Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merak Biru
Setelah meninggalkan Istana Shing, Li Yunru dan Ruu mengikuti jalur aman yang ditunjukkan dalam peta. Tapi tak lama kemudian, langit mulai mendung dan udara menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Tidak akan turun hujan, kan?" tanya gadis itu setelah melihat ke langit.
Ruu mengibaskan telinganya pelan. "Jangan khawatir, sepertinya tidak akan hujan. Kalaupun hujan, kita tinggal berteduh di lubang—ehem! Maksudku, berteduh di gua."
Li Yunru langsung memutar bola matanya malas. Kelinci tetaplah kelinci. Apa lagi yang bisa dipikirkan seekor kelinci selain sarang bau tanah?
"Tapi, Tuan," lanjut Ruu sambil melompat melewati akar pohon besar yang mencuat. "Mengapa kita harus selalu pergi ke hutan? Bukankah bagus jika kita berkeliling kota sesekali?"
Memang benar bahwa Li Yunru belum benar-benar berkeliling kota di wilayah Baiyun sejak pertama kali tiba di zaman ini.
Menurutnya, kehidupan di sini mungkin tidak akan jauh berbeda dari suasana kota kuno yang sering ia lihat di drama online.
"Jangan lupa, aku ini ingin menjadi koki, bukan hanya menjadi pejalan kaki." Li Yunru melangkah hati-hati sambil membawa keranjang bambunya. "Kalau pergi ke hutan, siapa tahu kita menemukan ginseng berumur seribu tahun."
"Meh! Mana mungkin ada ginseng seribu tahun!" Ruu langsung mengejek. "Kalau benar ada, mungkin ginseng itu sudah berubah jadi roh sejak lama!"
"Ini namanya mencari keberuntungan. Tidak ada salahnya mencoba." Li Yunru malas berdebat lebih jauh dengan seekor kelinci.
Keduanya terus mengobrol sambil mengikuti arah di peta kasar buatan Bai Muzhi. Beberapa saat kemudian, suara burung mulai menghilang dari pendengaran keduanya.
Li Yunru sendiri tidak terlalu memedulikannya. Namun Ruu mulai merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar.
Karena tanpa sadar, keduanya berjalan semakin jauh dan tiba di tempat yang sama sekali belum pernah didatangi.
Pepohonan di sana jauh lebih tinggi daripada area hutan biasa. Rumput liar tumbuh lebat dan tampak sama sekali belum pernah terinjak apa pun.
"Jika tidak ada hewan yang melintas, bukankah itu berarti tempat ini berbahaya?" Li Yunru memastikan isi petanya lagi.
Ruu juga mulai ragu. Ia bahkan tidak berani menerjang rerumputan tinggi di depannya lagi. "Tuan, apakah ini benar-benar jalannya? Jangan-jangan kita salah arah?"
Li Yunru sendiri merasa tidak yakin. Ia lagi-lagi memeriksa peta di tangannya lalu mencocokkannya dengan keadaan sekitar.
"Di peta, Bai Muzhi menggambar jalan belokan di sekitar sini ...," gumamnya pelan. "Tapi kita sama sekali tidak menemukan jalan itu."
"... Tuan, jangan bercanda." Ruu langsung merasa bulunya berdiri. "Meski hutan dekat istana cukup aman, sekarang kita sudah terlalu jauh."
"Mau bagaimana lagi? Ayo pergi sedikit lebih jauh."
Li Yunru hanya bisa bertaruh dan melanjutkan perjalanan. Semakin lama berjalan, ia mulai kehabisan tenaga. Salahkan dirinya sendiri karena terlalu asyik mengobrol dengan kelinci gemuk itu.
Gadis itu akhirnya memperhatikan sekitar dengan pandangan curiga. Ada tanaman merambat menggantung di mana-mana dan pepohonan besar membuat suasana terasa suram.
Yang paling aneh adalah—Bai Muzhi sama sekali tidak menandai tempat ini di peta yang dibuatnya. Apakah ini tempat terlarang?
Ruu yang berkeliaran di sekitarnya, akhirnya berkata, "Tuan, aku merasa ada sesuatu tersembunyi di depan."
"Mungkinkah itu negeri dongeng?" tebak Li Yunru yang mulai berkhayal liar.
"Jangan terlalu banyak berkhayal! Mana ada negeri dongeng di dunia ini!" Ruu langsung menghancurkan lamunannya tanpa ampun.
Li Yunru mendengus pelan. Ia juga tahu kemungkinan besar itu hanyalah khayalannya sendiri.
"Aku ingin memeriksanya dulu. Kalau memang tidak ada apa-apa, kita kembali saja."
Dia melangkah menerobos rerumputan dan semak tinggi dengan hati-hati. Tak lupa, ia mengangkat Ruu lalu memeluk tubuh gemuk kelinci itu di lengannya.
"Tuan, biarkan aku turun." Ruu langsung mencari alasan. "Aku akan menunggumu di sini. Tidak perlu membawaku ikut ...."
"Menunggu ekormu!" Li Yunru memutar bola matanya. "Kalau terjadi sesuatu, kita bisa berbagi suka dan duka bersama."
"...."
Ruu langsung memasang ekspresi putus asa.
Sungguh tuan yang penuh kebencian. Mengapa kesialan pun harus dibagi dengannya?
Karena sedang memeluk Ruu, Li Yunru hanya bisa mengandalkan kakinya untuk menginjak tanah berumput yang menurutnya aman.
Ia melangkah perlahan sambil menepis rerumputan tinggi dengan ujung sepatunya. Sampai akhirnya keduanya tiba di depan tanaman merambat yang sangat lebat, menjuntai dari atas pohon dan membentuk semacam tirai hijau gelap yang tampak misterius.
