Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Mulai suka dengan istri
Nayla menghela napasnya. Meminta maaf kepada Ethan memang tergolong hal yang sangat jarang terjadi, namun pria itu melakukannya sekarang. Bahkan, hal yang lebih mengejutkan — Ethan meminta maaf kepadanya berulang kali.
"Tak apa, lupakan saja soal itu. Aku sudah memaafkanmu kok," ucap Nayla lembut.
"Benarkah?"
Ethan memutar tubuh gadis itu hingga menghadap ke arahnya. Nayla mengangguk, namun hatinya justru merasa makin bersalah saat melihat mata Ethan yang memerah, seakan ia merasa bersalah karena Nayla kembali menangis — dan semua ini karena ulahnya.
"Ayo kita mulai segalanya dari awal. Tanpa pertengkaran dan tanpa saling ribut lagi," ucap Ethan tulus.
Kalimat sederhana itu membuat tangan Nayla gemetar. Ia terharu, tak menyangka pria yang keras kepala ini bisa berbicara selembut ini. "Ethan..."
Ethan meraih tangan lentik itu, menggenggamnya lembut. Ia yakin ini adalah keputusan terbaik untuk dirinya dan juga untuk gadis di hadapannya.
"Maafkan aku. Setidaknya berikan aku kesempatan. Jika aku berbuat kesalahan lagi, kau boleh menuntut cerai dariku, Nayla. Aku rela."
Hubungan mereka mulai membaik sejak satu minggu yang lalu. Semuanya bermula saat Ethan jatuh sakit akibat serangan yang dialaminya, dan Nayla tak punya pilihan selain merawatnya di apartemen tempat mereka tinggal.
Sejak saat itu, Ethan memilih tinggal di apartemen, yang tentu saja membuat kedua orang tuanya terkejut, terutama ibunya yang awalnya ingin Nayla tetap tinggal bersama mereka. Namun Ethan memberikan alasan yang cerdas.
"Kami ingin mandiri. Lagipula, jika nanti kami punya anak, akan lebih baik jika kami mengurusnya sendiri."
Alasan itu terdengar begitu masuk akal, sehingga akhirnya kedua orang tua mereka tak berkeberatan dan mengizinkan.
Di apartemen pengantin baru itu, mereka tidur di kamar yang berbeda, dua kamar bersebelahan. Kamar yang ditempati Nayla sebenarnya adalah kamar tamu. Setiap pagi, Nayla akan masuk ke kamar suaminya untuk menyiapkan kebutuhan pria itu, mulai dari memilihkan setelan kerja hingga melengkapi perlengkapannya, berusaha menjalankan peran sebagai istri dengan sebaik-baiknya.
Nayla baru menyadari bahwa Ethan adalah sosok yang sangat peduli pada penampilan. Pria itu modis, sangat rapi, dan memiliki koleksi pakaian yang lengkap dengan harga yang sangat fantastis. Hal ini justru memudahkan Nayla dalam memilihkan setelan apa yang pantas dipakai suaminya saat berangkat ke kantor.
"Apakah hari ini kau sibuk? Konferensi KTT Asia dilaksanakan hari ini, kan?" tanya Nayla sambil memasangkan dasi pada kemeja putih Ethan.
"Ya, begitu. Mungkin aku akan pulang agak malam. Lalu bagaimana denganmu, kau juga akan ke butik hari ini?"
Ethan merapikan kemeja dan setelan jas abu-abunya, membiarkan Nayla membantunya memasangkan dasi. Kedua orang itu sering kali menjadi gugup saat mata mereka tak sengaja saling bertatapan.
"Iya, Kak Yuna memintaku memeriksa stok pakaian di gudang butik. Mungkin aku akan cukup sibuk hari ini. Jangan lupa makan siang tepat waktu, ya. Kau baru saja sembuh," pesan Nayla lembut.
"Terima kasih, Nayla. Semoga pekerjaanmu juga lancar dan sukses."
"Kamu juga. Aku bersiap dulu, lalu kita sarapan bersama."
Mereka saling melempar senyum dan mengangguk. Setelah Nayla keluar dari kamar untuk berganti pakaian, Ethan berdiri di depan cermin merapikan penampilannya. Ia menghela napas bingung, memikirkan bagaimana kelanjutan pernikahan yang terasa begitu aneh ini.
"Ah, tak perlu dipikirkan. Lagipula waktu yang tersisa hanya tiga bulan lagi."
Jika dalam tiga bulan ke depan Nayla tetap menginginkan perceraian, mungkin Ethan akan pasrah. Ia harus menyadari bahwa mungkin Nayla memang bukan ditakdirkan untuknya.
Mobil Ferrari sport merah milik Ethan berhenti tepat di depan butik MY STYLE, tempat Nayla bekerja sejak dua minggu lalu. Sebenarnya terasa sedikit aneh istri dari pemilik perusahaan raksasa justru bekerja di butik kecil seolah-olah suaminya tak mampu memberinya nafkah. Namun Nayla bersikeras menolak hanya diam di rumah, dan Ethan akhirnya mengizinkannya, sesuai janji mereka untuk hidup bersama tanpa saling menyakiti lagi.
"Terima kasih, aku turun dulu. Hati-hati menyetir ya," pamit Nayla sambil membuka pintu penumpang.
"Kau juga hati-hati," jawab Ethan.
Hubungan mereka terasa sedikit berbeda mulai kemarin. Tak ada lagi pertengkaran yang biasanya selalu terjadi. Ethan memperhatikan dari balik kaca mobilnya bagaimana Nayla tersenyum ceria menyambut rekan kerjanya. Diam-diam ia ikut tersenyum. Sepertinya keputusannya untuk membiarkan Nayla bekerja adalah hal yang benar. Setelah melambai dan memakai kacamata hitamnya, Ethan melajukan mobilnya menuju kantornya karena kesibukan hari ini sudah menantinya.
****
Sonia, sang sekretaris, masuk ke ruangan kerja sambil meletakkan berkas yang harus ditandatangani Ethan sebelum berangkat ke lokasi konferensi. Wanita cantik berambut hitam sebahu itu menggigit bibirnya dengan gelisah. Sudah dua bulan sejak bosnya menikah, dan selama itu pula Ethan tak pernah lagi mempedulikannya. Sikap Ethan padanya menjadi dingin dan jauh berbeda dari biasanya.
"Apakah ada lagi yang Bapak butuhkan?" tanya Sonia berharap sinyal yang ia kirimkan akan membuat Ethan kembali seperti dulu, menarik pinggang rampingnya, membiarkannya duduk di pangkuannya, lalu menikmati kebersamaan mereka dengan ciuman dan belaian yang penuh gairah.
"Tidak ada. Kamu boleh keluar sekarang," jawab Ethan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Sonia kesal karena diabaikan begitu saja. "Pak.." panggilnya pelan sambil mendekat, jari-jarinya yang lentik memijat lembut bahu Ethan, menatapnya dengan tatapan penuh keinginan. "Biasanya kamu tidak seperti ini. Apakah kamu tertekan karena pernikahanmu?"
Ethan memejamkan mata. Pijatan tangan Sonia terasa nyaman di bahunya. Apakah benar ia sedang tertekan? Sejujurnya, ia tetaplah pria biasa yang memiliki kebutuhan alami. Dia bukan pria yang begitu kuat menahan diri dari keinginan fisik selama berbulan-bulan...