" sebuah perjalanan dalam meraih cinta sejati "
Hana sebenarnya ragu untuk meneruskan langkahnya menuju pernikahan yang sudah didepan mata.
Hana tak pernah menduga jika ia akan diberi kesempatan lain.
Namun dengan cara yang tak biasa.
Hana terdampar dijaman dan ditempat yang entah dimana.
Ia pun dihadapkan pada takdir dengan begitu banyak kejutan.
note : Alur ceritanya lambat karena pengenalan tokoh berjalan seiring dengan berjalannya cerita.
Begitupun dengan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thata Embem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Lauren
🌺 hem... 🌺
* * *
Hana dan Lauren tersenyum lebar dihadapan kereta keledai yang sudah hampir 3 bulan tak mereka lihat.
Sang keledai sendiri sudah berada di posisinya. Setelah tadi salah seorang pelayan membawanya keluar dari kandang yang ada dihalaman paling belakang rumah.
Dimana selama ini harta Lauren yang paling berharga itu dijaga dan dirawat selama musim dingin berlangsung.
Hana menggandeng tangan Lauren, ia sudah sangat tak sabar ingin segera meninggalkan rumah bordil yang akan segera mulai dibuka kembali.
Para pelayan pun mulai terlihat sibuk membersihkan setiap sudut ruangan dalam rumah tersebut, sebelum aktifitas penghibur nanti dimulai.
Lauren memperhatikan sekelilingnya, dimana orang-orang sudah mulai beraktivitas normal seperti sebelumnya.
Karena kini musim salju sudah berlalu.
Begitupun dengannya yang ingin segera melakukan hal serupa.
" ayo, kita pergi sebelum pria menyebalkan itu datang " ucap Lauren pada Hana.
Keduanya sama-sama melemparkan senyuman penuh kebahagiaan. Bebas . Keduanya tampak begitu girang .
Namun, baru saja keduanya akan melangkah dari halaman depan rumah tersebut , suara dari orang yang tak diharapkan terdengar menyapa .
Seketika senyum diwajahnya mereka luntur.
" mau kemana kalian, hah? " tanya Artius yang sudah berdiri di depan pintu masuk rumahnya.
Artius berjalan mendekat dengan kedua tangan bertumpu pada pinggangnya. Tampak pula pelayan setianya Berito mengikuti langkahnya dari belakang.
" mereka sangat mencurigakan . . main pergi begitu saja.. apa perlu kita geledah ? " ucap Artius mengitari kedua wanita yang tak bergerak dan saling berpegangan tangan.
" kau pikir kami pencuri " cetus Lauren tak terima dengan tuduhan yang di lontarkan oleh si pria arogan itu.
" siapa yang tau ? lagipula kenapa kalian pergi tanpa memberitahu ku terlebih dahulu ? "
" kenapa ?jangan bilang kalau kau mau menahan kami untuk tinggal lebih lama lagi di rumah bordilmu ini ? "
" aku ? menahan kalian? ckckckck.." Artius sambil menggelengkan kepalanya pelan .
" hei, Lauren.. kau harusnya berterima kasih.
Selama musim dingin tadi, aku sudah berbaik hati memberimu tempat tinggal dengan gratis, makan gratis.. bahkan beberapa kali mendapat pelayanan khusus dariku. Dan semua itu GERATIS ! ! ! " Artius dengan penuh penekanan pada akhir kalimat yang di ucapankannya.
Artius membungkukkan badannya hingga sebatas tinggi Lauren . Ia dan Lauren saling membalas tatapan, dimana Artius menambahnya dengan sebuah senyuman menyeringai.
" terima kasih " ucap Lauren terdengar seperti bisikan.
" apa? " Artius meletakan telapak tangan di daun telinganya.
" terima kasih " Lauren membuang pandangnya dengan nada suara mulai meninggi.
" lebih kerasa lagi, Lauren.. belakangan ini telingaku sedikit bermasalah.. jadi kau harus mengatakannya dengan lantang.. "
"TERIMA KASIH ! ! ! "
Seketika merekapun menjadi perhatian dari setiap mata yang tengah melintas.
Lauren mengatur nafasnya yang terasa mulai ngos-ngosan setelah berteriak tadi
.
Membuat Artius tertawa melihat bagaiman wanita tua itu telah terperdaya oleh kejahilannya.
" tidak jelas pada siapa kau berterima kasih? " ternyata tidak cukup sampai disitu bagi seorang Artius.