Li Yunru mengulurkan tangan dan mencoba menyingkap tanaman merambat itu. Namun saat melangkah sekali lagi ke depan, tanah di bawah kakinya tiba-tiba runtuh.
"AH ...!!"
Li Yunru dan Ruu langsung berteriak bersamaan. Sungguh tidak terduga bahwa keduanya akan terperosok. Angin berdesir melewati tubuh saat Li Yunru jatuh menembus kegelapan.
Sesaat kemudian—bruk! Li Yunru akhirnya tersungkur di atas rumput hijau yang tebal. Ia segera bangkit dan mengerutkan kening sambil menahan rasa pusing. Lalu menyentuh wajahnya sendiri dengan bingung.
"Apakah rumput di sini seempuk bantal? Tidak sakit sama sekali ...," gumamnya linglung.
"Tentu saja tidak sakit! Wajahmu menindihku sebelumnya!" Suara Ruu terdengar kesal.
Kelinci gemuk itu merasa tulang belakangnya hampir remuk. Jika dia tidak gemuk, seberapa mengerikannya itu?
Li Yunru akhirnya sadar dan mengambil kelinci itu untuk memeriksa kondisinya. "Kamu baik-baik saja?"
"... Tidak apa-apa. Hanya sakit punggung." Ruu tidak terlalu manja.
Barulah setelah memastikan Ruu baik-baik saja, Li Yunru segera melihat ke sekeliling dengan tatapan menyelidik.
"Di mana ini?"
Keduanya kini berada di tempat yang sangat berbeda dari hutan sebelumnya.
Di sekitarnya saat ini, ada beberapa pohon besar bercabang rendah. Tidak terlalu tinggi, namun cabang-cabangnya kuat dan tampak cocok untuk duduk atau bersantai. Udara di tempat itu juga terasa jauh lebih hangat dan nyaman.
Cahaya matahari siang menembus sela dedaunan hijau yang rimbun dan menciptakan bayangan samar di atas rerumputan.
"Ini bukan di wilayah utara," jawab Ruu yakin. "Tapi aku tidak pernah datang ke sini sebelumnya."
Namun tiba-tiba terdengar suara kerasak-kerusuk dari balik semak tinggi tak jauh dari keduanya. Bayangan biru pendek sesekali terlihat sekilas melintas di antara pepohonan yang dipenuhi semak.
Li Yunru dan Ruu langsung waspada.
"Apa itu?" Gadis itu sedikit takut. "Apakah di dunia ini ada monster biru yang bisa makan orang?"
"Mungkin itu buaya?" Ruu menebak.
Li Yunru memutar bola matanya meski terlihat masih waspada. "Buaya terlihat berwarna hijau bukan biru. Lagi pula, bagaimana buaya tinggal di hutan, mereka suka hidup di air."
"Mungkin itu buaya hutan yang makan rumput."
"...."
Jika predator makan rumput, pasti sudah sejak lama manusia memelihara harimau. Begitulah pikiran Li Yunru berjalan. Tapi saat ini, fokusnya teralihkan.
Ia melihat kepala seekor merak biru berjambul perlahan muncul dari balik semak. Mata hitamnya yang indah menatap keduanya penuh rasa ingin tahu sebelum akhirnya melangkah keluar.
Melihat bahwa itu hanyalah seekor merak biru jantan yang cantik, Li Yunru dan Ruu sama-sama menghela napas lega.
"Untung saja bukan b*bi hutan," gumam Li Yunru penuh syukur.
"Tidak mungkin b*bi hutan tinggal di tempat seindah ini." Kelinci gemuk itu mendengus. "Mereka juga pasti tahu diri."
Merak biru itu berjalan mendekati keduanya dengan santai dan anggun. Sesekali ia menoleh ke sekitar seolah memastikan keadaannya aman.
Kemudian, tepat beberapa langkah di depan, merak itu berhenti lalu perlahan mengembangkan ekornya.
Seketika ekor panjangnya membentuk kipas besar yang sangat indah. Corak bulunya berkilau terkena cahaya matahari dan tampak begitu mempesona.
Li Yunru langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. "Ya, Dewa ... cantik sekali!"
Tanpa rasa takut sedikit pun, ia segera menghampiri merak tersebut lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Bulu merak itu terasa sangat lembut dan halus saat disentuh. Bahkan ada aroma harum samar yang menenangkan.
"Benar saja, lucu itu tidak ada gunanya. Yang penting cantik dan wangi." Li Yunru tampak sangat puas. "Ini jauh lebih baik daripada kelinci bau."
"Fitnah!" Ruu langsung melompat marah. "Aku juga mandi dan tubuhku wangi!"
Namun Li Yunru sama sekali tidak memedulikannya lagi. Ia sudah terlalu sibuk memeluk merak biru tampan itu sambil mengusap-usap bulunya dengan penuh cinta. Bahkan setelah itu, ia mulai menciumi kepala merak tersebut tanpa rasa malu.
Merak itu sedikit waspada. Sepasang matanya berkedip beberapa kali. Ini pertama kalinya ada orang asing memeluk dan menciumnya. Ujung ekor merak biru tua itu bergetar halus.
Sesaat kemudian, tubuh merak biru yang dipeluk Li Yunru mengeluarkan cahaya terang yang cukup menyilaukan. Li Yunru refleks menyipitkan mata karena silau. Tak butuh waktu lama, ia merasakan kecupan ringan di pipinya.
"Cantik ...."
Suara merdu dan lembut terdengar sangat dekat di telinganya, begitu indah hingga terasa seperti mampu menyihir siapa pun yang mendengarnya.
"Apakah aku benar-benar tampan?"
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih