Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Sementara di dalam, pukul 9 pagi itu Alena baru selesai mewaslap tubuh Delan dengan kain lembut. Di bantu bik Risma, Alena benar-benar memposisikan dirinya menjadi Ibu dan selalu siaga terhadap gerakan putranya.
Pintu terketuk cukup teratur dari luar. Di tengah fokusnya menggantikan baju Delan, seorang pria muda masuk sambil membawa dua paperbag cukup besar. Pria muda itu tersenyum kaku, sementara sang Juragan masih asik menyimak cara Alena menggantikan baju Delan.
"Shuttsss... Juragan!" bisik pria tadi sambil mengangkat dua paperbag tadi.
Danu tersadar, Alena juga baru menoleh. Dahinya berkerut tipis, lalu kembali ke aktivitasnya menatap sang Putra.
"Makanan?" Danu memastika.
"Siap!" Sang tangan kanan mengangkat satu paperbag tadi.
"Baju ganti saya?"
Pria muda tadi mengangkat satu tangan kananya, "Sesuai ucapan Anda, Juragan!"
"Bagus! Sekarang kamu kembali lah ke pabrik! Saya baru dapat kabar jika pagi ini ada pengirman tembakau!"
Pria bernama Reno itu mengangguk. Setelah kepergiannya, Danu meletakan terlebih dulu paperbag tadi di atas sofa. Satu paperbag yang berisikan makanan sudah ia keluarkan, dan merapikannya di atas meja. Sudut matanya menatap ke arah Alena, lalu menghampiri wanita cantik itu kembali.
"Ada apa?" Alena menyipitkan mata setelah memberikan sebotol Asi kepada Bik Risma.
"Sarapan dulu! Saya sudah membawakan makanan dan beberapa cemilan Ibu menyusui untuk kamu," kata Danu sambil melirik ke arah meja sekilas. Detik itu juga Danu berganti menatap Bik Risma. "Bik, nanti jangan lupa sarapan ya! Saya tadi bawa makanan banyak."
Bik Risma mengangguk segan. "Baik, Den!"
Melihat bagaimana Danu bersikap, justru membuat Alena tampak sebal dan nyaris muak. Wanita cantik itu berkali-kali menghela napas lelah, menatap Danu dengan tatapan malas.
"Pak Danu ngapain sih masih disini? Punya rumah 'kan?"
Danu mendelik. "Saya itu hanya bersimpati sama calon anak saya, Alena! Saya juga ingin belajar bagaimana menjadi suami sekaligus Ayah yang siaga!"
"Saya dapat menjadi Ibu sekaligus Ayah yang siaga untuk putra saya, Pak Danu! Lebih baik Anda pulang, daripada nanti di cariin ani-ani Pak Danu," cibir Alena. Sebab apa? Sejak tadi ia tahu jika gawai Danu berdering tanpa jeda sewaktu pria itu masuk ke dalam kamar mandi.
Danu menghela napas berat. "Kamu selalu menyudutkan saya seperti itu. Padahal saya nggak punya ani-ani seperti yang kamu tuduhkan terus."
Alena berjalan menuju sofa, dan menghempaskan tubuh lelahnya di sana. "Ponsel Anda sejak pagi bergetar terus. Siapa lagi yang menghubungi Pak Danu, jika bukan ani-ani itu?!"
Danu juga ikut duduk di sebrang. Untuk sejenak, mata Alena sedikit berbinar ada makanan kesukaanya yang sudah tersaji di atas meja. Nasi padang itu sudah lengkap dengan gading, gulai nangka, sambel ijo, beserta lalapan daun singkong rebusnya.
Tanpa sadar, Alena menelan ludah. Namun, matanya mendongak sejenak. Sang empu masih di sana tengah menghatamkan tatapan ke arahnya.
"Kenapa hanya di tatap? Apa perlu saya suapin?" goda Juragan menaikan satu alisnya.
Alena berdesis kecil. Menyerongkan duduknya ke samping, mencoba menggindari tatapan Danu. Sikap Alena bukan membuat Juragan kesal. Tapi hati kecilnya merasa gemas dan sedikit tertantang.
Danu tahu jika Alena malu-malu. Danu juga tahu ego wanita di depanya itu sangat tinggi. Sebagai calon suami yang baik, Danu mengalah. Pria dewasa itu tiba-tiba bangkit.
"Saya akan keluar sebentar. Mau cari kopi. Kamu makan saja nggak usah tunggu saya," ucapnya dengan nada rendah.
Alena bergidik ngeri. Mulutnya menggerutu. "Ih, siapa coba yang mau ngajakin dia sarapan bareng?! Dasar perjaka tua!"
Danu cukup tersenyum simpul, masih di ambang pintu sejenak. Dan di saat Alena menoleh, pria dewasa itu mengerlingkan satu matanya. Alena syok, cepat-cepat membuang wajah ke samping kembali. Dan barulah pintu tertutup sempurna.
Bik Risma sejak tadi hanya mampu menahan senyum melihat perjaka tua itu kasmaran. Setelah menidurkan Delan, pengasuh itu mendekat ke arah Majikannya. Alena tahu jika Bik Risma tengah menggodanya.
"Apaan sih, Bik," ucapnya sambil menarik sekotak nasi padang tadi.
"Juragan sudah ke sem-sem sama Non Lena," goda Bik Risma sembari duduk.
Tubuh Alena tiba-tiba meremang. "Perjaka tua itu memang agak saiko, Bik! Udah biarin aja. Mungkin seumur-umur baru jatuh cinta kali," cibirnya.
Sebagai orang yang lebih banyak menelan manis pahitnya kehidupan, Bik Risma tahu jika Juragan Danu memiliki niatan tulus untuk kehidupan Majikannya kelak. Namun untuk saat ini Alena masih belum menyadari.
****
Sementara di luar, Danu sengaja mencari cafe terdekat dari rumah sakit. Pria itu hanya sekedar ngopi, karena semalaman itu ia tidak menyeruput hangatnya cafein.
"Americano 1, Mbak!"
Setelah memesan, Danu memilih duduk di luar, ya... Siapa tahu ada keajaiban Alena akan menyusl mencarinya.
Setelah 5 menit, pelayan itu datang membawa secangkir coffe dan meletakannya di atas meja kaca kayu.
Danu baru mengangkat cangkir itu, dan hendak mengangkatnya, tiba-tiba dari arah depan, seorang wanita cantik bertubuh tinggi ramping, kini berjalan agak tergesa menghampiri ke arah Danu.
"Danu.....!!!!"
Danu urungkan niatnya menyesap kopi tadi. Cangkir tadi ia letakan kembali dengan gerakan cukup lambat dan malas.
"Ada apa, Lisa?"
"Danu... Kamu ada disini ternyata? Dari malam aku cariin kemana-mana, aku telfonin kamu sejak pagi... Tapi kamu malah santai-santai kaya gini?!" Lisa tak habis pikir dengan sikap pria pujaannya itu.
Danu menghela napas berat. Menatap Lisa bagaikan mengangkat berpuluh kilo batu. Rasanya malas dan penuh tekanan.
"Terus, aku harus bagaimana?" jawab Danu acuh.
Lisa syok dengan jawaban acuh itu. Wanita cantik itu segera duduk di depan Danu, menatap wajah pria itu penuh telisik. "Jangan-jangan kamu sudah punya wanita lain ya? Iya 'kan, Danu?"
"Bukan wanita, Lisa! Lebih tepatnya calon Istri. Karena sebentar lagi aku akan menikah!" Jawab Danu secara gamblang.
"Apa???" Lisa syok berat. "Nggak, nggak mungkin kamu punya calon Istri. Maksud kamu aku, 'kan calon Istrimu?"
Danu tertawa miring. "Sejak kapan aku melamarmu, Lisa?"
Dada Lisa terasa berdenyut nyeri. Wajahnya menahan geram, hingga matanya terasa panas. "Aku nggak akan biarin kamu menikahi wanita lain, jika itu bukan aku, Danu!"
"Tapi pada kenyataanya kamu bukan siapa-siapaku, Lisa!" Balas telak Danu. Wajahnya sangat santai, lalu melanjutkan kembali menyesap kopinya. "Lebih baik mulai sekarang kamu jangan ganggu aku lagi!"
Air mata Lisa sudah luruh. "Aku akan cari tahu siapa calon Istri kamu, Danu! Aku akan hancurin rumah tangga kamu, jika kamu sampai benar menikahi wanita lain!"
Brak!
Danu reflek menggebrak meja kayu itu. Bahkan coffe tadi sampai tumpah. Mata Danu sudah terhunus tajam.
"Jika sampai kamu berani macam-macam, aku nggak akan lepasin kamu begitu saja, Lisa!" Sentaknya
ceritanya bagus alen audah kuat ituuuu,
tapi gpp belum rejeki
👍👍👍👍
semoga bisa baca kelanjutan cerita ini di lain waktu.
semangaat thor