Baiklah, yang waraslah yang mengalah. Batin Lauren mencoba tetap bersabar menghadapi sikap menyebalkan Artius.
" terima kasih, tuan Artius " ucap Lauren sambil menundukkan kepala memberi hormat.
" oooowwwgghhhh manisnyaaaa " Artius mencubit kedua pipi Lauren yang tertarik bak karet dan itu membuatnya kembali tertawa geli hingga ikut mengundang tawa di sekitarnya yang kebetulan melihat hal tersebut.
Hana menepis kedua tangan Artius, ia pun sama kesalnya dengan kelakuan Artius yang tak ada puasnya menjahili Lauren sejak tadi.
" baiklah.. baiklah... maafkan aku .. "
Namun tampaknya kali ini Lauren sungguh kesal.
Tanpa bicara sepatah katapun, ia yang biasanya meladeni setiap kejahilan Artius memutuskan untuk diam dan segera pergi dari tempat tersebut.
Dibantu Hana ia menaiki keretanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Artius yang menatap dengan rasa bersalah.
" kita akan mampir ke penginapan Rosita terlebih dahulu.Aku telah menitipkan beberapa hal yang kau minta waktu itu . Baru setelah itu kita ke pasar untuk berbelanja kebutuhan kita " ucap Lauren yang dibalas anggukan oleh Hana.
Setelah sampai di penginapan Rosita, keduanya langsung masuk untuk mengambil pesanan yang ternyata adalah alat jahit , jarum dan benang.
Selesai urusannya dengan Rosita, keduanya segera bergegas keluar.
Namun alangkah terkejut mereka saat mendapati kereta yang mereka tinggal diluar penginapan tadi ,sudah dipenuhi dengan banyak barang keperluan dan kebutuhan pokok yang memang mereka perlukan untuk dibawa pulang.
Artius. isi pikiran Hana dan Lauren yang kompak.
Tak mau mempermasalahkan hal tersebut dan memilih menerima semua pemberian Artius keduanya pun memulai perjalanan pulang.
* * *
" heeeiiiii " suara teriakan yang begitu lantangan terdengar dari arah belakang , saat mereka baru saja keluar melewati gerbang.
Sedang menuju ke luar wilayah kota.
Hana memutar lehernya, ia melihat Artius berdiri didepan kereta kudanya sambil melambaikan kedua tangannya, disertai sebuah senyuman .
" cepat kembali... aku membutuhkan ramuanmu eh, salah... aku akan merindukanmu " Artius masih saja mencoba jahili dengan bersuara nyaring.
Hana tertawa mendengar ucapan Artius.
*E*ntah apa yang membuatnya tertawa. Pikir Lauren menatap Hana yang terlihat begitu terhibur oleh kelakuan pria arogan itu.
Karena baginya yang sedang dilanda marah pada pria itu, semua yang dilakukan Artius terlihat menyebalkan dan semakin membuatnya bertambah kesal.
* * *
" akhirnya " ucap Hana begitu sampai di depan rumah yang sudah sangat ia rindukan.
Meski merasa pegal di kedua kakinya, Hana justru semakin mempercepat langkah, menuju sungai yang kini sudah ada dihadapannya.
' byurrr ' Hana mencemburkan diri. Ia membasuh habis tubuhnya yang masih berbalut pakaian.
Sedangkan Lauren yang sedang mengistirahatkan diri dengan duduk di kursi yang ada di pelantaran dapur terbukanya, hanya menatap dari kejauhan.
Ia tersenyum lega melihat wanita yang tengah mandi dengan pakaian yang masih melekat ditubuh.
Setelah berjalan seharian, Hana merasa begitu senang karena akhirnya ia bisa kembali merasakan nikmatnya air sungai yang jernih itu.
" wanita itu terlihat berbeda dari pertama kali aku melihatnya.
Dulu ia begitu pendiam dan tertutup, kini ia tampak lebih periang dan bersemangat.
Apa mungkin itu karena kehidupan yang ia jalani sebelum ia berada disini ?
Padahal wanita sepertinya tentu bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
semoga saja, ia bisa hidup dengan bahagia seperti senyuman yang saat ini " ucap Lauren memperhatikan Hana yang berenang dari ujung ke ujung mengikuti aliran sungai.
Sesekali Hana terlihat melambaikan tangan kearahnya, dan dibalas gelengan kepala oleh Lauren.
Langit semakin gelap, setelah berkali-kali Lauren meneriakinya agar segera masuk , Hanapun akhirnya mau keluar dari dalam air.
