Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA HARUKA?
Yukari melangkah masuk ke dalam kantor ekspedisi dengan riang, sementara Akira tetap menunggu di atas motor yang terparkir rapi di tepi jalan. Petugas berlalu-lalang dengan langkah tergesa, beberapa kurir sibuk mengangkut paket ke dalam truk pengiriman, sementara suara peluit petugas bongkar muat sesekali memecah keramaian siang.
Tak sampai sepuluh menit, Yukari keluar sembari memeluk sebuah paket besar yang terbungkus plastik bening dengan senyum puas yang menghiasi wajah manisnya.
"Akira-san!" panggilnya riang.
Akira segera turun dari motor dan menghampirinya. "Sudah selesai?"
"Iya!" Yukari menganggukkan kepala bersemangat, mengangkat paket itu sedikit seolah sedang memamerkan harta karun. "Akhirnya buku pesananku sampai juga."
Akira langsung mengulurkan tangan dan mengambil alih bungkusan berat tersebut. "Biar aku yang membawanya."
"Terima kasih banyak, Akira-san," ucap Yukari dengan binar mata penuh terima kasih. Setelah paket diletakkan dengan aman di bagian dek depan motor, Yukari menatap Akira dengan ekspresi misterius yang antusias. "Emm... Akira-san, apa kau mau pergi ke tempat terbaik?"
Akira mengernyitkan dahi, penasaran. "Tempat terbaik?"
"Iya, tempat terbaik versi aku," jawab Yukari mantap.
Akira menatap wajah penuh semangat gadis di depannya selama beberapa detik. Melihat senyuman yang begitu tulus tanpa beban itu, sudut bibirnya otomatis ikut terangkat tipis. "Boleh. Aku akan mengantarmu ke mana pun yang kau inginkan."
Mata Yukari langsung berbinar semakin terang. "Baiklah! Ayo!" serunya sembari bergegas naik ke jok belakang motor. Akira mengenakan helmnya kembali, menyalakan mesin motor tersebut, lalu perlahan memutar gas untuk membelah jalanan kota.
***
Selang beberapa menit, motor tua itu berhenti disebuah bangunan tua bergaya Showa yang tampak sangat hangat dan terawat. Dinding batunya dipenuhi tanaman rambat hijau, sementara jendela-jendela besarnya memantulkan cahaya matahari siang dengan anggun. Di atas pintu masuk, tergantung sebuah papan kayu tua yang diukir dengan tulisan tangan: Perpustakaan Vintage Tsukinoki
Akira mematikan mesin motor, lalu mendongak menatap bangunan klasik itu beberapa saat. "Di sini...?" gumamnya pelan.
Yukari turun lebih dulu, membalikkan badan menghadap Akira dengan senyum yang begitu lebar hingga kedua matanya ikut menyipit indah. "Selamat datang di duniaku, Akira-san," ujarnya sembari membuka kedua tangan, seolah sedang memperkenalkan sebuah dunia rahasia yang teramat berharga.
Akira melangkah mengikuti Yukari menuju pintu masuk. Saat pintu berpanel kaca itu terbuka perlahan, seketika aroma khas kertas tua, kayu pinus, dan tinta langsung memenuhi indra penciuman Akira. Langkah kakinya otomatis melambat.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi rak-rak kayu menjulang hingga ke langit-langit, berisikan ribuan buku sastra klasik, ensiklopedia tua, dan koleksi langka yang tersusun sangat rapi. Keheningan di dalam ruangan itu terasa begitu damai, seolah waktu berjalan jauh lebih lambat di sini.
Yukari berjalan ke balik meja konter kayu, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan sembari menatap Akira yang masih terpaku. "Bagaimana, Tuan? Tempatnya tidak buruk, bukan?" godanya dengan nada yang dibuat seformal mungkin.
"Tidak buruk?" Akira menggelengkan kepala pelan. "Ini... benar-benar luar biasa, Yukari-san."
Senyum Yukari semakin lebar mendengar pujian jujur tersebut. Dia mengambil selembar formulir kosong dari laci konter dan sebuah pena. "Kalau begitu, apakah Tuan berminat menjadi anggota perpustakaan kami? Jika iya, boleh aku meminjam kartu identitasmu sebentar?"
Akira merogoh dompet kulitnya, lalu menyerahkan kartu identitasnya kepada Yukari. Gadis itu menerimanya dengan kedua tangan, membaca data yang tertera di sana satu per satu sebelum bergumam pelan, "Takagi Akira... nama yang bagus."
"Terima kasih, Nona Pustakawan," balas Akira ikut tersenyum tipis, meniru panggilan Daiki yang membuat Yukari langsung terkekeh geli.
Akira kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun beberapa detik kemudian dahinya berkerut. "Aku tidak melihat satu pun kursi atau meja baca di sini."
Yukari sembari mulai mengetik data Akira menggunakan mesin cetak kartu anggota manual di sampingnya. "Ruangan ini tidak terlalu besar. Kalau aku menaruh meja baca, ruang di antara rak akan menjadi sempit. Jadi perpustakaan ini hanya melayani peminjaman buku untuk dibawa pulang."
