Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOMPETISI RASA BARU
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar Salsa Kirana terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Padahal, ramalan cuaca di ponselnya mengatakan hari ini akan berawan. Salsa duduk di tepi tempat tidur, memandangi pantulan dirinya di cermin besar yang menempel di pintu lemari. Rambutnya masih sedikit berantakan, namun ada sesuatu yang berbeda pada raut wajahnya. Ada binar yang sulit disembunyikan, sebuah lengkungan senyum tipis yang terus muncul tiap kali dia mengingat kejadian di lapangan basket kemarin sore.
Genggaman tangan Arkan. Bisikan Arkan di telinganya. Dan pernyataan cowok itu tentang "musuh yang berbeda". Semuanya berputar-putar di kepala Salsa seperti kaset rusak yang tidak mau berhenti, tapi anehnya, Salsa tidak keberatan sama sekali. Dia menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mendadak liar lagi.
"Salsa, fokus. Lo itu Salsa Kirana. Lo nggak boleh gampang baper cuma karena gombalan receh Arkananta," gumamnya pada bayangan di cermin. Dia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan pelan, berusaha mengembalikan mode ambisius yang biasanya menjadi tameng utamanya. Namun, saat dia melihat tas sekolahnya, dia teringat bahwa di dalamnya tidak ada lagi jaket denim beraroma bunga matahari itu. Jaket itu sudah kembali ke pemiliknya, tapi rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang ikut terbawa pergi bersama barang itu.
Setelah menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya untuk bersiap-siap, Salsa akhirnya berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan menuju SMA Garuda, dia terus berlatih ekspresi wajah. Dia ingin terlihat biasa saja, ketus seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang terjadi kemarin sore. Dia tidak ingin Arkan merasa menang karena berhasil membuatnya salah tingkah.
Sesampainya di parkiran sekolah, jantung Salsa hampir melompat keluar saat melihat motor sport hitam milik Arkan sudah terparkir manis di sana. Dan yang lebih parah, sang pemilik motor sedang bersandar santai di pilar dekat area parkir, seolah-olah memang sedang menunggu seseorang. Arkan sedang memainkan ponselnya, namun begitu mendengar suara mesin motor matic Salsa, dia langsung mendongak. Senyum tengil yang biasanya membuat Salsa naik darah itu muncul, tapi kali ini, ada kilat hangat di mata cokelat gelapnya.
Salsa mematikan mesin motor, melepas helm, dan berusaha berjalan melewati Arkan dengan dagu terangkat. "Minggir, jangan halangin jalan," cetusnya, mencoba kembali ke karakter aslinya.
Arkan tidak bergeser sedikit pun. Dia justru melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. "Galak amat, Tuan Putri. Belum sarapan ya? Atau semalam nggak bisa tidur karena mikirin ucapan gue?"
Wajah Salsa langsung memanas. Dia mendelik tajam ke arah Arkan. "Jangan kepedean ya, Kan. Gue sibuk belajar fisika semalam, nggak ada waktu buat mikirin hal nggak penting."
Arkan terkekeh pelan. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Salsa, membuat gadis itu menahan napas secara otomatis. "Oh ya? Terus kenapa mata lo agak sembab gitu? Kayak orang yang kebanyakan senyum sebelum tidur. Gue tau lho, Sa, tanda-tanda orang lagi jatuh cinta."
"Arkan!" Salsa mendorong bahu Arkan dengan kesal, meskipun tenaga yang dia keluarkan tidak seberapa. "Berisik. Ayo masuk kelas, bentar lagi bel."
"Barengan dong. Kan kita sekarang rekan kolaborasi yang produktif, kata Bu Ratna juga gitu," goda Arkan sambil berjalan di samping Salsa. Dia tidak mencoba menggandeng tangan Salsa karena tahu itu akan memicu keributan di koridor sekolah, tapi dia berjalan sangat dekat hingga bahu mereka sesekali bersentuhan.
Di dalam kelas, suasana sudah mulai riuh. Dira, yang sudah duduk di bangkunya, langsung menatap Salsa dan Arkan yang masuk bersamaan dengan tatapan penuh selidik. Begitu Salsa duduk, Dira langsung mendekat, mengabaikan fakta bahwa guru jam pertama akan segera datang.