Ia lalu berjalan menuju rumah dengan tubuh yang basah.
Tampaknya Lauren sudah bersiap menyambut dengan segelas air hangat yang menggantung ditangannya.
* * *
Hari silih berganti, mereka kembali ke rutinitas harian mereka. Dengan banyaknya kebutuhan pokok pemberian Artius, hari yang mereka lewati pun terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Hingga tiba saatnya Lauren harus kembali pergi ke kota untuk mengantarkan pesanan ke pada para pelanggannya . Mereka semua pasti sudah sangat menantikan kedatanganya.
Terutama Artius , sebab selama musim dingin ia harus menutup rumah bordilnya karena stok ramuan bagi para wanitanya hanya cukup untuk menunggu pengantaran Lauren berikutnya, tentu saja saat musim dingin telah selesai.
Hari itu Hana tidak ikut, karena kebetulan ia sedang datang bulan dan lebih memilih menghabiskan waktunya dengan menjahit untuk berbagai keperluannya seperti yang ia butuhkan saat ini.
Tentu saja setelah memastikan keadaan Lauren baik untuk menempuh perjalanan seorang diri. Meski itu bukan hal baru bagi Lauren. Namun bagi Hana itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya saat ini, merawat dan memastikan kesehatan Lauren terjaga.
* * *
" kau datang seorang diri? " tanya Artius saat Lauren mengantarkan ramuan pesanannya.
Lauren menganggguk sambil menyuruh para pelayan membawa tempayan yang ia tunjuk dari atas keretanya.
Melihat itu Artius sedikit bingung, pasalnya kenapa seperti isi tempayan itu dibedakan hingga Lauren harus memilih-milihnya.
" apa isi tempayan mu berbeda-beda? " tanya Artius yang hanya dijawab dengan anggukan lagi oleh Lauren.
Artius mendekati kereta keledai itu, lalu membuka tutup untuk melihat sendiri isi dari tiap tempayan. Hingga ia tau isinya adalah kebutuhan pokok yang biasa ia belanjakan untuk Lauren ketika akan kembali pulang.
Iapun mulai merasa ada yang salah dengan hal tersebut. Tak biasanya Lauren berbelanja dulu baru mengantarkan pesanan.
" si bisu tak ikut ? "
Lauren menggeleng.
" kenapa kau justru ikutan bisu seperti anakmu ?" kesal Artius.
Tampaknya Lauren sudah selesai dengan memilih tempayan yang dibawa oleh para pelayan.
Ia lalu menadahkan telapak tangannya, meminta bayaran pada Artius yang masih penasaran pada sikapnya yang berbeda dari biasanya.
" kau masih marah padaku? " tanya Artius mengingat bagaimana terakhir kali ia menjahili Lauren.
" berikan saja uangku.. " akhirnya Lauren mau bersuara.
Artius segera mengeluarkan kantung kepingan uang yang memang sudah ia siapkan untuk membayar Lauren, dan ia berikan .
Lauren pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa lagi. Ia memang masi kesal pada kejahilan Artius terakhir kali. Ia hanya merasa Artius sudah sangat keterlaluan . Apalagi jika itu menyangkut kejahilannya pada Hana yang sebenarnya bukanlah putrinya, namun harus selalu menerima ejekan dari Artius. Belum lagi perlakuan kasar dari Lleya selama mereka tinggal di rumah itu.
Padahal sebenarnya Hana sendiri merasa tak keberatan .Meski tak dipungkiri ia juga sempat merasa kesal.
Namun karena orang yang melakukan hal tersebut tak tau yang sebenarnya, maka iapun memilih tak mengambil hati untuk setiap hal kasar yang ia terima.
* * *
Dan begitulah hingga satu musim berganti, Hana masih betah untuk tinggal lebih lama di rumah dengan segala macam aktifitas yang ia lakukan sendiri.
Baginya terlalu banyak hal menarik untuk ia pelajari di tempat itu. Perlahan ia mulai mempelajari sedikit demi sedikit mengenai racikan yang selama ini menjadi mata pencaharian Lauren.
Namun berbeda dengan Artius .
Rasa menyesal telah kelewatan dalam mengerjai Lauren terakhir kali itu, kini berubah menjadi kesal.
Bukan tanpa alasan.
Selain karena sikap Lauren yang masih tak mau bicara dan tak lagi mau meladeninya beradu mulut itu, hal lainya juga karena yang ia tunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya.