NovelToon NovelToon
KETULUSAN HATI ELINA

KETULUSAN HATI ELINA

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Henny

Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Susi

Emosi Elina ingin rasanya meledak saat melihat apa yang Susi lakukan bersama pria itu.

Dari bahasa tubuh mereka, jelas sekali kalau mereka ada hubungan khusus. Apalagi sekarang pria itu sudah berpindah tempat duduk di samping Susi. Tangan pria itu bahkan sudah melingkar di bahu Susi.

Elina mengambil ponselnya. Ia harus menyimpan bukti ini. Ia tak mau Susi menipu Okan.

Ia mengambil beberapa gambar lalu menyimpan ponselnya kembali. Elina pun keluar dari restoran itu. Ia menunggu di dalam mobilnya.

30 menit kemudian, Susi keluar dari restoran sambil bergandengan tangan dengan pria itu. Susi naik ke sebuah taxi dan pria itu pergi dengan motornya.

Elina diam-diam mengikuti taxi yang Susi tumpangi. Taxi itu berhenti di sebuah kawasan apartemen yang cukup mewah. Saat Susi turun dari taxi, ia kemudian berkaca di depan ruangan lobby. Memperbaiki rambut panjangnya. Mengoles sedikit lipstick lalu segera masuk.

Elina tak bisa mengikuti Susi. Ia pasti ketahuan. Cukup lama Elina menunggu. Hampir 2 jam lamanya. Lalu ia melihat Susi keluar dari apartemen. Bersama 2 orang perempuan. Mereka naik mobil yang terparkir di sana. Elina pun mengikutinya.

Mobil itu berhenti di sebuah Salon sekaligus Spa. Dari balik kaca, Elina melihat Susi yang sementara melakukan perawatan wajah dan rambut. Begitu juga dengan kedua temannya.

Akhirnya, Elina mengikuti Susi sepanjang hari itu. Selesai dari salon, mereka pergi makan di sebuah restoran mewah dan berakhir di mall sampai malam tiba. Elina yakin kalau hari ini Susi tak menemui dosennya. Ia hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan melupakan anaknya.

Elina memilih pulang karena Okan sudah berulang kali meneleponnya. Ia tiba di rumah saat jam sudah menunjukan pukul setengah 8 malam. Nampak Okan sedang memeluk Haikal yang sedang menangis di ruang tamu.

"Assalamualaikum, mas." Elina memberi salam.

"Kok pulangnya malam, sayang? Aku sangat khawatir."

"Maaf, mas. Dewi nggak masuk jadi aku yang melayani beberapa pesanan kue. Haikal kenapa?"

"Haikal haus. Ia tak mau meminum susunya. Dia ingin ASI. Entah dimana Susi. Ponselnya juga tidak aktif."

"Boleh aku menggendongnya? Ibu mana?"

"Ibu keluar tadi selesai magrib. Pengasuh Haikal sedang makan."

Elina mengambil Haikal dari gendongan Okan. "Mana botol susunya?"

Okan mengambilnya di dapur. Saat ia kembali ke ruang tengah, Haikal sudah berhenti menangis. Elina nampak sedang bercakap dengannya.

"Anak tampan, kamu haus ya? Sekarang minum susunya ya?" Elina terus berbicara dan bayi Haikal mengikutinya dengan suara khas bayi. Saat Elina mendekatkan botol itu di mulut Haikal, bayi itu langsung mengisap ujung botol itu.

"Good boy! Minum yang banyak ya. Supaya cepat besar. Jadi anak Soleh."

Okan sungguh terharu melihat bagaiman Elina bisa membuat Haikal meminum susunya. Ia tak mengira kalau Elina akan menyayangi Haikal setulus ini. Ia membayangkan, jika Haikal adalah anaknya bersama Elina pasti akan sangat membahagiakan.

Bayi Haikal langsung tertidur saat ia sudah menghabiskan susunya. Elina menidurkan Haikal dipundaknya sambil menepuk-nepuk pundaknya. Tak lama kemudian Haikal sudah bersendawa. Elina kembali menidurkan Haikal di pelukannya.

