NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BaB 35

Malam merambat pelan di kediaman Abi Ahmad Bashir. Suara jangkrik di halaman belakang terdengar seperti irama kecemasan yang tak kunjung usai. Di dalam kamar, Fatih duduk bersandar pada tumpukan bantal. Kepalanya masih terbebat perban putih, kontras dengan wajahnya yang kuyu dan tatapan matanya yang kosong.

Sesaat sebelum Isya, ponsel Hasna bergetar. Nama "Umi" tertera di layar.

"Assalamu’alaikum, Hasna... Fatih sudah pulang dari rumah sakit sore tadi. Kalau tidak merepotkan, Umi minta kamu ke sini besok pagi. Ada hal penting yang ingin Umi bicarakan hati ke hati," suara Umi terdengar berat, menyimpan beban yang tak sanggup ia pikul sendiri.

Hasna yang sedang bersama Wulan di ruang tengah markas segera mengiyakan. Ia menutup telepon dengan perasaan campur aduk.

"Ada apa, Kak?" tanya Wulan lembut. Suaranya serak, matanya masih sembab setelah kejadian di taman tadi pagi.

"Umi menelpon. Ustadz Fatih sudah di rumah. Umi minta Kakak ke sana besok pagi. Kamu ikut ya, Lan? Sekalian biar kamu tidak terus-terusan mengurung diri," ajak Hasna.

Wulan terkesiap. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. Pergi ke rumah itu? Rumah di mana ia pernah diusir? Menatap wajah mertuanya lagi? Dan melihat suaminya dalam keadaan terluka?

"Maaf, Kak... badan Wulan rasanya lemas sekali. Perut Wulan juga agak kencang sejak tadi sore. Sepertinya Wulan butuh istirahat di kamar saja," alasan Wulan, meski sebenarnya jiwanya yang sedang tidak kuat.

Hasna menghela napas, ia mengelus bahu Wulan dengan sayang. "Ya sudah, kamu istirahat saja. Jangan banyak pikiran, ya."

Wulan hanya mengangguk, namun dalam hati ia menangis. Maafkan aku, Akang... aku di sini, sangat dekat, tapi aku belum sanggup kembali.

### **Keputusan di Bawah Langit Malam**

Malam itu, setelah Isya, suasana di ruang tengah rumah Abi terasa begitu menyesakkan. Umi duduk di samping Fatih, menggenggam tangan putranya yang terasa dingin. Abi duduk di kursi seberang, menunduk dengan tasbih yang tak berhenti berputar di jemarinya.

"Fatih, anakku..." Umi membuka suara, getarannya tak sanggup disembunyikan. "Sudah cukup. Berhenti mencari Bella, Nak. Umi tidak sanggup melihatmu seperti ini. Pekerjaanmu terbengkalai, kesehatanmu hancur, dan pikiranmu seolah hilang separuh."

Fatih hanya diam, menatap lantai.

"Laporan dari kepolisian baru saja Abi terima," lanjut Abi dengan suara parau. "Plat nomor mobil yang dulu membawa Bella sudah dicek. Itu mobil rentalan. Sopir yang membawanya dulu ternyata sudah meninggal seminggu yang lalu karena sakit.

Jejak itu terputus sama sekali, Fatih. Polisi... secara administratif sudah menyatakan kemungkinan kecil Bella ditemukan dalam keadaan selamat. Mereka menganggapnya telah tiada."

Fatih memejamkan mata. Dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya. "Jadi... Bella benar-benar pergi, Mi?"

Umi memeluk Fatih, tangisnya pecah. "Ini salah Umi, Nak. Umi yang memaksamu dulu. Tapi sekarang, Umi ingin kamu menatap masa depan. Kita tidak tahu rahasia Allah."

Umi kemudian membacakan potongan ayat suci dengan perlahan:

> "...Wasaa 'an takrahuu syai'an wahuwa khairun lakum, wa 'asaa 'an tuhibbuu syai'an wahuwa syarrun lakum. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun."

> **"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."** (QS. Al-Baqarah: 216)

Fatih menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan kepasrahan yang menyakitkan. "Jika ini yang Umi dan Abi inginkan... Fatih setuju untuk berhenti mencari. Fatih menyerahkan segalanya pada Allah."

### **Pagi yang Membawa Perjodohan**

Mentari pagi baru saja menyentuh dedaunan di halaman rumah Abi. Sebuah mobil terparkir dengan tenang. Hasna turun bersama Ratih, asisten setianya. Hasna tampak anggun dengan gamis berwarna salem, meski wajahnya menunjukkan keraguan yang mendalam.

"Assalamu’alaikum..."

"Wa’alaikumussalam... Masuk, Hasna," sambut Umi dengan senyum yang dipaksakan.

Di ruang tamu, Fatih sudah duduk dengan kemeja koko putih. Wajahnya pucat, namun tatapannya lebih tenang dari semalam, meski ketenangan itu tampak seperti laut yang mati.

Setelah basa-basi singkat dan suguhan teh yang tak tersentuh, Umi memulai inti pembicaraan. Suasana mendadak menjadi sangat formal dan kaku.

"Hasna... kamu tahu bagaimana Umi sudah menganggapmu seperti anak sendiri," buka Umi. "Dan kamu juga tahu bagaimana hancurnya Fatih sejak kehilangan istrinya."

Hasna menunduk, jantungnya mulai berpacu. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

"Umi ingin meminta keridhoanmu, Hasna. Umi dan Abi berniat untuk menyatukan kalian berdua dalam ikatan pernikahan. Fatih butuh pendamping yang kuat, yang paham akan agamanya, dan yang bisa mengobati luka hatinya. Kami rasa, kamu adalah orangnya."

Hening.

Ruangan itu mendadak kehilangan oksigen. Hasna merasa dunianya berputar. Ia menoleh ke arah Fatih. Pria itu tidak menatapnya. Fatih hanya menatap jemarinya sendiri yang bertautan.

"Umi... saya..." Hasna terbata. "Saya hanyalah seorang janda. Dan fokus saya saat ini adalah yayasan dan para wanita yang sedang saya lindungi, termasuk... Wulan."

"Justru itu, Hasna," potong Abi dengan bijak. "Ustadz Fatih bisa membantumu di yayasan. Kalian memiliki visi yang sama. Ini bukan hanya soal cinta, tapi soal perjuangan dakwah bersama."

Hasna merasa dilema yang luar biasa. Di satu sisi, ia sangat menghormati Umi dan Abi. Di sisi lain, ia tahu di markasnya ada seorang wanita bernama Wulan yang butuh perhatian khusus pasca trauma—meski Hasna belum tahu bahwa suami Wulan itu adalah Fatih.

Fatih akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap Hasna dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa hormat, namun hampa dari gairah.

"Mbak Hasna," suara Fatih terdengar rendah dan bergetar. "Saya adalah pria yang sedang patah. Saya adalah pria yang baru saja kehilangan separuh nyawa saya. Jika Mbak Hasna bersedia menerima pria yang bahkan belum bisa menyembuhkan lukanya sendiri... saya tidak akan membantah keinginan Umi dan Abi."

Hasna menatap Fatih dengan mata berkaca-kaca. "Ustadz... pernikahan bukan sekadar pengabdian pada orang tua. Ada hati yang harus dijaga."

"Hati saya sudah mati bersama hilangnya istri saya, Mbak," jawab Fatih jujur, sebuah kejujuran yang menghujam jantung Hasna. "Tapi saya tahu, ketaatan pada orang tua adalah jalan menuju ridho-Nya. Jika Mbak Hasna bisa menerima kondisi saya yang seperti ini..."

Hasna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Umi, Abi... ini permintaan yang sangat besar. Saya menghormati Ustadz Fatih lebih dari siapapun. Namun, beri saya waktu. Saya harus istiqhoroh. Saya tidak ingin membangun rumah tangga di atas puing-puing kesedihan yang belum usai."

Fatih mengangguk pelan. "Saya pun sama. Saya minta waktu untuk berpikir dan menata sisa-sisa napas saya. Saya tidak ingin mendzalimi Mbak Hasna dengan ketidaksiapan saya."

### **Duka di Balik Cadar**

Saat mobil Hasna meninggalkan halaman rumah Abi, rintik hujan mulai turun membasahi kaca jendela. Di dalam mobil, Hasna menangis tanpa suara. Ia merasa terjepit di antara takdir yang aneh.

Sementara itu, di markas, Wulan berdiri di balik jendela kamarnya. Perasaannya tidak enak sejak Hasna pergi. Ia membelai perutnya, merasakan gerakan janinnya yang seolah ikut gelisah.

"Akang... apa yang sedang mereka bicarakan tentangmu?" bisik Wulan lirih.

Ia tidak tahu bahwa pagi itu, suaminya baru saja "dipaksa" oleh keadaan untuk memberikan ruang bagi wanita lain. Ia tidak tahu bahwa pria yang paling ia cintai sedang mencoba membunuh kenangan tentang dirinya demi sebuah ketaatan.

Dilema itu kini bukan lagi milik Fatih dan Bella saja, tapi juga milik Hasna yang mulai merasa bahwa takdir sedang mempermainkan mereka semua dalam sebuah simpul yang rumit dan menyakitkan. Melankolis pagi itu menjadi saksi, bahwa sebuah rencana perjodohan telah lahir dari rahim keputusasaan.

1
falea sezi
mau mu apa si wulan 😒 cemburu ma hasna makanya muncul mau lu cerai apa gimana biar stts lu jelas😒 si hasna jg katanya ukhti tp gatel🤣🤣🤣 janda gatel berlagak bercadar🤣🤣🤣
falea sezi
makin muter g jelas🤣🤣
Rayyen LR
Ayo Fatih buka hatimu🤭
Katumbiri Lazuardi: ya kak.. jangan lupa subcribe yah.. biar tambah srmangat
total 1 replies
falea sezi
🤣 mau mu apa wulan ngaku lu wulan minta cerai Berresssss trs pergi jauh blok goblok skit hati di cari sendiri ya elu klo lu masih cinta ya balikan klo enggak alias masih benci ya cerai bego😒 gemes liat cwek plin plan menye menye
falea sezi
🤣🤣 gimana tawaran umi mu bukannya qm gk mau jd anak durhaka
Katumbiri Lazuardi: terimakasih atensinya kak.
total 1 replies
falea sezi
Terima aja tawaran umi mu🤣 biar nanti wulan pergi jauh lagi mampus laki. kok beloon
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!