"Sa, gue nggak buta ya. Lo masuk bareng Arkan? Dan muka lo... kenapa kayak kepiting rebus gitu?" tanya Dira dengan nada berbisik tapi penuh penekanan.
Salsa membuka buku biologinya dengan gerakan kasar. "Kebetulan ketemu di parkiran, Dir. Jangan mulai deh."
"Kebetulan atau janjian? Terus itu, Arkan kok ngeliatin lo terus dari kursinya? Tuh, liat!" Dira menunjuk ke arah belakang menggunakan jempolnya.
Salsa menoleh sekilas ke arah kursi Arkan di barisan belakang. Benar saja, Arkan sedang menatapnya sambil menopang dagu dengan satu tangan, lalu memberikan kedipan mata yang sangat menyebalkan sekaligus membuat perut Salsa terasa seperti dikitari ribuan kupu-kupu. Salsa segera membuang muka, kembali menghadap bukunya dengan jantung yang berdebar kencang.
Pelajaran pertama adalah Biologi dengan Pak Bambang yang terkenal sangat membosankan. Biasanya, Salsa akan mencatat setiap perkataan Pak Bambang dengan sangat teliti. Namun hari ini, fokusnya benar-benar buyar. Di sudut matanya, dia bisa merasakan keberadaan Arkan. Terlebih lagi, sebuah gumpalan kertas kecil tiba-tiba mendarat di atas mejanya.
Salsa melirik ke sekeliling, memastikan Pak Bambang sedang sibuk menulis di papan tulis, lalu dia membuka kertas itu.
"Fokus, Sa. Jangan liatin punggung gue terus. Gue tau gue ganteng dari belakang, tapi Pak Bambang bisa marah kalau lo nggak nyatet." - A.
Salsa meremas kertas itu dengan wajah merah padam. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Arkan sedang menahan tawa. Salsa membalas dengan tatapan maut, lalu kembali menulis. Namun, bukannya menulis catatan biologi, dia malah menuliskan sesuatu di sobekan kertasnya sendiri.
"Siapa juga yang liatin lo? Ge-er banget! Fokus tuh ke papan tulis, jangan sampe nilai lo turun di bawah gue lagi!" - S.
Dia melemparkan kembali kertas itu saat Pak Bambang sedang membelakangi kelas. Arkan menangkapnya dengan cekatan, membacanya, lalu tersenyum lebar. Interaksi kecil itu terus berlanjut sepanjang jam pelajaran, membuat Salsa merasa seperti sedang melakukan petualangan rahasia yang mendebarkan di tengah kelas yang sunyi.
Jam istirahat tiba, dan ini adalah momen yang paling ditakuti sekaligus dinantikan Salsa. Biasanya, dia akan pergi ke kantin hanya dengan Dira dan mereka akan berdiskusi soal gosip terbaru atau rencana belajar kelompok. Namun kali ini, saat Salsa dan Dira baru saja duduk di bangku pojok kantin favorit mereka, sosok jangkung Arkan tiba-tiba muncul dan langsung duduk di depan Salsa tanpa permisi.
"Lho, Arkan? Kok lo di sini?" tanya Dira dengan mata terbelalak.
Arkan meletakkan semangkuk bakso yang masih mengepul di atas meja. "Kantin kan fasilitas umum, Dir. Gue bebas duduk di mana aja. Lagian, gue mau diskusi soal komponen sensor yang tadi pagi gue cek harganya naik."
Salsa mendengus, mencoba terlihat tidak terpengaruh oleh kehadiran Arkan. "Diskusi kan bisa nanti pas jam istirahat kedua di lab, nggak usah di sini juga."
"Laper gue, Sa. Lo nggak kasihan liat rival lo ini pingsan karena kurang asupan?" jawab Arkan santai sambil mulai menyantap baksonya.
Dira hanya bisa bolak-balik menatap Salsa dan Arkan dengan ekspresi bingung. "Oke, ini aneh. Kalian biasanya kalau ketemu di kantin pasti bakal rebutan siapa yang pesen duluan atau saling ejek soal nilai. Sekarang kok... kayak lagi double date tapi gue nyamuknya?"
"Dira!" bentak Salsa malu. "Udah deh, makan aja soto lo."
