NovelToon NovelToon
The Masquerades

The Masquerades

Status: sedang berlangsung
Genre:Robot AI / Dunia Masa Depan
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Capella Starheart!

Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.

Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.

Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.

Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.

Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?



(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Part 2)

[BAB 2: Kembali Dengan Selamat]

Capella berlari kencang berusaha mengejar langkah gesit Leslie yang tidak normal. di lorong akademi yang gelap.

Senter Bu Flora sudah hilang saat serangan di wilayah lab tadi. Dia tidak sempat mencarinya.

Leslie melesat di depannya sesekali dengan melakukan langkah-lompatan aneh, seperti anak kucing yang sedang bermain_ tapi tanpa suara sedikitpun.

Yang lebih aneh lagi, gadis itu seakan sama sekali tidak membutuhkan cahaya.

Capella tidak menyadari pupil vertikalnya menyempit dan melebar sesuai ritme langkah mereka.

"Leslie, pelan...," Capella baru saja ingin memprotes saat mereka mendekati persimpangan lorong menuju area kelas utama, tapi suaranya terhenti di tengah jalan.

Lampu merah darurat di atas kepala mereka berkedip sekali... dua kali... Dan Leslie lenyap.

Lenyap begitu saja.

Capella berhenti mendadak, napasnya terengah di tengah lorong yang tiba-tiba sunyi. "Leslie?" bisiknya, suaranya pecah di tenggorokan.

Kepalanya menoleh kesekitar mencari keberadaannya.

Sama sekali tidak ada jejak.

"Jalan saja terus." Suara Leslie mendesis tiba-tiba dari udara kosong seakan dari segala arah, membuat Capella tersentak. "Kita akan bertemu lagi nanti." Kata-kata itu menggantung di udara seperti asap sebelum menghilang, meninggalkan Capella dengan detak jantung yang masih berdebar.

Capella melambatkan langkahnya saat cahaya darurat merah dari lobi utama mulai menerangi wajahnya yang berkeringat.

Kaki-kakinya terasa seperti diisi timah, setiap langkah membuat debu beterbangan dari jaket ungu asimetrisnya.

Ketika dia berbelok ke sudut terakhir, dua sosok yang sangat dikenalnya muncul dari balik bayangan_ Bellatrix di kursi rodanya dengan ekspresi khawatir, dan Eric yang berdiri di belakangnya dengan ekspresi wajahnya yang menyembunyikan rasa takut.

"Capella!" teriak Bellatrix, suaranya pecah antara lega dan panik. Melalui sorotan senter dari kursi rodanya, matanya yang abu langsung memindai setiap detail Capella_ jaketnya, sampai rambut keemasannya yang berantakan, dan wajah pucat yang masih bernoda asap. "Apa yang terjadi?! Kamu hilang hampir setengah jam!"

Capella menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. "Aku... hanya sedikit tersesat," katanya sambil menyeka keringat di dahinya. Lidahnya terasa kaku saat dirinya berusaha berbohong.

"Dan... Aku sempat terjatuh di tangga tapi aku tak apa!" Tambah dari Capella, agar sesuai dengan penampilannya sekarang yang seperti habis meloloskan diri dari medan peperangan.

Mendengar ucapan Capella, Bellatrix langsung menyipit tajam dan memutar kursi rodanya dengan gerakan kasar ke arah Eric. "Lihat apa akibatnya! Ini salahmu!" hardiknya, jari-jarinya yang ramping mencengkeram roda berlapis logam hingga berbunyi.

Eric menggaruk-garuk kepala dengan wajah merah padam. Rambutnya yang biasa rapi sekarang berantakan seperti sarang burung. "Aku pikir ada hantu... ," protesnya lemah.

"Kamu seharusnya yang ke sana! Dan Kamu juga malah ngumpet di toilet selagi aku memeriksa generator di luar akademi... Sendirian!!" Lanjut Bella, pas tiba di kalimat terakhir dia langsung melajukan kursi rodanya dan menginjak sepatu Eric dengan jengkelnya.

