NovelToon NovelToon
Misteri Hantu Penculik Bayi

Misteri Hantu Penculik Bayi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin / Hantu / Tumbal
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lili Aksara 04

Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.

Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.

Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.

Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.

Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.

Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.

Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.

Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.

Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Arumi memanjatkan doa dengan hikmat.

Ia mendoakan kakek dan neneknya yang memang makam mereka berdekatan.

Usai berdoa, Arumi menyiramkan air ke makam tersebut.

"Kakek, Nenek, Arumi kangen banget sama kalian. Dateng ya ke mimpi aku sama Bella," ucap Arumi di dalam hati.

Tak terasa, air matanya jatuh kala mengenang kebersamaannya dengan sang kakek nenek.

"Yang sabar, Kak," ucap Bella seraya mengelus pundak Arumi.

"Iya, Dek, aku cuma keinget sama mereka aja," jawab Arumi.

Nyai Sawitri dan Pak Broto juga ikut memanjatkan doa.

Angin berhembus lembut, menerbangkan dedaunan ke sembarang arah.

Arumi merasakan ketenangan yang mendalam, seolah angin itu memeluk dirinya.

"Ayo kita pulang, Arumi, Bella, Ibu mau ajak kalian ke suatu tempat," ucap Nyai Sawitri.

"Eh, mau ke mana, Bu? Kirain udah loh habis ini," ucap Bella terkejut.

"Ya, pokoknya ada lah. Kalian ikut aja," Pak Broto yang menjawab.

Mereka pun melangkah pergi meninggalkan pemakaman, meninggalkan angin sejuk yang masih menerpa.

***Saat di gapura desa, rupanya sudah menunggu sopir milik Pak Broto.

Terparkir juga sebuah mobil jadul keluaran lama yang masih terawat.

"Ayo masuk, udah lama kan kita nggak jalan-jalan kayak gini," ucap Nyai Sawitri.

Akhirnya, Arumi dan Bella memasuki mobil itu.

Namun, entah mengapa Arumi merasakan perasaannya tidak enak, seolah akan ada kejadian yang terjadi.

"Ya Allah, ada apa ini, kok perasaanku nggak karuan begini sih," batin Arumi.

"Ayo jalan, Mang," ucap Pak Broto pada Mang Atep, sopir pribadinya.

"Siap atuh, Pak," jawab Mang Atep.

Perlahan, mobil itu keluar dari desa, menuju ke kota yang ramai.

Siang itu, jalanan Cianjur tampak begitu padat.

Motor dan mobil berlalu lalang.

Para pedagang menjajakan dagangannya.

Arumi menghela napas panjang.

Sama seperti manusia yang sangat banyak berkeliaran, para arwah pun juga tak kalah banyak dengan wujudnya yang berbagai bentuk.

Kebanyakan dari mereka itu wujudnya penuh darah atau kehilangan anggota tubuh.

Sudah lama Arumi tidak pergi ke kota seperti ini, karena keluarganya juga tidak akan pergi ke kota jika tak ada keperluan.

Namun, pemandangan kota itu nyatanya tak membuat si gadis merasa tertarik.

Arumi melelamun, pikirannya berkelana tak tentu arah.

Sesekali, ia meremas bajunya, tampak begitu gelisah.

Bella sedari tadi memperhatikan Arumi.

Ia heran melihat kakaknya yang tampak begitu pendiam sekali hari ini, tidak seperti biasanya yang selalu ada saja yang dibicarakan.

"Kak, kamu kenapa sih?" tanya Bella pada akhirnya.

"Nggak papa, Dek. Cuma aku lagi mumet aja," jawab Arumi berbohong.

"Pak, Bu, kami boleh nggak berhenti sebentar di tukang jajanan? Kasihan ini Kak Arumi nggak karuan begini. Siapa tahu kalau habis beli makanan jadi lebih baikan," ucap Bella.

"Oh iya, boleh, Bell. Mang, berhenti di depan itu ya!" perintah Pak Broto.

"Siap, Pak," jawab Mang Atep.

Mang Atep menghentikan mobil di dekat penjual makanan.

Mau tidak mau, Arumi ikut turun bersama Bella.

Rupanya, di jalanan itu banyak sekali penjual makanan dan minuman.

Ada yang menjual cilok, cimol, batagor, dan ada juga yang menjual jus.

"Kamu mau beli apaan, Kak?" tanya Bella.

"Ah, aku beli batagor aja lah. Kalau kamu mau apaan emang?" tanya Arumi balik.

"Aku sih mau siomay aja, enak itu," jawab Bella.

Kedua gadis itu pun berpisah, Arumi ke penjual batagor sementara Bella mencari penjual siomay.

"Permisi, Mang. Beli batagornya, ya. Dibungkus aja," ucap Arumi.

"Oh, manga. Bade sabarahaeun, Neng?" tanya Amang penjual batagor.

(Oh, boleh. Mau berapa, Neng?)

"Lima ribu aja, Mang," jawab Arumi.

Amang penjual batagor mengangguk, dengan cekatan ia menyiapkan batagor pesanan Arumi.

Kala Arumi sedang duduk sembari menunggu pesanannya, tiba-tiba saja ia seperti tersedot ke dimensi lain.

Wuuush.

Arumi masih berada di jalanan tempat penjual batagor itu, dan jalanannya pun tidak berubah sama sekali.

Kendaraan berseliweran, menciptakan bunyi yang begitu bising.

Tetapi, Arumi berdiri di pinggir jalan, bukan di lapak penjual batagor.

Saat itu, datanglah sebuah motor.

Motor itu berisikan 3 orang.

Ada bapak-bapak yang menyetir, lalu ada seorang ibu yang menggendong anaknya.

Mereka tampak bahagia, dan terlihat jika bapak dan ibu itu juga bercengkrama hangat.

Namun, saat motor yang dikendarai bapak itu akan menyebrang, tiba-tiba saja ada truk yang melaju dengan cepat.

"Awaaas!" Arumi mencoba berteriak memperingati, namun terlambat.

Braaak.

Tanpa bisa dihindari, truk itu menghantam motor yang dikendarai oleh sepasang suami istri tersebut dengan kuat.

Tubuh suami istri dan anak mereka terpental ke pinggir jalan, menciptakan kengerian dan genangan darah yang tergenang di jalanan.

Wuuush.

Kesadaran Arumi kembali ditarik ke dunia nyata, ke tempat penjual batagor itu.

Tubuh Arumi lemas, ia hampir jatuh ke tanah, beruntung ada sebuah tangan yang menahan tubuhnya.

"Ya Allah, Kakak, kamu kenapa?" tanya sebuah suara yang amat Arumi kenali.

Ya, wanita yang menolong Arumi adalah Bella.

Saat pesanan siomaynya sudah selesai, gadis itu memang langsung berniat menghampiri sang kakak.

Namun, saat dihampiri, kakaknya itu malah hampir terjatuh, beruntungnya Bella sigap menahan.

"Aku nggak bisa nyelametin mereka. Huhuhu. Kenapa aku harus lihat semua itu," ucap Arumi sambil menangis tersedu-sedu.

Bella bingung, tapi tak urung ia segera menenangkan Arumi.

"Tenang, Kak, tenang ya," Bella meminumkan segelas air pada Arumi.

"Kenapaaaa, kenapa aku harus lihat itu kalau aku nggak bisa nyelamatin mereka, huhuhu," Arumi makin menangis menjadi-jadi.

Bella memeluk Arumi, di usapnya air mata yang menggenang itu.

"Jangan nangis, Kak, aku di sini," ucap Bella sambil berusaha menenangkan.

Perlahan, Arumi mulai tenang, tangisnya sudah tak seperti tadi.

"Neng, ini batagornya, ya," ucap si amang batagor sambil menyerahkan pesanan Arumi pada Bella, karena gadis yang memesan itu tampak masih sedikit belum sadar sepenuhnya.

"Iya, Amang, terima kasih," jawab Bella sambil memberikan uang lima ribu rupiah.

"Sama-sama. Itu kakaknya kenapa?" tanya amang batagor.

"Nggak apa-apa, Mang, ini palingan dia cuman agak kaget aja," jawab Bella asal.

Bella sendiri sedikit bingung harus menjawab bagaimana, karena ia sendiri tidak tahu kenapa dengan Arumi sampai menangis seperti itu.

"Bell, ayo kita balik ke mobil. Bapak sama Ibu pasti udah nungguin kita," ajak Arumi.

"Iya, tapi kamu udah nggak papa, kan?" Bella bertanya memastikan.

"Nggak papa, aku aman kok," jawab Arumi.

Kedua gadis itu kembali ke mobil.

Nyai Sawitri dan Pak Broto memang tidak ikut turun, entah mungkin Mang Atep yang membelikan makanan untuk mereka.

"Nyai," panggil Arumi di dalam hati pada sang khodam saat ia sedang berjalan.

"Kamu pasti mau nanyain soal yang tadi kamu lihat itu, kan?" tanya Nyai Sekar Arum yang rupanya telah mengetahui.

"Iya, Nyai. Sebenarnya yang tadi aku lihat itu apa? Apakah itu kejadian masa depan atau masa lalu?" tanya Arumi.

