Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
balas dendam
SEBULAN KEMUDIAN...
Di sebuah resort mewah yang mengapung di atas bukit hijau dengan hamparan kota yang memukau di kejauhan.
Udara pagi segar bercampur aroma bunga mawar yang menghiasi setiap sudut area pernikahan—hari ini, putri keluarga Vandross yaitu Camille Vandross akan mengikat tali asmara dengan tunangannya dari keluarga Petersburg, dua nama besar yang menjulang tinggi di kalangan masyarakat elit Inggris.
Hari itu, setiap sudut resort penuh dengan kegembiraan yang terasa tegang sekaligus. Pelayan berpakaian jas hitam bersih bergerak dengan gesit, menyusun hidangan mewah dan menyetir dekorasi bunga yang melambai di bawah angin.
Area seluruh kompleks dijaga ketat oleh pasukan keamanan dari kedua belah keluarga—mata mereka tajam mengawasi setiap gerakan, tak ingin ada satu pun kesalahan yang merusak momen penting ini.
Maple berada di tengah kerumunan tamu yang sudah mulai menghadiri acara, mengenakan seragam pelayan yang pas di tubuhnya.
Wajahnya tenang dan ramah, seolah tak ada beban apa pun di pundaknya saat ia melayani tamu dengan tangan terampil—menuangkan anggur merah ke dalam gelas, menyampaikan sapuan dengan senyuman hangat.
*
Setelah beberapa saat, ia mengambil nampan berisi sebotol air mineral dingin dan sebuah bungkusan kecil yang tertutup rapat.
Dengan langkah cepat namun hati-hati, ia menyusuri lorong-lorong berkarpet tebal resort, menghindari area ramai menuju kamar rias pengantin yang terletak di lantai atas dengan pemandangan kota yang indah.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pelan terpotong oleh teriakan nyaring yang pecah dari dalam kamar, diikuti dengan suara pecahan kaca yang menggonggong keras: PYAAR....
"Siapa di luar?" Tanya seorang wanita dengan nada tinggi dan sombong dari dalam, terdengar sedikit terengah-engah.
"Saya dari pelayanan, nona. Saya membawa air mineral dan pesanan khusus yang Anda minta." Jawab Maple dengan nada yang tenang dan sopan.
"Masuk!" Perintah wanita itu tanpa ragu.
Ceklek...
Maple membuka pintu perlahan, dan pemandangan di dalam kamar membuatnya sedikit mengerutkan kening—meskipun ekspresinya tetap terkendali.
Dua wanita muda yang tampaknya sebagai asisten rias pengantin berdiri dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
Salah satunya memegang lengan kirinya yang mengalir darah merah pekat, pecahan kaca kecil berserakan di lantai kayu parket di dekat kakinya.
Wanita yang lain memiliki wajah dan rambut yang berantakan, bekas luka memerah di pipinya seolah habis dipukul atau diperlakukan kasar.
"Kenapa kau baru datang?" Ucap Camille Vandross, pengantin wanita yang duduk di depan cermin besar dengan pakaian pengantin putih mewah yang sudah dikenakannya. Ia melirik ke arah Maple dengan mata tajam, bibirnya sedikit menggigil seolah sedang menahan sesuatu.
"Maaf, nona. Pengawasan di area ini sangat ketat—saya harus melalui beberapa pemeriksaan tambahan sebelum bisa masuk." Jawab Maple dengan nada yang tetap sopan.
"Kalian berdua, keluar sekarang!" Camille membentak kepada kedua asisten yang ketakutan. Tanpa berlama-lama, mereka segera keluar dengan langkah tergesa-gesa, salah satunya masih memegang lengan yang berdarah.
"Sekarang, berikan padaku yang cepat!" Ucap Camille setelah pintu tertutup dan hanya mereka berdua yang tersisa di dalam kamar.
Maple mendekati tempat duduknya dengan langkah perlahan, lalu memberikan kotak obat berwarna putih yang terbuat dari kayu dan sebotol air mineral.
Camille membuka tutup kotak dengan cepat, tangannya sedikit gemetar saat mengambil beberapa pil kecil berwarna kecoklatan, langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Tanpa ragu, ia meneguk air mineral hingga botolnya tersisa sekitar setengah bagian.
"Buang semua ini di tempat yang jauh—jangan sampai ada orang yang menemukan bukti apa pun. Ingat hal ini dengan baik!" Ancaman Camille sambil menunjuk ke arah kotak dan botol bekas, matanya penuh dengan ancaman.
"Baik, nona." Jawab Maple dengan anggukan.
"Pergilah sekarang. Acara akan segera dimulai." Ucap Camille sambil menghadap kembali ke cermin, mulai menyisir rambutnya yang sudah dihias dengan mahkota bunga.
