Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
Alurnya
Saat Rara dan Aisyah sedang berdiskusi di sudut kelas, tiba-tiba Dimas berjalan menghampiri mereka dengan senyum ramah yang khas. Arga dan Bima mengikuti dari belakang sambil menahan tawa seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan teman mereka itu.
"Ra, Aisyah..." panggil Dimas pelan. "Kalian sudah dapat kelompok buat pentas seni belum nih? Kalau belum, gimana kalau kita gabung sama kita bertiga? Kita rencananya mau bikin pertunjukan yang berkesan, dan kita butuh teman yang teliti serta pandai menyusun kata kayak kalian."
Wajah Rara seketika memerah padam karena kaget sekaligus senang. Tanpa berpikir panjang lagi ia langsung mengangguk mantap. "Boleh banget Dim! Aku setuju banget," jawabnya cepat, lalu segera menoleh ke arah Aisyah. "Yah kan Aisyah, kita gabung sama Dimas, Arga, sama Bima ya?"
Aisyah tertawa kecil melihat semangat teman sebangkunya itu. "Iya aku juga setuju kok. Pasti seru kalau kerja sama bareng kalian."
Mereka pun duduk melingkar untuk menentukan tema pertunjukan. Setelah berdiskusi panjang lebar dan menimbang berbagai ide, akhirnya mereka sepakat memilih Tema: "Jejak Langkah dan Belajar Mengerti".
Mereka akan menampilkan sebuah pertunjukan gabungan puisi narasi dan dialog singkat yang menceritakan tentang proses berkenalan, salah paham, hingga akhirnya saling memaafkan dan menyadari bahwa setiap orang punya perasaan dan cara pandang yang berbeda. Tema ini terasa sangat pas karena menggambarkan apa yang baru saja mereka alami di kelas: tentang bagaimana prasangka bisa memisahkan teman, dan bagaimana kesabaran bisa membuka jalan.
"Jejak Langkah Belajar Mengerti itulah tema yang paling pas buat kita," ucap Dimas mantap sambil menatap wajah teman-temannya satu per satu. "Kalau setuju, biar aku saja yang menyusun skenarionya. Nanti aku sisipkan bait-bait puisi di sela-sela dialognya, supaya pesannya lebih menyentuh dan nggak kaku kayak drama biasa."
Rara tersenyum lebar, matanya berbinar senang. "Wah aku setuju banget! Kamu kan jago sekali menyusun kalimat, pasti hasilnya indah dan bermakna dalam."
"Iya benar. Kita mau cerita tentang bagaimana kita sering menilai orang hanya dari luar saja, sampai akhirnya kita sadar bahwa setiap orang punya cerita dan perasaan yang perlu dimengerti," tambah Aisyah sambil menyimak ide Dimas.
Sore itu setelah pulang sekolah Dimas menyempatkan waktu duduk di meja belajarnya. Ia merenung sejenak mengingat semua kejadian di kelas sejak hari pertama masuk. Ia menuliskan apa yang dilihatnya: keraguan Rara, ketegaran Aisyah, keangkuhan Laras yang ternyata menyembunyikan rasa takut, hingga bagaimana prasangka membuat jarak di antara mereka. Ia menyusun alur cerita dengan hati-hati, membaginya menjadi beberapa babak singkat, dan menyisipkan puisi yang mengalir lembut sebagai penghubung suasana.
Keesokan paginya Dimas membawa lembaran kertas berisi naskah yang sudah rapi. Ia membagikan salinannya kepada Rara, Aisyah, Arga, dan Bima.
"Silakan dibaca dulu ya. Kalau ada bagian yang kurang pas atau mau diubah, bilang saja ke aku," ucap Dimas pelan.
Rara membaca baris demi baris, dadanya terasa bergetar. Cerita di dalamnya persis seperti kisah nyata mereka. Ada bagian tentang langkah yang ragu memasuki ruang baru, tentang tatapan yang salah dimaknai, tentang kata tajam yang melukai tanpa sengaja, hingga akhirnya tentang keberanian untuk membuka hati. Di sela-sela percakapan tokoh tertulis bait puisi yang begitu dalam:
"Kita sering melihat bayang tanpa tahu wajah aslinya
Mendengar bisik tanpa tahu suara hatinya
Langkah kita terpisah karena dinding prasangka
Sampai kita belajar: mengerti adalah kunci persaudaraan sejati"
"Indah sekali skenarionya Dim," puji Rara tulus. "Kamu benar-benar menangkap apa yang kita rasakan."
