Kirana Larasati, menghadapi problema hidup yang sangat berat ketika usianya beranjak 23 tahun. Dia harus menerima kenyataan ketika kekasihnya Darren menikah dengan Tiara kakaknya sendiri, dan di saat yang hampir bersamaan dia juga harus mengetahui bahwa ibu yang sangat dia sayangi ternyata bukanlah ibu kandungnya.
Dengan duka Lara yang datang bertubi-tubi, dia harus mampu melanjutkan hidupnya. Hingga pada akhirnya dia bisa menemukan cinta seorang Joshua, yang ternyata justru lebih menghancurkannya karena kesalahpahaman yang terjadi.
Mampukah Lara menghadapi kisah hidupnya yang seperti roller coaster? Bagaimana akhir kisah cintanya dengan Joshua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertepuk sebelah tangan
Lara memasuki parkiran apartemen Darren dengan perasaan yang berkecamuk, tadi siang kakaknya meneleponnya setelah sekian lama tak berkomunikasi pasca pernikahan Tiara dan Darren. Tiara memintanya datang ke apartemen Darren untuk bertemu, awalnya Lara keberatan untuk bertemu di sana, akan tetapi Tiara agak sedikit memaksa dan seperti biasa Lara tidak bisa menolak permintaan kakaknya itu.
Entah apa yang akan disampaikan oleh Tiara, pastinya Lara merasa sangat canggung, apalagi mereka sudah cukup lama tak bertegur sapa. Memang Lara sengaja menjaga jarak setelah pernikahan kakaknya itu, dengan tujuan memberi mereka ruang tanpa kehadirannya sedikitpun. Sementara komunikasinya dengan kedua orang tuanya tetap berjalan lancar, mereka sudah mendiskusikan semuanya dan masing-masing berlapang dada memutuskan untuk kembali bersikap seperti biasa. Setiap akhir minggu Lara pulang ke Jakarta mengunjungi kedua orang tuanya, dan mereka tidak pernah menyinggung masalah hubungannya denga Tiara, mereka pikir masing-masing sudah cukup dewasa untuk memutuskan yang terbaik.
Yang mereka tahu, kedua anaknya saling menyayangi, sekalipun harus dihadapkan pada masalah pelik seperti sekarang ini, mereka sangat yakin Tiara dan Lara akan berbaikan kembali.
Sambil menghela nafas panjang, Lara melangkahkan kakinya ke apartemen yang dulu sangat familiar dan sering dikunjunginya. Mau tidak mau dia harus menginjakkan kakinya kembali ke apartemen ini, sekalipun dengan status yang sudah sangat berbeda.
"Hai, kak..." Sapa Lara begitu Tiara membukakan pintu apartemennya.
Tiara tersenyum seraya mempersilahkan Lara masuk, kemudian dia merentangkan kedua tangannya menunggu Lara menghampiri untuk memeluknya. Tanpa ragu Lara berlari memeluk kakak yang sudah sangat dirindukannya itu. Mereka berpelukan lama sambil menangis, keduanya menyalurkan kerinduan yang selama ini terpendam, membuang jauh karang yang sempat memisahkan mereka semua ini. Tidak ada satupun kata yang terucap, mereka berbicara melalui bahasa tubuhnya. Saling mengusap punggung meredakan tangis mereka.
Setelah puas berpelukan mereka duduk bersama di ruang tamu, saling tersenyum dengan kelegaan masing-masing. Ternyata pertemuan ini tidak seberat yang mereka bayangkan, toh kasih sayang antar saudara mampu menghapus semua jejak kesalapahaman yang terjadi. Tak perlu mengucap kata maaf, semua terlupakan begitu saja.
"Sering-sering main kesini, La. Aku bosan seharian di sini," keluh Tiara ketika mereka sudah bisa bersantai bersama dengan suasana baru yang tercipta di antara mereka.
"Aku usahakan ya, kak. Itu Andreas kadang keterlaluan kasih tugas, sampai harus lembur. Mau protes juga tak bisa, dia bosnya," ujar Lara sambil terkekeh.
Tiara menanggapinya dengan senyuman, dia kenal benar dengan Andreas, mereka sudah cukup lama bersahabat. Seorang pekerja keras yang mungkin baginya 24 jam sehari itu tidak akan cukup, itu sebabnya di usia yang terbilang masih sangat muda, dia sudah bisa mencapai kesuksesannya.
"Kalau tak salah, Andreas dan Diana akan menikah ya tak lama lagi?" tanya Tiara.
Lara mengangguk, memang Andreas dan Diana akan segera menikah sekitar empat bulan ke depan, mereka sedang mempersiapkan semuanya. Sebagai sahabat tentu saja Lara tahu semua informasi terbaru tentang mereka.
