evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana pembunuhan
Pagi masih sangat gelap ketika Cristian membuka mata. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 04.50. Sementara empat penghuni kamar lainnya masih tertidur lelap, Cristian sudah bangun seperti biasa. Kebiasaan bertahun-tahun membuat tubuhnya seolah memiliki alarm sendiri.
Ia duduk sejenak di tepi ranjang, mengusap wajah, lalu menuju kamar mandi. Air dingin membasahi wajahnya, mengusir sisa kantuk yang masih tertinggal.
Setelah selesai bersiap, Cristian berjalan menuju dapur belakang. Tak disangkanya, suasana dapur sudah cukup ramai. Beberapa pelayan sedang mencuci sayuran, ada yang menyiapkan bumbu, dan ada pula yang mulai memasak sarapan untuk para penghuni mansion. Aroma bawang tumis memenuhi ruangan.
Dari kejauhan, mata Cristian menangkap sosok Ema. Wanita itu tampak mengobrol santai sambil membantu mengupas kentang. Tatapan Cristian berubah datar. Kejadian semalam masih teringat jelas di kepalanya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Saat Ema sedang bersenda gurau bersama pelayan lain, Cristian memotret wajah wanita itu dari kejauhan. Hasil Foto itu ia simpan rapi di galerinya.
Setelah itu, ekspresinya kembali seperti biasa. Tenang. Ramah. Seolah tidak terjadi apa-apa. Cristian berjalan mendekati mereka. Beberapa pelayan langsung menyapanya.
"Pagi, Tuan Cristian."
"Pagi."
Ema yang melihatnya sempat mendengus pelan. Namun tanpa diduga, Cristian justru berhenti tepat di depannya.
"Ema."
Wanita itu mengangkat alis. "Ada apa?"
Cristian menatapnya beberapa detik.
"Soal semalam..." katanya pelan. "Kalau sikapku membuatmu tersinggung, aku minta maaf."
Ema tampak terkejut. Ia tidak menyangka pria setegas Cristian mau meminta maaf lebih dulu.
"Kamu serius?"
Cristian mengangguk. "Aku tidak ingin ada kesalahpahaman dengan rekan kerja."
Ema memperhatikannya lama. Rasa kesal di wajahnya perlahan menghilang, berganti senyum kecil yang sulit diartikan.
"Kalau begitu..." katanya sambil memiringkan kepala, "aku akan memaafkanmu kalau nanti malam kamu datang lagi ke kamarku."
Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening bagi Cristian. Namun pria itu tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.
"Baik," jawabnya singkat.
Ema tersenyum puas. Sementara pelayan lain mulai kembali mengobrol seperti biasa.
Tak lama kemudian, suasana dapur berubah hangat. Mereka membicarakan menu sarapan, pekerjaan hari ini, bahkan saling melempar candaan kecil.
Cristian ikut menanggapi seperlunya. Sesekali ia tersenyum. Sesekali mengangguk.
Dari luar, ia tampak seperti pria ramah yang mulai berbaur dengan lingkungan barunya. Namun jauh di dalam pikirannya, Cristian menyimpan rencana jahat.
Ia tidak menyukai permainan seperti ini. Dan ia juga tidak mudah melupakan orang-orang yang menurutnya menjadi masalah. Karena itu, sambil mendengarkan obrolan hangat di dapur, pikirannya diam-diam menyusun cara untuk menyingkirkan ema dan memastikan situasi seperti semalam tidak pernah terulang lagi.
Cristian tetap memasang senyum santai di dapur. Sambil membantu memindahkan beberapa piring, ia bertanya seolah hanya ingin mengobrol biasa.
"Agenda kamu hari ini apa, Ema?"
Ema yang sejak tadi tampak bersemangat langsung menjawab panjang lebar.
"Seperti biasa bersih-bersih. Oh iya, jam sepuluh aku sama Donna mau ke Toko Bunga Rosalie. Bunga-bunga di ruang tamu dan beberapa ruangan mansion sudah mulai layu, jadi harus segera diganti."
"Toko Bunga Rosalie?" ulang Cristian.
"Iya," jawab Ema sambil tersenyum. "Menyenangkan, bisa keluar jalan-jalan."
Cristian mengangguk pelan. "Begitu ya."
Setelah mendapat jawaban yang diinginkannya, ia berpamitan.
"Aku pergi dulu. Mau memanaskan mobil."
"Pagi-pagi sekali?" tanya salah satu pelayan.
Cristian hanya tersenyum tipis. "Tidak apa, daripada diam saja membuatku bosan."
Ia meninggalkan dapur dengan langkah tenang. Namun bukannya menuju garasi, Cristian justru berbelok ke toilet staf yang berada di sisi belakang bangunan. Tempat itu relatif sepi di jam-jam seperti ini.
Setelah memastikan dirinya sendirian, ia mengeluarkan ponsel dari saku. Matanya menatap foto Ema yang tadi diambilnya. Ekspresinya berubah datar.
Ia mengirimkan foto ema beserta pesan singkat pada Brian. Jemarinya bergerak cepat di layar.
> Brian.
✉️: pukul 10 toko bunga Rosalie bersihkan
Pesan terkirim.
Tak lama kemudian, balasan masuk.
📩: siap
Cristian menatap layar beberapa detik. Kejadian semalam kembali terlintas di benaknya. Rasa kesal itu belum hilang selama ia belum membalasnya. Namun ia juga tahu bahwa bertindak gegabah hanya akan merusak rencananya sendiri.
Cristian memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin toilet.
Dulu, dirinya mungkin akan memilih jalan yang lebih impulsif saat marah. Namun sekarang, berada di tengah mansion Alberto yang penuh kamera dan rahasia, ia tidak boleh bergerak sembarangan. Semua harus diperhitungkan.
Dengan wajah kembali tenang, Cristian keluar dari toilet dan berjalan menuju garasi.
Di tempat lain, Brian yang tengah duduk dimeja makan membaca ulang isi pesannya beberapa kali.
Foto seorang pelayan wanita yang harus dilenyapkan.
Brian menyipitkan mata. Ia sudah mengenal Cristian selama bertahun-tahun. pesan yang sangat singkat, tegas, tanpa basa-basi pun pasti ia pahami dengan baik.
Jika cristian memakai kata "bersihkan", berarti Brian harus membunuh target ditempat secara langsung, tanpa mencari tahu dan melakukan pengamatan.
Brian mengembuskan napas pelan sebelum memanggil dua anak buah yang paling dipercayainya.
Dua pria bertubuh tegap mengenakan kaos hitam polos segera masuk ke ruang makan.
"Ada tugas?" tanya salah satunya.
Brian menunjukkan foto Ema di layar ponselnya.
"Hilangkan wanita ini."
"Kita harus melakukan apa?"
"Bunuh!" jawab Brian tegas. "Dia akan pergi ke Toko Bunga Rosalie pukul sepuluh pagi. Ikuti dari jauh. Jika waktunya tepat segera bunuh dengan motif seolah-olah itu hanya pembegalan biasa."
Kedua pria itu saling pandang lalu mengangguk paham.
"Baik."
Setelah mereka pergi, Brian kembali menatap foto Ema, lalu mengirimkannya pada kedua anak buahnya.