NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Sore itu langit mulai berubah jingga ketika Shinta berhenti di depan sebuah kafe kecil yang berada di sudut jalan. Lampu-lampu gantung di teras mulai menyala hangat, membuat suasana tempat itu terlihat nyaman. Aroma kopi dan roti panggang langsung menyambut begitu dia membuka pintu kaca.

Kafe itu tidak terlalu besar, tetapi selalu ramai. Tempat favorit anak kuliahan, pekerja kantoran, sampai pasangan yang ingin duduk berlama-lama sambil berpura-pura hidup mereka tidak berantakan. Tradisi manusia memang menarik. Patah hati dibawa ke tempat yang menjual kopi mahal dan lagu galau.

“Shinta!”

Suara Vivi terdengar dari balik meja kasir. Sahabatnya itu tampak sibuk mencatat pesanan sambil meladeni pelanggan yang terus berdatangan.

Shinta melambaikan tangan kecil.

“Ramai sekali.”

Vivi mendesah panjang sambil merapikan poni yang mulai berantakan.

“Jangan tanya. Ada promo buy one get one. Orang-orang kalau dengar kata diskon langsung berubah seperti sedang berburu harta karun.”

Shinta terkekeh kecil.

“Aku bantu saja.”

“Hah? Serius?”

“Iya. Daripada duduk melamun.”

Vivi tampak lega setengah mati.

“Shinta, aku sayang sekali sama kamu.”

“Kalau begitu nanti vanila latte gratis.”

“Dasar.”

Shinta langsung memakai apron cadangan milik Vivi dan mulai membantu mengantar pesanan. Tangannya sudah terbiasa karena dulu dia memang sering membantu di kafe itu sebelum bekerja di perusahaan marketing tempatnya sekarang.

“Americano satu!”

“Croissant cokelat meja lima!”

“Es kopi susu kurang gula!”

Suasana sibuk membuat pikirannya sedikit teralihkan. Untuk beberapa saat Shinta bisa melupakan Andika, pertengkaran mereka, dan perasaan aneh yang terus mengganggu sejak beberapa hari terakhir.

Namun tetap saja, setiap kali pikirannya kosong sesaat, wajah pria itu muncul begitu saja.

Tatapan dingin Andika.

Nada suaranya yang tajam.

Dan kalimat menyebalkan itu.

Wanita yang hidup dalam mimpi tentang kehidupan seperti drama indah.

Shinta tanpa sadar mendecakkan lidah pelan.

“Kenapa mukamu seperti habis ditagih utang?” tanya Vivi yang tiba-tiba muncul di sampingnya sambil membawa dua gelas minuman.

“Aku memang sedang sial.”

Vivi meletakkan segelas vanila latte di depan Shinta.

“Nih. Kesukaanmu.”

Shinta menatap minuman itu lalu tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Mereka akhirnya duduk di meja dekat jendela setelah keadaan sedikit lebih tenang. Lagu akustik pelan terdengar mengisi ruangan. Di luar, kendaraan berlalu-lalang ditemani cahaya lampu jalan yang mulai menyala.

Vivi menopang dagu sambil memperhatikan wajah sahabatnya.

“Kamu kelihatan capek.”

Shinta mengaduk latte perlahan.

“Aku sedang berpikir untuk resign.”

Sendok kecil di tangan Vivi langsung berhenti bergerak.

“Hah?”

“Aku ingin kembali kerja di sini saja.”

Vivi mengerjap beberapa kali seperti baru salah dengar.

“Tunggu dulu. Bukannya sebelumnya kamu semangat sekali kerja di perusahaan itu?”

Shinta tersenyum hambar.

“Awalnya memang begitu.”

“Terus?”

Shinta diam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Aku kerja satu perusahaan dengan Andika.”

Mata Vivi langsung membesar.

“Andika? Mantanmu itu?”

Shinta mengangguk pelan.

“Kenapa dunia sempit sekali...” gumam Vivi.