Suasana makan siang itu terasa sangat berbeda. Meskipun mereka masih sering berdebat, nadanya tidak lagi penuh kebencian. Arkan bahkan dengan santai mengambil seledri dari mangkuk baksonya dan memindahkannya ke piring Salsa karena tahu Salsa suka sayuran hijau, sebuah tindakan kecil yang membuat Dira hampir tersedak minumannya.
"Lo... lo kok tau Salsa suka seledri, Kan?" tanya Dira penuh selidik.
Arkan mengangkat bahu. "Gue kan pengamat musuh yang handal. Gue harus tau kelemahan dan kesukaan lawan biar gampang dikalahin."
Salsa memutar bola matanya, tapi dia tidak bisa menahan senyumnya saat memakan seledri pemberian Arkan. Rasa bakso yang dia makan hari ini terasa jauh lebih enak, entah karena bumbunya yang pas atau karena keberadaan cowok tengil di depannya itu.
Setelah istirahat, mereka memiliki satu jam pelajaran Fisika dengan Bu Ratna. Ini adalah momen krusial karena Bu Ratna akan mengumumkan pembagian jadwal bimbingan untuk lomba provinsi. Saat masuk ke dalam kelas, Bu Ratna langsung meminta perhatian seluruh siswa.
"Anak-anak, seperti yang sudah Ibu sampaikan kemarin, sekolah kita akan mengirimkan satu perwakilan proyek sains ke tingkat provinsi. Dan setelah mempertimbangkan hasil draf serta progres terbaru, Ibu memutuskan untuk menunjuk Salsa dan Arkan sebagai tim utama," ujar Bu Ratna dengan nada tegas namun bangga.
Tepuk tangan meriah terdengar dari seluruh penjuru kelas. Teman-teman mereka sudah tahu betapa pintarnya Salsa dan Arkan, namun melihat mereka benar-benar bekerja sama adalah hal yang baru.
"Ibu harap kalian bisa memberikan yang terbaik. Mulai hari ini, setiap pulang sekolah, kalian wajib bimbingan di lab fisika sampai pukul lima sore. Ibu sudah siapkan ruang khusus untuk kalian menyimpan alat-alat eksperimen," lanjut Bu Ratna.
Salsa dan Arkan saling pandang. Pukul lima sore? Itu artinya mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya berdua di laboratorium. Ada rasa cemas yang menyelip di hati Salsa, bukan cemas karena tugasnya, melainkan cemas akan pertahanan hatinya yang semakin lama semakin runtuh.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Salsa dan Arkan segera menuju laboratorium fisika. Suasana sekolah mulai sepi, hanya ada beberapa anak ekskul basket yang masih berteriak di lapangan. Di dalam lab, udara terasa sejuk karena AC baru saja dinyalakan. Salsa langsung mengeluarkan laptopnya dan mulai membuka data eksperimen mereka kemarin.
Arkan duduk di kursi sebelah Salsa, jaraknya sangat dekat hingga Salsa bisa mencium aroma parfum Arkan yang sudah bercampur dengan sedikit aroma keringat, namun tetap terasa nyaman.
"Oke, kita mulai dari mana dulu?" tanya Arkan, kali ini dengan nada bicara yang lebih serius. Jika sudah menyangkut proyek, Arkan memang bisa berubah menjadi sosok yang sangat fokus dan kompeten, itulah salah satu hal yang diam-diam dikagumi Salsa.
"Kita perlu kalibrasi ulang sensornya, Kan. Kemarin ada fluktuasi data pas lo lari di menit ke lima belas. Gue curiga pelapisnya kurang tebal, jadi getarannya nggak terserap sempurna," jelas Salsa sambil menunjukkan grafik di layar laptop.
Arkan memperhatikan layar itu dengan saksama. Dia mengangguk pelan. "Mungkin kita bisa pake gel silikon di bagian bawah sensornya. Itu bakal bantu nyebarin tekanan secara merata. Gue udah beli bahannya tadi pagi sebelum ke sekolah."
Salsa menoleh, sedikit terkejut. "Lo beli sendiri? Pakai uang siapa?"
"Uang gue lah. Anggap aja investasi buat masa depan kita," jawab Arkan sambil mengedipkan mata.
"Masa depan proyek ini maksud lo?" koreksi Salsa cepat.
Arkan tertawa kecil. "Terserah lo mau artiin gimana, Sa."