"Dan Joshua?" tanya Tiara lagi, membuyarkan lamunan Lara.
Belum sempat Lara memberikan jawaban, terdengar suara pintu apartemen yang dibuka dari luar.
"Mungkin itu Darren, sebentar aku lihat ya," ujar Tiara beranjak dari duduknya.
Tak lama terdengar suara agak ramai dari pintu depan, Lara mendengar suara Andreas dan Diana, kemudian suara Darren, lalu ada juga Joshua. Sepertinya kebetulan mereka berkunjung kesini dan berkumpul di apartemen Darren. Lara menarik nafas lalu menhembuskannya dengan ringan, dia seperti tidak siap dengan kecanggungan ini. Kalau tadi hanya berdua dengan kakaknya saja, dia mungkin bisa mengusir canggungnya. Tapi kini ada Darren dan juga Joshua, itu sungguh akan membuat Lara menjadi kikuk. Pertemuannya yang terakhir dengan Joshua menyisakan sedikit kesalahpahaman, ditambah lagi kisah Lara yang dilabrak oleh ibunya Joshua.
"Masuk semua yuk, kebetulan sedang ada Lara di sini," terdengar suara Tiara berkata riang.
"Wow, ini kebetulan sekali, Joshua batal jadi obat nyamuk," gurau Andreas disambut dengan tawa mereka semua.
Diana mencubit pinggang Andreas, dia mencoba memperingatkan takutnya Joshua dan Lara tersinggung atau merasa tidak nyaman dengan gurauannya. "It's ok, Di. Mereka kan sama-sama jomblo," lagi-lagi Andreas bergurau.
Joshua menggeleng sambil tersenyum, ditatapnya Lara yang terdiam kaku di ruang tamu. Sementara Lara berusaha menetralisir keadaan dengan berdamai dalam hatinya.
"Darren, kamu ga bilang mau mengajak mereka semua. Aku ga masak apa-apa lho," Tiara mencairkan suasana.
"Pesan online sajalah," jawab Darren cepat.
Tiara memberi jempol tanda setuju, kemudian dia mempersilahkan mereka semua duduk seraya ke dapur menyiapkan minuman terlebih dahulu.
"La, kerjaan sudah selesai semua kan? Materi meeting besok bagaimana? Sudah siap semua?" Andreas duduk di samping Lara diikuti Diana.
"Dre, kamu tuh. Ini bukan di kantor, stop bicara masalah pekerjaan. Lara pasti sudah lelah seharian tadi di kantor," protes Diana.
"Tak apa, Di. Sudah biasa saya diperlakukan seperti ini oleh pak Andreas," Lara terkekeh geli sendiri dengan gurauannya, disambut tawa dari Andreas juga. "Semua sudah siap kok, Dre. Sudah kutaruh semua materi meetingnya satu bundel di mejamu," sambungnya lagi.
"Good job, kamu memang karyawan teladan," ujar Andreas sambil mengelus rambut Lara seperti mengelus kucing kesayangannya.
"Dre, ada Diana tuh," seloroh Lara mengingatkan.
Tak lama Andre menjauhkan tangannya dari kepala Lara, disertai lirikan tajam dari Diana. Lara tersenyum lebar melihat pemandangan itu, diiringi tawa mereka semua yang ada di ruangan itu.
"Aku tuh gemes sama Lara, Di. Karena dia tuh kerjaannya bagus banget, karyawan paling oke pokoknya. Nah masa karyawan teladan begini disuruh pecat sama tante Sandra?" Andreas bicara tanpa sadar, Lara mendelikkan mata padanya tapi Andreas seperti tidak menyadarinya.
"Tante Sandra?" tanya Diana bingung.
"Iya, mamanya Josh..."
Belum sempat Andreas menyelesaikan kalimatnya, dia segera tersadar dan menatap Lara yang sedang mendelik padanya. Kemudian menatap Joshua yang duduk di hadapannya tepat di samping Darren. Mereka menunggu lanjutan kalimat Andreas.
"Mamaku?" tanya Joshua karena Andreas tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
Suasana menjadi hening, Lara menjadi salah tingkah karena ditatap Joshua dengan sejuta pertanyaan yang mungkin sudah siap terlontar darinya.
"Maaf, La. Aku kelepasan bicara, lagipula aku pikir kamu sudah membicarakannya dengan Joshua," Andreas menatap Lara dengan permohonan maaf.
Lara menghela nafas, dia menjadi tidak nyaman dengan keadaan ini. Suasana menjadi tegang.
"Ada yang bisa jelaskan ada apa sebenarnya? Kenapa mamaku memintamu untuk memecat Lara?" tanya Joshua dengan wajah serius.
