" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Rafael berlari sekencang mungkin menuju parkiran kampusnya,tak ketinggalan Damares dan Alexander mengikutinya dari belakang,serta beberapa pengawal khusus.
Bagaimana tidak,saat ia tengah mengikuti perkuliahan, tiba-tiba sebuah pesan berbentuk gambar dan vidio masuk di ponselnya,dari seseorang.
Vidio dan gambar yang menunjukkan semuanya tentang Meera, hingga sampai saat gadis itu telah berada di rumah sakit tengah di tangani oleh dokter.
Dalam foto itu,Meera terlihat tak sadarkan diri dan tubuhnya terlihat berlumuran darah,entah bagian tubuhnya yang mana yang terluka begitu parah hingga begitu banyak darah yang keluar.
" Aku yang akan mengemudi" ucap Damares tegas,tak akan ia biarkan Rafael yang mengemudi, bisa-bisa mereka atau hanya Rafael yang akan berada di rumah sakit.
Tak membantah, Rafael segera membuka pintu bagian belakang, tubuhnya terasa begitu lemah, semua ototnya serasa seperti jelly,tak rasanya tak mampu ia gerakkan.
" Lebih cepat Res" perintahnya pada Damares,Alex yang berada di samping supir terlihat begitu fokus pada layar tablet nya,ia tengah memerintahkan seseorang untuk memeriksa cctv yang berada di depan sekolah Meera.
Damares dan Alex sudah tau apa yang sebenarnya terjadi, Rafael memang tak memberitahukan pada mereka,namun mereka mendengar saat melewati koridor kampus,tentang insiden yang menimpa Meera,dan juga telah melihat hasil dari rekaman cctv yang Alex tunjukkan.
" Jalanan cukup padat di jam seperti ini,kalau aku menambah lagi kecepatan, kita akan terkena amukan massa, seharusnya kita menggunakan fasilitas istana" Damares menjawab sesuai logikanya,ia juga memberikan sindiran halus pada Rafael, karena sikap tak sabaran nya, seharusnya mereka bisa menghubungi pengawal agar menyiapkan pengawalan sehingga tak harus menghadapi kemacetan.
Bugh....
Rafael meninju kuat jok mobil nya,rasanya ia sangat ingin keluar dari mobil dan. Berlari melewati mobil-mobil yang berbaris tengah mengantri di lampu merah tersebut.
" Om Amran dan Tante Vanessa sedang tak berada di dalam negeri" gumam Rafael,seraya tangan nya cepat meraih ponselnya mencoba menghubungi telepon rumah keluarga Lennox, untuk memberitahukan pada bik Munah, asisten kepercayaan keluarga itu.
" Apakah kau bisa menduga, kira-kira siapa yang berada di balik semua ini?" tiba-tiba Alex bertanya pada Rafael,saat hanya bersama,mereka akan berbicara dan berinteraksi layak nya seorang sahabat, karena memang mereka bersahabat.
" Aku sedang tak mampu berfikir Lex" tegur Rafael tegas.
" Baik lah" jawab Alex tak akan berani membantah,ia tau sahabat nya itu benar-benar sedang kacau.
Rafael meremas kuat rambutnya,ia marah pada dirinya sendiri, yang ia rasakan saat ini hanya ketakutan yang luar biasa.
" Tenangkan dirimu terlebih dahulu,kita sudah sampai" Damares memberikan peringatan agar Rafael mampu mengontrol dirinya di depan publik,karena,biar bagaimanapun kemunculan nya di khalayak umum seperti ini pasti akan meninggalkan begitu banyak berita dan perspektif dari berbagai kalangan.
" Hm.." jawab Rafael singkat,ia melangkah keluar dari mobil nya setelah Alex yang lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil untuk nya, begitupun dengan Damares yang terlihat sudah siaga di samping mobil.
Ketiganya melangkah cepat menuju informasi " permisi,bisa tunjukkan dimana ruang penindakan pasien kecelakaan atas nama Nymera?" Alex bertanya kepada salah satu petugas IGD.
" O-oh..di-di bagian sisi kanan tuan,mari saya antar" jawab seorang perawat wanita,ia yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya tak menyadari siapa yang berada di hadapannya,baru setelah ia menyadari ia langsung menunduk hormat dan bergerak cepat menunjukkan dimana ruangan Meera di tangani.
" Ini tuan" tunjuk nya saat telah berada di depan sebuah ruangan.
" Baik terimakasih" jawab Alex tenang,di antara mereka bertiga hanya Alex yang bersikap lebih tenang dan sopan,namun ia pula lah yang memiliki sikap pendiam dan tertutup hampir seperti Rafael, walaupun tak separah Rafael.
