NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 PERJALANAN BERSAMA DAN UJIAN DI HUTAN KELABUAN

Keesokan harinya saat fajar menyingsing, Lin Mo dan Chen Yu berjalan berdampingan meninggalkan Kuil Awan Putih. Kabut putih yang menyelimuti puncak gunung perlahan terbawa angin menyibak memperlihatkan jalan setapak yang berkelok menurun ke lembah jauh di bawah. Cahaya ungu keemasan samar bersinar dari tubuh Lin Mo menerangi jalan di depan, sementara cahaya biru lembut memancar dari tubuh Chen Yu yang kini telah pulih sebagian tenaganya. Kedua cahaya itu saling melengkapi dan saling menguatkan seakan sejak awal memang diciptakan untuk berdampingan.

"Masuklah ke hutan Kelabu di depan itu... Jalan menuju Kekaisaran Langit akan memotong lewat tengah hutan itu... Namun katanya hutan itu bukan tempat biasa... Banyak orang masuk namun tak pernah kembali..."

Chen Yu menunjuk ke arah hamparan hutan lebat yang tampak berwarna abu-abu kelabu dari kejauhan. Daun-daunnya tampak pucat dan tanahnya berwarna gelap suram. Angin yang berhembus dari arah hutan itu terasa dingin dan berbau lembap yang tidak sedap. Lin Mo berhenti sejenak menatap hutan itu. Energi qi di dalam dadanya berdenyut perlahan seakan memberi peringatan bahwa di sana tersembunyi sesuatu yang tidak biasa. Namun Lin Mo tidak ragu sedikit pun. Ia menoleh kepada Chen Yu dan berkata dengan suara yang tenang namun teguh.

"Tak ada tempat yang tak boleh dimasuki... Selama hati kita jernih dan tekad kita teguh... Tak ada bahaya yang mampu melukai kita... Ikutlah di belakangku... Dan jangan berjalan sendirian..."

Chen Yu mengangguk patuh. Ia merasa tenang dan aman begitu saja berdiri di samping Lin Mo seakan perlindungan yang diberikan pemuda itu jauh lebih kuat daripada senjata apa pun yang pernah ia pelajari. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam hutan Kelabu itu berdampingan. Begitu melangkah masuk, suasana seketika berubah menjadi gelap dan sunyi senyap. Tak terdengar suara burung berkicau maupun suara binatang berlarian. Yang ada hanyalah suara langkah kaki mereka yang bergema pelan di atas tanah yang tertutup daun kering tebal.

Semakin dalam mereka melangkah, semakin pekat hawa gelap yang menyelimuti sekeliling. Bayangan-bayangan aneh tampak bergerak di balik batang pohon tua yang keriput dan menjulang tinggi. Cahaya matahari hampir tak mampu menembus rimbunan dedaunan lebat di atas sana. Lin Mo melambaikan tangan kanannya perlahan. Energi qi ungu keemasan meluncur keluar dari telapak tangannya berubah menjadi energi spiritual yang terang benderang, melayang ke depan menerangi jalan setapak yang gelap dan suram itu. Cahaya itu menyapu sekeliling seketika membuat bayangan-bayangan gelap yang bergerak tadi seketika menghilang ketakutan.

"Ada sesuatu yang mengawasi kita... Sesuatu yang bersembunyi di dalam kegelapan..."

Lin Mo berbicara perlahan dengan suara rendah namun terdengar jelas oleh Chen Yu yang berjalan di sampingnya. Chen Yu memegang erat gagang pedangnya yang memancarkan cahaya biru lembut. Ia menatap ke sekeliling dengan waspada namun tetap tenang karena merasa dilindungi oleh kekuatan yang jauh lebih besar di sebelahnya.

Belum lama berjalan, tiba-tiba kabut tebal berwarna abu-abu gelap muncul secara tiba-tiba dari tanah dan menyelimuti seluruh hutan hingga pandangan mereka terbatas hanya beberapa langkah saja. Suara desis halus terdengar berdatangan dari segala arah semakin lama semakin mendekat. Lin Mo berhenti melangkah dan mengangkat tangan kirinya memberi isyarat agar Chen Yu berhenti juga.

