Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Kepulangan Sangat Bayang
Jakarta, 15 Mei 2026.
Langit Jakarta menggantung rendah, berwarna abu-abu pekat yang menyesakkan, seolah-olah awan polusi sengaja menahan sinar matahari agar tidak menyentuh aspal jalanan yang membara. Di terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta, ribuan orang berlalu-lalang dengan ambisi dan keletihan mereka masing-masing. Di tengah kerumunan itu, seorang pria melangkah keluar dengan tenang.
Dia tidak lagi mengenakan jas wol mahal dari Praha. Tubuhnya kini dibalut jaket bomber hitam yang lusuh dengan celana kargo yang penuh saku. Topi baseball menutupi sebagian wajahnya yang kini memiliki garis rahang lebih tegas dan sepasang mata yang tampak telah melihat terlalu banyak kematian.
Arga Adriansyah telah kembali.
Dia tidak membawa koper. Di saku jaketnya, hanya ada sebuah paspor palsu dengan nama Reza Pramudya dan sebuah ponsel satelit terenkripsi yang terus menampilkan titik koordinat statis di kawasan segitiga emas Jakarta: Gedung Winata Tower.
"Selamat datang di neraka yang kau rindukan, Arga," bisik sebuah suara di telinganya melalui earpiece kecil.
Arga tidak menjawab. Dia berjalan menuju pangkalan taksi konvensional, menghindari sorotan kamera CCTV yang kini memiliki teknologi face recognition terbaru—teknologi yang dia tahu adalah bagian dari sistem pemantauan global milik Elina.
"Status?" tanya Arga singkat saat sudah berada di dalam taksi yang merayap membelah kemacetan tol menuju pusat kota.
"Siska Winata masih hidup," suara Nadia terdengar dari seberang sana. Nadia, yang ternyata berhasil lolos dari penyerbuan di Zakopane dengan luka tembak di paha, kini bersembunyi di sebuah gudang tua di pelabuhan Tanjung Priok. "Dia kehilangan lengan kirinya di Krakow, tapi dia menggunakan sisa kekuasaan keluarganya untuk membangun narasi bahwa kau adalah otak di balik ledakan Centrum Cybernetyki. Kau buronan nomor satu di Interpol, Arga. Dan Siska... dia baru saja diangkat menjadi CEO Winata Group yang baru pagi ini."
Arga menatap keluar jendela, ke arah billboard raksasa yang menampilkan wajah Siska Winata yang tampak anggun dengan balutan prostetik canggih di lengannya. Di bawah fotonya tertulis slogan: Membangun Masa Depan Tanpa Ketakutan.
"Dia pikir dia menang karena memiliki panggung," desis Arga. "Lalu, bagaimana dengan dia?"
Suasana di seberang sana mendadak hening. Nadia menghela napas panjang. "Elina... atau siapa pun yang sekarang mengendalikan tubuh itu... tidak bisa dilacak secara fisik. Tapi frekuensi satelit yang memantau Jakarta meningkat tiga ratus persen sejak kemarin. Ada proyek baru bernama Project Horizon. Elina memberikan akses teknologi militer ke pemerintah Indonesia secara cuma-cuma melalui perusahaan cangkang bernama Nova-Logic."
"Dia sedang membangun markasnya di sini," Arga menyandarkan punggungnya. "Jakarta bukan lagi sekadar kota. Ini adalah laboratorium hidupnya. Dia ingin membuktikan bahwa dengan kontrol total, dia bisa menghilangkan kejahatan. Dia ingin menjadi 'Tuhan' yang kakek impikan."
Taksi itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen tua yang kumuh di daerah Senen. Arga turun, membayar sopir dengan uang tunai, dan berjalan masuk ke dalam lorong yang berbau sampah dan pesing. Ini adalah tempat yang paling tidak mungkin dicurigai oleh sistem pemantauan canggih Elina. Di tempat ini, orang-orang hidup di luar radar digital.
Dia naik ke lantai empat, menuju kamar nomor 402. Begitu pintu dibuka, aroma mesiu dan alkohol menyambutnya. Nadia duduk di sebuah kursi lipat, sedang membersihkan senapan runduknya. Kakinya dibalut perban yang sudah mulai menguning.
"Kau terlambat dua jam," ucap Nadia tanpa mendongak.
"Aku harus memutar lewat jalur darat dari Singapura untuk memastikan tidak ada pelacak biometrik yang menempel," Arga meletakkan ponselnya di atas meja yang dipenuhi peta topografi Jakarta.
Nadia berdiri dengan goyah, menunjuk ke arah peta. "Target pertama kita bukan Siska. Dia hanya pion kecil sekarang. Target kita adalah peluncuran Project Horizon malam ini di Monas. Elina akan muncul di sana melalui proyeksi hologram tiga dimensi. Dia akan memberikan pidato pertamanya sebagai 'pelindung' baru Jakarta."
Arga melihat foto-foto yang ditempel di dinding. Foto-foto pejabat, pengusaha, dan jenderal yang kini bersujud di bawah kaki Nova-Logic.
"Dia ingin aku datang, Nadia," ucap Arga. "Catatan yang dia tinggalkan di Krakow... dia ingin aku menjadi musuhnya. Dia butuh 'setan' agar rakyat butuh 'malaikat' sepertinya. Dia ingin aku memainkan peran itu agar dunia memvalidasi sistem kontrolnya."
"Dan kau akan melakukannya?" tanya Nadia.
Arga mengeluarkan anting perak berbentuk bintang dari sakunya. Benda itu kini sudah menghitam karena api, namun bentuknya tetap sama.
"Aku akan memberinya setan yang tidak pernah dia bayangkan. Jika dia ingin menggunakan logika mesin untuk mengatur manusia, maka aku akan menggunakan naluri manusia untuk menghancurkan mesinnya. Kita tidak akan menyerang sistemnya, Nadia. Kita akan menyerang 'kemanusiaan' yang masih tersisa di dalam dirinya."
Arga mengambil sebuah masker hitam dan memasang peluru ke dalam magasin pistolnya.
"Malam ini, Jakarta akan melihat bahwa dewa mereka bisa berdarah."