"Assalamualaikum!" Susi masuk dengan gayanya yang polos. Berhijab tanpa ada make up apapun di wajahnya.

"Kamu kok pulangnya sudah sangat malam? Kasihan Haikal dari tadi menangis. Apa kamu lupa kalau ada anak bayi di rumah?" Okan langsung menyerang Susi.

"Maaf, mas. Dosennya lama baru datang. Ponselku juga kehabisan daya." Susi tertunduk dengan wajah penuh penyesalan. Ingin rasanya Elina menyebutkan kemana saja Susi pergi selama satu hari ini. Namun ia masih bisa menahannya. Elina akan menunggu saat yang tepat.

"Cepat bersihkan dirimu dan segera beri ASI untuk Haikal."

"Ada apa ini? Kenapa marah-marah?" Larasati yang ternyata juga sudah pulang langsung bertanya karena ia mendengar suara Okan dari luar.

"Susi, bu. Baru saja pulang. Haikal menangis terus. Untung saja Elina bisa membujuknya. Haikal baru saja tertidur." Ujar Okan masih dengan wajah kesalnya.

"Susi sudah bilang ke ibu kalau dia akan pulang malam." Larasati membela.

"Tapi ini sudah terlalu malam untuk perempuan yang masih memiliki anak bayi." tegas Okan.

"Di sekitar rumah dosenku, jarang ada taxi yang lewat. Aku sudah pesan taxi online tapi lama datangnya." Kata Susi sambil menangis.

"Ya sudah. Kamu bersihkan diri dulu. Biar Haikal sama ibu." Larasati melepaskan tas yang dibawanya. Ia lalu mengambil Haikal dalam gendongan Elina. Susi pun segera menaiki tangga menuju ke kamarnya.

Hati Elina sangat dongkol. Ia tak percaya, Susi yang polos dan lugu ternyata sangat jauh berbeda saat berada di luar rumah.

"Mas, aku mau mandi dulu." Kata Elina.

"Aku akan ke kamar bersamamu." Okan langsung memegang tangan Elina dan keduanya berjalan menuju ke kamar Elina.

Saat Elina masih membuka bajunya, Okan juga ikut membuka bajunya. Elina mengerutkan dahinya. "Mas?"

"Aku juga belum mandi, sayang."

Wajah Elina langsung menjadi panas. Sudah lama ia dan Okan tak mandi bersama.

"Kenapa wajahmu jadi merah?" Goda Okan sambil mendekat.

"Aku....!" Elina kehilangan kata-kata.

Okan langsung mengangkat tubuh Elina yang hanya dibalut baju dalamnya untuk masuk ke kamar mandi. Ia kemudian menurunkan Elina dibawah shower. Elina langsung menggulung rambutnya karena ia sudah keramas tadi pagi.

Keduanya pun mandi bersama. Saling menyabuni tubuh masing-masing. Kadang tangan Okan bergerak nakal menyentuh bagian sensitif Elina.

"Mas....!" Elina memukul tangan Okan dengan sedikit gelisah karena sebenarnya ia mulai tergoda dengan sentuhan suaminya.

"Jadi kepingin, sayang." Okan langsung mendekap tubuh istrinya dan mencium Elina dengan penuh gairah.

Akhirnya, acara mandi mereka menjadi lama karena keduanya larut dalam penyatuan raga.

"Mas, aku mau tanya, setelah kau dan Susi bercinta dibawa pengaruh obat perangsang yang diberikan ibu, apakah setelah itu kau pernah menyentuhnya lagi?" Tanya Elina saat mereka sudah selesai mandi dan berganti pakaian.

Okan menatap istrinya yang duduk di tepi tempat tidur.

"Nggak pernah."

"Memangnya Susi tak pernah meminta?"

Okan teringat beberapa hari yang lalu, saat ia ke kamar Susi dan melihat perempuan itu menggunakan gaun tidur yang sangat seksi.

Setelah Okan sudah berhasil menidurkan Haikal dan meletakannya di dalam box bayi, Susi tiba-tiba memeluknya dari belakang.

"Mas, mengapa kau tak pernah menyentuhku lagi? Apakah aku kurang menarik di matamu?"

