NovelToon NovelToon
Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Si Kecil yang Terbuang

Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.

Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?

Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Pencurian yang Gagal

Kabar tentang rumah Nenek Ratih yang dibobol membuat semua orang terkejut.

"Apa?" seru Aluna dengan wajah pucat.

Arsen segera berdiri.

"Rangga, siapkan mobil. Kita berangkat sekarang."

"Baik, Pak."

Tiara memandang Aluna dengan rasa bersalah.

"Maaf... gara-gara aku muncul, mereka bergerak lebih cepat."

Aluna menggeleng pelan.

"Ini bukan salah Ibu."

Ratih menggenggam tangan Aluna, berusaha menenangkan cucu yang telah dibesarkannya sejak bayi.

"Mudah-mudahan mereka belum menemukan apa yang dicari."

Mobil Arsen melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Ratih.

Sesampainya di sana, beberapa pengawal Arsen sudah berjaga di sekitar rumah.

Rangga langsung menghampiri salah seorang dari mereka.

"Bagaimana kejadiannya?"

"Pelaku masuk melalui jendela belakang."

"Ada yang hilang?"

"Rumah sempat diacak-acak, tetapi kami datang sebelum mereka sempat melarikan diri."

Arsen langsung masuk ke dalam rumah.

Lemari pakaian terbuka, kursi terbalik, dan beberapa barang berserakan di lantai.

Aluna menahan napas melihat kondisi rumah yang selama ini menjadi tempat paling nyaman baginya.

"Nek..."

Ratih mengusap bahu Aluna.

"Rumah bisa dirapikan lagi."

Yang terpenting bagi Ratih adalah keselamatan Aluna.

Arsen menuju kamar Ratih.

"Lemari tempat kotak besi disimpan sudah dibuka, Pak," ujar Rangga.

Ratih segera memeriksa bagian bawah lemari.

Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas lega.

"Syukurlah..."

"Ada apa, Nek?" tanya Aluna.

"Kotaknya masih ada."

Aluna langsung memeluk Ratih.

"Ternyata mereka belum berhasil mengambilnya."

Ratih tersenyum tipis.

"Sebelum berangkat tadi, Nenek memindahkan kotak itu ke bawah papan lantai."

Arsen mengangguk kagum.

"Keputusan Nenek sangat tepat."

Ratih kemudian mengeluarkan kotak besi dari tempat persembunyiannya.

Kotak itu masih utuh.

Tiara memandang Ratih dengan rasa hormat.

"Selama delapan belas tahun, Ibu benar-benar menjaga semua peninggalan itu."

Ratih tersenyum haru.

"Aku hanya menjalankan janji."

Di sebuah gudang tua, Victor menerima telepon dari anak buahnya.

"Tuan... kami gagal."

Victor bangkit dari kursinya.

"Gagal?"

"Pengawal Arsen datang lebih cepat."

Victor membanting gelas yang berada di atas meja.

"Dasar bodoh!"

"Kotaknya masih berada di tangan mereka."

Wajah Victor berubah semakin dingin.

"Kalau begitu, kita harus menggunakan cara lain."

"Apa perintah Tuan?"

Victor tersenyum tipis.

"Kalau benda itu tidak bisa direbut..."

"...buat mereka menyerah dengan cara menghancurkan orang-orang yang mereka sayangi."

Ucapan itu membuat anak buahnya saling berpandangan.

Mereka tahu, Victor tidak pernah main-main dengan ancamannya.

Malam semakin larut.

Setelah rumah dirapikan, Arsen meminta seluruh pengawalnya memperketat penjagaan.

"Aku tidak ingin ada celah sedikit pun."

"Siap, Pak."

Sebelum pulang, Arsen menghampiri Aluna yang sedang duduk di teras.

"Masih takut?"

Aluna mengangguk pelan.

"Aku hanya tidak ingin Nenek terus berada dalam bahaya."

Arsen duduk di sampingnya.

"Dengarkan aku."

Aluna menoleh.

"Apa pun yang terjadi, aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang menyakiti kalian."

Tatapan Arsen begitu tulus hingga membuat Aluna merasa aman.

"Terima kasih."

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, Aluna tersenyum dengan hati yang sedikit lebih tenang.

Namun, di balik kegelapan malam, sebuah mobil kembali berhenti tidak jauh dari rumah Ratih.

Seorang pria turun sambil membawa sebuah amplop cokelat.

Ia menyelipkannya ke bawah pintu rumah, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.

Keesokan paginya, Aluna menemukan amplop tersebut.

Dengan tangan gemetar, ia membukanya.

Di dalamnya hanya ada selembar foto lama yang memperlihatkan seorang wanita muda sedang menggendong bayi dengan kalung bulan sabit.

Di bagian belakang foto tertulis sebuah kalimat pendek.

"Kalau ingin mengetahui kebenaran tentang ibumu, datanglah sendiri. Jangan bawa Arsen."

Aluna membeku.

Ia sadar, seseorang sedang mencoba memancingnya keluar seorang diri. Dan jika ia salah mengambil keputusan, nyawanya bisa menjadi taruhannya.

1
Adinda
mungkin victor simpanan istrinya damar bapak kandungnya Keisha
ժׁׅ݊ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊ꫀׁׅܻ݊݊ꪀ_݊ꪀꪱׁׅ꯱: Terima kasih sudah Like dan Komen ka🙏🙏🙏
total 1 replies
Adinda
semoga Aluna bertemu keluarga sebelah ibunya atau kakeknya
Adinda
Aku harapnya Aluna direbut oleh keluarga dari ibunya atau kakeknya yang Kaya biar ayah kandungnya Tau rasa dibenci oleh anaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!