Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: DETIK-DETIK PENANTIAN
Suara ban mobil yang berdecit keras di atas aspal lobi Rumah Sakit Medika memecah kesunyian malam yang mencekam. Belum sempat mobil SUV hitam itu berhenti sempurna, Zayn Al-Fatih sudah melompat keluar, lalu dengan gerakan sigap yang protektif, ia membantu Aaliyah turun. Tanpa memedulikan tatapan heran dari para perawat dan pengunjung rumah sakit, Zayn menggandeng tangan Aaliyah, setengah menyeretnya menuju lift khusus menuju lantai ICU.
Aaliyah merasa dunianya seolah sedang ditarik paksa. Napasnya tersenggal di balik niqab yang kini terasa sangat menyesakkan. Setiap langkah menuju lantai sepuluh terasa seperti menaiki ribuan anak tangga yang tak berujung.
(Batin Aaliyah: Ya Allah... jangan sekarang. Hamba mohon, jangan ambil Ayah sekarang. Nama baik beliau baru saja mulai pulih. Hamba ingin beliau melihat sendiri bahwa pesantren Al-Azhar akan bangkit kembali. Hamba ingin beliau tahu bahwa Aaliyah sudah kembali. Mengapa setiap kali ada secercah harapan, Engkau mengujiku dengan kegelapan yang lebih pekat? Ayah... bertahanlah. Putri kecilmu ada di sini.)
Di sampingnya, Zayn bisa merasakan getaran hebat dari tangan Aaliyah yang ia genggam. Genggamannya semakin erat, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatan yang ia miliki kepada wanita itu.
(Zayn membatin: Lihatlah betapa rapuhnya dia. Wanita yang tadi begitu berani meretas detonator bom, kini tampak seperti anak kecil yang tersesat di tengah badai. Aaliyah... aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Jika aku harus mendatangkan dokter terbaik dari seluruh dunia malam ini juga, aku akan melakukannya. Aku tidak akan membiarkan cahaya di matamu padam hanya karena kehilangan satu-satunya pilar hidupmu. Mengapa... mengapa rasa sakitmu terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan bagiku daripada saat aku kehilangan perusahaanku dulu?)
Pintu lift berdenting terbuka. Lorong ICU yang sunyi dengan pencahayaan putih yang steril menyambut mereka. Di ujung lorong, Dokter spesialis jantung sudah menunggu dengan wajah yang sangat serius.
"Tuan Zayn, Nona Aaliyah... syukurlah kalian sudah sampai," ucap Dokter itu cepat. "Kondisi Kyai Abdullah mengalami penurunan drastis akibat kegagalan fungsi paru-paru yang mendadak. Kami sudah memasang ventilator dengan pengaturan maksimal."
Aaliyah seolah kehilangan tumpuan. Ia jatuh terduduk di kursi tunggu kayu yang dingin. Air matanya tak lagi bisa dibendung, membasahi kain hitam yang menutupi wajahnya.
"Lakukan apa saja, Dok! Berikan obat terbaik, gunakan peralatan tercanggih yang ada! Saya tidak peduli berapa biayanya!" bentak Zayn, auranya kembali menjadi 'The Cold Lion' yang menakutkan, namun kali ini ada nada keputusasaan yang nyata di suaranya.
"Kami sedang mengusahakan yang terbaik, Tuan Muda. Tapi saat ini, yang paling dibutuhkan adalah respon dari pasien sendiri," jawab Dokter itu sebelum kembali masuk ke dalam ruang kaca yang dipenuhi monitor berdenyut.
Aaliyah menyandarkan kepalanya ke dinding, matanya menatap kosong ke arah pintu kaca ICU. Di dalam sana, di antara selubung selang dan kabel, sosok yang paling ia cintai sedang bertarung dengan maut.
(Batin Aaliyah menjerit: Ini salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkan Ayah sendirian di Jakarta. Seharusnya aku tidak membawa beliau dalam pelarian yang melelahkan ini. Fitnah itu... fitnah itu benar-benar telah meracuni jantung Ayah. Ya Allah... jika ini adalah hukuman atas segala dosaku, biarlah aku yang menanggungnya. Berikanlah sisa umurku untuknya. Ayah adalah cahaya bagi ribuan santri... jangan biarkan cahaya itu padam karena kebiadaban orang-orang seperti Sultan dan Sabrina.)
Zayn duduk di samping Aaliyah. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli pada batasan atau harga dirinya. Ia merangkul bahu Aaliyah, menarik wanita itu untuk bersandar di dadanya. Aaliyah yang biasanya sangat menjaga jarak, kini terlalu lemah untuk melawan. Ia membenamkan wajahnya di bahu Zayn, terisak sejadi-jadinya.
"Menangislah, Aaliyah. Jangan ditahan," bisik Zayn, suaranya sangat lembut, mengalir seperti oase di tengah gurun kesedihan Aaliyah. Tangannya mengusap punggung Aaliyah dengan gerakan yang sangat menenangkan.
(Zayn membatin: Di sinilah tempatmu, Aaliyah. Bersandarlah padaku. Aku mungkin pria kasar yang dulu menghinamu, tapi biarkan aku menjadi rumahmu malam ini. Aku akan menjadi dinding yang menghalangi semua badai yang mencoba merobohkanmu. Demi Tuhan, aku akan melakukan apa saja untuk melihatmu tersenyum lagi. Aku baru menyadarinya sekarang... bahwa hidupku yang tadinya hanya berisi angka dan dendam, kini telah sepenuhnya terjajah oleh keberadaanmu. Aku... aku tidak bisa membayangkan duniaku tanpa suaramu yang menenangkan itu.)