"Jangan bergerak... Tetap berdiri di tempat... Jangan biarkan kabut itu menyentuh kulit..."

Baru saja kata-kata itu terucap, seketika itu juga belasan makhluk besar bersisik gelap melesat keluar dari balik kabut menyerang mereka berdua dengan mulut yang terbuka lebar memamerkan taring-taring tajam beracun. Chen Yu hendak melangkah maju untuk menangkis namun Lin Mo lebih dulu bergerak. Dengan satu ayunan tangan yang tenang namun kuat, gelombang energi spiritual berwarna ungu keemasan melesat menyapu ke depan. Makhluk-makhluk itu seketika terpental mundur menjerit kesakitan saat tersentuh cahaya itu. Tubuh mereka yang terkena cahaya itu melepaskan asap hitam dan berbau busuk menyengat.

"Mereka adalah makhluk bayangan... Hidup dari hawa gelap yang terkumpul di hutan ini... Cahaya adalah kelemahan mereka..."

Lin Mo menjelaskan singkat sambil terus melangkah maju. Cahaya ungu keemasan yang menyelimuti tubuhnya kini melebar dan semakin terang seakan membentuk selimut pelindung yang tak tertembus. Kabut abu-abu yang menyelimuti hutan itu perlahan mundur tak berani mendekat. Makhluk-makhluk bayangan yang bersembunyi di balik pepohonan pun tak berani muncul kembali. Mereka seakan memahami bahwa pemuda yang melintas di wilayah mereka ini bukanlah orang biasa yang boleh diganggu gugat.

Setelah berjalan cukup lama di tengah hutan yang gelap itu, tiba-tiba pandangan mereka terbuka kembali. Di hadapan mereka kini terbentang sebuah lembah yang luas dan datar. Di tengah lembah itu berdiri sebuah bangunan batu yang tampak tua dan runtuh sebagian. Namun yang membuat hati mereka berdua berdebar kencang bukanlah bangunan itu, melainkan aura kuat yang memancar dari dalam bangunan itu. Cahaya gelap berwarna merah tua berdenyut lembut dari celah-celah dinding bangunan itu memancarkan hawa kejam dan penuh haus darah.

Chen Yu menahan napas dan berbisik pelan kepada Lin Mo.

"Tempat itu... adalah Makam Leluhur yang jatuh ke dalam kegelapan... Konon ribuan tahun silam... seorang ksatria agung dikhianati dan tewas di sini... Dendam kesumatnya begitu besar hingga mengubah seluruh wilayah ini menjadi hutan Kelabu... Tak ada yang berani mendekat..."

Lin Mo menatap bangunan tua itu dengan pandangan yang tenang namun tajam. Energi qi di dalam tubuhnya berputar perlahan semakin cepat seakan merespons dendam kesumat yang tertanam di tempat itu. Lin Mo melangkah maju mendekati gerbang bangunan yang terbuka lebar dan tertutup lumut tebal.

"Dendam itu tak akan hilang jika terus dibiarkan... Biarlah aku masuk... dan menenangkan jiwanya yang tersesat..."

Belum sempat Chen Yu menahan, Lin Mo telah melangkah masuk ke dalam bangunan tua itu sendirian. Di dalamnya, suasana terasa berat dan menyesakkan dada. Cahaya merah tua menyala samar dari dinding-dinding batu yang dipenuhi ukiran naga yang tampak melilit erat seakan menahan sesuatu yang besar dan kuat. Di tengah ruangan yang luas itu, terdapat sebuah peti batu besar yang tertutup kain sutra gelap yang sudah rapuh dimakan waktu.

Saat Lin Mo berdiri tepat di hadapan peti batu itu, seketika itu juga cahaya merah tua meledak menyala terang benderang. Sesosok bayangan raksasa berwarna merah tua muncul perlahan dari peti batu itu berdiri tegak di hadapan Lin Mo. Matanya bersinar merah menyala penuh amarah dan kesedihan yang mendalam. Suara yang menggelegar bergema di seluruh ruangan itu hingga membuat dinding batu ikut bergetar hebat.

"Siapa kau... Yang berani menginjakkan kaki di tempat kesedihanku... Apakah kau pun datang untuk menambah penderitaanku... Atau datang untuk membunuhku sekali lagi..."

Lin Mo berdiri tegak tak mundur selangkah pun. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya bersinar terang benderang menyapu ke arah bayangan raksasa itu. Namun cahayanya tidak menyakiti, melainkan hangat dan lembut seakan pelukan seorang kerabat yang lama tak bertemu. Lin Mo berbicara dengan suara yang lantang namun penuh rasa hormat dan kelembutan.

"Aku datang bukan untuk menyakitimu... Aku datang karena mendengar ratapan hatimu... Ribuan tahun lamanya kau terperangkap dalam dendam... Jiwamu yang agung tak seharusnya terus terbelenggu oleh kesalahan orang lain... Lepaskanlah... Dan kembalilah tenang..."

Bayangan raksasa itu mengaum marah seketika. Cahaya merah tua melesat menghantam tubuh Lin Mo dengan kekuatan yang begitu dahsyat seakan ingin menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya. Lin Mo tidak menghindar. Ia justru membentangkan kedua lengannya lebar dan menerima hantaman itu dengan tubuh dan hatinya sendiri. Cahaya ungu keemasan melindunginya dari hancur sekaligus menyatu dengan cahaya merah tua yang penuh amarah itu.

"Kemarahanmu... Aku terima... Kesedihanmu... Aku pun menanggungnya... Lepaskanlah... Beban itu terlalu berat untuk kau pikul sendirian..."

Lin Mo terus berbicara lembut di tengah hantaman yang terus berulang. Perlahan-lahan, cahaya merah tua yang penuh amarah itu mulai meredup. Bayangan raksasa itu perlahan mengecil dan kembali menjadi sosok manusia yang tampak gagah namun penuh kesedihan. Matanya yang semula menyala merah kini perlahan kembali jernih dan menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh keheranan namun juga penuh kelegaan.

"Selama ribuan tahun... Kau adalah orang pertama yang tidak mencoba melawanku... Melainkan mencoba memahamiku..."

Lin Mo tersenyum lembut dan mengulurkan tangan kanannya perlahan. Cahaya ungu keemasan yang hangat menyentuh dada bayangan itu.

"Karena aku tahu... Di balik kemarahanmu... Tersembunyi hati yang paling lembut dan paling mulia... Istirahatlah... Dendam itu telah kubawa pergi... Dan jiwamu kini bebas..."

Saat kata-kata itu terucap, seketika itu juga cahaya merah tua lenyap sepenuhnya. Sosok ksatria itu tersenyum penuh rasa syukur lalu perlahan menghilang berubah menjadi cahaya putih lembut yang melayang tinggi hingga lenyap di langit-langit bangunan tua itu. Peti batu di belakangnya terbuka perlahan dan seberkas cahaya keemasan meluncur keluar menghampiri Lin Mo. Di sana terbaring sebilah pedang panjang berwarna emas berkilauan yang memancarkan aura keagungan dan keadilan yang tak terlukiskan.

Lin Mo mengulurkan tangan dan menggagang pedang itu perlahan. Saat kulitnya menyentuh gagang pedang itu, seketika itu juga pedang itu bergetar lembut seakan mengenal tuannya. Cahaya ungu keemasan dan cahaya emas pedang itu menyatu sempurna. Lin Mo mengangkat pedang itu tinggi-tinggi. Cahaya terang benderang menyapu seluruh ruangan dan menembus keluar hingga menerangi seluruh hutan Kelabu yang gelap itu seketika. Kabut abu-abu yang menyelimuti hutan itu lenyap seketika. Dan sejak saat itu, hutan Kelabu yang gelap dan suram itu perlahan kembali menjadi hutan yang segar dan penuh kehidupan.

Lin Mo melangkah keluar dari bangunan tua itu dengan memegang pedang emas di tangan kanannya. Chen Yu yang menunggu di luar dengan cemas segera menyambutnya. Namun saat melihat pedang di tangan Lin Mo dan perubahan yang terjadi di sekeliling mereka, Chen Yu tertegun diam tak mampu berkata-kata. Lin Mo menatapnya dan berkata dengan senyum yang tenang dan tulus.

"Mari kita lanjutkan perjalanan... Jalan di depan kini telah terbuka..."

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!