Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Indah
Nina meremas jilbab yang dikenakannya, dia tengah risau takut fakta yang disembunyikannya terbongkar. Nina tidak mau, Ammar tau tentang janin kembarnya.
Ammar memintanya untuk tetap di mobil hingga lelaki itu mendapatkan kabar dari Alex. Entah siapa dia. Nina baru mendengar namanya.
Padahal mobil sudah berada di halaman rumah semenjak lima belas menit yang lalu. Tapi Ammar sama sekali tak mengizinkannya turun dari mobil.
"Masih tetap tidak mau bicara jujur, kamu?" Ammar hanya melirik sekilas. Sambil menunggu laporan dari Alex, dia memeriksa email yang masuk dari macbook miliknya.
Nina menoleh sejenak, tapi memilih kembali menunduk. Sama sekali tidak mau buka mulut. Meski rasa takut menyelimuti jiwanya.
"Oke, kalau itu mau kamu." Ammar membuang napas kasar. "Itu artinya kamu harus menanggung resiko." Ancamnya.
Mata cokelat itu melebar. "Resiko?"
"Hmmm ... Resiko." Ammar menyeringai. "Kamu takut?"
Nina menggeleng, tentu itu bohong. Sekarang ini dia takut luar biasa. Nina takut jika lelaki ini akan menyakiti anak-anaknya seperti ancaman Damian.
Ammar memasukan macbook di tas miliknya. Lalu memegang lengan Nina, agar perempuan ini menghadap kearahnya. "Tadinya aku ingin memperpanjang kontrak. Aku ingin kamu mengasuh anakku sampai dia disapih. Tapi sikap kamu yang tidak mau terbuka, membuat aku berpikir ulang untuk ..." Ammar sengaja menggantung ucapannya.
"Untuk aa ... apa?" Dari balik jilbab dan Gamis yang dikenakan, mengalir keringat dingin. Bukan karena sakit, Nina sedang merasakan takut.
"Aku akan mengambil anak itu begitu kamu melahirkan dan aku tidak akan pernah mengizinkan kamu melihatnya."
Mendengar hal itu, luruh sudah bulir yang sedari tadi Nina tahan mati-matian. Dia tau ini akan terjadi. Tapi setelah beberapa bulan ini mengandung dan mendengar detak jantung dari bayinya. Naluri keibuannya muncul, dia tidak rela menyerahkan darah dagingnya sendiri untuk dirawat perempuan lain.
Nina bahkan rela melepaskan harta satu-satunya yang tersisa dari orang tuanya, demi mempertahankan hak asuh si kembar dari keluarga mantan suaminya.
Bagaimana bisa sekarang dia harus berpisah dan tidak diizinkan bertemu dengan bayinya? Meski hanya kontrak, tetap saja Nina tak rela.
Nina sempat berpikir, meminta pada Ammar untuk diizinkan mengasuh anaknya nanti. Tidak apa jika tidak dipanggil 'ibu', asal tetap bisa merawat mereka. Nina rela. Walau mungkin nantinya hatinya sakit.
"Saya mohon Tuan! Jangan pisahkan kami. Saya rela menjadi pengasuh mereka tanpa dibayar." Nina memohon dengan sangat.
Lihat bagaimana Ammar dengan mudah menemukan kelemahan istri kontraknya itu. Perempuan yang membuat hatinya berpaling dari istri yang dicintainya selama belasan tahun. Perempuan sederhana yang memiliki bibir merah muda dan mata cokelat yang indah. Hati Ammar porak poranda gara-gara perempuan ini.
Sengaja Ammar tidak muncul selama tiga bulan, dia ingin mengamankan hati agar tidak terlalu jauh berpaling dari Leti. Tapi semakin hari bayangan wajah tak berdaya Nina ketika di bawahnya, raut judesnya. Membuat hatinya galau tak karuan.
Padahal selama belasan tahun menikah, ketika dia berjauhan dengan Leti. Sudah banyak perempuan dari berbagai kalangan berusaha menggodanya. Tapi tidak satupun berhasil membuatnya tergoda.
Namun hanya karena ciuman bibir dan berakhir berhubungan intim dengan perempuan biasa seperti Nina. Hal tersebut membuat hati Ammar kebat-kebit tak karuan.
Ammar memang berencana mencari ibu pengganti untuk calon pewarisnya, hanya itu. Saat pertama kali bertemu Nina, juga sama. Tapi setelahnya? Apalagi ketika mereka berjauhan.
