NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam dekapan sungai

"Cak!" Ucap pak Bondan seraya memegang lutut Cakka.

Mereka semua nampak marah, tak sedikit diantaranya memangku kedua tangan memasang pundak yang angkuh. Hendra, si pemimpin itu. Turun dari mobil, menunjuk Cakka tanpa jeda, memerintah mereka untuk segera mengambil alih dirinya.

"Seret dia ke mobil!" Satu ucapan tegas, bergema mengalahkan suara para pengendara yang berlalu lalang.

Tak mau dirinya dikuasai orang lain, kali ini Cakka tidak diam saja. Dia berontok sampai menonjok wajah suruhan Hendra.

Bugh!

A!!

Orang itu kesakitan, tangannya memegang pipi yang ditonjok sampai memar. Semua orang terdiam, sejenak. Hendra menatap anak buahnya bergantian.

" kalian kenapa diam saja?! Cepat pegangi dia!"

Diawal sedikit kikuk, namun mereka ingat kalau menangkap Cakka adalah bagian dari kontrak kerja. Tanpa basa basi lagi, tangan-tangan itu meraih Cakka, berhasil mengamankannya termasuk pak Bondan. Beliau juga ikut terseret dalam urusan anak muda yang kehilangan calon istrinya.

Pak Bondan berontak, kaki dan tangan bermain. Mereka sedikit kewalahan tapi untungnya, pasukan Hendra tak kalah kuat. Mereka bisa mengimbangi pak Bondan.

"Apa salahku?! Aku hanya mengantarkan Cakka!" Pak Bondan marah.

"Kau berusaha melindunginya pak tua!" Ucap Hendra.

"Dia sudah kuanggap adik di tempat kerjaku, wajar kalau aku melindunginya, membawanya lari dari kalian yang tidak punya hati nurani!" Pak Bondan menatap mata Hendra yang terlihat dari bawah seperti sedang tertidur. Namun kenyataannya tatapan Hendra mengintimidasi pak Bondan.

Hendra sedikit membungkukkan tubuhnya untuk bisa bicara lebih dekat dengan Bondan "Apapun alasannya kau dan dia, sama!" Lalu tubuhnya perlahan berdiri tegap kembali, dengan nada tenang. Hendra mengulangi satu pertanyaan yang pernah terlontar dari mulutnya.

"Dimana Agni?"

Bondan dan Cakka saling tatap sebentar. Dengan nada putus asa dan tak mau terjadi lagi keributan, Cakka berusaha melemahkan dirinya di hadapan Hendra sembari berkata.

" Aku, sudah bilang padamu, kalau aku nggak tahu. Kamu sendiri yang terakhir bersama Agni malam itu. Harusnya aku yang bertanya begitu"

Aaahhh!!!!!!

Hendra mengerang marah sampai mengepalkan jari-jarinya.

"Posisiku sekarang ini sedang tidak aman Cakka, ini semua karena ulah kamu! Harusnya kamu menegur dia untuk masuk kedalam kamar, bukan aku! Sekarang Agni marah sama aku. Dia berani kabur dan melanggar perjanjian perjodohan kita!"

Dengan santainya pak Bondan menjawab "Ya itu resikomu lah! Kasar sama dia, ya harus terima kalau dia marah." Tiba-tiba anak buah Hendra, mencengkram baju pak Bondan dan mempelototinya. Tak mau kalah beliau juga mempelototi dia dan yang lain.

Hendra, menepiskan tangannya ke udara. Agar mereka fokus padanya bukan pada Bondan.

"Biarkan dia!"

Hendra menendang kaki Cakka "Hei payah! Kali ini aku ingin kau mengakui sesuatu tapi ini ganjarannya tidak cuma-cuma" perlahan Hendra jongkok didepan Cakka tentu anak buahnya menjaga kaki Cakka, agar tidak bisa menendang Hendra begitu saja.

" Sampai saat ini Agni tidak ditemukan, kami sengaja tidak lapor polisi karena, calon mertuaku percaya kalau aku bisa menemukannya"

Dari awal kata yang Hendra ucapkan pak Bondan sudah curiga, bukan Cakka yang menyahut tapi pak Bondan.

"Lalu?"

Sekilas wajah Cakka melihat pak Bondan, tatapannya kembali menatap Cakka yang masih terdiam, dipegangi anak buahnya.

