perjalanan seorang anak yatim yang berusaha menjadi pendekar untuk membalaskan dendam atas kematian pamannya karena perampokan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewa Pemabuk dan Suling Emas
Arya selepas meninggalkan desa itu melesat ke arah gunung Suralaya, kini ia memasuki daerah kerajaan Bulan, kerajaan di mana pangeran Anom berasal, suasana kota di kerajaan bulan lebih maju dari kerajaan Bintang.
" Kerajaan ini makmur tetapi mengapa mereka masih menginginkan kerajaan lain?" tanya Arya dalam hati, Arya memasuki kota itu, ia memilih sebuah restoran besar yang cukup besar, yang juga menyediakan tuak serta arak. Di tempat seperti ini biasanya informasi bisa di dapat dengan cuma cuma saat mereka mabuk.
" Arya memesan tuak dulu, sebelum ia memesan makanan , sebagai pancingan ia membeli tiga bumbung tuak yang baik, untuk memancing perhatian pendekar yang suka minum.
" anak muda ,apa kau mampu menghabiskan tuak itu sendiri !?" tegur seorang kakek yang matanya seperti ngantuk , namun kilat tajam terlihat saat matanya menatap sekilas pad Arya .
" he he he ,ga kek ,aku hanya mencari teman minum saja bila kakek berkenan mari kek temani aku minum tuak ini" sahut Arya sopan dan mengajak kakek itu bergabung.
" he he he , tentu saja aku mau, tapi apa kau rela bila nantinya tuak mu itu habis olehku " si kakek tertawa kecil.
" tidak apa apa kek, aku masih mampu membeli beberapa bumbung tuak lagi " Arya mempersilahkan si kakek duduk.
tanpa ragu si kakek mengambil bumbung tuak , tak seperti pemabuk yang lain, yang meminum tuak dengan di tuang di gelas , kakek itu langsung menegak dari bumbungnya .
Glek
Glek
Glek
Setelah tiga tegukan ia menaruh lagi bumbung tuak nya.
" he he he, ini tuak yang baik, aku lihat kamu bukan orang sini?" tanya Si kakek menatap dengan penuh selidik.
" he he he, iya kek, aku baru turun gunung kek, namaku Arya" jawab Arya sambil tertawa kecil.
" hati hati anak muda, sekarang tokoh baru banyak yang bermunculan, walau belum bertemu langsung tetapi cerita yang aku dengar kekuatan mereka sama seperti dedengkot lama " ujar kakek itu memberitahukan
" siapa saja mereka kek?" tanya Arya yang penasaran .
" ada Rajawali emas , setiap korbannya pasti di tandai dengan senjata rahasia berbentuk rajawali, dan satu lagi Naga Beracun" jawab kakek itu,
" Rajawali Emas, siapa saja yang sudah menjadi korbannya kek" cecar Arya .
" ada Ki Brama , dan Datuk gendeng" jawab kakek itu, Arya mengernyitkan dahi, Datuk Gendeng tokoh aliran hitam sedangkan Ki Brama tokoh aliran putih .
" Dan kalau Naga beracun , ia berada di kerajaan Bintang , namun katanya setiap orang yang terkena serangannya akan mati keracunan, racun merah , kerajaan Matahari kini sedang memburunya karena ia membunuh pangeran Amba" lanjut kakek itu berkata, Arya terdiam, berarti dirinya sedang di cari oleh kerajaan Matahari, ia harus lebih berhati hati dalam bertindak, bila tidak ia akan di buru oleh pendekar pendekar yang di sewa oleh Kerajaan Matahari.
Si kakek memperhatikan Arya yang sedang merenung.
". He he he ,kamu baru turun gunung, kalau kamu takut mendengar dua nama itu lebih baik kamu naik gunung lagi" kakek itu tertawa menyangka Jika Arya takut mendengar dua tokoh yang baru bermunculan.
" bukan begitu kek, tetapi yang aku herankan kenapa rajawali emas, membunuh Ki Brama yang dari golongan putih, dan Datuk gendeng, dari golongan hitam?" tanya Arya
" kalau aku pikir sepertinya ini dendam masa lalu, dulu Ki Brama dan ki jogo Lanang dan Ki Sanjaya itu berkelana bersama, mereka di sebut tiga pendekar pedang, dari gunung Pegat, namun suatu hari, mereka bertiga menghilang, untuk beberapa waktu, dan saat mereka kembali keadaan berubah .Ki Sanjaya menjadi pemarah, dan seperti orang yang kehilangan ingatannya, ia membantai beberapa pendekar aliran putih dan akhirnya di sebut Ki Datuk gendeng , karena kelakuan nya yang seperti orang hilang ingatan ., sedangkan Ki Sanjaya terlihat beberapa kali di kerajaan Bulan tetapi tak lama kabarnya menghilang kembali, dan Ki Brama mengasingkan diri kembali ke gunung Pegat." tutur kakek itu bercerita.
" ooh, jadi begitu kek, kalau kakek siapa,?" tanya Arya yang memang belum mengetahui nama si kakek.
" he he he, anak muda yang bersamamu itu , setan pemabuk." seorang pria paruh baya menjawab pertanyaan Arya.
" he he he, ya itu lah panggilanku, nama ku yang asli aku juga lupa " jawab si kakek tertawa lepas.
" paman mari bergabung di sini" ajak Arya pada pria Paruh baya tadi,
" ha ha ha, kamu memanggilku kakek dan memanggilnya paman, haduuuh, dia itu hampir sama usianya denganku, malah jangan jangan lebih tua dari ku!" teriak Kakek pemabuk menggerutu.
" eh, kok bisa begitu, wajahnya kan memang masih muda kek!?" tanya Arya heran.
" he he he, memang usiaku dan usia setan pemabuk ini tak jauh beda " pria paruh baya itu menjawab dan mendekat ,ia suka dengan sikap Arya yang sopan.
" kenapa bisa begitu!?" tanya Arya heran. karena melihat pria paruh baya itu seperti masih berusia 40 tahunan
" ya dia berhasil mendapatkan air liur walet emas di gunung kera, karena itu ia awet muda sedangkan aku awet tua, ha ha ha " Kakek pemabuk itu berkata sambil tertawa ,ia mulai mabuk, karena. Tiga bumbung tuak hampir habis olehnya sedangkan Arya hanya meminum segelas.
" he he he ,setan pemabuk ,kamu sudah mabuk yah" ejek pria itu
" eh suling setan, kamu mau adu minum dengan ku!" tantang kakek itu tak terima di bilang sudah mabuk,
" ha ha ha, memang kamu punya uang buat beli tuaknya" ucap pria yang di sebut suling setan, memang di tangannya pria itu memegang suling yang indah berwarna keemasan.
" ada nak Arya ,kalau kamu mau tanding minum denganku" ucap kakek pemabuk itu sambil menunjuk Arya .
" kamu yang mau mabuk kok, malah membebani orang lain " gerutu Suling setan sambil menggelengkan kepalanya.
" tak apa paman, kebetulan aku di bekali lebih oleh guruku" Arya dengan cepat memesan lima bumbung tuak lagi.
" kalau uang mu habis bagaimana ?" tanya Suling setan
" aku akan bekerja paman, aku punya tenaga kenapa tak di manfaatkan" jawab Arya , ia belum pernah mendengar tentang dua tokoh ini yang tentunya ilmunya juga sangat tinggi.
" baiklah, ayo kita minum,!" ucap kakek pemabuk , ia mengambil satu bumbung dan hendak meminumnya.
" hei, setan pemabuk, jangan di sini, ayo ke danau saja ". suling setan menahan bumbung yang akan di tengah oleh kakek pemabuk.
" oh iya, ayo siapa takut" ucap kakek pemabuk sambil ngeloyor keluar membawa dua bumbung tuak.
" paman tunggu aku tak tahu di mana danau yang kalian maksud!" seru Arya melihat kakek pemabuk dan Suling setan berjalan keluar, sedangkan ia belum membayar
tuak yang mereka bawa.
" di belakang rumah makan ini, kamu minta antar pelayan saja " suling setan berkata dengan melesat membawa tiga bumbung tuak yang tersisa.
" kak ,bisa bawakan makanan dan minuman lagi ke danau itu ?" tanya Arya pada pelayan
" bisa tuan, semuanya dua keping emas, " ucap pelayan itu setelah menghitung semua harga pesanan Arya . Arya di antar oleh satu pelayan , sedangkan pesanan yang lain nanti akan di bawakan oleh pelayan itu