Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Darah dan Kebenaran
Tiga hari setelah ciuman itu, Jeno menghilang.
Bukan benar-benar hilang — ia masih ada di reruntuhan istana Aequoria, masih tidur di gua karang di bagian utara, masih sesekali muncul untuk memastikan Nana tidak kelaparan (meski sebagai Siren, Nana kini bisa memakan plankton dan ikan kecil mentah tanpa masalah). Tapi dia menjauh.
Tidak lagi duduk di samping Nana saat Jantung Aequoria bernyanyi di malam hari.
Tidak lagi menyentuh rambut Nana dengan lembut seperti dulu.
Dan yang paling menyakitkan — ketika Nana mencoba memulai latihan lagu lagi, Jeno hanya berkata, "Tidak sekarang," lalu berenang pergi tanpa menoleh.
Nana duduk sendirian di ruang latihan, ekornya tergulung di pasir, Jantung Aequoria berdenyut pelan di dadanya — lambat, seperti sedang bersedih.
"Apa yang salah denganku?" bisik Nana pada batu bercahaya di dadanya.
Batu itu tidak menjawab. Tapi di sudut ruangan, di balik puing-puing karang, Nana melihat sesuatu bergerak.
Seekor ikan buntal kecil dengan mata biru kehijauan mengintip. Ikan itu berenang mendekat, berputar-putar di sekitar Nana, lalu menabrak-nabrak lembut tangannya — seperti anjing laut kecil yang minta dielus.
"Kau... bukan ikan biasa, ya?" tanya Nana.
Ikan buntal itu berkedip. Lalu, dengan suara kecil dan cempreng yang terdengar persis seperti anak kecil, ia berkata:
"Jeno sedih. Jeno bilang dia jahat. Tapi Jeno tidak jahat. Aku suka Jeno."
Nana terkejut. "Kau bisa bicara?"
"Sedikit. Aku masih kecil. Namaiku Bubu. Jeno yang memberi nama."
Nana tersenyum tipis. "Bubu, kau tahu kenapa Jeno sedih?"
Ikan buntal itu mengangguk — gerakan lucu untuk ikan sekecil itu.
"Ayo ikut aku. Aku tunjukkan."
---
Bubu membawa Nana berenang melewati reruntuhan istana, melewati taman karang yang mati, menuju ke sebuah gua kecil di bagian utara Aequoria. Gua itu tersembunyi di balik tirai rumput laut yang lebat. Nana hampir tidak menyadarinya jika Bubu tidak berenang masuk terlebih dahulu.
Di dalam gua, tembok karangnya dipenuhi dengan ukiran.
Bukan ukiran biasa. Itu adalah lukisan kenangan — ukiran di batu yang dibuat dengan sihir Siren sehingga bergerak seperti video. Nana melihat:
Sebuah istana yang masih utuh — Aequoria sepuluh tahun lalu.
Seorang Ratu cantik dengan rambut hitam panjang (sama persis dengan rambut Nana) duduk di singgasana mutiara, tersenyum pada seorang bayi yang digendongnya.
Bayinya Nana.
Lalu ukiran berikutnya: pertempuran. Para Siren dengan mata merah menyerang. Seorang jenderal besar dengan trisula berlumuran darah berdiri di atas tubuh Ratu Ruenna.
Wajah jenderal itu... sama persis dengan Jeno.
Bukan Jeno. Tapi mirip. Terlalu mirip. Seperti ayah dan anak.
Nana merasakan darahnya membeku.
"Itu ayah Jeno," kata Bubu pelan. "Jenderal Valdris. Pembunuh Ratu Ruenna."
---
Nana tidak ingat kapan ia keluar dari gua itu.
Yang ia ingat, ia berenang mencari Jeno dengan jantung berdebar kencang — bukan karena takut, tapi karena marah. Bukan marah karena Jeno menyembunyikan sesuatu. Tapi marah karena Jeno memilih untuk menjauh daripada memberitahunya kebenaran.
Ia menemukan Jeno di puncak reruntuhan istana, tempat yang dulu menjadi balkon Ratu. Di sana, dengan latar belakang kota Aequoria yang sunyi, Jeno duduk di tepi karang, menatap kehampaan.
Nana tidak menyapa.
Ia langsung duduk di samping Jeno, menggenggam tangan pemuda itu — dan untuk pertama kalinya, Jeno tidak menarik tangannya kembali.
"Aku tahu," kata Nana. "Tentang ayahmu."
