Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Mengabaikan Diri Sendiri
Mata mulai terbuka. Dahinya terasa berat. Ketika disentuh ternyata ulah handuk putih bekas kompres. Senyum pun melengkung. Tak menunggu lama, lelaki itu mulai ke dapur. Berjibaku dengan bahan makanan untuk membuat sarapan spesial. Wajah datar itu terlihat lebih berseri.
Sudah setengah jam makanan sudah berada di atas meja makan. Tapi, sang gadis yang dia tunggu tak jua keluar. Lelaki yang sudah rapi dengan pakaian formal mulai mengetuk pintu kamar. Satu kali, dua kali, tak ada jawaban. Sampai ketukan kelima pun sama sekali tak ada jawaban. Rasa curiga mulai hadir. Tangannya mulai memberanikan diri menekan gagang pintu. Kondisi kamar masih gelap. Ketika lampu dinyalakan, tempat tidur sudah sangat rapi. Tak ada tanda-tanda penghuni di sana.
"Nika!"
Perasaannya semakin tak tenang. Dia pun mulai nekat membuka pintu kamar mandi dan ternyata tak ada siapapun di sana. Segera dihubungi seluruh anak buahnya untuk mengecek ke kampus. Dan dia mulai mengecek cctv.
"Kok gini?"
Cctv tak bisa diakses. Bukan hanya di sekitaran unit hunian Nika, di area lainnya pun sama sekali tak bisa diakses. Semakin tak bisalah Ezra berpikir jernih. Apalagi laporan anak buahnya mengatakan jika Nika tak ada di kampus.
Lelaki itu memang tak banyak berkata. Tapi, raut wajahnya tak bisa berdusta. Dia sudah memanggil seluruh anak buahnya untuk diinterogasi. Harusnya mereka melihat Nika keluar apartment.
"Kami tertidur semua, Boss."
Erangan kesal pun terdengar sangat jelas. Tak ada kata yang terucap, tapi siluet kemarahan begitu nampak. Tangannya sudah mengepal dan meninju tembok hingga darah mengalir dan menempel di dinding.
"Lacak semuanya! Saya enggak mau tahu hari ini sudah ada laporannya."
Kalimat itu lemah, tapi masih mengandung emosi. Dipijatnya pangkal hidung karena pikirannya sudah sangat kacau. Ditambah kepalanya terasa ditusuk-tusuk.
Menghubungi Nika terus dicoba, tapi selalu tak bisa. Dia melihat cangkir bekas teh buatan Nika semalam. Dia tersenyum pedih karena ternyata di dalam cangkir itu berisi obat tidur yang begitu ampuh hingga membuatnya tidur sangat nyenyak.
"Ke manapun kamu pergi, saya harus tetap menemani. Walaupun tak menampakkan diri."
Informasi dari kampus sudah didapat. Ternyata Nika mengambil cuti untuk sepuluh hari ke depan. Sayangnya, Ezra tak tahu akan informasi itu. Dari pihak orang tua ataupun paman Nika saja tak memberitahunya. Ada apa sebenarnya?
Sedari pagi tak ada yang masuk ke dalam perut Ezra Naradipta. Dia sama sekali tak nafsu makan. Untuk minum pun dia hanya mau meminum teh susu hangat kesukaan Nika.
"Boss, terlihat Nona Nika di bandara semalam. Dan tercatat juga Nona Nika terbang ke Jepang."
"Jepang?" Ezra mulai berpikir. Ada siapa di negeri sakura?
"Segera pesankan tiket pesawat ke Jepang yang paling cepat."
Sambil menunggu tiket penerbangan, dia sudah mengerahkan orang-orang yang kepercayaannya di sana untuk mencari keberadaan Nika. Selama bekerja dengan Ezra Naradipta, pengawal yang sudah menjadi tangan kanan Ezra baru melihat lelaki itu l secemas ini. Bukan mencemaskan sebagai gadis yang dia jaga. Melainkan gadis yang dia cinta. Sikap dan tutur kata Ezra begitu berbeda jika tengah menghadapi Nika. Begitu lembut walaupun masih sedikit dingin.