Dimas tersenyum malu-malu. "Karena ini kisah kita semua kok. Aku cuma menuangkannya ke dalam tulisan saja. Nanti saat tampil, kita mainkan dengan perasaan yang sebenarnya saja, nggak perlu dibuat-buat."
Mereka pun sepakat untuk mulai berlatih sore itu juga. Rara merasa bersyukur sekali bisa satu kelompok dengan orang-orang yang begitu memahami makna di balik pertunjukan ini. Ia berjanji akan melakukannya sebaik mungkin, bukan hanya untuk nilai, tapi sebagai pengingat bagi dirinya sendiri dan siapa pun yang menonton: bahwa setiap langkah menuju pengertian adalah langkah yang berharga.
Sore itu halaman belakang sekolah menjadi tempat teduh yang mereka pilih untuk berlatih. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah, seolah menyambut langkah awal persiapan mereka. Dimas meletakkan tas di atas rumput, lalu menyuruh teman-temannya duduk melingkar terlebih dahulu.
"Sebelum mulai hafal naskah, ada satu hal penting yang harus kita sepakati," ucap Dimas sambil menatap mereka satu per satu. "Pertunjukan ini bukan sekadar menghafal kata atau menghafal gerakan. Ini tentang merasakan apa yang ada di dalam hati. Kalau kita main pura-pura, penonton juga nggak bakal merasakan pesannya."
Rara mengangguk setuju. Ia menggenggam naskah itu erat di tangannya, selembar kertas yang terasa begitu dekat dengan kehidupannya sendiri. "Aku paham Dim. Rasanya seperti melihat cermin sendiri saat membaca tulisanmu," ucapnya pelan.
Mereka pun mulai membagi peran. Rara mendapat peran sebagai siswa baru yang pemalu dan sering salah dimengerti, Aisyah sebagai teman yang tenang dan selalu menjadi penengah, sedangkan Dimas, Arga, dan Bima berperan sebagai orang-orang yang perlahan belajar memahami perbedaan.
Latihan pertama berjalan tidak semulus yang dibayangkan. Kadang Rara berhenti di tengah kalimat karena teringat kejadian nyata, kadang Arga salah mengucapkan baris puisi, dan kadang mereka tertawa sendiri karena gerakan yang masih kaku. Namun tidak ada yang saling menyalahkan. Justru Dimas selalu mengingatkan dengan lembut.
"Jangan buru-buru," katanya saat Rara terlihat tergesa-gesa. "Ambil napas dulu. Biarkan kata-kata itu keluar pelan-pelan dari hati, bukan sekadar dari mulut."
Saat Rara membacakan bagian puisinya, suaranya sempat bergetar.
"Mengapa tatapan sering menjadi dinding yang tinggi?
Mengapa kata sering menjadi pedang yang tajam?
Padahal kita sama-sama berjalan mencari tempat untuk pulang"
Seketika suasana menjadi hening. Rara menunduk sejenak menyeka sudut matanya yang terasa panas. Dimas tersenyum tulus padanya. "Itu dia Ra. Itu yang aku maksud. Itu bukan sekadar kata, itu perasaanmu yang sampai ke hati orang lain."
Tak jauh dari sana, di balik tiang koridor, Laras berdiri diam menyaksikan mereka. Ia hendak ke perpustakaan tapi berhenti sejenak saat mendengar suara Rara. Mendengar kalimat puisi itu, dadanya terasa sesak. Ia teringat betapa seringnya ia menatap tajam dan mengucapkan kata yang menyakitkan pada Rara. Perlahan ia mundur perlahan, tidak berani mendekat, namun benih kesadaran mulai tumbuh di hatinya bahwa pertunjukan itu bukan sekadar cerita, melainkan cermin bagi dirinya sendiri.
Saat matahari mulai condong ke barat, mereka berhenti berlatih. Meski belum sempurna, mereka merasa sangat puas. Rasa canggung perlahan hilang berganti dengan rasa saling percaya. Rara menyadari bahwa berbagi cerita dan perasaan bersama orang yang tepat membuat beban di hati terasa jauh lebih ringan.
"Ayo kita lanjut besok ya," ajak Dimas sambil merapikan barang-barangnya. "Satu hal yang pasti, kita akan tampil dengan hati yang tulus."