Jeno menutup mata.
"Maaf," bisiknya. Suaranya hancur. "Aku seharusnya memberitahumu sejak awal."
"Ya. Kau seharusnya."
Jeno tertawa pahit. "Kau marah."
"Aku kecewa," kata Nana jujur. "Bukan karena ayahmu membunuh ibuku. Tapi karena kau pikir aku akan membencimu karena itu."
Jeno membuka mata. Biru pucat itu kini basah.
"Ayahku membunuh ratumu," katanya pelan. "Aku membawa kabur bayinya. Lalu aku jatuh cinta pada bayi itu saat ia tumbuh dewasa. Bukankah itu... salah? Bukankah aku seharusnya merasa bersalah?"
"Kau bukan ayahmu, Jeno."
"Tapi darahku—"
"Darahmu," potong Nana, "adalah darahmu sendiri. Bukan darah ayahmu. Bukan darah siapapun. Aku tidak memilih untuk jatuh cinta pada garis keturunanmu. Aku jatuh cinta pada kau."
Jeno terdiam.
Sepuluh tahun ia menyimpan rasa bersalah ini. Sepuluh tahun ia berpikir bahwa suatu hari Nana akan tahu kebenarannya dan membencinya.
Tapi Nana tidak membencinya.
Nana malah memeluknya.
Di dalam air yang dingin, di atas reruntuhan istana yang hancur, Nana melingkarkan tangannya di leher Jeno dan memeluknya erat-erat — seperti pelukan yang seharusnya ia berikan sepuluh tahun lalu saat masih bayi, tapi baru bisa diberikan sekarang.
"Aku tidak akan pergi," bisik Nana di telinga Jeno. "Aku tidak akan pernah pergi. Jadi berhentilah menjadi bodoh dan jauhi aku."
Jeno tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya memeluk Nana kembali. Erat. Seperti orang yang tenggelam memegang satu-satunya papan penyelamat di tengah badai.
Di dadanya, Jantung Aequoria bernyanyi — bukan lagu sedih kali ini, tapi lagu yang hangat.
---
Ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat Nana dan Jeno masih berpelukan di balkon istana, langit di atas mereka — langit laut yang biasanya biru kehijauan — tiba-tiba berubah menjadi merah.
Bukan merah karena matahari terbenam. Tapi merah karena ribuan mata.
Pasukan Siren Hitam.
Mereka datang dari segala arah — dari barat, dari timur, dari atas, dari bawah. Ratusan, mungkin ribuan, Siren dengan sisik hitam legam dan mata merah menyala. Mereka tidak bernyanyi. Mereka hanya memandang — dan tatapan itu sudah cukup untuk membuat air di sekitarnya bergetar ketakutan.
Di depan pasukan itu, di atas singgasana apung dari tulang paus, Ratu Aramis duduk dengan anggun.
Ia lebih cantik dari yang Nana bayangkan. Rambut merah darahnya tergerai panjang, wajahnya mirip dengan Ratu Ruenna — tapi matanya tidak memiliki kehangatan. Hanya kekosongan dan kesombongan.
"Keponakanku tersayang," suara Aramis menggema di seluruh Aequoria, memecah keheningan kota mati itu. "Akhirnya kau pulang. Ibu sangat merindukanmu."
Nana merasakan tubuhnya membeku — bukan karena ketakutan, tapi karena amarah yang tiba-tiba membanjiri seluruh nadinya. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut kencang, hampir menyakitkan.
"Itu bukan ibumu," bisik Jeno di sampingnya. Tangannya menggenggam trisula kecil yang tiba-tiba muncul dari balik punggungnya — senjata Siren yang bisa dipanggil kapan saja. "Dia pembunuh ibumu. Jangan percaya sepatah kata pun darinya."
"Jeno," suara Aramis berubah menjadi manis — manis palsu yang membuat bulu kuduk Nana merinding. "Masih setia pada tugas? Padahal kau tahu, ayahmu dulu adalah jenderal terbaikku. Sayang sekali ia mati karena melindungimu."
Jeno mendesis. "Ayahku mati karena kau, Aramis. Kau bunuh dia setelah dia tidak berguna bagimu."
Aramis tertawa. Tawanya indah — tapi indah seperti bunga beracun.