"Itu kejadian masa depan, Neng, yang berarti kejadian itu bakal terjadi di jalan ini," jawab Nyai Sekar Arum.

Arumi terkejut. Ia masih ada di jalan ini sekarang.

"Itu artinya, aku akan menyaksikan itu lagi, Nyai," batin Arumi pilu.

"Pergilah, Neng. Jangan kamu lihat semua itu," ucap Nyai Sekar Arum.

"Tapi, Nyi, apa aku bener-bener nggak bisa nyelametin mereka?" tanya Arumi.

"Aku pun tidak tahu apakah kamu bisa menyelamatkan mereka atau tidak. Tetapi, Neng, dengarkanlah ini. Jodoh, kematian, musibah, semuanya di tangan Allah. Sebagai manusia, kita hanya bisa menerima semua ketetapan-Nya. Yang namanya musibah, jika Allah sudah berkehendak musibah itu harus terjadi, maka bagaimanapun caranya, musibah itu akan tetap terjadi meskipun kau berusaha menghalanginya," nasihat Nyai Sekar Arum.

Arumi terdiam ketika mendengar nasihat tersebut.

Ia mengerti akan hal itu, karena yang disampaikan oleh Nyai Sekar Arum memanglah benar.

Dan sebagai manusia, Arumi tidak punya kuasa untuk mencegah semuanya agar tidak terjadi.

Ia hanya bisa berdoa, meminta pada sang pencipta semoga ada secerca keajaiban bagi yang mengalami kecelakaan, agar setidaknya mereka bisa selamat.

Padahal di dalam hati kecilnya, Arumi sungguh sangat ingin menyelamatkan mereka.

"Terus kenapa aku dikasih kemampuan ini? Aku nggak ingin mendapatkan gambaran masa depan kayak gini. Toh aku nggak bisa mengubah semuanya, kan," batin Arumi.

"Iya, memang kamu nggak bisa merubah semuanya. Tapi, seandainya kamu bisa melihat masa depan dari orang terdekat kamu sendiri, yang dia sangat mempercayai kamu, dan dia juga dekat sama kamu, bukankah kamu bisa menyelamatkan dia semisal ada hal buruk yang akan terjadi padanya? Kau bisa memperingatkan dia, Arumi. Jujur, aku juga tidak tahu itu akan berhasil atau tidak, tapi kamu bisa mencobanya," kata Nyai Sekar Arum, mencoba membesarkan hati Arumi.

"Iya juga sih, mungkin Nyai benar," Arumi membatin lagi.

Arumi dan Bella sudah sampai di depan mobil mereka.

Keduanya pun segera masuk.

Ternyata benar, Pak Broto dan Nyai Sawitri sedang memakan makanan mereka juga di sana.

"Ayo kita pergi, Pak, Bu. Ini makannya sambil jalan aja," ucap Arumi.

"Iya, deh. Lagian panas juga. Ayo, Mang, jalan," pinta Pak Broto pada Pak Atep.

"Siap, Pak," jawab Pak Atep sambil mulai menyalakan mobilnya.

Mobil pun melaju, meninggalkan jalan yang dipenuhi aneka makanan dan minuman itu.

1
SANG
Mampir ya Thor 👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪💪👍👍👍💪💪💪💪
SANG
Semangat ya thor👍💪
SANG
Aku kasih like ya Thor👍💪
SANG
Mantap banget👍💪
SANG
Aku kasih suka ya Thor👍💪
SANG
🍒 seru👍💪
Aii Flow🌷
Susi, janis kuntilanak macam apa? jangan sampai deh ketemu begituan🤧
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
seger arumi
mama Al
lah ini nyai gimana sih? anak wedok nya dalam bahaya lah dia kayak terkesan ngumpan anaknya.
Mutia Kim🍑
Nggak enak memang jadi anak indigo😭
arsyila putri
Arumi lebih banyak teman hantunya kayaknya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
eh siapa ya.. kok mencurigakan
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
jadi merinding ya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
bakal jadi teman mereka berdua Delisa agaknya
arsyila putri
duh ngeri banget, untung Arumi yang meditasi kalau aku Uda pingsan kali.🤣🤣
Mutia Kim🍑
Dia ada dendam apa sebenarnya hantu susi ini sampai Arumi juga kena dampaknya
Aii Flow🌷
Kalau jadi Arumi aku kagak mau jawab itu setan, mending lari aja udah😄
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
jd curiga sama bapak ibunya arumi nih.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kasian bu Lela. anak yg sudah dinanti2 malah meninggal.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga kalau jadi Bella minta temenin sih. krn udah ngebayangin yg ngga2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!