“Pertama kali masuk aku juga ingin protes pada takdir.”

“Jadi selama ini kamu ketemu dia tiap hari?”

“Iya.”

Vivi langsung bersandar di kursi sambil memijat pelipis.

“Tidak heran kamu kelihatan stres.”

Shinta tertawa kecil tanpa semangat.

“Awalnya aku pikir tidak masalah. Aku yakin sudah move on.”

“Terus?”

Shinta terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara pelan.

“Ternyata dia malah mempermainkan perasaanku.”

Vivi langsung menatap serius.

“Maksudnya?”

“Dia seperti memancing perasaanku yang dulu. Kadang menggodaku, kadang perhatian, kadang membuatku berpikir...” Shinta menggigit bibir sebentar. “Mungkin dia masih punya rasa.”

“Lalu?”

“Setelah itu dia malah bilang kalau aku terlalu hidup dalam mimpi.”

Vivi mengernyit.

“Hah?”

Shinta tertawa kecil, tetapi terdengar pahit.

“Dia bilang aku seperti wanita yang percaya kehidupan setelah menikah cuma soal cinta dan kebahagiaan seperti drama romantis.”

Vivi menghela napas panjang.

“Mulutnya masih tajam ternyata.”

“Bukan cuma itu.” Shinta menunduk menatap gelasnya. “Dia bilang aku tidak pernah memikirkan keuangan dan masa depan.”

Vivi diam beberapa saat.

“Apa dia mengajakmu balikan?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa dia memperlakukanmu seperti itu?”

Shinta menggeleng pelan.

“Aku juga tidak tahu. Kadang dia mendekat, kadang menjauh. Tapi setelah kami bertengkar... aku sadar mungkin dia memang hanya ingin melihat apakah aku masih punya perasaan.”

“Itu kejam.”

“Iya.”

Shinta tersenyum tipis, tetapi matanya terlihat lelah.

“Dan bodohnya aku sempat berharap.”

Vivi meminum kopinya perlahan sambil berpikir.

“Kalau dipikir-pikir...” katanya pelan. “Andika memang selalu terlalu realistis.”

Shinta mendengus pelan.

“Dia bahkan bicara soal tabungan masa depan saat orang lain sibuk membahas honeymoon.”

“Itu memang sangat Andika.”

“Kamu tahu apa yang paling membuatku kesal?” Shinta mulai bicara lebih cepat. “Dia seperti tidak mau bergantung pada siapa pun. Seolah semuanya harus dia tanggung sendiri.”

Vivi mengangkat alis.

“Mungkin memang ada alasan.”

Shinta menatapnya.

“Maksudmu?”

Vivi menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Coba pikir. Orang tidak akan jadi terlalu takut soal masa depan tanpa alasan. Apakah dulu dia pernah mengalami sesuatu?”

Pertanyaan itu membuat Shinta diam.

Pikirannya perlahan kembali pada masa lalu.

Masa ketika mereka masih kuliah.

Saat Andika jarang membeli hal mahal meski bekerja sambilan.

Saat Andika selalu menghitung pengeluaran dengan detail.

Saat Andika pernah berkata bahwa hidup tidak akan baik-baik saja hanya karena seseorang saling mencintai.

Dan tiba-tiba sebuah kenangan lama muncul begitu jelas.

Malam itu.

Wajah Andika yang murung.

Suara hujan di luar kos.

Dan cerita tentang ibunya.

Shinta perlahan menundukkan kepala.

“Ada sesuatu...” gumamnya pelan.

Vivi langsung memperhatikan.

“Apa?”

Shinta menarik napas panjang.

“Ibu Andika meninggal karena kecelakaan.”

Vivi tampak sedikit terkejut.

“Aku baru tahu.”

“Waktu itu ibunya harus segera operasi. Tapi ayahnya tidak punya uang.”

Suasana di antara mereka perlahan berubah hening.

Shinta masih mengingat jelas bagaimana ekspresi Andika saat menceritakan itu dulu. Untuk pertama kalinya pria itu terlihat begitu rapuh.