"Well, beberapa hari yang lalu tante Sandra datang ke kantor, beliau menemui Lara. Memintanya menjauhimu, karena menurut beliau kau akan segera menikah. Kemudian tanpa sengaja aku lewat dan melihatnya, setelah kulerai mamamu memintaku untuk memecat Lara."
Andreas mau tak mau harus menjelaskan karena semua sedang menunggu jawaban dari pertanyaan Joshua, ditatapnya Lara yang memasang wajah datar. Maafkan aku, La. Aku membuat suasana jadi tak mengenakkan seperti ini, gumam Andreas dalam hati. Tapi menurutnya ada baiknya juga Joshua mengetahui hal ini.
"Ki, aku perlu bicara padamu," Joshua menatap tajam pada Lara.
"Makanan sudah siap, yang sudah lapar langsung saja ke meja makan ya," ajak Tiara memecahkan keheningan.
Mereka yang mengerti ajakan Tiara langsung menuju meja makan, menyisakan Joshua dan Lara di ruang tamu.
"Mau bicara di sini atau di luar?" tanya Joshua setelah mereka tinggal berdua saja.
"Di luar saja ko, sekalian aku pamit pulang sama kak Tiara."
Setelah berpamitan pada Tiara dan yang lainnya, Lara dan Joshua segera melangkah pergi ke parkiran menuju mobil Joshua.
"Mau sambil makan di mana? Kamu pasti belum makan malam kan?" tanya Joshua memecah kebisuan saat mereka ada di dalam mobil.
"Terserah, ko. Aku ikut saja," jawab Lara pelan.
Setibanya di salah satu restoran tak jauh dari tempat kost Lara, mereka segera memesan makanan.
"Kenapa kamu tidak mengatakan padaku perihal mama yang datang menemuimu ke kantor?" tanya Joshua sambil menyuap makanannya.
"Aku harus bilang apa, ko? Sudah cukup lama kita tak berkomunikasi atau bertemu, aku pikir ya tak ada hubungannya juga denganku," ujar Lara cuek. "Lagipula kupikir ibumu hanya salah sasaran, karena di antara kita memang tak ada hubungan apapun, toh tidak akan menjadi penghalang untuk rencana pernikahanmu," lanjutnya seraya menyuap makanan.
Joshua meletakkan sendoknya menyudahi sesi makan malamnya, dia kehilangan selera, merasa kesal dengan sikap acuh Lara.
"Kenapa kamu kurang peka, Ki? Tahukah kamu kenapa belakangan ini aku menghindarimu? Tak menemuimu ataupun berkomunikasi denganmu?" tanya Joshua dengan kesal.
Lara meletakkan sendok garpunya, makanan di piringnya sudah habis, dia sudah merasa kenyang.
"Terus terang aku kurang mengerti dengan sikapmu itu, tapi aku juga harus menghargai sikapmu yang mungkin membutuhkan privasi, apalagi kudengar dari ibumu kalau kamu sedang sibuk menyiapkan pernikahanmu. By the way selamat ya, ko. Semoga lancar sampai hari H," Lara mengakhiri kalimatnya dengan senyum tulus.
Joshua bertambah kesal mendengar ucapan Lara, dia mulai kehilangan kesabarannya.
"Aku mencintaimu, Ki. Aku tidak ingin menikah dengan gadis pilihan ibuku, aku tidak ingin berpura-pura bahagia dalam kehidupan pernikahan yang tidak kuinginkan."
Dengan susah payah Lara meneguk air putihnya, dia tidak siap mendengar pernyataan cinta dari Joshua.
"Sampai kapan kamu menutup dirimu, Ki? Kamu tak peduli dengan perasaanku padamu, sibuk dengan perasaanmu sendiri. Kamu tahu betapa sakitnya merasakan cintaku bertepuk sebelah tangan seperti ini?"
***
From author :
Bingung mau nulis apa, teruntuk pembaca setiaku, thx ya untuk supportnya selama ini. Aku masih tetep butuh vote, like, comment kalian jg ya. Bantu share juga ya guys... Thx....
Luv,
Lanny Tan
g usah munak..giliran dituduh mencak²... aneh lu
meskipun tiara atau keluarganya sklipun.melihat itu yg sangat gak pantas dipikir klian berdua berselingkuh
itu kan karna kebodohanmu sendiri. kenapa tidak bisa berterus-terang dan menjadi laki² pengecut.
ingat ya.. mgkin menurut orang tua pilihan meraka itu tepat tapi belum tentu terbaik bagi anaknya
ntar jdi bingung bacanya . ribet
Dia memperkosa istri,, melecehkan dg kata2x, berbohong pd istrinya bhw ada kerjaan sampai mbiarkan anak istrinya pdhal berduaan dg mantan,,, apapun alasannya Joshua bkn suami yg baik n penuh cinta,,,, Cinta tdk akan menyakiti fisik maupun mental,,,