Ezra pun mulai mencari tahu kenapa Nika pergi ke Jepang. Apakah ada sanak saudara atau teman. Lagi dan lagi tak ada informasi apapun.
"Aneh. Benar-benar aneh," erangnya penuh kekesalan.
Selama mengudara untaian doa dia langitkan. Hanya satu doa yang terus dirapalkan. Ingin melihat Nika. Itu saja. Sederhana, tapi sepertinya akan mengalami banyak kesulitan.
Benar saja tibanya di Jepang, semua orang kepercayaan Ezra tak menemukan jejak perihal gadis yang tengah dia cari. Semangat yang menggebu mulai layu. Tubuhnya pun mulai menunjukkan reaksi buruk.
"Boss, kita ke rumah sakit."
Wajah Ezra sudah begitu pucat. Makanan yang disediakan pun sama sekali tak disentuh.
"Saya tidak akan pernah berhenti mencari Nika sebelum titik terang ada."
Lelaki itu sangat keras kepala ditambah memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keselamatan Nika. Meskipun hati kecilnya mengatakan jika kepergian Nika ada campur tangan dari keluarga pihak sang gadis. Tapi, dia tak ingin menyerah begitu saja.
Hanya seorang Nayanika yang mampu membuat Ezra khawatir sampai tak mempedulikan tubuhnya. Pengawal yang ada di sampingnya sudah menyiapkan dokter di mobil belakang untuk berjaga-jaga karena kondisi Ezra sudah semakin melemah.
Baru saja tiba di hotel untuk istirahat, tubuh Ezra limbung dan tak sadarkan diri. Untungnya ada dokter yang bersiap sehingga tak perlu dibawa ke rumah sakit.
"Nona, di mana Anda sekarang? Tahukah Nona kalau Bos benar-benar mengkhawatirkan Nona."
Pengawal yang sudah bekerja di bawah perintah Ezra selama empat tahun sangat tahu bagaimana sikap sang bos. Tak pernah sang bos turun langsung ke lapangan sampai segila ini. Sampai tak memikirkan kondisi dirinya sendiri.
Mata terpejam dengan jarum infus yang sudah tertancap di punggung tangan. Sebenarnya dokter menyarankan untuk menjalankan perawatan di rumah sakit, tapi mereka teringat akan pesan Ezra di mana lelaki itu akan terus turun langsung mencari gadis yang tetiba hilang.
Dua jam berlalu, mata yang begitu rapat mulai terbuka. Anak buahnya yang selalu setia segera menghampiri dengan wajah berseri.
"Ada kabar apalagi tentang Nona?"
Padahal dirinya tengah sakit, tapi yang terus dipikirkan hanyalah Nika.
"Jawab!"
Sang anak buah membuang napas kasar sebelum memberikan info tentang Nika. Itu tak luput dari pandangan Ezra.
"Sepertinya Nona Nika tidak berada di Jepang. Melainkan di Sydney."
"Sydney?" Pengawal itupun mengangguk.
Ada keraguan untuk menyerahkan bukti yang sudah dipegang. Karena pasti akan menyakitkan. Namun, tangan Ezra yang sudah menengadah membuatnya harus menyerahkannya.
"Update-an terbaru di akun Nona Nika."
Tak ada jawaban dari Ezra setelah mendengar laporan dari anak buahnya. Mimik wajah Ezra sudah begitu berubah. Sorot mata penuh ketidakrelaan terpancar sangat jelas. Akan tetapi, pengawal itu tidak boleh menyembunyikan apapun dari sang bos. Satu foto lagu kembali ditunjukkan.
"Akun Tuan muda Elang pun menunjukkan lokasi yang sama."
Foto itu terus Ezra pandangi. Caption dari dua postingan itu begitu ambigu. Dan ada satu tanda tanya besar di kepalanya.
"Kenapa postingan Elang hampir mirip dengan postingan Nika? Dan sudah pasti Elang tahu lelaki yang berfoto bersama Nika. Lalu, siapa dia?"
...**** BERSAMBUNG ****...
Boleh kali dikomen. Jangan pelit