"Bilang pada calon mertuaku kalau kamu menghabisi Agni dan mayatnya tidak bisa ditemukan lagi karena sudah hangus, sudah hanyut di bawa derasnya aliran sungai"

Mata Cakka membulat, mulutnya membelalak dan pak Bondan marah.

"Kau ini kalau nggak becus mending mengaku saja sendiri, kenapa harus orang lain mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukan?!"

"Jangan marah dulu! Kataku juga ini tidak cuma-cuma. Ada uang yang akan kamu pegang dengan satu syarat, selain mengaku kamu juga harus pergi dari desa ini!"

Lagi pak Bondan yang marah,

"Kamu siapa sih, menyuruh orang lain pergi?! Cakka itu dari kecil tinggal di sini, di desa Katumbiri"

Hendra menghela nafas panjang, kedua alisnya naik dan kembali berdiri tegap.

"Seratus juta, apa itu cukup untuk kamu pergi Cak? Tenang saja, kamu hanya diminta mengakui setelah itu kamu tidak akan pernah berurusan dengan hukum dan kehidupanmu terjamin. Tapi, di tempat lain bukan di sini!"

Uang itu begitu besar, sering ia mendengar uang seratus juta di telinganya. Tapi, tidak pernah menerima secara fisik di tangan. Sempat tergiur dengan jumlah yang tak pernah Cakka sangka. Namun kepala dan kening yang mengernyit, menolak mentah semua itu.

Ia menggelengkan kepalanya secara kasar, menarik nafas panjang dan mulai menatap kembali mata Hendra, yang sedari tadi melihat gerak geriknya.

" Tidak! Aku tidak pernah membunuh Agni. Agni pergi karena salah mu!"

Tiba-tiba dari arah samping anak buah Hendra menonjok perutnya.

Bugh!

Rasanya mual, ingin muntah namun tertahan. Rasa sakit yang bertumpu di perut menyadarkan dirinya bahwa, mungkin, dengan mengaku, kehidupannya akan aman sejahtera. Tapi sekali lagi, kepala dan keningnya menolak! Cakka terus menggelengkan kepalanya sembari membungkam mulut untuk tidak berbicara lebih jauh dengan Hendra.

Hendra tak punya pilihan lain, dia memberi intruksi pada anak buahnya "Ini masih pagi, beri dia sedikit kehangatan!" Serentak, kompak, mereka mengangguk "Baik bos!"

Hendra tak peduli akan apa yang terjadi dengan Cakka, dia masuk kedalam mobil, telinganya menggunakan headphone untuk menutupi suara jerit sakit dari mulut Cakka, dan tangannya memberi informasi pada sang calon mertua.

"Pak! Agni telah dibunuh Cakka, mayatnya sudah tak bisa ditemukan. Cakka membuangnya kesungai. Saya sudah memberinya pelajaran dan akan membawanya ke kantor polisi. Bapak yang sabar ya"

Manis dan pahit kalimat itu menjadi satu, pesan tersampaikan pada ayah yang sedang menunggu dirumah. Menangis, meraung tak terima. Anak gadis yang cukup dekat dengannya, kini harus pergi dalam dekapan air yang terus mengalir entah sampai mana.

Sementara itu, Cakka terus-terusan dipukuli oleh mereka yang tak memiliki hati. Darah, lebam, nyeri membalut tubuhnya yang perlahan melemas, lalu pingsan. Dan pak Bondan, beliau hanya dicekoki bius sementara. Tubuhnya diangkat untuk dipisahkan dari Cakka.

(***)

Lembap, dingin, dan tubuh menggigil berhasil membangunkan Cakka yang terlelap dari sakit yang belum terobati. Bulu mata lentiknya bergetar. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Bau anyir menyergap indra penciumannya.

Mimik muka mengerut, seraya tubuhnya perlahan bangun. Meski ringkih, ia memaksa tubuhnya itu untuk berdiri karena Cakka merasa asing dengan tempat yang ia tiduri.

Berhasil tegap, mata Cakka menyisir kesetiap sudut ruang. "Dimana aku?" Tanyanya pada diri sendiri. Ia mulai menatap tubuhnya satu persatu mulai dari tangan, pinggang, paha, lutut dan sampai ke kaki. Tepat didepanya ada kantong keresek hitam dan ada secarik kertas yang menempel.

"Apa itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!