Hidungnya mendengus kesal.

"Ah! Bella!" Eric cepat-cepat membebaskan kakinya yang kali ini terus dilindas Bellatrix tanpa menarik mundur kembali kursi rodanya.

Capella melangkah di antara mereka dengan tangan terangkat membuat jarak antara mereka.

"K Kalian berdua... Kumohon!" Menoleh ganti pada mereka.

Bellatrix memutar kursi rodanya dengan cepat ke arahnya, matanya yang tajam langsung bergeser padanya.

"Dan Galactic?" tanya Bellatrix tiba-tiba, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi logam. "Dia juga dari tadi tidak kembali." Suaranya datar tapi Capella bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam di balik pertanyaan itu_ seperti benang merah yang ditarik terlalu kencang.

Capella mengerutkan kening, bibir bawahnya tergigit tanpa sadar. Matanya melirik ke lorong gelap di belakangnya, arah di mana dirinya tadi baru saja kembali.

"Um... Dia..." Mulutnya tiba-tiba kering seperti tidak minum seharian, lidahnya terasa terlalu besar untuk kata-kata sederhana.

Lalu... seperti jawaban dari langit...

Seluruh lampu di akademi menyala tiba-tiba dengan suara... Dlark! bergema.

Suara domino dari jejeran lampu menyala bergiliran semakin menjauh bergema di lorong-lorong.

Cahaya putih menyapu wajah mereka bertiga, membuat Capella mengedip-ngedipkan mata yang sudah terbiasa gelap selama setengah jam terakhir.

Di atas kepala mereka, langit-langit lobi utama hidup kembali dengan logo VENOM besar yang menyala, memantulkan kilau ke dinding-dinding beton.

Capella mendongak bersama Bellatrix dan Eric, melihat bagaimana cahaya itu menerangi setiap tubuh mereka yang dari tadi ditelan kegelapan. Seperti sedang uji nyali di tempat berhantu.

Bayangan dari kursi roda Bellatrix kembali terpantul di lantai seperti siluet makhluk asing.

Ketika dia menurunkan pandangannya lagi, Capella menemukan suaranya yang hilang tadi.

"...Dia memperbaiki generatornya," katanya, Capella melanjutkan alasannya tapi sekarang lebih berani sambil tersenyum terpaksa dan mengangguk. Satu alasan terlintas paling tepat menurutnya.

"Hm~ Aku tidak tahu kalau Galactic mengerti soal mesin," Bellatrix mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Bukannya rencana kita tadi... Tunggu dulu... Apa yang terjadi sebenarnya?!"

Betapa berdebarnya dia pas Bellatrix menyipitkan matanya begitu tajam penuh pertimbangan. Sedangkan Eric tidak memikirkan sejauh itu.

"Yah.. Apapun yang kalian lakukan... Kalian hebat! Aku bangga pada kalian!" Tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi santai. Matanya yang tadi menyipit penuh kecurigaan langsung kembali terbuka lebar dalam sekejap.

Mengedikkan kedua bahunya lalu memutar kursi rodanya pergi.

"Eric!! Cepatlah! kita harus memecahkan tantangan kode itu!" Teriaknya pelan yang sudah menjauh ke salah satu koridor. Eric segera menyusul.

Capella bisa mengambil nafas lebih lega. Dia berhasil! Setidaknya untuk membuat alasan palsu.

Selesai dari situ Capella berkumpul kembali bersama Galactic dan kembali menemui Bu Flora di ruangannya.

"Maaf Bu Flora... Aku menghilangkannya," Ucapnya lemas, lirikan matanya menunduk.

Awalnya Bu Flora hanya terdiam memandang Capella, Tapi, Dia tiba-tiba menunjukan senyum kecil_ bukan guru yang merasa kecewa, melainkan seperti lengkung bibir hangat seorang ibu yang baru saja melihat anaknya selamat dari badai.

