Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Degupan Hebat
Bi Narsih lari tergopoh-gopoh saat mendengar deruan suara mobil tuan mudanya, beliau dan kedua art yang lain menyambut kepulangan nyonya besar dan tuan mudanya. Ketiganya saling berpandangan melihat nyonya besarnya menggandeng Indira, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi sama Indira.
"Indira kamu kenapa?" tanya bi Narsih saat mereka semua masih berada di depan pintu.
"Bi, bertanyanya nanti ajah, biarkan kami masuk dulu," ucap nyonya Aura menggeleng.
"Oh, maaf nya, saya lupa. Ayo mari masuk nyonya tuan muda, tuan Candra." bi Narsih mempersilakan semua orang masuk kedalam.
Nyonya Aura membantu menantunya duduk membuat Indira merasa tidak enak, apalagi melihat tatapan malas dari suaminya dan juga kedua art yang tidak atas perhatian nyonya Aura yang beliau berikan padanya, mau gimana lagi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ataupun membantahnya. Ibu mertuanya itu selalu memaksa dan tidak menerima penolakan.
Angkasa meninggalkan ibu dan juga istrinya, ia menaiki tangga berniat mau membersihkan tubuhnya karena sudah lengket setelah perkelahiannya melawan kedua preman yang mengganggu istrinya. Angkasa membuka ponselnya matanya terbelalak seperti hampir lepas dari tempatnya, dirinya tidak percaya saat tidak sengaja melihat rekan bisnisnya itu memposting foto istrinya dengan caption bidadari surgaku di tambah emoticon love,
"Apa-apaan ini! Beraninya dia mengambil foto perempuan kampung itu dan memposting di akun sosial medianya? Ini enggak bisa di biarkan. Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin memakinya karena sudah lancang mengambil foto istriku." Angkasa mengumpati Alex yang sudah terang-terangan menujukan rasa suka terhadap istrinya.
"Perempuan kampung itu pasti yang sudah menggoda Alex, dasar istri sialan dia berani tebar pesona sama laki-laki lain di rumah ku sendiri!" seru Angkasa meremas ponselnya dan membantingnya di ranjang.
Angkasa membuka pintu balkon sinar matahari langsung masuk kedalam kamarnya membuat wajahnya berubah sedikit kuning keemasan akibat pantulan dari sinar matahari, Ia mengusap rambutnya ke belakang dengan gerakan kasar masih kesal dengan postingan Alex. Angkasa berdiri dengan telanjang dada menampakan tubuhnya yang atletis.
"Tuan muda," panggil Indira.
"Apa hah!" teriak Angkasa memekikan telinga Indira.
Indira tersentak kaget mendengar teriakan Angkasa, reflek ia mundur berapa langkah ke belakang. Apa gara-gara di suruh buat merawat dirinya sehingga membuat suaminya itu terlihat sangat mara? Pikir Indira jadi tidak enak.
Angkasa tidak bergeming mendengar suara yang tidak asing di telinganya, perempuan yang ia umpati barusan kini sudah berdiri di belakangnya lagi menundukan pandangannya, saking kesalnya dirinya sampai tidak menyadari kedatangan sang istri. Angkasa berdeham kecil ia masuk dan duduk di sofa.
"Ada apa?" tanyanya setelah sepersekian detik.
"Aku cuma mau bilang kalau tuan mau kembali ke kantor kembalilah, aku sudah baikan maaf kalau aku menyusahkan kamu," ucap Indira mendongak melihat suaminya.
"Ya! Kamu memang selalu menyusahkan aku. Sudahlah aku sudah males pergi ke kantor mau kerja di rumah saja, kamu istirahatlah aku akan pergi ke ruang kerja." sahut Angkasa berdiri dari duduknya.
"Tidak tuan, pekerjaan ku masih banyak, aku harus menyelsaikan semuanya. Ini sudah mau sore aku harus mempersiapkan buat makan malam nanti," jawab Indira membalikan badanya mau meninggalkan suaminya.
Bruk!
Akh!
Angkasa menarik tangan istrinya membawanya kedalam pelukannya. Dia melihat setiap ini wajah sang istri, bulu mata lentik, hidung yang tidak terlalu mancung, bibir tipisnya yang berwarna merah muda sungguh begitu menarik perhatiannya. Angkasa merasakan detak jantungnya berdegup begitu hebat rasanya baru kali ini ada perempuan yang mampu menggetarkan hatinya setelah sekian lama.
Indira berteriak kaget saat tanganya di tarik dari belakang dan menubruk dada bidang suaminya, ia melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami karena takut terjatuh. Indira menelan ludahnya kasar baru kali ini dirinya bisa melihat sebegitu dekat visual suaminya dengan jarak yang begitu dekat yang menurutnya sangat tampan, keduanya saling berpandangan cukup lama mengagumi satu sama lain sampai akhirnya Indra tersadar membuat pelukan keduannya terlepas. Indira merasakan di bikin spot jantung saat suaminya itu mengecup bibirnya.