Beberapa jam berlalu dalam penantian yang menyiksa. Bi Inah datang membawa makanan dan minuman, namun tak satu pun yang menyentuh hidangan itu. Kesunyian lorong rumah sakit hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki perawat yang sesekali lewat.
Tengah malam, saat Aaliyah mulai tertidur karena kelelahan di bahu Zayn, sebuah pergerakan terjadi di dalam ruang ICU. Monitor yang tadinya mengeluarkan bunyi bip yang tidak teratur, tiba-tiba mengeluarkan suara panjang yang melengking.
Aaliyah tersentak bangun. "Ayah!"
Zayn segera berdiri, menahan Aaliyah yang ingin merangsek masuk. Dokter dan perawat berlari masuk ke dalam ruangan. Mereka melakukan tindakan darurat. Melalui kaca, Aaliyah melihat alat kejut jantung ditempelkan ke dada ayahnya. Tubuh Kyai Abdullah terhentak ke atas berkali-kali.
"Tidak! Ayah! Jangan tinggalkan Aaliyah!" teriak Aaliyah, ia memukul-mukul kaca dengan tangannya yang gemetar.
(Batin Aaliyah: Ya Allah! Ambil saja hamba! Jangan Ayah! hamba mohon... Laa ilaha illallah... Ya Allah, mudahkanlah segalanya... jangan biarkan dia pergi dalam penderitaan ini!)
Zayn memeluk Aaliyah dari belakang, mengunci tangan wanita itu agar tidak melukai dirinya sendiri. "Tenang, Aaliyah! Kau harus kuat! Doakan dia! Hanya doamu yang bisa sampai ke sana sekarang!"
Air mata Zayn pun ikut menetes, sebuah pemandangan yang tak pernah dilihat oleh siapa pun. Si Raja Es itu kini telah mencair total oleh penderitaan wanita di pelukannya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, monitor itu kembali mengeluarkan denyutan yang stabil. Dokter keluar dengan napas terengah-engah dan peluh bercucuran. Ia melepas maskernya dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa napas kehidupan bagi Aaliyah.
"Mukjizat," ucap Dokter itu pendek. "Tekanan darahnya stabil kembali. Dan yang luar biasa... ada respon kesadaran. Beliau terus membisikkan satu nama: Aaliyah."
Aaliyah jatuh tersungkur di lantai, sujud syukur yang paling lama dan paling tulus yang pernah ia lakukan. Zayn berdiri di sampingnya, menatap ke arah langit-langit, menggumamkan rasa syukur yang sudah lama tidak ia ucapkan.
(Zayn membatin: Terima kasih... terima kasih telah memberinya kesempatan kedua. Aku bersumpah, mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan ada satu tetes air mata kesedihan pun jatuh dari matanya. Aku akan membangun kembali dunianya yang hancur. Dan Kyai... aku akan menjaganya dengan segenap nyawaku.)
Dokter mengizinkan Aaliyah masuk selama lima menit. Dengan langkah gemetar, Aaliyah mendekati tempat tidur ayahnya. Ia meraih tangan ayahnya yang keriput dan menciumnya berkali-kali.
"Ayah... ini Aaliyah... Aaliyah sudah pulang, Yah..." bisiknya di telinga Kyai Abdullah.
Perlahan, mata Kyai Abdullah terbuka sedikit. Meskipun sangat lemah, ia melihat putri kesayangannya di sana. Bibirnya bergerak tanpa suara, namun Aaliyah bisa membacanya: "Anakku... maafkan Ayah..."
"Tidak, Yah... Ayah tidak salah. Aaliyah yang minta maaf..." isak Aaliyah.
Zayn berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan hati yang tersentuh. Namun, ketenangannya terusik saat ponselnya bergetar di saku jasnya. Sebuah pesan singkat dari tim intelijennya di Jakarta.
"Tuan Muda, Sultan berhasil melarikan diri dari pengawalan saat menuju kantor polisi. Dia diduga menuju rumah sakit. Waspada."
Wajah Zayn seketika mengeras. Matanya menyapu lorong rumah sakit yang sepi. Bahaya belum berakhir. Sultan yang terluka dan terdesak adalah binatang buas yang paling berbahaya.
(Zayn membatin: Jadi kau memilih mati di tanganku, Sultan? Baiklah. Jika kau berani menginjakkan kaki di lantai ini, aku pastikan kau tidak akan pernah keluar lagi dengan kaki yang utuh. Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk menyerah, sekarang giliranku memberikanmu hukuman.)
Zayn mendekati Aaliyah dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Aaliyah, aku harus keluar sebentar untuk mengurus sesuatu. Tetaplah di sini, jangan keluar dari ruangan ini apa pun yang terjadi. Pengawalku ada di depan pintu."
Aaliyah menatap Zayn dengan cemas. "Zayn? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Zayn memegang pipi Aaliyah sejenak melalui niqabnya, sebuah sentuhan yang sangat dalam dan penuh makna. "Hanya masalah kecil. Aku akan kembali sebelum kau merindukanku. Percayalah padaku."
Zayn keluar dari ruangan dengan langkah yang mantap, menarik pistol dari balik pinggangnya dan menyembunyikannya di balik jas. Perang di gedung putih yang steril ini baru saja akan dimulai.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji