Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami Alya
Mobil Jeep yang dikendarai Haydar sudah berhenti di parkiran khusus dekat masjid di desa Ranupani. Dimas membantu Alya untuk turun, kehangatan suasana desa sangatlah asri. Kearifan lokal yang terlihat membuat setiap mata memandang takjub. Apalagi pengunjung yang datang dari kota yang padat penduduk, Mereka akan mendapat pemandangan berbeda disini. Terik matahari tak membuat udara menjadi panas, justru menjadi sejuk. Hembusan agin menari-nari menggoyangkan helaian pakaian yang dikenakan siapapun yang berada diluar.
Terlihat bapak - bapak suku Tengger masih melilitkan sarung dengan ciri khasnya. Anak kecil berlarian tanpa menggunakan alas kaki, sedangkan para wanita sibuk didapur. kepulan debu beterbangan karena wilayah di desa masih sebagian tanah. Alya dan Dimas mengekori Haydar berjalan menuju basecamp diatas. Sesekali Alya mengambil objek natural dari kehidupan disana.
Signal mulai redup, Alya sudah sempat mengabari orang rumah dan kakaknya kalau mereka sudah tiba di desa Ranupani. Alya mengeluarkan kembali kamera pro nya, mulai membidik beberapa Objek. Sedangkan Dimas secara diam-diam mengambil gambar pose Alya yang sedang lihainya menggunakan kamera.
Setelah berjalan sekitar 1 kilo akhirnya mereka tiba di basecamp yang sudah dipadati oleh pendaki. Alya mencari tempat yang dikirimkan oleh Byan. Ia melihat bendera kampusnya terpasang tak jauh dari rumah Alr. Pak Tumhari (sesepuh Desa Ranupani). Dimas seakan nostalgia hampir 10 tahun lamanya ia tidak menginjakkan dikaki gunung, kini Ia harus menghabiskan waktu beberapa hari kedepan bersama calon istrinya membantu mengerjakan tugas.
"Hei Al baru sampai?" Tanya Byan yang menghampiri Mereka.
"Iya Yan, kenalkan ini Kak Dimas dan ini Mas Haydar." Ucap Alya sambil menunjukkan satu persatu orang bersamanya.
Byan menyalami satu persatu orang yang dikenali Alya, tatapannya tak menyukai keberadaan Dimas. Dan sebaliknya Dimaspun memberikan tatapan ketidaksukaan terhadap Byan. Haydar lalu ijin kepada Alya untuk meninggalkan mereka, nanti setelah waktu yang telah disepakati Haydar akan menjemput mereka disini.
"Ayok ikut gue ketempat anak-anak." Ajak Byan berjalan lebih dulu.
Dimas mengekori Alya dibelakang, sedangkan Alya masih sibuk membidik objek yang dirasanya cukup sebagai bahan. Ia harus menyiapkan persediaan gambar sebanyak mungkin. Untuk memudahkan proses editing nanti.
"Hati-hati langkah Mu." Tegur Dimas ikut sejajar berjalan dengan Alya.
"Oh iya kak, makasih sudah diingatkan." Jawab Alya.
Byan mulai memberikan arahan kepada peserta anggota baru, Alya sudah siap mengambil video . Dimas yang merasa bosan lalu keluar sebentar untuk menyalakan sebatang rokok. Sebenarnya Ia bukan perokok aktif, tetapi cuaca yang menuntunya untuk mengisap barang berbahan nikotin tersebut.
"Kenapa keluar Bang? kamu ini kakaknya Alya atau saudaranya? sepertinya tadi datang bersamaan." Tanya wanita berambut pirang salah satu dari panitia kampus Alya.
"Cari udara, Saya calon suami Alya." Jawab singkat Dimas.
(Gila ! cowok ganteng dihadapan gue ini ternyata calon suami Alya. Beruntung banget si cewek aneh itu. Tapikan baru calon, bisa Kali dipepet. sebelum janur kuning melengkung. Batin wanita pirang itu sambil menyeringai licik).
"Kenalin nama Aku Angel. Nama kamu siapa?" Tanya Angel.
"Dimas." Jawab Dimas singkat.
Asap hembusan rokok Dimas menutupi wajah Angel, karena risih Ia pun bergegas meninggalkan Dimas diluar dan kembali masuk bergabung dengan panitia lainnya. Sementara Dimas diluar sana tertawa karena ulahnya wanita gatal itu pergi meninggalkan.
Dimas masih berlama-lama diluar, Ia tidak ingin menggangu kegiatan kampus Alya. Dirinya hanya memastikan keadaan Alya baik-baik saja.
