Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Sari tengah meminum teh buatan Vanessa saat mobil Arya dan Hilman memasuki kediaman keluarga Rakarsa. Sontak saja wajah gadis itu memucat takut membayangkan kemarahan abangnya. “mereka sudah datang,” ucap Vanessa saat melihat mobil hitam Arya dan Hillman melalui jendela.
Vanessa menoleh kepada Sari, dahinya seketika berkerut bingung melihat Sari yang tampak ketakutan. “kamu kenapa Sar?” tanya Vanessa.
“bang Hilman itu orangnya tegas lo mbak, bisa aku habis di rumah nanti,” jawab Sari sedikit gemetar. “atau mungkin aku akan dimarahi saat aku masuk mobil ya, oh, ya Tuhan,”
“hei, jangan lebay kamu, mana mungkin dia bakalan marahin kamu, Sar,” ucap Vanessa yang tidak suka dengan sikap Sari yang berlebihan.
“ini serius lo mbak, mas Hilman itu mirip kayak ayahku, tegas,” ucap Sari lagi.
Namun Vanessa tak memperdulikan kata-kata Sari, ia berdiri untuk membukakan Hilman pintu rumahnya, sementara Arya masuk melalui pintu teras samping.
Sari ikut berdiri, ia segera pasang badan untuk berlindung di belakang Vanessa. Saat pintu terbuka, Hilman langsung memberi hormat. “sore nona, saya ingin menjemput adik saya ke sini,” ucap Hilman dengan ramah.
“sore juga,” jawab Vanessa, ia menyorot tajam kepada Hilman yang terus menunduk di depannya. Sama seperti pertemuan mereka sebelumnya, saat itu Hilman juga menunduk ketika bertemu dengannya.
“Sar! ayo pulang” ucap Hilman dengan datar memerintah Sari, namun ia masih menunduk, membuat Vanessa bingung dengan sikap laki-laki itu.
“hehehe, iya bang, tapi bentar lagi ya, teh ku belum habis,” jawab Sari dengan sikap polosnya. Membuat Hilman mengeram kesal, namun tidak ia perlihatkan kepada Vanessa.
“kamu masuk aja dulu, ku buat teh untukmu” ucap Vanessa menahan kesalnya dengan sikap Hilman.
“nggak usah nona, aku nggak mau …”
“masuk!!” potong Vanessa dengan tegas. Membuat Hilman tertunduk patuh dan kemudian masuk ke dalam.
Vanessa segera kebelakang, sementara Sari kembali duduk di kursi sembari meminum tehnya lagi. Kali ini ia tersenyum senang. Baru kali itu ia melihat Hilman tunduk dan patuh sama perempuan. Ingin sekali ia mengangkat kedua jempol jari tangannya, lalu ia perlihatkan kepada Vanessa sembari berkata , ‘mbak kereen’
“kamu ngapain disini?” tanya Hilman memecahkan lamunan Sari.
“disuruh mbak Vanessa, bang. Aku nurut aja” kilah Sari dengan nada sopan.
“kamu ini ya, udah dibilangin jangan ngerepotin dan menganggu keluarga tuan Arya, ini kamu malah sampai minum teh disini” ucap Hilman dengan kesal.
“aku dipaksa bang, lagi pula abang juga dipaksakan untuk duduk disini” ucap Sari dengan sedikit menunduk menahan kesal kepada abangnya.
Sementara Vanessa tengah menyiapkan segelas teh untuk Hilman, ia melihat disana Arya dan Mila juga sedang duduk di meja makan sembari bercanda ria menghabiskan waktu sore. Setelah selesai membuat teh, Vanessa sejenak duduk di meja makan bergabung bersama Mila dan Arya. Matanya menatap wajah Arya yang terlihat masih lelah setelah pulang bekerja.
“dek, Hilman itu orangnya seperti apa sih?” Tanya Vanessa sembari mengambil gelas dan mengisinya dengan air.
“emang kenapa kak? ada yang aneh sama dia?” Arya balik bertanya.
Mila dan Arya serentak melihat wajah Vanessa dengan penasaran, membuat Vanessa seketika tersedak dengan tatapan mereka.
“huk, huk” Vanessa menaruh gelasnya dengan cepat dan mengusap dadanya.
“hati-hati minumnya, kak” ucap Mila.
“kalian yang membuat kakak kayak gini, ngapain seperti itu melihat kakak” ucap Vanessa dengan kesal.
Arya dan Mila tak menjawab, membuat Vanessa mendengus kesal. Ia segera menghabiskan airnya dan berdiri untuk mengantarkan teh untuk Hilman di ruang tamu. Kepergian Vanessa masih dilihat penasaran oleh Mila dan Arya.
“kenapa kak Vanessa aneh gitu, mi?” tanya Arya dengan nada rendah.
“ngga tahu, bi” jawab Mila, “mungkin kak Vanessa lagi ada masalah dengan restorannya”
Arya menganggukkan kepalanya dengan pelan, ia kemudian melihat lagi ke arah Mila, “gimana kandungannya, mi? perut umi udah makin membesar,”
“rasanya anak abi udah mulai banyak gerak deh, perut umi ditendang terus dari pagi,” jawab Mila dengan mata usil melihat Arya.