Maple mengangguk, lalu berbalik menuju pintu. Sebelum membukanya, ia berhenti sejenak dan mengucapkan dengan nada yang lembut namun jelas: "Selamat atas pernikahan Anda, nona. Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya." Kemudian ia membuka pintu dan keluar dengan senyuman tipis yang hanya terlihat oleh dirinya sendiri.
*
Setelah keluar dari kamar, Maple bergerak dengan keahlian melewati setiap titik CCTV yang ada di resort—seolah ia sudah menghafal setiap lokasinya dengan sempurna.
Ia keluar dari pintu belakang resort, di mana sebuah taksi hitam sudah menunggu di tempat yang sedikit terpencil, jauh dari pandangan orang banyak. Tanpa banyak bicara, ia masuk ke dalam taksi dan menutup pintunya dengan lembut.
Sepanjang perjalanan, Maple hanya diam. Kedudukannya tegak dan pandangannya kosong menatap jalanan yang melewati—gedung-gedung tinggi London yang menjulang, orang-orang yang sibuk berlalu lalang, dan warna-warni iklan yang menyala di sisi jalan.
Taksi berhenti di persimpangan lampu merah di tengah kota pusat. Di sana, sebuah papan reklame besar sedang menyiarkan siaran langsung acara pernikahan keluarga Vandross.
Layar besar menunjukkan Camille yang sedang berjalan dengan anggun di sisi ayahnya, menuju altar yang dihias dengan bunga putih dan biru muda.
Namun tepat di tengah jalan menuju altar, tubuhnya tiba-tiba menggigil, wajahnya memucat seperti kain kertas, dan ia merintih kesakitan yang menusuk sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
Tak lama kemudian, ia mulai batuk hebat dan darah merah pekat keluar dari mulutnya, mengotori gaun pengantin putihnya yang bersih.
Beberapa saat kemudian, ia pingsan sepenuhnya. Wajah-wajah tamu yang tadinya penuh senyum berubah menjadi terkejut dan panik—keluarga Vandross berteriak meminta bantuan medis, dan kerumunan segera bergegas ke arahnya.
Melihat adegan itu di layar, Maple mengangkat sudut bibirnya dengan senyuman tipis yang penuh makna. "Ini balasan dariku," bisiknya dalam hati, sambil menatap layar dengan pandangan yang sudah tidak lagi kosong.
Tak lama kemudian, lampu merah berubah menjadi hijau dan taksi melanjutkan perjalanannya menuju tujuan yang belum diketahui.
*
*
*
Rex, pemuda tampan dengan jas hitam yang rapi, sedang dalam perjalanan menuju resort dengan mobil mewahnya yang melaju di jalan raya London.
Tiba-tiba, suara dering ponselnya memecah kesunyian dalam mobil. Setelah menjawab panggilan, wajahnya yang tadinya datar berubah menjadi sangat serius—bahkan sedikit terkejut.
"Camille Vandross? Ia meninggal saat acara pernikahannya. Cari tahu semua detail dan kebenaran di balik kejadian ini. Kabari aku secepat mungkin. Aku akan langsung ke markas sekarang." Ucap Rex dengan nada tegas sebelum menutup panggilan dengan cepat.
"Apa yang sebenarnya terjadi..." Gumamnya dengan suara rendah. Tanpa berlama-lama, ia memutar setir mobilnya dengan cepat, mengubah arah perjalanan menuju gedung tinggi yang menjadi markas pribadinya.
Saat sampai di markas, Rex langsung menuju ruang kerjanya yang luas dan modern. Di sana, asistennya yang sudah menunggu dengan wajah serius segera menghampirinya.
"Tuan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan Camille mengalami overdosis parah. Pihak forensik menemukan zat terlarang jenis X dalam tubuhnya—rupanya ia sudah lama menggunakannya. Namun keluarga Vandross sangat tidak percaya jika ini hanya kecelakaan; mereka menduga ada orang yang sengaja menyebabkan hal ini. Bukti CCTV dari resort menunjukkan seorang pelayan yang bertindak mencurigakan—ia masuk ke kamar rias pengantin dan keluar beberapa saat kemudian, sebelum kejadian itu terjadi." Ucap asistennya sambil memberikan sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV.
"Pelayan?" Tanya Rex dengan nada tajam, matanya menyala dengan kekhawatiran yang semakin besar.
Asistennya memutar rekaman CCTV—gambarnya tidak terlalu jelas, dan wajah pelayan tersebut tertutupi oleh topi seragam dan sudut kamera yang kurang ideal.
Namun meskipun begitu, Rex langsung mengenali sosok yang bergerak dengan langkah khas itu.
Bentuk tubuhnya, cara ia berjalan, dan gerakan tangannya yang terbiasa—semuanya sangat akrab baginya.
"Maple..." Bisik Rex dalam hati.