Elina gadis biasa dan lugu dari keluarga kurang mampu. Memutuskan untuk menjadi TKW di Negara Hongkong untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Siapa sangka, majikannya seorang ketua gangster yang di takuti, kejam dan tidak memiliki belas kasih.
Dalam sebuah pembicaraan di antara dua gangster yang sedang bertikai, Elina mendengar perbincangan mereka tentang rahasia besar aksi kejahatan yang akan mereka lakukan.
Elina hanya punya dua pilihan
1. Dia ikut terlibat
2. atau di lenyapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SO 25
Elina dan Lastria perlahan keluar dari persembunyiannya. Berdiri tegap dengan kedua tangan di atas. Sesaat mereka saling pandang, Lastri berdiri dengan lutut yang gemetar karena takut. Tetapi tidak dengan Elina, di pikirannya hanya teringat kata kata Rayden saja untuk tetap di rumah dan menunggunya pulang.
"Siapa yang bernama Elina!" pria tersebut membentak keduanya.
Lastri tidak mampu berkata kata, bibirnya gemetar hingga tidak terasa kakinya terasa basah saking ketakutannya.
"Aku! sahut Elina lantang, baginya sudah biasa di bawah tekanan Rayden. Satu tahun lebih bukan waktu sebentar di tekan dan di bentak majikannya.
"Kau? ayo ikut, cepat! perintah pria itu pada Elina.
"Kemana tuan?" tanya Elina.
"Ayo cepat, jangan banyak tanya!" pria itu menarik tangan Elina dengan paksa.
"Hei, tunggu dulu tuan. Awww! perutku sakitt!" Elina mengerang sembari membungkukkan badannya.
Pria tersebut menoleh ke arah Elina. "Kau jangan berpura pura!"
"Tuan, aku tidak berpura pura, dari pagi aku bolak balik ke toilet. Apa kau mau membawaku dalam keadaan sakit perut? bagaimana kalau nanti di dalam mobil-?"
"Cukup! pria itu melotot ke arah Elina, melepaskan tangan gadis itu dari cengkramannya lalu mengarahkan senjata api ke wajah Elina yang mengerang sembari memegang perutnya. " Apa maumu sekarang? jangan coba coba menipuku!"
"Tuan, izinkan aku ke toilet sebentar, lima menit saja. Boleh?" pinta Elina dengan raut wajah menahan sakit perut.
Pria tersebut diam sesaat menatap wajah Elina. Sesaat ia ragu, tapi melihat raut wajah Elina yang menunjukkan bagaimana rasanya sakit perut membuat pria itu mengizinkan Elina ke toilet.
"Ayo cepat, aku beri waktu kau lima menit!"
Elina menganggukkan kepalanya, dengan tergesa gesa ia berjalan ke dapur di ikuti pria itu dari belakang.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Elina dalam hati.
Sesampainya di ruangan dapur, tiba tiba Elina menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai.
"Tuan jangan mendekat! aku sudah tidak tahan. Maaf!" ucap Elina dengan raut wajah memelas.
"A, appa?"
Pria tersebut langsung memutar tubuhnya membelakangi Elina. Saat bersamaa, Elina bangun secara perlahan dan meraih kursi yang berada di dekatnya. Kursi di angkatnya pelan pelan lalu ia ayunkan dengan sekuat tenaga ke arah pria yang tengah membelakanginya.
"Maafkan aku ya Tuhan! pekiknya dalam hati.
" BUKKK!!"
Pria itu terhuyung dan jatuh ke lantai, tapi sebelum pria tersebut mencoba bangkit lagi. Elina kembali memukulkan kursi ke arahnya hingga berkali kali.
"Buk! Buk!
"Maafkan aku!" serunya dengan napas terengah engah memperhatikan pria itu jatuh pingsan.
Elina tertawa kecil mengusap keningnya yang berkeringat. jantungnya berdebar debar. Lututnya terasa gemetar.
"Aha! Elina ternyata kau pintar juga." Ia memujk dirinya sendiri lalu menjatuhkan tubuhnya di lantai kembali duduk, karena ia merasa tak sanggup lagi berdiri.
"Elina!"
Elina menoleh ke arah suara, nampak Rayden dari arah pintu berlari menghampirinya.
"Tuan?"
"Sayang, apa kau tidak apa apa?" Rayden mengangkat tubuh Elina supaya berdiri, lalu memeluknya dengan erat. Menatap ke arah pria yang telungkup tak sadarkan diri.
"Aku tidak apa apa tuan."
"Apa kau yang melakukannya?" tanya Rayden menatap wajah Elina.
"Iya tuan!" sahut Elina.
"Kau memang pintar, sayang."
Rayden mengecup puncak kepala Elina, mendekapnya erat.
"Ayo kita keluar."
Rayden merangkul bahu Elina, membawanya keluar dari ruangan dapur. Ia mengeluarkan senjata api dari balik sakunya, di khawatirkan akan ada musuh lagi. Namun semuanya sudah usai, rupanya Hiroshi menghubungi Rayden kalau di mansion miliknya terjadi penyerangan. Rayden pun segera kembali ke rumah dan berhasil melumpuhkan musuh, sisa musuh yang selamat melarikan diri.
"Hiroshi, kau urus pria yang ada di ruangan. Paksa dia untuk nengatakan siapa dalang semua ini!" perintah Rayden.
"Baik tuan!"
"Lastri, apa kau baik baik saja?" tanya Rayden menatap ke arah Lastri yang tersipu malu karena rok yang ia kenakan basah.
"Ba, baik tuan." Lastri bergegas berlari menuju kamarnya.
"Elina, apa kau-?"
"Aku lapar tuan!" potong Elina memegang perutnya.
"Ya Tuhan, baru saja aku puji kau itu pintar," ucap Rayden dalam hati, menatap jengah Elina.
"Tuan, aku lapar. Dari pagi aku belum makan!" Elina tertawa kecil, menurunkan tangan Rayden dari bahunya, lalu beranjak pergi menuju dapur.
"Elinaa, kapan kau bisa bersikap manis dan romantis padaku," guman Rayden kesal.
Ia duduk di sofa memperhatikan beberapa mayat di halaman rumahnya tengah di angkut anak buahnya. Rumahnya yang berantakan mulai di bersihkan, ia hanya diam memikirkan siapa dalang di balik penyerangan dan mengapa mereka berniat menculik Elina.
"Mei Shin? atau Antonio?" ucapnya geram.
semisalnya suami kasar pada mu tapi lembut pada wanita lain, suami pergi dengan pria lain tampa meperdulikan kau yang menderita
apakah kau masih mau menerima nya begitu saja
jawaban ada pada mu thor
dan kau nilai sendiri sikap mu dalam novel ini
😂😂
untung nya elina cuma ada di novel
sekareep muu deehh elina