Sementara Vanessa sudah menaruh teh untuk Hilman di meja, matanya menatap laki-laki yang selalu menunduk di depannya itu dengan rasa kesal. Ingin sekali dia memarahi laki-laki yang seperti memandangnya seperti ketakutan itu.
“diminum, Man” ucap Vanessa dengan ketus.
“terima kasih banyak, nona” jawab Hilman dengan hormat.
Vanessa kembali masuk ke dapur, meninggalkan Hilman dan Sari, dan ‘Plaak’ tamparan ringan diberikan Sari di bahu abangnya itu. Membuat Hilman tersentak kaget dan langsung memandangi Sari dengan kebingungan. “apaan sih, Sar?”
“abang ngapain nunduk gitu di depan mbak Vanessa?” tanya Sari dengan ketus.
“Dia nggak pakai jilbab Sar, dosa tahu tahu melihat dia” jawab Hilman dengan jujur.
“ishh, abang ini, kalau abang nunduk gitu, yang ada mbak Vanessa tersinggung sama abang,”
“loh kok tersinggung sih, seharusnya dia nyaman auratnya nggak dilihat sama laki-laki” jawab Hilman tanpa beban. "seharusnya kamu itu juga pakai jilbab, biar nggak nambah dosa aku sama dosa ayah,"
Sari memanyunkan bibirnya dengan kesal, hampir setiap hari ia dinasehati seperti itu oleh Hilman. Kupingnya seakan sudah kebal dengan itu semua, namun tetap saja ia merasa tidak senang dinasehati seperti itu setiap hari.
****
dr. Arfi berjalan pelan dari ruangannya menuju ruang tengah, tempat Karina dan bu Mutia tengah asyik menonton tv. Dengan santapan kacang mete, mereka ikut hanyut dalam sinetro asa Bollywood yang tayang di tv. dr. Arfi mengusap pelan bahu Karina yang membuat gadis itu kaget karena ia masih hanyut dalam suasan sinetron yang di tontonnya.
“kenapa, yah?” tanya Karina melihat ke arah dr. Arfi yang berdiri di samping.
“ayah mau bicara sebentar, Rin” gumam dr. Arfi.
Karina mengangguk, dengan sedikit kesal ia mengikuti ayahnya, meninggalkan sinetron yang sedang lagi panas-panasnya mengaduk emosi penonton. Karina mengekori dr. Arfi hingga masuk ke dalam ruangan dokter tersebut yang tidak terlalu besar.
“ayah mau bicara apa?” tanya Karina sembari menarik kursi untuk duduk.
“Ari udah tadi pagi menelfon ayah, katanya udah ada donatur yang mau bantu kita untuk membangun klinik, Rin” jawab dr. Arfi.
Dadanya Karina terasa berdegup kencang mendengar ayahnya menyebut nama Ari. Ada rasa yang terasa ingin segera ia lepaskan. Rasa yang tertahan, kelu bibirnya untuk berucap.
“ayah mau kamu yang mengurus ini, Rin. Kamu kan cukup mengenal Ari, ayah rasa kerja sama kalian akan lebih bagus agar klinik kita cepat selesainya,”
Jantung Karina terasa berpacu cepat mendengarnya, apa dia harus mensyukuri itu atau merutuinya. “kenapa
aku, yah?” tanya Karina dengan singkat mengendalikan gejolak dadanya.
“nggak kamu sepenuhnya kok, Rin. Ayah akan tetap mengawasinya juga, ayah rasa karena kamu dekat dengan dia, komunikasi kalian akan lebih bagus ketimbang ayah” jawab dr. Arfi dengan datar.
“ibu kamu nggak pernah ngizinan ayah buat buka praktek sendiri, jadi klinik ini adalah jalan terbaik menurut ayah, nanti ayah megang di manajemennya saja, masalah operasionalnya nanti bisa kamu yang pegang” jelas
dr. Arfi.
Karina menelan salivanya, ia mengangguk dan tersenyum getir memenuhi keinginan ayahnya. Setelahnya dr. Karina pamit keluar dari ruangan tersebut. Ia melewati ruang tengah dimana bu Mutia masih asyik menonton tv.
Karina segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Menghempaskan tubuhnya ke ranjang, sembari melihat ponselnya. Kembali lagi ia baca chat-chat lamanya dengan Ari yang masih tersimpan. Melihat status on line Ari di room chat mereka membuat dada Karina terasa menggebu ingin melepas rindu. Air matanya menetes, merasa benci kepada dirinya sendiri. Kenapa untuk memulai lebih dulu ia tidak berani? apa dia harus menunggu Ari yang memulainya lagi. Pasti akan terasa canggung saat mereka bertemu nanti.
Karina mematikan ponselnya, ia menarik selimut, menyembunyikan seluruh tubuhnya. Air matanya kembali menetes menahan rasa yang tak menentu, tapi terasa ingin membuncah keluar untuk segera dipenuhi. Air matanya menetes seiring dengan alunan indah suara rintik hujan yang kembali membasahi ibu kota malam itu.
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...