"Kalian berhasil. Itu.. yang terpenting," Lirihnya. Pandangannya berganti dari Capella ke Galactic, lalu kembali pada Capella. "Itu hanya senter. Satu rusak, Ibu bisa membuat dua baru lainnya!"

Perlahan tubuhnya beranjak berdiri dari balik meja dan memutar menghampiri Capella.

Gadis itu mengikuti kemana Bu Flora bergerak. Tubuhnya berputar sendiri menghadap samping ketika wali kelasnya berdiri tepat di hadapannya.

Wajah Capella mendongak.

"Ibu berterimakasih.. Ya! Kalian semua!" Tangannya memijat bangga di satu bahu Capella.

Galactic berdiri kaku di belakang Capella, tangan-tangannya terkunci di belakang punggung.

Bu Flora memandang mereka bergantian, tatapannya berhenti lebih lama di Galactic sebelum kembali ke Capella.

"Aku tidak tahu bagaimana kalian melakukannya," ujarnya sambil mengangguk pelan, "Tapi... Terima kasih." Lagi dari Bu Flora.

Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan tekanan aneh, seperti kode rahasia antara dua mata di tengah keramaian.

Bu Flora, baru menyadari betapa berantakannya penampilan Capella ketika matanya bergeser turun ke pakaiannya.

"Sayang..." Suara Bu Flora tiba-tiba berat, tangannya menyentuh dagu Capella dengan lembut. "Kamu yakin masih bisa ikut di lab nanti?"

Capella bisa mencium aroma khas Bu Flora_ bau ruang lab dan sesuatu seperti benda antik yang sudah lama tersimpan.

Di belakang, mata Galactic melirik fokus pada Capella, seperti berusaha menyampaikan pesan diam-diam.

Capella tahu pertanyaan itu bukan sekadar kekhawatiran guru pada murid yang terluka.

"Meja lab utama," bisik Bu Flora, jarinya mengetuk-ngetuk meja guru dengan ritme tertentu_ dua ketukan pendek, satu panjang. "Seperti yang kita bicarakan kemarin."

Capella mengangguk cepat. "Aku baik-baik saja, Bu," jawabnya sambil menggosok sisi sebelah lengannya yang terbuka.

Bu Flora hanya mengangguk dengan senyum lengkung bibir yang kembali naik.

Kembali berputar duduk di balik mejanya, "Kau bisa bersihkan badanmu! Habis itu, kalian bisa kembali ke kelas," Ujarnya, tangannya menarik ambil sebuah senter dari atas meja_ tepat di depan berdiri Galactic_ lalu menyimpannya di balik laci.

Syukurlah yang tadi sudah selesai.

Maksudnya momen ketika bermain petak umpet dengan gadis berhoodie yang ternyata adalah monster itu.

Tapi yang membuatnya jadi penasaran... Bagaiamana dia bisa menyusup masuk ke sana?? Dan apa yang sebenarnya sedang diincarnya?

1
7 ANGEL KNIGHT
Pengumuman:
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
7 ANGEL KNIGHT
/Casual//Casual//Casual/
7 ANGEL KNIGHT
Terimakasih yang udah mau mampir dan baca, Mudah-mudahan suka dengan dunia yang aku buat di sini! Dan silahkan semisal ada yang mau ditanya, atau semisal ada "Anomali" di novel aku silahkan kasih tau aja nanti aku cek ya, Thankyou📝
T28J
lanjutannya kak
7 ANGEL KNIGHT: Iya👍 Ini lagi ada sedikit rapihin yang udah ada dulu ya. Otw bab barunya. Episode 1= 6 Bab semua udah dirapihin dan siap baca. Untuk Episode 2 sama 3 tunggu ya masih dirapihin soalnya👍
total 1 replies
T28J
Thor, ini masih narasi semua, ceritanya kapan dimulai? 🤔
T28J: oke gak papa Thor, saya juga maklum karena ini fantasi
total 2 replies
T28J
masih sedikit bingung dengan kata-kata dari penjelasannya...
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥
7 ANGEL KNIGHT: Chapter selanjutnya juga jangan lupa di baca ya😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!