Dan setelah tau Nina hamil anaknya, keyakinan Ammar begitu kuat untuk menjadikan perempuan itu Istri sebenarnya. Bukankah diperbolehkan jika laki-laki memiliki lebih dari satu istri?
Toh secara finansial, Ammar sangat berlebih. Lalu soal perhatian, tentu dia berusaha adil.Tapi mungkin di masa depan, dia akan sering lebih lama bersama Nina dan anak mereka. Sedangkan Leti, mereka bisa bersama ketika istri pertamanya itu ada waktu senggang. Mungkin satu tahun tiga sampai empat kali mereka bisa bertemu.
Dari sudut hatinya yang terdalam, Ammar ingin merasakan kehidupan rumah tangga pada umumnya. Dia bekerja dari pagi sampai sore dan pulang disambut oleh senyum istri dan anaknya.
Terkadang Ammar iri dengan asistennya. Apalagi ketika Damian menceritakan bagaimana enaknya masakan Sania dan tubuh kembang Paris, putri mereka.
Kehidupan memang seperti itu. Disaat yang lain melihat mereka bahagia karena tidak kekurangan harta. Tapi mereka tidak tau, bagaimana kesepiannya seorang yang memiliki banyak harta tapi tak ada sosok untuk mereka 'pulang' guna melepas penat.
"Belum apa-apa kamu tidak mau terbuka padaku. Bagaimana bisa aku menaruh kepercayaan pada kamu, soal masa depan anakku nanti?"
Skakmat
Nina langsung bungkam, ini resiko yang harus dia hadapi. Dia berpikir, tak perlu jujur soal dua janin yang ada di rahimnya. Toh Ammar hanya butuh satu pewaris saja, kan?
"Masih tidak mau jujur?" Ammar mengulangi perkataannya. "Lihat saja, apa yang akan aku lakukan."
Untuk pertama kalinya, Nina berani menggenggam tangan suami kontraknya dalam arti berinteraksi secara normal. "Saya hamil anak kembar." Katanya cepat. "Saya sengaja merahasiakan agar nanti, satu bayi bisa saya urus sendiri." Awalnya memang begitu, tapi mendengar detak jantung bayinya. Nina benar-benar tidak rela melepas mereka. Dia merasa tidak adil. "Tapi Tuan, saya mohon. Izinkan saya untuk menjadi pengasuh mereka." Pintanya mempererat genggaman tangannya. "Anda tidak perlu membayar saya. Saya akan menyusui dan merawat mereka dengan baik. Dan saya janji mulai sekarang tidak akan menyembunyikan apapun dari anda."
Mendengar pengakuan mengejutkan itu, Ammar mengga tak percaya. Apa tadi Nina bilang? Kembar?
Diusianya yang menginjak empat puluh dua tahun, Ammar bisa memiliki dua anak sekaligus dalam satu waktu. Padahal dia dulu sempat berpikir untuk mewariskan semua jerih payahnya pada Leti atau menyumbangkan ke lembaga amal.
Apa sebaik itu kualitas sper** nya? Hingga hanya semalaman berhubungan intim langsung jadi bayi kembar.
Lalu kenapa dulu diawal menikah dengan Leti, tak sekalipun jadi bayi? Padahal seingat Ammar, dia sekalipun tidak memakai pengaman.
"Tuan ... Saya mohon!! Saya akan mengembalikan seluruh uang yang anda beri, asal izinkan saya mengasuh mereka." Nina menangis terisak-isak.
Ammar hanya diam, pikirannya tengah menyusun apa saja yang dilakukannya nanti untuk anak-anaknya.
Dadanya terasa penuh, ada rasa bahagia tak terkira. Ini lebih menggembirakan dibandingkan dirinya yang berhasil menemukan cadangan minyak baru. Ini pertama kalinya dia merasakannya.
Ammar juga membayangkan bagaimana mulut-mulut kecil itu memanggilnya dengan sebutan 'Abati'. Belum lagi ketika matanya melihat dua wajah menggemaskan yang setiap sore akan menyambutnya pulang dari bekerja.
Ah ... Membayangkannya saja, membuat Ammar tersenyum tanpa sadar. Padahal urusannya dengan Nina belum selesai.
"Akan aku pikirkan." Seketika raut wajahnya berubah drastis, Ammar memasang wajah dingin. "Bersikaplah yang baik, layaknya seorang istri dan jangan lagi berbicara dengan ku memakai bahasa formal. Aku suami mu dan kamu istriku."
Ingin sekali Nina menyangkal, tapi dia ingat izin mengurus calon bayi-bayi sepenuhnya dipegang oleh sosok lelaki asal Timur Tengah ini.