NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pagi datang perlahan di Kepulauan Anambas, membawa cahaya lembut yang menyusup melalui tirai tipis villa mewah tempat mereka menginap. Laut di kejauhan berkilau seperti kaca yang disentuh matahari pertama, tenang, luas, dan nyaris tak bersuara. Hanya debur ombak jauh di bawah tebing yang menjadi pengingat bahwa dunia tetap bergerak.

Di atas ranjang besar berbalut seprai putih, dua orang terbangun hampir bersamaan. Elvano Alvendra membuka mata lebih dulu. Napasnya stabil, wajahnya tetap tenang seperti biasa—bahkan dalam keadaan baru bangun tidur, aura mahal dan tak tergoyahkan itu tetap melekat.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda, lengannya melingkar erat di pinggang Selena. Tubuh wanita itu hangat di pelukannya, rambut panjangnya sedikit berantakan menutupi sebagian pipi. Sedangkan Selena Nayumi masih memejamkan mata, tapi napasnya berubah pelan, tanda ia mulai sadar.

Beberapa detik berlalu tanpa kata, Elvano menatapnya diam-diam. Ada ketenangan yang asing baginya. Selama bertahun-tahun hidup di apartemen, ia terbiasa bangun sendirian, tidak ada suara napas lain, tidak ada seseorang yang ia peluk tanpa sadar.

Hingga hari ini berbeda, Selena membuka mata perlahan. Tatapan mereka langsung bertemu, tidak ada keterkejutan, tidak ada kecanggungan yang sempat mereka bayangkan, yang ada hanya jeda sunyi yang terasa… nyaman.

Elvano tersenyum tipis, senyum khas yang biasanya membuat ribuan penggemar kehilangan napas—namun kali ini jauh lebih lembut.

“Selamat pagi, istriku,” ucap Elvano pelan. Suara baritonnya masih serak sisa tidur, hangat dan dekat.

Selena berkedip beberapa kali sebelum senyum kecil muncul di wajahnya.

“Pagi juga, suamiku,” balas Selena pelan.

Ia baru menyadari posisi mereka. Tubuhnya masih berada dalam dekapan Elvano, di bawah selimut yang sama. Anehnya, ia tidak merasa canggung. Tidak panik. Tidak ingin menjauh, justru ada rasa aman yang sulit dijelaskan.

Elvano mengangkat tangannya perlahan, menyibakkan rambut Selena yang menempel di pipinya. Gerakannya hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.

Tanpa banyak kata, ia menunduk dan mencium kening Selena. Satu ciuman singkat yang hangat, tenang. Namun, cukup membuat Selena berdesir.

Selena memejamkan mata, menikmati sentuhan itu tanpa sadar. Dan seketika, bayangan semalam kembali muncul di benaknya.

Malam pertama mereka, tidak ada tuntutan, tidak ada tekanan seperti yang ia takutkan sejak awal pernikahan ini terjadi. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, Elvano hanya menatapnya lama, lalu berkata dengan tenang bahwa mereka bisa beristirahat.

Tidak ada paksaan, tidak ada hak yang diminta, yang ada hanya rasa pengertian. Dan justru itu yang membuat malam terasa lebih panas daripada yang ia bayangkan—bukan karena sesuatu yang terjadi, melainkan karena yang tidak terjadi.

Cara Elvano menahan diri, cara ia menjaga jarak, namun tetap membuat Selena sadar bahwa pria itu sepenuhnya hadir.

Selena membuka mata kembali, tatapan mereka kembali bertemu, lebih lama kali ini.

“Apa aku terlalu memelukmu?” tanya Elvano tiba-tiba, suaranya rendah.

Selena sedikit tertawa kecil.

“Enggak… malah nyaman,” jawab Selena jujur.

Jawaban itu membuat sudut bibir Elvano terangkat tipis. Ia jarang menerima kejujuran tanpa lapisan basa-basi. Dan Selena mengatakannya begitu saja, tanpa ada maksud tersembunyi.

Beberapa detik mereka hanya saling memandang, hingga akhirnya Elvano melepaskan pelukannya perlahan, memberi ruang untuk Selena.

“Kamu mau sarapan di kamar atau di luar?” tanya Elvano.

Nada bicaranya kembali profesional, hampir seperti CEO yang sedang mengatur jadwal rapat, namun matanya tetap lembut.

Selena berpikir sejenak. Kalau mengikuti keinginannya, ia sebenarnya ingin menikmati pagi tenang ini lebih lama. Tapi ia sadar mereka tidak benar-benar sendirian di pulau ini. Ada keluarga, kerabat, dan beberapa rekan dekat yang masih menginap di villa lain setelah pesta pernikahan semalam.

“Di luar aja,” jawab Selena. “Sekalian gabung sama yang lain.”

Elvano mengangguk ringan.

“Baiklah.”

Ia bangkit dari ranjang, gerakannya tenang dan efisien. Cahaya pagi jatuh tepat di tubuhnya, memperlihatkan postur atletis yang selama ini hanya Selena lihat lewat layar dan majalah.

Untuk pertama kalinya, Selena menyadari sesuatu. Pria ini bukan hanya selebritas besar. Dia… adalah suaminya, pikiran itu terasa aneh sekaligus nyata. Selena cepat mengalihkan pandangan, pura-pura merapikan selimut.

Elvano melirik sekilas, seolah menangkap kegugupan kecil itu, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil kemeja santai berwarna putih dan memakainya dengan gerakan sederhana yang tetap terlihat elegan.

Beberapa menit kemudian, mereka berjalan keluar kamar bersama. Udara pagi Anambas langsung menyambut, aroma laut bercampur wangi kopi dari area outdoor dining villa utama.

Tawa kecil terdengar dari kejauhan, beberapa tamu sudah berkumpul di meja panjang menghadap laut menikmati sajian pagi.

Saat Elvano dan Selena muncul berdampingan, percakapan langsung melambat. Bukan karena drama, tapi karena pemandangan mereka berdua terasa… serasi.

Elvano berjalan santai dengan aura tenang khasnya, sementara Selena di sampingnya terlihat fresh dengan dress sederhana warna pastel, rambut diikat longgar.

Pasangan baru, namun tanpa kemesraan berlebihan dan justru itu yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan.

“Wah akhirnya pengantin baru bangun juga!” seru Raka, sahabat lama Elvano sekaligus produser Zenithra.

Elvano menarik kursi untuk Selena sebelum duduk sendiri.

“Kami tidur,” jawab Elvano singkat.

“Tidur doang?” Raka menyeringai.

Selena hampir tersedak air putihnya.

“Kamu terlalu banyak waktu luang ya.” Elvano menatap Raka datar.

Meja langsung dipenuhi tawa. Suasana mencair cepat, membuat Selena sedikit lebih rileks. Ia mulai berbincang dengan beberapa orang yang semalam hanya ia kenal sekilas.

Namun di sela obrolan, Selena menyadari sesuatu. Beberapa staf Zenithra diam-diam memperhatikannya, bukan dengan sinis, tapi lebih seperti… menilai.

Wajar saja karena pernikahan Elvano terjadi terlalu mendadak bagi publik. Dan ia — seorang dokter gizi influencer — tiba-tiba menjadi istri pria paling sulit dijangkau di industri hiburan. Selena menarik napas pelan, ia sudah tahu ini tidak akan mudah.

Sementara itu, Elvano memperhatikan semuanya tanpa terlihat memperhatikan. Tatapannya sesekali berpindah ke Selena memperhatikan cara wanita itu tersenyum tulus, cara ia mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian sama sekali tidak dibuat-buat. Dan Elvano merasakan sesuatu yang mengganggu ketenangannya. Ia ingin memastikan Selena baik-baik saja.

“Selena,” panggil Elvano tiba-tiba.

Selena menoleh.

“Iya?”

“Kamu makan dulu sebelum ngobrol terlalu banyak.” Nada suaranya tenang, tapi jelas protektif. Beberapa orang di meja langsung saling pandang diam-diam.

Selena tersenyum kecil. “Iya, Tuan Bintang,” jawabnya bercanda.

Elvano mengangkat alis tipis. “Sebagai suami, itu instruksi serius.”

Kalimat itu membuat suasana kembali riuh. Namun di balik tawa, Selena merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan karena kata-katanya. Tapi cara Elvano mengatakannya—natural, tanpa pamer, tanpa berusaha terlihat romantis. Dan justru itu terasa nyata.

**

Setelah sarapan panjang bersama rombongan, suasana mulai terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Ada yang bermain voli pantai, ada yang sekadar berjemur, dan beberapa sibuk memotret pemandangan untuk media sosial.

Selena duduk di atas tikar pantai, kaki telanjangnya menyentuh pasir hangat. Dress linen warna krem yang ia kenakan bergerak lembut tertiup angin.

Di sampingnya, Nia — dokter anak dari rumah sakit yang sama — sedang mengoleskan sunscreen dengan serius. Sementara Dira, tampak sudah dari tadi menahan sesuatu untuk ditanyakan. Tatapan Dira akhirnya berbinar nakal.

“Dokter Selena… aku boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Dira sambil mendekat.

Selena melirik sekilas, sudah bisa menebak arah pembicaraan.

“Kalau ekspresimu begitu, biasanya bahaya,” jawab Selena santai.

Dira terkikik.

“Gimana malam pertama sama Bintang besar seperti Elvano?” tanya Dira tanpa basa-basi.

Nia langsung menepuk bahu Dira pelan. “Dir! Nggak sopan tahu nanya begitu,” tegur Nia.

Dira mengangkat bahu santai. “Ya ampun dokter, aku kan cuma penasaran. Itu Elvano Alvendra loh. Nasional punya crush!” balas Dira.

Selena hanya tersenyum kecil, menatap laut di depannya. Ia tidak langsung menjawab, bukan karena malu… tapi karena ia sendiri masih mencerna semuanya. Pernikahan mendadak. Pria yang sebelumnya hanya ia lihat dari layar kini berbagi kamar dengannya. Dan anehnya, semuanya terasa… tenang.

“Ya… nyaman,” jawab Selena akhirnya.

Dira langsung mendekat dramatis. “Nyaman gimana maksudnya?” tanya Dira antusias.

Selena tertawa kecil. “Ya nyaman. Dia suamiku, Dir,” jawab Selena ringan.

Jawaban sederhana itu justru membuat Dira memekik kecil.

“Tuh kan! Udah mulai kebiasaan bilang suamiku!” goda Dira.

Nia ikut tertawa sambil menggeleng. “Kalian ini kayak anak SMA,” ujar Nia.

Namun Dira belum selesai. “Terus… apakah kita bakal segera punya keponakan kecil?” tanya Dira sambil menaikkan alis jahil.

Selena hampir tersedak air kelapanya sendiri.

“Dira!” protes Selena sambil tertawa.

Ia mengibaskan pasir dari tangannya sebelum menjawab santai. “Tubuh kami terlalu lelah untuk memproduksi anak,” ujar Selena dengan nada datar sengaja dibuat serius.

Nia langsung tertawa keras. “Memangnya pabrik pakai kata produksi segala,” kata Nia sambil menahan tawa.

Ketiganya akhirnya tertawa bersama, suara mereka bercampur dengan debur ombak. Sejak pernikahan itu terjadi, Selena merasa napasnya ringan. Ia bukan lagi hanya dokter atau influencer yang selalu tampil kuat di depan kamera. Hari ini… ia hanya seorang wanita yang duduk santai bersama teman-temannya. Namun tanpa ia sadari, dari kejauhan ada seseorang yang terus memperhatikannya, yang tak lain adalah suaminya sendiri.

**

Di sisi lain pantai, Elvano berdiri di bawah payung besar bersama Darian, manajer sekaligus orang yang sudah bekerja dengannya hampir sepuluh tahun.

Tangannya dimasukkan ke saku celana linen, kemeja putihnya terbuka sedikit di bagian leher, memperlihatkan aura santai yang jarang publik lihat. Tatapannya sesekali beralih ke arah Selena yang tertawa bersama teman-temannya.

“Bagaimana pekerjaan di Jakarta?” tanya Elvano tanpa mengalihkan pandangan.

Darian mendengus pelan. “Ini bulan madumu, El. Kenapa masih mikirin kerjaan?” tanya Darian.

Elvano akhirnya menoleh. “Pekerjaan tetap harus berjalan,” jawab Elvano tenang. “Kalau tidak, bagaimana aku menghidupi istriku?”

Darian langsung membeku dua detik sebelum tertawa keras.

“Wow. Dengar nggak sih? Istriku,” ledek Darian. “Baru sehari nikah udah pamer status.”

Elvano mengangkat alis tipis. “Memang itu kenyataannya,” balas Elvano santai.

Darian berdecak kesal lalu menyerahkan iPad yang sejak tadi ia pegang.

“Nih. Laporan mingguan. Tapi sumpah kau harusnya libur,” kata Darian.

Elvano menerima iPad itu dan mulai membaca cepat. Sorot matanya berubah fokus — mode CEO sepenuhnya aktif.

“Semuanya masih aman?” tanya Elvano.

“Aman. Cuma ada trainee baru yang masuk,” jawab Darian.

Elvano mengangguk kecil. “Berapa?”

“Penyanyi tiga. Dua laki-laki, satu perempuan. Akting lima orang. Dance satu grup, enam anggota,” jelas Darian.

“Sudah masuk pembinaan?” tanya Elvano lagi.

“Baru tahap pendaftaran, kalau untuk akting sudah mulai pembinaan,” jawab Darian.

Elvano menggeser layar iPad, membaca beberapa profil singkat.

“Nanti setelah kembali ke Jakarta, aku akan periksa sendiri,” katanya. Nada suaranya tetap rendah, tapi absolut.

Darian mengangguk. Ia sudah hafal. Jika Elvano mengatakan akan memeriksa langsung, berarti standar seleksi akan naik tiga kali lipat.

Beberapa detik hening, tiba-tiba Darian tersenyum licik.

“Ngomong-ngomong…” katanya pelan.

Elvano tidak mengangkat kepala. “Apa?”

Darian menyeringai. “Gimana rasanya melepas keperjakaan setelah tiga puluh empat tahun?”

Gerakan tangan Elvano berhenti, perlahan ia mengangkat kepala. Tatapan tajamnya langsung menusuk Darian.

Sunyi satu detik.

Dua detik.

Darian langsung mengangkat kedua tangan menyerah.

“Oke! Oke! Aku bercanda!” kata Darian cepat.

Tatapan Elvano tetap dingin, Darian langsung mundur selangkah. Lalu dua langkah dan detik berikutnya ia langsung berbalik lari menuju lapangan voli pantai.

“Hei! Timku kurang satu orang!” teriak Darian pura-pura.

Elvano menghela napas panjang.

“Dasar tidak waras,” gumamnya pelan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Ia kembali menatap ke arah Selena. Wanita itu sedang tertawa lepas, rambutnya tertiup angin laut. Elvano merasakan sesuatu yang asing, sebuah keinginan untuk pulang… ke seseorang.

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!