Cup..
"Ya ampun dia menciumku," ucap Indira dalam hati menyentuh bibirnya.
"Apa yang aku lakukan? Ah..dasar bodoh, yang ada perempuan kampung ini bisa ke geeran dan mikir yang macam-macam," ucap Angkasa membatin.
Angkasa melepaskan sang istri dari pelukannya. Dia bersedekap dada memperhatikan sang istri dari atas sampai bawa, ia melihat wajah istrinya itu masih terlihat sangat pucat dirinya jelas tau kalau sekarang istrinya itu lagi tidak baik-baik saja. Di ganggu para preman pasti membuat istrinya itu trauma.
"Kau sengaja ya?" tanyanya.
"Sengaja apa?" Indira balik bertanya.
"Iya sengaja agar mamah marah sama aku karena mengizinkan kamu bekerja saat kondisimu kaya gini? Oh, aku tau mungkin ini memang maumu iya kan!" seru Angkasa menatap istrinya tajam.
"Tidak. Bukan seperti itu, tapi.." ucapan Indira langsung di potong begitu saja.
"Kalau aku bilang istirahat ya istirahat! Kau mengerti bahasa manusia tidak!" serunya.
"Ba-iklah," ucap Indira mengangguk patuh.
"Good girls," batin Angkasa tersenyum lebar.
"Ya sudah. Kau tidurlah di tempat tidur jangan di sofa, hari ini aku lagi baik kapan lagi aku baik sama kamu seperti sekarang? Jadi manfaatkan saja kebaikan ku ini." ujar Angkasa mengacungkan jari telunjuknya di wajah istrinya sebelum akhirnya di keluar dari kamar.
"Ada angin apa? Tumben sekali dia baik? Mungkin dia takut di marahin sama mamahnya, tapi syukurlah badanku juga sakit semua aku memang butuh istirahat." gumam Indira memuji kebaikan suaminya.
******
Maudi berjalan dengan angkunya masuk ke dalam kantor Angkasa, dia sengaja menemui Angkasa di kantornya sejak laki-laki itu menolak untuk di jodohkan dengan dirinya, ia merasa kesulitan untuk bertemu dengan Angkasa. Sejak kejadian malam itu sang ayah yang memutuskan hubungan dengan keluarga tuan Edgar, membuat hubungan dua keluarga itu merenggang dan imbasnya Maudi tidak pernah lagi bertemu sama Angkasa. Dan Freya, gadis itu sampai saat ini susah sekali untuk di luluhkan.
"Nona, anda mau kemana?" petugas resepsionis mencegah, Maudi yang main nyelonong masuk.
"Saya mau bertemu sama pemilik kantor ini," sahutnya.
"Maaf, Nona, anda harus membuat janji terlebih dulu. Apa sebelumya anda suda ada janji sama tuan Edgar atau tuan Angkasa?" tanya resepsionis berdiri di depan Maudi.
"Apa janji? Hei, kamu tidak tau siapa saya?" tanya Maudi dengan angkuh.
"Tidak," jawab resepsionis menggeleng.
Maudi mendelik mendengar jawaban perempuan di depannya, dia mengulurkan tangannya ingin sekali mencekik leher orang di depannya tapi ia urungkan. Maudi menghela napas pelan mencoba untuk bersabar ngadepin perempuan itu, ia memaksakan senyumnya mau menjelaskan siapa dia sebenarnya.
"Kau benar tidak tau siapa saya?" tanyanya lagi.
"Iya, saya tidak tau siapa anda," jawabnya masih sama.
"Saya Maudi! Calon istri Angkasa. Menantu dari tuan Edgar dan Nyonya Aura, apa sekarang sudah jelas." ujar Maudi memperkenalkan siapa dirinya.
Bukannya menunduk takut resepsionis itu malah tertawa kecil merasa ada yang lucu sama ucapan perempuan di depannya, dirinya pernah mendengar kalau atasanya itu memang mau di jodohkan. Tapi setaunya atasannya itu menolak perjodohannya petugas resepsionis itu menganggap ucapan Maudi hanya bualan saja.
Maudi melototkan matanya melihat resepsionis di depannya itu malah menertawakan dirinya. Dia mengepalkan tangannya merasa tidak terima karena suda di rendahkan sama karyawan Angkasa. Maudi memaki petugas resepsionis membuat perhatian orang yang lewat teralihkan sama keduanya.
"Beraninya pegawai rendahan sepertimu menertawakan saya? Kau pikir kau ini siapa hah!" teriak Maudi menarik rambut karyawan Angkasa.
Semua orang yang melihat keributan antara Maudi dan petugas itu bergerak cepat memisahkan keduanya. Seketika suasana menjadi tegang mendengar suara bariton dari arah belakang.
"Ada apa ini!" serunya.
******
Bersambung.....