Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Lima
Manda tak mungkin membiarkan sahabatnya lama berada di rumah Akram, sadar kalau pemilik rumah akan segera pulang dia pun meminta Marwah untuk segera meninggalkan tempatnya.
Meski tanggapan Marwah menampilkan wajah kesal karena merasa diusir, tapi dia juga mentolerir. Manda sedang dalam kondisi bekerja dan kehadirannya tentu akan menjadi tanda tanya besar jika benar pemilik rumah lebih dulu tiba di rumah, menemukan orang asing pasti akan berbuntut masalah panjang.
"Ya udah aku pulang, janji kalau ada apa-apa telpon aku. Pasti aku bantu."
"Hmm, makasih udah aku repotin."
"Hahaha, pas lagi terdesak aja bilang makasih," ujar Marwah menyindir.
"Iya! Udah sana buruan pergi, ngomong terus gak berhenti! Keburu Bu Maharani pulang!" usir Manda mendorong Marwah memasuki mobil.
"Dasar..." ucap Marwah menggerutu yang dibalas Manda dengan menutup sisi pintu mobil. Lantas setelah Marwah pergi Manda memasuki rumah.
***
Maharani tiba di rumah saat waktu sudah menjelang sore. Dia langsung beristirahat di kamar, beda dengan Bik Suti yang menuju dapur mengerjakan tugasnya untuk memasak makan malam.
Sedangkan Manda dia bersama dengan Nagita yang masih saja menampakkan wajah ngambek, meski setelah bangun tidur tadi siang dia mau sedikit makan.
"Mandi ya, habis ini Papa-mu pulang," ucap Manda mengulang perintahnya. Mungkin bila dihitung lebih dari ke empat kalinya.
Bocah itu dengan wajah ponggah, bersikap dada menatap layar televisi tak sedikit pun membalasi ucapan Manda.
Mencebik karena waktu lebih dari dua jam dia habiskan untuk anak itu, akhirnya Manda memilih pergi. Menyusul Bik Suti di dapur.
Manda datang tanpa mengucapkan apapun, meneruskan pekerjaan Bik Suti memetik kangkung sebab yang dilakukan wanita paruh baya itu kini sedang membalik ikan yang tengah digorengnya.
"Mbak Manda yang sabar aja ya, memang Non Nagita tingkahnya istimewa," ucap Bik Suti menyadari kehadiran Manda.
"Emang bener-bener tu anak nguji kesabaran ya Bik," ucap Manda mengaduh dengan Bik Suti yang tersenyum menanggapi.
"Namanya anak-anak Mbak. Nakalnya sedang dihabiskan di masa kecil, kalau orang dulu-dulu bilang."
"Apa iya Bik? Cuma pepatah barang kali," ucap Manda menampik. "Lagian aneh aja, modelan Bapaknya kalem banget tapi anaknya bikin ngelus dada, yang mungkin saking banyak ngelus-ngelus ntar jadinya rata."
Bik Suti tertawa. "Itu ujiannya orangtua, ujiannya orang dewasa. Ibarat anak kan perlu dididik, orangtua bertugas memberi arahan dengan baik dan yang penting minta dan perbanyak doa biar anak besarnya nanti jadi orang yang berguna."
"Lah itu kan tugas orangtua Bik, kalau Manda ya beda lagi. Manda disini cuma mengasuh, bimbing dan mengawasinya saja."
Bik Suti tersenyum simpul, menepuk lengan Manda. "Anggap aja ini pembelajaran. Lagian Mbak Manda kan suatu saat juga pasti akan berkeluarga."
Manda menyengir menatap Bik Suti. Dia mengaku berada disini dengan status lajang, sebab status di KTP memang masih belum berubah.
"Papa pulang!" Pekikan itu terdengar dari ruang tamu, tempat Nagita menonton televisi. Manda dan Bik Suti sontak saja menoleh ke sumber suara.
"Pak Akram sudah pulang, kalau gitu Bibik lanjutkan dulu memasaknya Mbak," ujar Bik Suti yang meneruskan pekerjaannya.
"Memang masih banyak yang harus dimasak Bik?"
"Hanya ini sama ini yang belum," sahut Bik Suti menunjukkan kangkung yang baru saja selesai Manda petik dan satu sayur lainnya.
"Kalau gitu Manda tinggal ya Bik, ke depan nyusul Nagita," ujar Manja lalu beranjak menuju depan rumah.
Seperti yang dia duga, Nagita mengadu kepada Akram tentang apa yang terjadi tadi siang. Meski anak itu akan genap tiga tahun tapi anak itu begitu fasih bicara, bercerita meski tidak terlalu detail tapi tetap menyebut bahwa Manda telah memarahinya, memaksa dan akan bersikap tak peduli jika perintah yang diberi tak dituruti oleh bocah kecil itu.
Manda hanya diam saja sama seperti Akram yang mendengar dengan seksama cerita dari Nagita. Manda pun juga sudah bersiap dengan respon Akram. Mau marah, menasehatinya atau memberhentikan pekerjaannya dia rasa juga telah siap.
Hingga saat anak itu telah selesai mengadu, Manda baru buka suara. "Nagita juga belum mandi."
Akram menoleh sejenak pada Manda, lalu kembali mengalihkan tatapannya kepada putrinya yang berada dalam gendongan. "Benar putri Papa belum mandi, pantesan bau acem. Trus minta gendong begini?" ucap Akram mendelikkan mata pada putrinya.
"Habis Tante paksa-paksa Gita!" ketus Nagita.
Dada Manda naik, hampir dia membalas ucapan Nagita. Tapi lebih dulu Akram berujar, "Tante pasti sudah suruh Nagita satu kali kan? Nagita bilang gak mau, lalu karena itu Tante suruh kamu lagi?"
Nagita menggangguk-anggukan kepala. "Pokoknya Nagita gak mau sama Tante itu!" Aduh Nagita yang kali ini justru menangis. Dan mau tak mau Akram menggendong masuk rumah, melewati Manda yang berdiri di tempat tanpa melakukan pembelaan diri.
To be Continue
Scene Manda Akram bakal dimulai yaaaaa