" Ada lagi yang tuan atau pangeran butuhkan?" tanya perawat itu sopan.
Alex menatap Rafael dan Damares,namun yang di tatap terlihat diam" sudah cukup,oh tapi apakah tidak ada yang mendampingi nya saat datang tadi?" tanya Alex penasaran siapa yang membawa Meera ke rumah sakit.
" Ada tuan,teman nya sepertinya,seragam mereka sama,tapi sepertinya teman nya tersebut sedang berada di ruangan sebelah, mungkin tengah berbicara dengan beberapa polisi yang ikut datang bersama mereka" .
Alex mengagguk mengerti " terimakasih" jawab nya sopan.
Perawat itu mengangguk sopan" ada lagi yang bisa saya bantu? " tanya perawat itu memastikan sebelum ia meninggalkan mereka.
" Tidak ada,untuk saat ini sepertinya sudah cukup" jawab Alex yakin.
" Baiklah kalau seperti itu saya akan melanjutkan pekerjaan saya,tuan dan pangeran bisa duduk di kursi yang telah di sediakan, sepertinya penanganan nya akan sedikit lebih lama,saya permisi " pamit nya pada ketiganya.
Perawat tersebut langsung meninggalkan ketiganya setelah mendapat anggukan kepala dari Alex,ia menghembuskan nafasnya lega, bagaimana tidak lega,sejak ia tau siapa yang berbicara dengan nya,jantung nya serasa maraton,bahkan tubuhnya terasa mengeluarkan keringat dingin,saking gugupnya dia, seumur hidupnya ini adalah kali pertama ia begitu dekat dengan pangeran dan melihatnya secara langsung,rasanya masih seperti mimpi.
Begitu tiba di meja kerjanya,ia langsung mendudukkan dirinya, memejamkan matanya menghirup udara yang terasa begitu berat,membuat teman nya yang baru kembali dari kamar mandi menatapnya heran.
" Kamu kenapa? Muka kamu pucat gitu,kayak orang yang habis melihat hantu saja" rekan. Kerjanya itu belum terlalu tau tentang kedatangan pangeran Rafael,ia hanya masih merasa sedikit bingung dengan keadaan sang tiba-tiba terlihat begitu lengang, bagaimana tidak pada pengawal khusus Rafael telah bertindak,agar tak terjadi keriuhan karena kedatangan wartawan.
" Ternyata gadis yang menggunakan seragam sekolah His yang mengalami kecelakaan itu keluarga kerajaan ya?" tanya perawat yang tadi.
" Loh..jadi kamu belum tau?" tanya rekan nya heran.
Dengan cepat perawat tersebut menggeleng,ia adalah perawat baru yang baru bekerja di rumah sakit tersebut,dan berasal dari sebuah desa,ia yang sibuk dengan urusan pendidikan dan bekerja,sangat jarang update di berbagai sosial media,kecuali tentang info lowongan pekerjaan.
" Gadis itu bukan keluarga kerajaan,tapi di kabarkan dalam beberapa berita di media sosial,dia adalah tunangan pangeran Rafael, pertunangan mereka sih secara tertutup dan masih di sembunyikan,tapi yang namanya berita sedikit demi sedikit ya akan muncul juga di kalangan luar" jawab rekan nya lagi.
" Ya ampun, kebaikan apa yang telah aku lakukan,sampai bisa melihat secara langsung pria paling tampan di negara ini , beruntung banget ya gadis itu, menjadi tunangan pangeran" ucap perawat itu dramatis.
" kalaupun dia beruntung ya itu memang wajar lah,dia juga bukan dari keluarga sembarangan,dia adalah putri tunggal seorang pengusaha terkemuka di negara ini, wajahnya juga sangat cantik,bukan seperti kita yang hanya remahan seperti ini" jawab rekan nya lagi, keduanya tertawa kecil namun wajah mereka berekpresi menyedihkan.
abis digampar Meera, sekarang bapaknya Meera, btw gpp namanya juga usaha, kerahkan seluruh usaha dan sabarmu ya EL
Ganbatte 💪
harus konsekuen dong dengan pilihan nya...ya sana jalan aja atau berkencan sama si Camelia..kan ngebet banget sama pangeran 😄
ini pasti akan sedikit lebih sulit.
Meeramu sudah berubah, dia bukan lagi Meera yg dulu
merana deh🤣
Meera kamu harus semakin kuat..
belajar menghadapi tantangan hidup
yg tentu tidak mudah.. yakinkan diri bahwa kamu kuat kamu bisa💪💪