Mereka mulai bekerja. Arkan sibuk dengan solder dan komponen elektroniknya, sementara Salsa sibuk dengan perhitungan matematis dan penyusunan laporan. Sesekali, mereka terlibat debat sengit soal metode yang paling efisien. Namun, perdebatan itu tidak lagi berakhir dengan Salsa yang pergi sambil membanting pintu. Sekarang, mereka akan saling mendengarkan, mencari jalan tengah, dan sesekali diselingi oleh candaan receh Arkan yang membuat Salsa tertawa.
Waktu menunjukkan pukul empat tiga puluh sore. Matahari sudah mulai turun, memberikan warna jingga yang indah di balik jendela laboratorium. Salsa meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah berjam-jam duduk tegak.
"Pegel ya?" tanya Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari papan sirkuitnya.
"Lumayan. Dikit lagi selesai kok bagian ini," jawab Salsa sambil memijat lehernya sendiri.
Tiba-tiba, dia merasakan sepasang tangan hangat menyentuh bahunya. Salsa tersentak kaget, namun dia tidak menjauh saat tangan Arkan mulai memijat bahunya dengan gerakan lembut yang sangat pas.
"Arkan... apa-apaan sih?" bisik Salsa, suaranya terdengar tidak yakin.
"Diem aja, Sa. Gue tau lo capek. Lo itu terlalu keras sama diri sendiri. Sekali-kali rileks dikit kenapa sih?" suara Arkan terdengar rendah dan menenangkan di belakang telinganya.
Salsa akhirnya menyerah. Dia memejamkan mata, menikmati pijatan Arkan yang perlahan-lahan menghilangkan rasa lelahnya. Keheningan laboratorium itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan napas mereka yang teratur. Untuk beberapa saat, Salsa merasa waktu berhenti. Dia merasa sangat aman, seolah-olah dunia luar dengan segala persaingan dan tekanannya tidak lagi penting.
"Kan," panggil Salsa pelan.
"Hmm?"
"Kenapa lo baru sekarang... maksud gue, kenapa baru sekarang lo bersikap kayak begini ke gue? Selama dua tahun ini kita kan selalu berantem."
Tangan Arkan berhenti bergerak. Dia berjalan memutar dan duduk di atas meja di depan Salsa, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Karena dulu gue pikir itu satu-satunya cara buat dapet perhatian lo, Sa. Lo itu terlalu fokus sama buku, terlalu fokus sama peringkat satu. Kalau gue nggak bikin masalah sama lo, mana mungkin lo bakal nengok ke arah gue?"
Salsa tertegun. "Jadi... selama ini lo sengaja?"
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sedikit pahit namun jujur. "Iya. Gue sengaja rebut tempat parkir lo biar lo marah sama gue. Gue sengaja dapet nilai beda tipis biar lo terus mikirin gue meskipun itu karena kesel. Tapi lama-lama, gue capek sendiri liat lo benci sama gue. Gue pengen lo liat Arkan yang sebenernya, bukan cuma Arkan si rival tengil lo."
Salsa tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa bodoh karena tidak pernah menyadari hal itu. Selama ini dia hanya melihat Arkan sebagai penghalang, sebagai gangguan, tanpa pernah mencoba memahami alasan di balik sikap cowok itu.
"Gue nggak benci kok," bisik Salsa akhirnya. "Maksud gue... sekarang gue udah nggak benci lagi."
Arkan mencondongkan tubuhnya, menatap Salsa dengan binar penuh harapan. "Terus sekarang rasanya apa? Masih cuma rekan kelompok?"
Salsa menunduk, memainkan jemarinya di atas meja. "Gue nggak tau. Rasanya... aneh. Tapi gue suka kalau lo ada di sekitar gue. Gue suka bau jaket lo. Gue suka pas lo beliin gue cokelat kemarin."
Arkan tertawa pelan, lalu dia meraih tangan Salsa dan menggenggamnya dengan erat. "Itu awal yang bagus, Sa. Gue nggak minta lo langsung suka sama gue kayak di novel-novel yang sering Dira baca. Gue cuma mau kita jalanin ini bareng-bareng. Jadi musuh, jadi temen, atau jadi apa pun yang lo mau, asal jangan jauhin gue lagi."
Salsa mendongak, menatap mata Arkan dan menemukan kejujuran di sana. Dia tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang sangat tulus dan penuh perasaan. "Oke. Tapi lo tetep harus belajar bener-bener ya. Gue nggak mau punya partner yang nilainya anjlok."
"Siap, Tuan Putri! Gue bakal belajar sampe pusing demi lo," jawab Arkan sambil memberikan hormat dengan gaya jenaka.
Sore itu di laboratorium fisika, sebuah kesepakatan baru tercipta. Bukan kesepakatan soal pembagian tugas atau jadwal bimbingan, melainkan kesepakatan hati yang mulai saling bertaut. Mereka membereskan peralatan mereka dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Saat mereka berjalan keluar dari sekolah menuju parkiran, suasana sudah hampir gelap. Lampu-lampu jalan sudah menyala, memberikan kesan romantis di area SMA Garuda yang biasanya terasa kaku.
"Mau makan dulu nggak sebelum pulang? Gue laper lagi nih," ajak Arkan saat mereka sampai di depan motor masing-masing.
Salsa baru saja akan menjawab saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari ibunya yang memintanya segera pulang karena ada acara keluarga mendadak.
"Aduh, maaf banget, Kan. Gue harus langsung pulang. Mama udah nungguin di rumah," kata Salsa dengan nada kecewa yang tidak bisa dia tutupi.
Arkan mengangguk mengerti. Dia tidak terlihat marah atau kecewa. "Ya udah, nggak papa. Besok kan masih ada waktu. Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut."
Arkan membantu Salsa memasang helmnya, sebuah tindakan sederhana yang selalu berhasil membuat jantung Salsa berdisko. Dia mengancingkan tali helm itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menangani barang pecah belah yang sangat mahal.
"Udah. Sana pulang. Inget pesen gue, jangan mikirin gue terus ya nanti malem," goda Arkan sambil menepuk pelan helm Salsa.
"Ih, apa sih! Lo tuh yang jangan mimpiin gue!" balas Salsa sambil menyalakan mesin motornya.
Dia melambaikan tangan pada Arkan dan mulai melajukan motor matic-nya keluar dari gerbang sekolah. Di sepanjang jalan, Salsa tidak bisa berhenti tersenyum. Dia merasa seperti sedang berada di atas awan. Perasaan ini sangat baru baginya, sangat berbeda dari rasa puas saat dia mendapatkan nilai seratus di ulangan matematika. Ini adalah jenis kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka.
Sesampainya di rumah, Salsa langsung masuk ke kamarnya setelah menyapa ibunya sebentar. Dia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamarnya yang kini terasa jauh lebih berwarna. Dia mengambil ponselnya dan melihat ada satu pesan baru di WhatsApp.
Dari: Arkananta Tengil
"Udah sampe rumah? Kabarin ya, biar gue bisa tidur tenang."
Salsa tertawa kecil melihat nama kontak Arkan yang belum dia ubah sejak dulu. Dia segera mengetik balasan.
"Udah sampe. Tidur gih, jangan lupa kerjain latihan soal yang gue kasih tadi!"
Tak butuh waktu lama, balasan Arkan muncul kembali.
"Galak banget sih. Iya-iya, Tuan Putri. Selamat malam ya, Sa. Jangan lupa senyum, biar besok gue semangat lagi ke sekolahnya."
Salsa memeluk ponselnya di dada, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tahu, mulai besok, hari-harinya di SMA Garuda tidak akan pernah sama lagi. Kompetisi mereka masih akan berlanjut, tapi tujuannya sudah berubah. Kini, mereka bukan lagi bersaing untuk menjatuhkan satu sama lain, melainkan untuk berjalan beriringan menuju sesuatu yang jauh lebih indah dari sekadar peringkat satu.
Malam itu, Salsa Kirana tertidur dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya. Di dalam mimpinya, tidak ada lagi rumus fisika yang rumit atau soal kimia yang membingungkan. Yang ada hanyalah dia, Arkan, dan sebuah getaran frekuensi yang akhirnya menemukan titik selarasnya. Sebuah getaran yang membuktikan bahwa musuh bebuyutan sekalipun, bisa menjadi orang yang paling disayang di dunia ini. Dan bagi Salsa, itu adalah pelajaran hidup yang jauh lebih berharga daripada teori sains mana pun yang pernah dia pelajari. Cerita mereka baru saja dimulai, dan Salsa sudah tidak sabar untuk menuliskan setiap bab selanjutnya bersama Arkan.