" Mencintaimu memberikan warna baru dalam hidupku. Terima kasih. " ucapnya mencium sekilas lelaki yang telah menjadi suaminya saat ini.
Bianca(23th) harus menelan pil pahit akibat kecelakaan tragis yang mengakibatkan kematian suaminya Alexander(27th).Belum habis rasa kecewanya karena perselingkuhan sang suami tapi kematian sang suami juga menyisakan kesedihan yang mendalam baginya.
Begitu banyak teror yang dialaminya karena beberapa pihak yang menyalahkannya akibat kejadian tersebut.Dia merasa membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya hingga dirinya bertemu Alvin (26th) yang menyelamatkannya ketika akan diculik..
Siapakah Alvin ? Bagaimana dia bisa menjadi bodyguard Bianca? Bagaimana cinta bisa tumbuh dan bersemi dihati keduanya?
Baca terus kisah perjalanan cinta mereka ya...ini adalah karya pertamaku semoga bisa diterima oleh readers semuanya..Makasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERINDUAN BIANCA..
Alvin telah sampai di depan mansion mewah orang tuanya. Ditatapnya lekat-lekat rumah itu, rumah yang telah lebih dari tiga bulan ia tinggalkan.
Di ketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Terdengar jawaban dari balik pintu, ternyata salah satu asisten rumah tangganya yang membukakan pintu.
" Tuan Muda sudah kembali? " ucap Lastri kaget melihat kedatangan anak majikannya itu.
" Iya, Bi. Mama ada di kamar? " tanya Alvin tersengal-sengal.
Begitu mendengar bahwa mamanya sedang sakit, Alvin buru-buru meninggalkan rumah Bianca.Tanpa berpikir panjang ia menaiki angkutan umum yang lewat dekat rumah Bianca dan turun di kompleks dekat rumahnya.Ia berlari secepat mungkin karena mengkhawatirkan keadaan mamanya.
" Nyonya ada di ruang tamu, Tuan. " jawab Bi Lastri.
" Apa diruang tamu? Bukankah seharusnya Mama beristirahat? " gumam Alvin.
Ia melangkahkan kakinya ke ruang tamu, tetapi disana terlihat Mamanya sedang asyik mengobrol bersama teman-teman arisannya.
" Mama !! " teriak Alvin seketika membuat pandangan orang-orang disana tertuju padanya.
" Al..Vin??? " Stefani kaget melihat kedatangan putranya yang begitu tiba-tiba.Ia pun mempersilahkan teman-teman nya yang ada disitu untuk membubarkan diri.
Alvin mendengus kesal ,ternyata mamanya telah berbohong. Ia segera berlalu untuk kembali meninggalkan rumah kedua orang tuanya.
"Alvin, tunggu Nak. Mama minta maaf karena telah berbohong. Tapi, Mama seperti itu karena Mama sangat rindu denganmu. Sudah beberapa bulan ini kau tidak memberikan kabar pada Mama. "
Mama Alifa memelas dan berjalan mendekati putranya. Air matanya lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Alvin berbalik ,dihampirinya wanita yang telah melahirkannya tersebut. Dipeluknya erat- erat tubuh mamanya.
" Maaf kan Alvin Ma. Alvin nggak kasih kabar sama Mama. Alvin masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku berjanji kalau aku sudah mendapatkan tujuanku, aku pasti kembali kesini. " jelas Alvin sambil memeluk mamanya.
" Urusan apa, Nak? " tanya Stefani penasaran.
" Apa benar kamu jadi bodyguard janda muda pemilik " B &A " fashion itu? Mama baca di surat kabar bahwa bodyguard wanita itu disebut-sebut mirip denganmu. " wanita itu menatap tajam putranya menuntut penjelasan.
Alvin terbelalak seakan tak percaya kalau mamanya bisa tahu semuanya. Diambilnya surat kabar itu, dan benar fotonya terpampang disana.
" Apa Bianca juga sudah tahu tentang semua ini? " Alvin mencoba berpikir sejenak mencari-cari alasan.
" Alvin ! Jelaskan sama Mama kenapa kamu mau jadi bodyguard wanita itu? "pinta Stefani kembali menuntut penjelasan.
" Ah..Mama. Itu bukan Alvin. Mungkin cuma mirip aja, mana mungkin Alvin jadi Bodyguard? Seperti kurang kerjaan saja. " Alvin mencoba mengelak.
" Mama hafal betul siapa kamu ,Vin. Jangan coba- coba bohongin Mama. " wanita itu sedikit menggertak putranya.
" Apa kau suka dengan wanita itu? Mama tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Mama sudah sering mendengar beberapa kali wanita itu akan diculik dan dibunuh. Apa mungkin dia bukan wanita baik-baik ? Mama tidak mau kau terlibat lebih jauh lagi. " Stefani mulai menceramahi putranya.
Alvin mulai tersurut emosi, tangannya mengepal erat memendam kemarahan. Kalau saja yang berbicara bukan mamanya, pasti bogem mentah akan mendarat disana.