"Detail, detail. Yang penting sekarang..." Ia mengalihkan pandangannya ke Nana. Matanya merah menyala, menelusuri tubuh Nana dari ujung rambut hingga ujung ekor. "...Jantung Aequoria sudah memilihmu. Aku bisa merasakannya dari sini. Lagu ibumu ada di dalam dadamu, berdenyut manis, menunggu untuk dimiliki."
Aramis mengulurkan tangannya.
"Berikan padaku, Nak. Jantung Aequoria itu sebenarnya milikku. Ibumu mencurinya saat aku masih bayi. Dia tidak pernah pantas menjadi ratu. Aku yang seharusnya—"
"Jangan pernah bicara tentang ibuku," potong Nana.
Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya — getaran yang membuat air di sekitar Nana mendidih. Bukan panas. Tapi energi. Sihir Siren yang belum sepenuhnya ia pahami, tapi mulai merespon amarahnya.
Aramis berhenti.
Untuk pertama kalinya, senyumnya sedikit pudar.
"Oh," bisiknya. "Kau lebih kuat dari yang kukira. Sayangnya..."
Ia mengangkat tangan kirinya.
"...aku tidak datang sendirian."
---
Dari belakang Aramis, dua Siren Hitam raksasa mendorong ke depan sebuah sangkar — sangkar dari tulang paus yang berdenyut dengan sihir hitam.
Di dalam sangkar itu, seorang perempuan paruh baya dengan rambut putih kusut tergeletak lemas.
Mira.
"Ibu!" teriak Nana. Suaranya pecah. Air matanya jatuh, mengambang di air laut seperti mutiara kecil. "Ibu! Ibu!"
Mira mengangkat kepalanya perlahan. Matanya sayu, bibirnya kering, tubuhnya penuh luka — tapi begitu melihat Nana, ia tersenyum.
"Nana... anakku... kau cantik sekali sebagai Siren..."
"Jangan bergerak!" teriak Nana. Ia mencoba berenang ke depan, tapi Jeno menahan tangannya.
"Nana, jangan. Itu jebakan."
"Aku tidak peduli! Itu ibuku!"
"Kau tidak bisa menyelamatkannya jika kau mati," kata Jeno tegas. Matanya biru pucat kini berubah menjadi gelap — warna laut sebelum badai. "Percayalah padaku. Kita akan selamatkan dia. Tapi kita harus bertahan dulu."
---
Aramis menghela napas bosan.
"Kau benar, Jeno. Ini jebakan. Tapi kau lupa satu hal..."
Ia mengangkat tangannya.
"...aku tidak perlu menjebakmu. Karena kalian sudah terperangkap sejak awal."
Pasukan Siren Hitam bergerak serentak.
Serangan dimulai bukan dengan pedang atau trisula, tapi dengan suara. Ratusan Siren Hitam membuka mulut mereka dan bernyanyi — satu nada yang sama, rendah, berat, dan mematahkan.
Nana merasakan dadanya terasa seperti dihantam palu raksasa. Jantung Aequoria berdenyut sakit — bukan terluka, tapi marah. Seolah batu itu tidak terima ada lagu lain yang berani bersaing dengannya.
Jeno mendorong Nana ke belakangnya. Dengan trisula di tangan, ia meluncur ke depan, memotong dua Siren Hitam pertama yang mendekat.
"Jeno!" teriak Nana.
"Bernyanyilah!" balas Jeno tanpa menoleh. Dia menghindari serangan dari kiri, memblok dari kanan, lalu menusuk ke depan — gerakannya cepat, mematikan, dan indah. "Lagu patah itu! Nyanyikan sekarang!"
"Aku tidak bisa! Mereka terlalu banyak!"
"KAU BISA!" teriak Jeno. Darah — darah Siren berwarna biru keperakan — mulai menetes dari lengannya yang tergores. "KAU BISA, NANARA! PERCAYA PADA DIRIMU SENDIRI!"
---
Nana menutup mata.
Di dalam gelap kelopak matanya, ia memikirkan Mira yang tersiksa dalam sangkar.
Memikirkan Jeno yang berdarah di depannya.
Memikirkan Aramis yang tersenyum di atas singgasana tulang.
Memikirkan ibunya — Ratu Ruenna — yang mati karena adiknya sendiri.
Dan amarah itu... mendidih.
Bukan amarah biasa. Tapi amarah yang sudah tertidur di dalam darahnya selama tujuh belas tahun, menunggu untuk bangun.
Nana membuka mulutnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyanyikan lagu patah.
Ia menyanyikan lagu perang.
