nak." Ajak Raniya sembari menggandeng tangan anak-anak itu kiri dan kanan.
Untuk pertama kalinya mereka sarapan bersama setelah menikah. Awalnya memang canggung bagi mereka keduanya, tapi mereka sama-sama pintar menyembunyikan rasa itu. Taufiq sesekali memang memerhatikan Raniya. Keyakinannya masih besar untuk melumpuhkan hati Raniya suatu hari nanti.
Begitu pula dengan Raniya. Banyak rencana-rencana yang tengah ia pikirkan saat itu. Dia mulai bertekad akan meruntuhkan sikap Taufiq yang egois dan berharap agar bisa menerima dirinya sebagai istri di suatu saat.
Sarapan usai. Taufiq menciumi pipi Samudra dan Sunny. Ia berpamitan kepada anak-anak itu hendak ke kantor.
"Samudra... Sunny... Mommi antar Daddy ke depan dulu ya..." Ucap Raniya mengekori Taufiq.
Setelah berada di ruangan berbeda dengan anak-anak, Raniya menfhentikan lanfkahnya. "Fiq..." Panggil Raniya juga ikut menghentikan langkah Taufiq.
Taufiq menoleh kembali ke belakang. "Kenapa? Kamu ingin protes lagi?" Tanya Taufiq ketus.
"Tidak... Aku hanya ingin meminta sesuatu kepadamu, Fiq." Ucap Raniya gugup.
"Apa pun... Katakan... Walau bagaimana, kamu istriku yang wajib aku penuhi kebutuhanmu..." Ucap Taufiq yakin.
"Kamu suamiku, bukan?"
"Iya..."
"Walau pernikahan kita hanya demi anak-anak?"
Taufiq terdiam sesaat. "Lalu?"
"Izinkan aku untuk tetap bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai istrimu, Fiq..." Pinta Raniya.
"Maksudmu?" Taufiq menatap bingung tepat pada bola mata Raniya.
Raniya tersentak. Dia pikir, dia telah salah bicara. "Ma-maksudku... Aku ingin mengantarmu ke depan setiap akan berangkat bekerja, dan menyalami tanganmu. Menyiapkan kebutuhanmu, pakaianmu, makanmu. Tidak lebih..." Ujar Raniya berusaha meluruskan ucapannya semula.
"Owh..." Taufiq bertindak seakan-akan lega mendengar kejelasan ucapan Raniya dan kemudian menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Raniya.
"Eh?" Raniya malah menatap bingung tangan Taufiq yang tiba-tiba terjulur ke padanya.
Taufiq mengode Raniya dengan matanya untuk segera menyambut tangannya itu.
"Oh... I-iya..." Raniya segera menyalami tangan Taufiq dan menempelkan punggung tangan Suaminya itu ke dahinya.
"Aku berangkat... Assalamu'alaikum..." Pamit Taufiq.
"Wa-wa'alaikumussalam warahmatullah..." Sahut Raniya canggung. Hatinya berkecamuk girang di dalam dadanya. Dia terus menatap Taufiq hingga menghilang bersama sedan yang menumpangi suaminya itu dari pekarangan rumah Haytham.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