Tapi, ia mulai bisa mengontrol diri. Bagaimanapun penyamarannya tidak boleh terbongkar.
" Ma,, Alvin benar-benar tak mengenalnya.Tapi? kalo dilihat wanita ini cantik juga. Apa mama mau menjadikannya menantu? " Alvin mencoba mencairkan suasana.
" Alvin ? Mama tidak sedang bercanda kali ini. " Stefani menjewer telinga putranya karena gemas.
" Awww..aww..sakit Ma. " Alvin berpura-pura merintih kesakitan.
" Alvin bicara yang sebenarnya, Ma. Aku sama sekali tak mengenalnya. Sekarang aku sedang ada urusan bersama Rico masalah bisnis. " ucap lelaki itu berbohong.
" Kau tidak sedang berbohong kan? " Stefani mencari kejujuran dari kedua bola mata putranya.
" Tapi kau harus berjanji untuk menjaga dirimu baik-baik. Sekarang, Mama mau kamu menginap disini beberapa hari. Mama sangat merindukanmu. " mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca memendam kerinduan pada putranya. Ia memeluk putranya untuk melampiaskan rasa rindunya.
" Baiklah Ma. " Alvin membalas pelukan mamanya.
'" Ya Rabb,, maafkan hamba telah membohongi Mama. " batinnya merasa bersalah.
...----------------...
Sudah tiga hari Alvin pergi dari rumah Bianca tanpa kabar dan kejelasan. Wanita itu begitu kesal, namun hatinya sangat merindukan lelaki tersebut.
Ingin menelpon tapi gengsi tidak ditelpon tapi penasaran. Bianca bingung, dirinya hanya mondar mandir sedari tadi. Mama Alifa yang melihat tingkah putrinya merasa heran, iapun menghampiri putrinya itu.
" Bie,, apa yang kau lakukan? Dari tadi mondar- mandir nggak jelas? Seperti anak ayam
ditinggal induknya saja. " sindir mama Alifa.
" Kangen ya sama Alvin? Mama juga pernah muda Bie. Tidak perlu berbohong sama Mama. " Alifa tak berhenti meledek putrinya.
" Telpon saja. Dari pada penasaran tiap malam nggak bisa tidur. " godanya kembali.
" Aku hanya ingin meminta kejelasan. Sudah tiga hari ia tak masuk kerja tanpa izin. Kalau sudah tidak ingin bekerja seharusnya ia mengundurkan diri secara baik- baik. Dia juga masih punya hutang guci padaku. " Bianca mencoba mengelak.
" Dasar keras kepala, masih saja ngeyel kalau dibilangin. " gerutu Alifa pelan.
" Mama bilang apa barusan? " Bianca samar-samar mendengar ucapan Mamanya tadi.
" Eng..Enggak kok Bie. Mama cuma mau bilang bentar lagi Papa mau jemput Mama.Kamu nggak pa-pa disini sendiri? " Mama Alifa mengalihkan pembicaraan.
" Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula disini masih banyak asisten rumah tangga dan beberapa bodyguard. Mama tenang saja, aku bisa jaga diri. " wanita tersebut meyakinkan Mamanya.
Mobil Pak Indra telah terparkir di mansion putrinya. Ia segera turun dan masuk kedalam sebentar untuk bercengkrama bersama anak dan istrinya. Setelah itu, kedua orang tuanya harus pulang karena Pak Indra masih memiliki beberapa urusan dengan kliennya.
Rumah Bianca kembali sepi, untuk sesaat Bianca menenangkan dirinya di taman belakang dan duduk di bangku taman.
Ia memikirkan perkataan mamanya tadi. Mungkin ada benarnya bahwa dia harus menghubungi Alvin.
Beberapa hari ini tidurnya pun tak bisa nyenyak belum lagi konsentrasinya pada pekerjaan yang mulai terganggu. Sungguh aneh pikirnya, bukankah selama ini dia pun pernah mencintai Alex? Tapi kenapa saat ini rasanya berbeda?
Hatinya selalu berdetak tak menentu ketika berhadapan dengan Alvin. Apakah dirinya yang terlebih dahulu jatuh cinta?
Dulu Alex selalu menghujaninya dengan cinta kasih sayang dan perhatian. Oleh sebab itu, ia merasa nyaman dan mulai bisa belajar mencintai suaminya.
Tetapi sekarang, bahkan ia tak tahu apakah Alvin benar-benar mencintainya ataukah hanya sekedar gurauan saja? Sungguh hal yang membingungkan bagi Bianca.
Seketika seseorang membuyarkan lamunannya. Bianca kaget karena semuanya menjadi gelap setelah tangan seseorang membekap matanya.
" Siapa? Tolong jangan bercanda. "ucapnya kesal sekaligus penasaran.
Dibukanya perlahan tangan itu, tentu saja orang itu tak lain adalah seseorang yang selalu dirindukannya.
" Alviin ?? " Bianca menatap lelaki yang begitu dirindukannya akhir-akhir ini.
Bersambung...
Dukung terus author ya readers..jangan lupa tinggalkan like koment rate dan vote.. Makasih..