NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PELARIAN DI BAWAH TANAH

Bab 26: Pelarian di Bawah Tanah

Debu konstruksi dan bau mesiu memenuhi galeri seni yang tadinya estetik itu. Aruna bisa merasakan getaran di lantai marmer setiap kali peluru dari tim Nirwana menghantam pilar tempatnya berlindung. Ini bukan lagi drama rumah tangga dengan adu mulut yang elegan; ini adalah medan tempur di mana setiap detik bisa berarti nyawa.

"Aruna! Ke kiri!" teriak Adrian sambil melepaskan dua tembakan beruntun untuk menekan musuh yang mencoba merangsek dari balkon atas.

Aruna berguling di lantai, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang tergesek marmer kasar. Ia berhasil mencapai kursi roda Siska yang terabaikan di tengah kekacauan. "Siska, pegangan! Kita keluar dari sini sekarang!"

"Sudah kubilang tinggalkan aku, Bodoh!" Siska berteriak, suaranya parau terkena debu. "Mereka tidak akan membiarkan saksi hidup!"

"Aku tidak butuh izinmu untuk menyelamatkanmu!" balas Aruna tajam. Ia menarik kursi roda itu menuju sebuah pintu kayu jati di sudut ruangan yang menuju ke ruang penyimpanan bawah tanah.

"Mbak Bos! Mas Adrian! Jangan lewat pintu utama, mereka sudah pasang blokade di luar!" Suara Bambang melengking lewat anting komunikasi Aruna, terdengar suara kunyahan kerupuk yang panik—sepertinya dia makan buat ngilangin stres. "Ada lorong pembuangan air tua di balik rak lukisan nomor 14. Itu tembus ke sistem drainase kota. Cuma itu satu-satunya jalan yang belum mereka jaga!"

"Bambang, kau jenius!" puji Aruna sambil menendang rak lukisan yang dimaksud.

Adrian memberikan tembakan perlindungan terakhir sebelum ikut melompat masuk ke dalam lorong gelap tersebut tepat saat sebuah granat asap meledak di ruang galeri.

    BOOM!

Ruangan di atas mereka seketika tertutup kabut putih pekat.

Mereka menuruni tangga besi yang berkarat menuju kegelapan yang lembap. Bau air payau dan lumut menyengat indra penciuman. Aruna memapah Siska yang kini terpaksa turun dari kursi rodanya, sementara Adrian berjaga di belakang dengan senter taktis yang terpasang di senjatanya.

"Kenapa... kenapa kau melakukan ini, Aruna?" tanya Siska pelan saat mereka berjalan tertatih di lorong drainase yang sempit. "Aku menghancurkan hidupmu. Aku mencuri suamimu. Aku mencoba membunuhmu."

Aruna terus melangkah, matanya menatap lurus ke depan ke arah cahaya redup dari tablet milik Adrian. "Karena kalau aku membiarkanmu mati di sana, aku tidak ada bedanya dengan Bimo atau kakekku. Aku menyelamatkanmu bukan karena aku memaafkanmu, tapi karena aku ingin kau hidup dan melihat bagaimana aku menghancurkan orang-orang yang telah menggunakan kita berdua."

Siska terdiam. Kata-kata Aruna menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun.

Tiba-tiba, langkah Adrian terhenti. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Di depan mereka, suara air yang mengalir deras terdengar, namun ada suara lain yang tidak lazim: langkah kaki boot militer yang beradu dengan besi.

"Mbak Bos, gawat! Mereka punya pemindai termal!" Bambang berteriak bisik-bisik di telinga Aruna. "Dua orang Nirwana sudah masuk lewat pintu pembuangan di depan kalian. Mereka memotong jalan!"

"Adrian, apa rencana kita?" bisik Aruna.

"Kita tidak bisa balik arah," Adrian memeriksa sisa pelurunya. "Aruna, bawa Siska bersembunyi di balik ceruk pipa besar itu. Biar aku yang selesaikan mereka."

"Tidak," sela Aruna. Ia melihat sebuah tuas besar yang mengatur aliran tekanan air di dinding lorong. "Bambang, kalau aku putar tuas tekanan air ini, apa yang terjadi pada pipa di depan sana?"

Di seberang sana, Bambang mengetik kilat. "Wah, Mbak Bos mau main kotor ya? Itu pipa pembuangan limbah tekanan tinggi. Kalau dibuka manual, tekanannya bisa bikin orang terpental kayak kena hantaman truk!"

"Lakukan sekarang, Bambang! Buka katup otomatisnya dari sana!" perintah Aruna.

"Siap, Mbak Bos! Accessing water management system... Overriding manual lock... SEKARANG!"

Aruna memutar tuas besi itu dengan seluruh kekuatannya.

KREEEEK!

Suara raungan air yang terjepit pipa terdengar mengerikan. Di depan mereka, dua orang pasukan Nirwana yang baru saja muncul dari balik tikungan langsung disambut oleh ledakan air dan lumpur yang menyembur dari sambungan pipa.

BYUAAAAR!

Kedua orang itu terlempar ke dinding terowongan, senjata mereka terlepas, dan mereka terseret arus air yang tiba-tiba meluap di lantai lorong. Adrian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; ia segera melumpuhkan mereka dengan tembakan peringatan yang tepat sasaran di kaki.

"Ayo! Sebelum mereka mengirim unit tambahan!" seru Adrian.

Mereka berlari menembus air yang setinggi mata kaki hingga akhirnya menemukan sebuah tangga darurat yang menuju ke permukaan jalanan sepi di pinggiran kota. Saat mereka keluar, sebuah mobil van hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. Pintu terbuka, dan wajah Bambang yang pucat tapi lega muncul dari balik kemudi.

"Masuk! Masuk! Saya sudah bajak sistem lampu lalu lintas sejauh lima kilometer buat jalur hijau kita!" seru Bambang.

Begitu pintu tertutup, Aruna ambruk di kursi belakang. Ia menatap telapak tangannya yang kotor dan bergetar. Siska terduduk lemas di sampingnya, sementara Adrian langsung memantau monitor untuk memastikan tidak ada yang membuntuti.

"Kita aman untuk sementara," ucap Adrian.

Aruna membuka kepalan tangannya, menatap flashdisk yang diberikan Siska tadi. "Ini baru permulaan, kan?"

Bambang menoleh sambil mengunyah kerupuk kalengnya yang tinggal setengah. "Bukan cuma permulaan, Mbak. Barusan saya dapet notifikasi. 'Papa Besar' alias kakek Mbak baru saja mengumumkan secara resmi kalau Aruna Mahendra adalah 'musuh publik' perusahaan Adhigana karena tuduhan penculikan Siska."

Aruna tertawa dingin. "Bagus. Dia akhirnya menunjukkan wajah aslinya. Dia ingin aku menjadi penjahat? Baiklah. Aku akan menjadi penjahat yang paling mengerikan yang pernah dia temui."

"Adrian," panggil Aruna.

"Ya?"

"Hubungi Maya di klinik. Bilang padanya, kita butuh 'pasukan' yang dia bicarakan dulu. Para korban Bimo dan Adhigana yang selama ini bersembunyi. Jika Adhigana dan Nirwana punya uang dan senjata, kita punya orang-orang yang tidak lagi punya rasa takut karena sudah kehilangan segalanya."

Malam itu, di dalam van yang melaju kencang, sebuah persekutuan terlarang telah lahir. Seorang mantan istri yang dikhianati, seorang asisten yang cacat, seorang pengacara idealis, dan seorang hacker konyol. Mereka bukan lagi hanya korban; mereka adalah ancaman bagi tatanan dunia bawah yang selama ini merasa tak tersentuh.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

.

.

Bab 27: Tentara Bayangan.

.

.

...****************...

...**Author Note:**...

...Aksinya gila banget! Aruna mulai pakai otaknya buat manfaatin lingkungan (pipa air) buat lawan musuh yang lebih kuat. Sekarang dia dituduh menculik Siska oleh kakeknya sendiri! ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!