Okan melepaskan pelukan Susi dan melepaskan tangan perempuan itu yang melingkar di perutnya.

"Jangan seperti ini, Susi."

"Mas, aku juga wanita yang rindu disentuh olehmu. Aku sudah memberikan kamu anak. Memberikan apa yang diinginkan ibu selama ini, tak bisakah aku mendapat kesenangan dalam hubungan selaku suami dan istri?" Susi maju. Ia kemudian melingkarkan tangannya di leher Okan.

"Mas, aku begitu ingin kau sentuh." Susi hampir saja mencium bibir Okan. Namun Okan bergerak cepat. Ia memalingkan wajahnya dan segera melepaskan tangan Susi yang melingkar di lehernya.

"Jangan seperti ini, Susi."

"Mas, aku ini istrimu. Aku kadang begitu cemburu melihat bagaimana mesranya kamu pada mba Elina dan betapa dinginnya kamu padaku. Aku mencintaimu, mas. Tak bisakah aku mendapatkan sedikit kehangatan dalam belaianmu? Aku tak memintanya selalu. Hanya sesekali saja." Susi menangis.

"Kamu kan tahu aku menikahimu dalam keadaan terpaksa. Kamu juga tahu, Elina adalah cinta terbesar dalam hidupku. Aku tak bisa menyentuhmu karena perasaanku padamu hanya sebatas adik dan kakak. Cinta itu tak dapat dipaksakan, Susi. Mengertilah."

Susi tiba-tiba menurunkan tali gaun tidurnya. Saat gaun itu jatuh ke lantai, Okan langsung membalikan badannya karena ternyata Susi tak memakai apapun di balik gaun tidurnya.

"Jangan seperti itu, Susi. Jangan permalukan dirimu. Karena sekalipun kau bertelanjang di depanku, aku hanya akan bergetar saat bersentuhan dengan Elina. Maafkan aku."

"Mas....!"

Okan langsung meninggalkan kamar Susi. Ia benar-benar kesal.

********

"Mas.....!" Elina menyentuh bahu Okan, membuyarkan lamunan Okan tentang peristiwa yang terjadi beberapa malam lalu.

Okan membelai wajah istrinya. "Percayalah, hanya kau wanita yang bisa membangkitkan hasrat dalam diriku."

Elina memeluk Okan. "Jangan menyentuh Susi, mas. Aku tahu dia memang istrimu. Aku tahu permintaan ku ini tak adil sebagai sesama istrimu." Aku tak ingin kau mendapatkan penyakit karena mungkin Susi sudah pernah tidur dengan gadis lain. Aku juga ingin mendapatkan bukti yang banyak sebelum menunjukan padamu, mas.

Okan mencium puncak kepala Susi secara berulang-ulang. "Aku tak mungkin menyentuhnya lagi."

"Mas, aku lapar."

Okan melepaskan pelukannya. "Kamu belum makan? Nanti kamu sakit, sayang. Ayo kita ke ruang makan!" Okan langsung menggandeng Elina dengan penuh kasih.

*********

Sudah 2 minggu ini Elina sibuk mengatur rumah barunya bersama Okan. Beberapa barang mulai dimasukan. Rumah berlantai 2 ini lebih besar dari rumah Okan yang pertama.

Di lantai dua, ada ruang tamu dan juga dapur mini. Ada 3 buah kamar dengan satu kamar utama yang paling besar.

Di lantai satu juga ada 3 kamar utama dan 2 kamar pelayan yang dibangun di bagian belakang. Taman bunganya juga mulai ditatah. Elina senang karena sebentar lagi ia akan mengurus taman bunganya sendiri. Di bagian belakang ada kolam renang.

Anita dan Dewi juga kadang ikut dengan Elina saat tak ada pekerjaan. Mereka membantu Elina dalam menata setiap ruangan.

"Na, lapar nih. Di dekat sini ada yang jual makanan, nggak?" Tanya Dewi.

Elina menatap jam tangannya. Sekarang memang sudah hampir jam setengah delapan malam. Hari ini Okan dan Zeki sedang ke Bandung. Mereka akan pulang besok. Makanya Elina memilih menghabiskan waktu di sini. Ia juga sudah mengirim pesan pada ibu mertuanya untuk mengatakan kalau ia akan pulang jam 10 karena banyak pekerjaan. Larasati memang belum mengetahui perihal rumah baru ini.