---
Tidak ada kata-kata. Hanya satu nada — panjang, tinggi, menusuk seperti belati yang terbuat dari cahaya. Dan ketika nada itu keluar dari mulut Nana, seluruh Aequoria berguncang.
Dinding-dinding karang retak. Pasir di dasar laut berputar membentuk pusaran raksasa. Bunga laut pucat di mana-mana mekar serentak, menyala biru terang, lalu meledak menjadi debu bercahaya.
Dan pasukan Siren Hitam?
Mereka berteriak.
Bukan teriak karena marah. Tapi teriak kesakitan. Telinga mereka berdarah — darah biru keperakan mengalir dari lubang telinga, dari hidung, dari mulut. Beberapa yang terlemah jatuh pingsan, mengambang tak sadarkan diri di air.
Aramis terhuyung di singgasananya. Wajahnya yang tadinya anggun kini berubah menjadi marah — marah yang sesungguhnya, bukan topeng lagi.
"JAGUNG AEQUORIA!" teriak Aramis. "KAU BERANI MENGGUNAKAN LAGU ITU TANPA IZINKU?!"
Tapi Nana tidak berhenti.
Ia terus bernyanyi. Lebih keras. Lebih tinggi. Lebih memuaskan.
Dan di tengah kekacauan itu, Jeno melihat kesempatan.
Ia meluncur ke depan, memotong dua Siren Hitam yang menjaga sangkar Mira, lalu menghancurkan jeruji tulang paus dengan pukulan trisulanya.
"Mira!" teriak Jeno sambil meraih tangan perempuan itu. "Awas!"
Mira terbatuk — air laut masuk ke paru-parunya, tapi sebagai manusia, ia tidak bisa bernapas di dalam air. Jeno buru-buru menciptakan gelembung udara di sekitar kepala Mira dengan sihir Siren-nya.
"Bawa dia pergi!" teriak Nana di antara nadanya. "Jeno, BAWA DIA PERGI!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"AKU BILANG B—"
Tapi sebelum Nana selesai bicara, sesuatu yang dingin dan keras melingkar di lehernya.
Tangan Aramis.
Ratu jahat itu tiba-tiba muncul di belakang Nana — teleportasi, mungkin sihir hitam — dan lengannya yang pucat melingkar di leher Nana dengan kekuatan yang luar biasa.
"Bernyanyi lagi," bisik Aramis di telinga Nana. Suaranya manis, mematikan, dan begitu dekat. "Aku ingin mendengar lagu kematian ibumu sekali lagi sebelum kau mati."
Nana berhenti bernyanyi.
Diam.
Dan di dalam diam itu, Jeno berbalik.
Ia melihat Nana tercekik di lengan Aramis.
Ia melihat Mira setengah mati di gelembung udaranya.
Ia melihat pasukan Siren Hitam mulai bangun kembali.
Dan ia mengambil keputusan.
---
Dengan kecepatan yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya, Jeno melemparkan trisulanya — bukan ke arah Aramis, tapi ke arah langit-langit karang di atas mereka.
Trisula itu menancap di batu, dan tiba-tiba, seluruh langit-langit karang runtuh.
Batu-batu besar jatuh ke arah pasukan Siren Hitam, memisahkan mereka dari Aramis. Juga memisahkan Jeno dari Nana.
"JENO!" teriak Nana.
"NANA!" teriak Jeno balik. "BAWA MIRA KELUAR! AKU AKAN MENYUSUL!"
"TAPI—"
"PERCAYA PADAKU!" teriak Jeno sekali lagi. Matanya biru pucat — biru yang sama yang ia lihat di malam pertama mereka bertemu. Tenang. Pasti. Penuh cinta. "AKU TIDAK AKAN MATI. AKU BERJANJI."
Nana menggigit bibirnya.
Dengan gerakan cepat, ia meraih Mira yang mengambang di gelembung udara, lalu berenang sekencang mungkin ke arah timur — ke luar Aequoria, ke laut lepas, ke daratan.
Di belakangnya, Aequoria runtuh.
Dan Jeno?
Jeno berdiri di antara puing-puing karang, menghadap Aramis sendirian.
"Kau berani mengorbankan dirimu untuk putri kecil itu?" tanya Aramis dengan senyuman.
Jeno tidak menjawab.
Ia hanya memanggil trisulanya kembali ke tangannya, lalu berkata:
"Aku tidak mengorbankan diriku. Aku membelikannya waktu."