Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.mematahkan dua pedang
*Syut! Syut!*
Dua bilah *rapier* milik Rose meluncur lurus bagai kilat kembar, mengincar kedua mata gua sekaligus. Kecepatannya bener-bener gila, dapet *buff* penuh dari stat *Agility* miliknya yang udah mentok.
Penonton di ruang *live chat* bahkan belum sempet ngetik apa-apa saking cepetnya gerakan pembuka itu. Di mata mereka, gua yang cuma level 2 pasti bakal langsung tumbang kena tusukan pertama.
Tapi di mata seorang *Sword God*, aliran pedang kembar punya satu cacat fundamental: **Pecahnya Fokus.**
Manusia biasa punya satu otak. Ketika lu megang dua pedang dan nyerang barengan, otak lu terpaksa ngebagi fokus jadi dua jalur. Lu ngerasa serangan lu makin rapat, padahal sebenernya bobot dan presisi dari masing-masing pedang itu berkurang setengah dibandingin sama pengguna satu pedang yang fokusnya penuh.
*Sret!*
Gua gak mundur. Gua justru maju selangkah, mepet ke arah dalam tangan kanan Rose—masuk tepat ke titik buta di antara sela-sela jangkauan kedua pedang tipisnya.
Miringin badan sedikit, pedang kanan Rose lewat tipis di samping kuping gua, sementara pedang kirinya meleset jauh karena sudut serangnya kegeser sama pergerakan maju gua.
"Hah?!" Rose kaget setengah mati pas nyadar targetnya mendadak hilang dari jangkauan fokus utamanya.
"Terlalu lebar," bisik gua.
Tanpa nunggu dia narik balik senjatanya, gua gerakin tangan kanan gua yang megang pedang besi standar. Bukan buat nebas lehernya, tapi gua sabetkan bagian datar bilah pedang gua keras-keras ke pergelangan tangan kanan Rose yang lagi tegang.
*BUM!*
Gua gak pake *skill*, cuma murni memanfaatkan momentum berat badannya sendiri. Benturan itu bikin pergelangan tangan kanannya tertekuk paksa ke arah dalam, otomatis ngebuat jalur pedang kanannya tabrakan sama pedang kirinya sendiri!
*ANGG!*
Dua *rapier* milik Rose saling beradu dan mengunci satu sama lain gara-gara rekayasa gerakan gua. Karakter Level 62-nya langsung kehilangan keseimbangan, tersandung oleh koordinasi tubuhnya sendiri yang kacau balau.
**[Sistem: Taktik Interupsi Sempurna! Musuh Mengalami 'Anomali Gerakan' Selama 2 Detik!]**
"Gak mungkin... Lu sengaja bikin pedang gua tabrakan?!" Mata perak Rose melebar, penuh rasa horor yang gak bisa disembunyiin lagi.
Dua detik itu udah lebih dari cukup. Gua balik genggaman pedang gua, lalu gua hantamkan hulu pedang (*pommel*) gua tepat ke ulu hatinya sampai dia batuk darah virtual dan jengkang ke belakang.
*UHUK!*
**[Critical Hit!]**
Belum sempat dia jatuh ambruk, gua langsung ngelepasin serangkaian serangan susulan. Berhubung pedang besi standar gua kali ini punya durabilitas yang lumayan, gua gak perlu ganti-ganti senjata kayak pas lawan WhiteKnight. Gua cuma perlu fokus ke satu hal: kecepatan tebasan murni.
*Sret! Jleb! Sret!*
Gua sabet urat kakinya, gua tusuk celah zirahnya, dan gua pastiin setiap tebasan gua memicu status **[Weakpoint Destruction]**. Darah Level 62 miliknya yang tebal langsung merosot drastis kayak ember bocor.
"B-Bangsat... *[Rose Blizzard]*!!"
Dalam kondisi sekarat dan panik, Rose nekat mengaktifkan *skill* pamungkasnya. Tubuhnya mendadak diselimuti aura merah menyala, dan sepasang *rapier*-nya bergerak liar ngelepasin puluhan tusukan acak bagai badai kelopak bunga mawar yang mematikan. Ini adalah *skill Area of Effect* (AOE) jarak deket—siapa pun yang ada di sekitarnya pasti bakal ikut hancur.
Netizen di kolom *chat* langsung histeris, ngira gua bakal kegulung sama badai mawar itu.
Tapi gua malah mundur selangkah, masang kuda-kuda tegak yang sangat anggun. Gua genggam pedang besi gua dengan kedua tangan untuk pertama kalinya di turnamen ini.
"Aliran Pedang Kelana... Bentuk Ketiga," gumam gua pelan, mengingat kembali jurus dasar yang gua ciptakan di kehidupan lalu buat ngehalau hujan panah pasukan musuh.
**[Sunken Moon - Bulan Tenggelam]**
Gua gak nyerang badai mawarnya. Gua cuma muter bilah pedang gua dalam gerakan melingkar yang lambat tapi bertenaga, menciptakan dinding angin pusaran tak kasat mata tepat di depan dada gua.
*TINGTINGTINGTINGTINGTING!*
Puluhan tusukan beruntun dari *skill* pamungkas Rose yang terkenal mematikan itu mendadak mental semua begitu nyentuh pusaran pedang gua. Gak ada satu pun tusukan yang bisa nembus. Suara benturannya berisik banget, nimbulin percikan api warna merah yang menerangi seluruh taman kaca.
*Sreeek!*
Begitu durasi *skill* Rose habis dan dia kehabisan stamina, badai mawar itu langsung reda. Rose berdiri megap-megap dengan kedua tangan yang gemeteran parah akibat efek *rebound* dari *skill*-nya sendiri yang digagalkan total.
Gua nurunin pedang gua, natap dia dengan pandangan dingin dari balik tudung hitam.
"Main-mainnya udah selesai, Mbak," ucap gua datar.
Gua maju satu langkah cepat, lalu ngelepasin satu tebasan horizontal pamungkas yang membelah lehernya dengan sangat bersih.
*JLESSS!*
**[SISTEM: PEMENANG PERTANDINGAN – SWORDGOD77!]**
**[WAKTU PERTANDINGAN: 00:42 DETIK]**
**[PENGUMUMAN: 'SwordGod77' Resmi Lolos ke Babak 8 Besar LFG Musim 7!]**
*BOOOM!*
Ratu Kombo Korea meledak jadi partikel cahaya merah mawar yang beterbangan di udara, menyisakan gua yang berdiri tegak sendirian di tengah arena kaca.
Kolom *live chat* LFG saat itu juga langsung mengalami *crash* total selama tiga detik gara-gara saking banyaknya super-chat dan komentar yang masuk bersamaan. Rekor penonton siaran langsung gua malam ini resmi pecah, menembus angka **500.000 penonton.**
Gua gak nunggu sistem pulih. Gua langsung nekan tombol *log-out* karena rasa pusing di kepala asli gua udah bener-bener gak tertahankan lagi.
*Zzzzt.*
Begitu mata gua melek di dunia nyata, gua langsung ngelepas *headset* VR dan ambruk ke kasur sambil megangin kepala gua yang rasanya kayak mau meledak. Keringat dingin ngucur deres banget, bikin baju gua basah kuyup.
"Ji... Lu bener-bener setan," suara Jinho kedengaran gemeteran dari arah meja kerja.
Gua nyoba ngelirik dia dengan mata yang agak buram. Jinho lagi megang hp-nya dengan tangan yang gemeteran parah, mukanya pucat mampus kayak abis liat kiamat.
"N-Kenapa lagi?" tanya gua serak, napas gua masih ngos-ngosan. "Ada sponsor lain yang nyari gua?"
"B-Bukan sponsor, Ji..." Jinho menelan ludah berat, lalu nunjukin layar hp-nya ke arah gua dengan pandangan horor. "Gara-gara lu ngebantai Rose dalam waktu 42 detik... Asosiasi E-Sports Profesional Korea baru aja ngeluarin rilis resmi. Mereka menduga lu adalah mantan narapidana militer atau agen rahasia asing yang punya keahlian membunuh di dunia nyata, dan mereka lagi minta pihak kepolisian buat selidiki identitas asli lu!"