"Aku yang akan membeli makanan. Kalian mau pesan apa?" Tanya Elina.

"Aku gado-gado." Kata Anita.

"Aku mie goreng. Jangan lupa jus alvokadnya." Ujar Dewi. Perutnya mulai kentara karena sudah memasuki bulan ketiga.

"Ok. Tunggu aku ya...." Elina pun pergi dengan mobilnya untuk membeli makanan. Sampai akhirnya ia melihat sebuah kios makanan yang menyediakan semua yang dipesan oleh kedua temannya.

Parkiran di sana juga agak padat. Ternyata pengunjung kios makanan itu lumayan banyak.

"Langkah Elina terhenti saat ia melihat lagi Susi dengan lelaki itu. Mereka sedang sedang saling menyuapi makanan. Elina mengerutu kesal karena ponselnya tak ia bawa.

Untung saja tempat duduk mereka ada paling sudut sehingga kurang terjangkau dengan cahaya.

Perlahan Elina mendekati Abang penjual. Ia memesan 1 nasi goreng, 1 gado-dodo dan satu mie goreng.

Saat pesanan Susi masih dibuat, ia melihat lelaki itu berdiri setelah Susi memberikannya uang. Elina sengaja bersembunyi karena ia tak ingin mereka melihatnya.

Abang penjual tampak sangat akrab dengan lelaki itu yang ternyata bernama Iqbal.

"Pelanggan tetap ya, bang?" tanya Elina saat Susi dan Iqbal sudah pergi.

"Iya, neng. Saya sudah kenal keduanya sangat lama. Ada sekitar 5 tahun. Iqbal kan satu tempat kost dengan aku. Neng Susi kadang seharian ada di kostnya Iqbal."

"Oh, mereka pasangan ?"

"Iya. Kamar kami kan bersebelahan. Pacaran anak muda zaman sekarang. Belum nikah resmi tapi sudah kayak suami istri. Desahannya kadang terdengar sampai ke sebelah."

"Ya tahulah bang zaman sekarang." Elina menahan emosinya. Dasar Susi sok alim. Jangan-jangan Haikal bukannya anak mas Okan? Tapi wajah Haikal mirip mas Okan, kok.

Setelah menerima pesanannya, Elina pun pulang dengan berpikir keras, bagaimana ia akan membongkar aib nya Susi.

Makin penasaran?

Dukung emak dulu ya...

Maaf nggak bisa up setiap hari. Emak sudah masuk kerja lagi setelah 1 bulan cuti semenjak ibuku meninggal, lalu aku masuk rumah sakit. Sabar ya....😍😍😍

1
Hera sasuwe
👍
pipi gemoy
vote Thor ✌🏼
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼🙏🏼🌹
pipi gemoy
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
balas. Eli jgn terlalu polos 👻🌹
pipi gemoy
beh Okan, padahal bisa langsung talak Susi kan nikah siri juga tapi ajak kongkalikong spy ibu mu tak tahu👻👻👻👻👻👻👻
pipi gemoy
gemes nya gue sama si Eli 👻😑
pipi gemoy
congrats Eli n Okan 🌹
pipi gemoy
hadir lagi Thor ☝🏼
Dewa Nara
teknik arsitektur, Thor, bukan teknik arsitek
Dewa Nara
bagus Thor
fitri
bagus banget ceritanya...
karyanya memang keren²...
fitri
nyesek bangetttt....😭😭😭
Retna Tri Tunjung
akhirnya happy buat Elina dan Okan..
Retna Tri Tunjung
aku baru baca novel ini, sp maraton bacanya, di part ini sp menangis aku....
Ari Peny
aq baca lg novelmu thor kangen kemesraan keduanya
keke global
part termewek 😭😭
keke global
novel novelnya ga ad yg gagal
Elsye Nurhayati
Luar biasa
🇬 🇪 🇧 🇾
hai ak baru Nemu kisahnya ellina,mba ellina kamu hebat,
mas okan juga hebat otthornya juga hebat

Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!