Tak lama mesin kartu itu mengeluarkan bunyi klik kecil. Yukari mengambil kartu anggota baru berbahan kertas tebal dengan huruf timbul klasik tersebut, lalu menyerahkannya kembali bersama kartu identitas milik Akira. "Nah, mulai hari ini, Tuan Takagi Akira resmi menjadi anggota Perpustakaan Vintage Tsukinoki."
Akira menerima kartu kecil itu entah mengapa terasa jauh lebih berharga daripada kartu keanggotaan mewah apa pun yang pernah dia miliki. "Terima kasih, Yukari-san."
" Sebentar ya, aku buatkan teh lemon hangat dulu di belakang," pamit Yukari sembari membawa paket bukunya menuju ruang belakang, menghilang di balik tirai kain yang memisahkan dapur kecil dari ruang utama.
***
Akira menyusuri lorong-lorong rak buku, sesekali menyentuh punggung buku-buku tua yang berdebu tipis. Langkahnya akhirnya berhenti di depan rak sejarah Jepang. Dia menarik sebuah buku bersampul kulit tua, membuka halaman pertamanya, dan mulai tenggelam dalam barisan kalimat di sana.
Kringgg...
Bel kuningan di atas pintu depan tiba-tiba berdenting pelan. Akira tidak menoleh, mengira itu hanyalah seorang pengunjung biasa yang hendak mengembalikan buku. Namun, suara ketukan sepatu hak tinggi yang menggema di lantai kayu perlahan mendekat, lalu berhenti tepat beberapa meter di belakang punggungnya.
"Hm... jadi, akhirnya aku bisa menemukanmu di tempat seperti ini," suara seorang wanita terdengar lembut, namun seketika membuat jemari Akira membeku di atas halaman buku.
Napas Akira tertahan. Dia sangat mengenali warna suara itu. Namun sebelum dia sempat membalikkan badan, wanita itu kembali berbicara dengan nada meremehkan yang familier. "Aku benar-benar tidak menyangka. Dulu kau bahkan tidak pernah sudi menyentuh buku-buku tua seperti ini. Sejak kapan kau berubah...Takagi Akira?"
Tubuh Akira menegang sempurna. Perlahan, dia membalikkan badannya. Di dekat pintu masuk lorong rak, berdiri seorang wanita berpenampilan sangat anggun dengan gaun krem yang elegan dan rambut cokelat bergelombang yang tertata rapi. Aroma parfum mahal yang pekat mendadak menguar, mengusir aroma kertas tua di sekitar mereka.
Wanita itu tersenyum tipis, menatap lekat wajah Akira. "Sudah lama tidak bertemu... Akira."
Bibir Akira bergerak pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "...Haruka.."
"Syukurlah, kau belum sepenuhnya melupakan wajahku," senyuman Haruka semakin dalam saat dia melangkah perlahan mendekat, mengamati penampilan Akira dari ujung kepala hingga kaki. "Hm, kau benar-benar berubah. Jenggot berantakanmu sudah tidak ada, rambutmu juga sudah dipotong rapi. Aku hampir tidak mengenalimu lagi."
Akira tetap diam membisu, menatap wanita di depannya dengan sorot mata yang berangsur-angsur berubah menjadi sedingin es.
Haruka berjalan semakin dekat hingga mereka berdiri di rak yang sama. Jemarinya yang berkuku rapi mengambil sebuah buku tua, lalu meniup debunya dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Uh, tempat ini sempit dan berdebu sekali. Terakhir kali aku melihatmu, kau terlihat sangat menyedihkan dengan pakaian berantakan dan mata kosong. Tapi sekarang... kau kembali menjadi Takagi Akira yang tampan. Apa yang membuatmu berubah?"
Akira menggenggam buku di tangannya sedikit lebih erat hingga buku jarinya memutih. "Apa maumu, Haruka? Kalau tidak ada urusan penting, pergilah dari sini."
Haruka terkekeh pelan, menganggap remeh peringatan itu. "Kasar sekali. Aku hanya kebetulan melihatmu dari balik kaca toko seberang jalan dan masuk untuk memastikan. Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, apa kau sama sekali tidak merindukanku?"
"Tidak. Tidak sedikit pun," jawab Akira singkat dan tajam.
Senyuman Haruka membeku sepersekian detik sebelum dia menutupinya dengan tawa kecil. "Masih keras kepala seperti dulu," ujarnya sembari mengangkat tangan kanan, bergerak hendak menyentuh bahu Akira. "Ayo, kita bicara di luar saja. Aku tidak suka tempat sesempit ini."
Namun, belum sempat jemari Haruka menyentuh pakaiannya, Akira langsung mundur setapak dengan kilatan amarah di matanya. "Jangan"
Haruka menolak untuk berhenti, dia justru kembali melangkah maju memangkas jarak. "Akira, Untuk apa bersikap seolah aku ini musuhmu?" ucapnya sembari nekat mendaratkan telapak tangannya di bahu Akira.
Seketika itu juga, Sentuhan itu laksana pemantik yang meledakkan bom waktu di kepalanya. Kilasan masa lalu menghantamnya tanpa ampun—suara bentakan makian, hantaman pintu yang dibanting, serta tatapan mata meremehkan yang memandangnya seperti sampah. Semuanya bercampur menjadi satu, memicu sesak yang luar biasa di dadanya.
"Sudah kubilang... jangan... sentuh... aku!"
Brak!
Dengan gerakan refleks yang didorong oleh trauma dan amarah, Akira menghentakkan lengan kanannya dengan kuat. Sentakan kasar itu membuat tubuh Haruka kehilangan keseimbangan dan terdorong ke belakang.
"Ah!"
Bruuukk!!
Punggung Haruka menghantam tumpukan boks berisi buku-buku baru di samping rak dengan keras. Beberapa buku tebal berjatuhan ke lantai kayu, menciptakan suara dentuman yang menggema hebat ke seluruh penjuru perpustakaan yang sunyi.
***
Di balik tirai dapur, tangan Yukari yang sedang menuangkan teh lemon hangat ke dalam cangkir keramik mendadak terhenti. Aliran air teh beriak pelan seiring dengan dahi Yukari yang berkerut bingung. 'Itu suara apa? pasti Akira-san tidak sengaja menjatuhkan boks buku' batinnya mencoba berpikiran positif.
Namun, belum sempat dia melangkah keluar, sebuah teriakan melengking dari seorang wanita terdengar dari ruang depan. "Apa-apaan kau ini, Akira?! Kasar sekali!"
Senyuman Yukari seketika lenyap. Wanita? Ada suara wanita asing di luar? Dengan langkah cepat dan tanpa suara, Yukari segera menyingkap tirai dapur dan berjalan menjinjit mendekati celah rak buku besar yang membatasi dapur dengan ruang utama. Dia tidak berani langsung muncul, melainkan hanya mengintip dari balik celah untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
Di lorong rak, Haruka sedang bersusah payah bangkit sembari menepuk-nepuk gaun kremnya yang kusut dengan wajah yang memerah menahan malu dan terkejut.
"Pergi dari sini, Haruka," ujar Akira dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah, jemarinya menunjuk lurus ke arah pintu keluar. "Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali dan menyeretmu keluar dari tempat ini."
Di balik tempat persembunyiannya, Yukari membeku. Cangkir teh di tangannya bergetar hebat. Itu memang suara Akira, namun nada suaranya terasa asing—sangat berat, dingin, dan dipenuhi oleh kobaran kemarahan yang belum pernah dia tunjukkan selama ini. 'Apa perempuan anggun itu... adalah orang yang selama ini ia ceritakan?' bisik hati Yukari, dadanya mendadak ikut berdenyut nyeri.
Haruka menarik napas panjang, mencoba meredam keterkejutannya sembari mengubah ekspresi angkuhnya menjadi lebih melunak. "Kau masih semarah itu karena kejadian waktu itu? Aku benar-benar minta maaf, Akira. Sungguh, aku senang melihatmu sekarang sudah jauh lebih baik. Bisakah kita bicara berdua saja secara dewasa?"
"Tidak," jawab Akira tanpa jeda sedikit pun. "Aku bahkan sudah muak melihat wajahmu, mendengar suaramu, mencium bau parfummu, bahkan mendengar helaan napasmu pun membuatku muak. Pergi sekarang juga."
Tubuh Haruka bergetar hebat mendengar penolakan sekasar itu dari pria yang dulu selalu tunduk dan menuruti segala keinginannya.
"Bukankah ini yang selama ini kau inginkan?" lanjut Akira, suaranya merendah namun justru terdengar jauh lebih menyakitkan karena sarat akan luka emosional yang terpendam bertahun-tahun. "Kau sudah mendapatkan semuanya, Haruka. Kau mendapatkan kebebasanmu, harta yang kau incar, dan kehidupan mewah yang kau pilih sendiri dengan mencampakkanku."
Haruka menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Akira... aku hanya ingin kita memperbaiki hubungan dan kembali seperti dulu lagi..."
"Mustahil," potong Akira kejam tanpa ampun. Pria itu menarik napas panjang, menatap Haruka dengan sorot mata yang mengunci mati seluruh argumen wanita itu. "Kita... sudah bukan lagi suami istri. Kau sudah mendapatkan surat perceraian resmi yang selama ini kau tangisi dan kau minta dariku. Hubungan kita sudah mati dan selesai, jadi jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di hadapanku!"
Deg.
Di balik rak buku, mata Yukari membelalak sempurna dengan tangan yang refleks membekap mulutnya sendiri demi menahan pekikan syok. 'Suami... istri?' Jantung Yukari berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.
Selama ini, tebakan dirinya salah besar. Akira bukan sekadar mengalami patah hati akibat dikhianati oleh seorang kekasih. Luka yang dibawa pria itu ke desa mereka jauh lebih dalam dan menghancurkan. Akira telah kehilangan sebuah rumah tangga, janji suci, dan seluruh masa depan yang pernah dia bangun dengan sisa kedewasaannya.
"Akira..." Haruka kembali melangkah maju dengan air mata yang mulai menetes, mengabaikan seluruh peringatan dingin pria itu. Namun...
Bruuukk!!