“Ayahnya sampai mencari pinjaman ke banyak orang,” lanjut Shinta pelan. “Tapi semuanya terlambat. Ibunya meninggal sebelum mendapat penanganan cepat.”

Vivi terdiam.

Suara mesin kopi di belakang meja terdengar samar di tengah keheningan mereka.

Shinta tersenyum pahit.

“Dia pernah bilang kalau seandainya ayahnya punya uang, mungkin ibunya masih hidup.”

Vivi perlahan mengangguk.

“Pantas.”

Shinta menatapnya.

“Mungkin sejak saat itu Andika berpikir kalau uang adalah jaminan untuk melindungi orang yang dia sayang.”

Kalimat Vivi membuat dada Shinta terasa sesak.

Tiba-tiba semua sikap Andika yang dulu terasa dingin mulai terlihat berbeda.

Cara pria itu selalu bekerja keras.

Cara dia menghitung masa depan dengan detail.

Cara dia takut mengambil keputusan gegabah.

Dan cara dia selalu membicarakan kestabilan finansial sebelum hal lain.

Bukan karena Andika tidak percaya cinta.

Mungkin karena dia terlalu takut kehilangan lagi.

Shinta menunduk diam.

Jari-jarinya perlahan menggenggam gelas hangat di depannya.

Selama ini dia selalu kesal karena Andika terlalu realistis.

Terlalu serius.

Terlalu banyak berpikir.

Namun apakah dia sendiri pernah benar-benar memahami alasan di balik semua itu?

Atau dia hanya sibuk berharap dicintai dengan cara yang dia inginkan?

“Aku ini egois ya...” gumam Shinta lirih.

Vivi langsung menggeleng.

“Bukan egois.”

“Aku cuma fokus pada cinta.” Shinta tersenyum lemah. “Aku tidak pernah benar-benar memikirkan ketakutannya.”

Vivi menatap sahabatnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,

“Setiap orang mencintai dengan cara berbeda, Shin.”

Shinta diam.

“Kamu ingin dicintai dengan perhatian dan kehangatan,” lanjut Vivi. “Sedangkan Andika mungkin mencintai dengan cara memastikan masa depan aman.”

Shinta tertawa kecil penuh ironi.

“Masalahnya kami malah saling menyakiti.”

“Karena kalian sama-sama keras kepala.”

“Itu benar.”

Vivi ikut tertawa kecil.

“Kalian cocok sebenarnya.”

“Jangan mulai.”

“Aku serius.”

Shinta menggeleng cepat.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Kami sudah terlalu berbeda.”

Vivi menopang dagu sambil menatapnya jahil.

“Atau karena kamu takut masih suka?”

Shinta langsung memelototinya.

“Vivi.”

“Apa? Aku cuma bertanya.”

Shinta menghela napas panjang lalu menatap keluar jendela.

Lampu kendaraan terlihat berkilau di jalan yang mulai basah karena gerimis tipis turun perlahan.

Perasaannya mendadak kacau.

Dia marah pada Andika.

Kesal.

Terluka.

Namun di saat yang sama, untuk pertama kalinya dia mulai benar-benar memahami pria itu.

Dan pemahaman itu justru membuat dadanya semakin berat.

Karena kini dia sadar.

Mungkin Andika tidak pernah berubah menjadi pria dingin tanpa alasan.

Mungkin sejak awal Andika hanya seseorang yang terlalu takut kehilangan orang yang dia cintai karena keadaan.

Sedangkan dirinya...

Hanya sibuk bermimpi tentang cinta yang indah tanpa pernah memikirkan kemungkinan terburuk dalam hidup.

Shinta menunduk pelan.

Vanila latte di depannya sudah mulai dingin.

Sama seperti sore yang perlahan berubah malam.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka, Shinta mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Apakah selama ini dia benar-benar memahami Andika... atau hanya memahami versi Andika yang ingin dia lihat saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!