Setelah pukul 2 siang, seluruh peserta dan panitia bersiap melakukan pendakian. Dalam perjalanan naik dibagi menjadi 4 Kelompok. masing-masing kelompok terdiri 3 orang peserta dan 2 orang panitia.
"Al nanti selama nge camp Lo satu tenda dengan panitia cewek, biar abang Lo ini ikut dengan Gue satu tenda." Jelas Byan.
Dimas yang mendengar sebutan dirinya dengan kata 'abang' segera meralat ucapan Byan yang menurutnya sok tahu.
"Sebelumnya kenalkan Saya Dimas, calon suami Alya. Terima kasih atas tumpangan Mu." Tegas Dimas yang membuat nyali Byan menciut.
Deg !
Byan yang mendengar pengakuan Dimas sangatlah terkejut, bagaimana bisa Alya yang terlihat dikampus tidak pernah dekat dengan laki-laki selain Raka bisa sudah punya calon suami. Dan Byan merasa tidak pernah melihat wajah pria dihadapannya ini dikampus.
(Apakah Ia dari kampus lain? Gumam Byan).
"Yan baik-baik aja." Tegur Alya.
"Eh iya Gue baik-baik aja. Ya sudah silahkan kalian lanjut ambil gambarnya. Jika butuh sesuatu langsung walkie talkie aja ya. Ini pegang 1 Al." Jelas Byan sambil memberikan HT walkie talkie kepada Alya.
Alya menerimanya dan Ia gantungkan dipegangan carriel bagian Kiri. Dimas menawarkan Alya untuk membawa Daypack nya. Karena untuk meringankan langkahnya Alya pun menyetujui. Kini Ia hanya membawa satu carriel dan mengalungkan kamera pro nya. Dengan lincah Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Dimas dibelakang.
(Hufftttt ... apes bener. malah ditinggal duluan bukannya nungguin atau minimal jalan beriringan gitu Al. Dengus Dimas).
Setelah beberapa langkah Alya menyadari Dimas tidak ada didekatnya segera mencari kekanan kekiri, ketika menoleh kebelakang Ia melihat Dimas sedang berjalan dengan seorang wanita.
(Baru ditinggal sebentar udah gatel pepet cewek. gerutu Alya sambil mematuk matukan sepatunya ketanah).
Dimas yang menyadari Alya didepan sedang kesal semakin menjadi meladeni obrolan lawan jenisnya hingga melewati posisi Alya berdiri. Tanpa menoleh melihat dirinya yang mendengus kesal.
(Rasakan itu Al, siapa suruh kamu tinggal saya dibelakang. Kena deh kerjain balik. Kekeh Dimas).
"Kamu kenapa Mas, seperti ada yang lucu?" Tanya pendaki wanita.
"Ouh tidak ada, silahkan dilanjut." Jawab Dimas.
Alya berjalan cepat mengejar Dimas, dan ketika sampai diantara Mereka, lalu Alya memotong jalan diantara keduanya.
"Permisi ya, duluan." Ucapnya sedikit jutek.
"Kamu marah Al?" Teriak Dimas dibelakang.
Alya hanya menoleh kebelakang sebentar, lalu berjalan kembali tanpa memperdulikan Dimas.
"Maaf ya mbak, Saya duluan itu calon istri Saya kayanya ngambek." Ucap Dimas lalu berjalan meninggalkan pendaki wanita yang terdiam setelah mendengar pengakuan Dimas.
Terjadilah aksi kejar-kejaran dijalan menanjak, Dimas yang mulai kelelahan dengan beban bawaanya mulai melambat. Alya yang menyadari posisi Dimas yang menjauh segera menoleh kembali kebelakang.
Alya terkekeh melihat ekspresi wajah Dimas yang penuh dengan keringat, seperti selesai habis mandi.
"Alya, tunggulah calon suami Mu ini!" Teriak Dimas yang masih mencoba mengatur nafas sambil berjalan pelan.
Alya segera berjalan menghampiri Dimas, dengan muka juteknya Ia berhenti lalu menolak pinggang dihadapan Dimas.
"Kak Dimas enggak usah teriak-teriak gitu juga. Ini tih di gunung bukan di pasar." Ucap Alya kesal.
"Hehe maaf, habis Kamu enggak empati dikit sama calon suami Mu ini." Jawab Dimas memelas.
Alya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Dimas seperti ini. Saat di kota terlihat gagah dan wibawa, tetapi saat di gunung menjadi terlihat lebih manja. Alya menepuk jidatnya pelan.
.
.
.
Renata nya Thor