Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan yang Berat
"Aku harus pergi dari sini." bisik hati Aini.
Sejak kejadian kemarin.....saat ia melihat Dimas ditangkap oleh orang-orang di taman kota...hati Aini tak tenang. Walaupun laki-laki itu dibawa pergi, Aini tahu betul sifat Dimas.....licik, keras kepala, dan tak pernah puas. Bagaimana pun juga, Dimas adalah ayah kandung anak-anaknya, dan di mata hukum, dia masih suaminya. Siapa yang bisa menjamin Dimas tidak akan lepas lagi? Siapa yang bisa menjamin dia tidak akan mencari jejak mereka lagi saat kesempatannya datang?
"Bagaiman kalau nanti dia datang, membawa anak-anak dan menyakiti Bu Lilis?" batin Aini tak bisa membayangkan.
Keputusan itu sudah bulat di benaknya.
"Aku harus pergi. Harus meninggalkan tempat yang sudah menjadi rumah dan pelindung terbaik bagi anak-anakku."
Bu Lilis berdiri di hadapan Aini, wajahnya tampak sedih dan tak rela.
"Kenapa harus buru-buru, Nak?" tanya Bu Lilis dengan suara parau, tangannya gemetar ketika menyentuh bahu Aini.
"Kamu baru saja merasa aman di sini. Sudah kenal banyak orang, mereka baik dan mendukungmu. Ibu juga bisa membantu menjaga anak-anak saat kamu pergi bekerja. Ke mana lagi kalian akan pergi? Di kota yang asing, sendirian membawa dua anak kecil, belum lagi Satria masih bayi... itu sangat berat, Aini. Sangat berbahaya."
Aini menundukkan wajahnya, air mata mulai menggenang namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Ia menatap wajah wanita tua yang sudah begitu baik, yang sudah menampung, memberi makan, dan menyayangi mereka seolah cucu sendiri.
Rasanya sakit sekali harus meninggalkan perempuan yang berhati malaikat ini. Orang yang telah suka rela menyelamatkan hidup mereka.
"Aku tahu, Bu... Aku tahu Ibu sangat baik. Aku tahu di sini aman, nyaman, dan Ibu sangat sayang sama kami," jawab Aini pelan, suaranya bergetar menahan tangis.
"Tapi kemarin... aku melihat dia, Bu. Aku melihat Dimas. Dia ada di kota ini. Dia dikejar orang, dia dalam masalah besar....aku takut, Bu. Aku takut kalau dia lepas, dia akan mencari kami lagi. Dia tahu aku tidak punya saudara, dia tahu aku mungkin mencari tempat di pinggiran seperti ini. Kalau dia sampai ke sini... kalau dia sampai tahu kami ada di rumah Ibu... aku takut Ibu ikut celaka, Bu. Aku takut dia berbuat jahat sama Ibu yang sudah menolong kami."
Bu Lilis menggeleng kuat, wajahnya tampak tegas menolak alasan itu.
"Biarkan saja dia datang! tidak usah takut sama laki-laki tidak punya hati nurani seperti dia! Selama kamu di sini, Ibu akan melindungi kalian semua..... dengan nyawa Ibu sendiri, Aini! Jangan pergi... Ibu sudah menganggap kalian keluarga sendiri. Ibu sudah sepi, Nak. Kalian ada di sini membuat rumah tua ini jadi hidup, jadi berisik, jadi bahagia. Kalau kalian pergi, Ibu sendirian lagi..."
Suara Bu Lilis perlahan melemah dan berubah menjadi isak tangis yang tertahan. Ia berbalik badan menyeka air matanya yang menetes. Bagi Bu Lilis, kehadiran Aini dan kedua anaknya adalah anugerah yang tak terduga. Ia hidup sendirian, tidak punya anak, dan kehadiran mereka mengisi kekosongan hatinya. Kehilangan mereka sama beratnya dengan kehilangan darah dagingnya sendiri.
Kedua perempuan beda generasi itu saling menatap. Mata keduanya sama-sama menyimpan luka.
Syafa yang sedang melipat baju di sudut ruangan, mendengar percakapan itu dan segera berlari menghampiri Bu Lilis. Ia memeluk pinggang wanita tua itu erat-erat, menempelkan wajahnya ke kain daster lusuh itu.
"Nenek jangan menangis... Syafa nanti kangen sama Nenek," kata gadis kecil itu dengan suara sedih, ikut menangis melihat orang yang disayanginya bersedih.
Bu Lilis berjongkok dan memeluk Syafa dengan erat, mencium kening anak itu berkali-kali.
"Nenek juga kangen, Nak... Nenek juga sayang sama Kakak dan Dedek. Kenapa harus pergi, ya Tuhan... kenapa kebahagiaan ini tidak boleh lama..."
Aini bangkit perlahan, memindahkan Satria yang masih tidur pulas ke gendongan yang lebih nyaman. Ia berjalan mendekati Bu Lilis dan Syafa, lalu ikut berlutut di hadapan wanita tua itu. Digenggamnya kedua tangan keriput Bu Lilis, menatapnya dengan mata berkaca-kaca namun penuh keteguhan hati.
"Ibu... percayalah... aku juga berat sekali rasanya meninggalkan Ibu. Rasanya seperti meninggalkan ibu kandungku sendiri. Tapi aku harus berpikir panjang, Bu. Demi masa depan Syafa dan Satria. Aku harus cari tempat yang benar-benar jauh, tempat yang tidak ada satu pun orang yang kenal aku atau Dimas. Aku harus pastikan anak-anakku tumbuh besar tanpa rasa takut, tanpa bayang-bayang ayah yang jahat itu."
Aini mengusap air mata yang mengalir di pipi Bu Lilis.
"Ibu sudah berbuat lebih dari cukup buat kami. Ibu sudah menyelamatkan kami saat kami kedinginan dan kelaparan. Ibu sudah menjaga kami sampai Satria lahir dengan selamat. Aku tidak akan pernah lupa kebaikan Ibu seumur hidupku. Tapi tolong... izinkan aku pergi, Bu. Ini satu-satunya cara agar kami benar-benar aman, dan agar Ibu tidak terlibat masalah."
Bu Lilis menatap wajah Aini lekat-lekat. Ia melihat ketegasan dan keberanian di sana, ketegasan seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi anak-anaknya.
"Kamu mau bawa anak-anakmu kemana Aini? Disini kamu tidak punya siapa-siapa, apalagi ditempat yang jauh..."
"Allah tidak tidur,Bu. Dia tau kamu harus kemana. I u tinggal mendo'akan keselamatan kami bertiga. Hanya itu Bu....hanya do'a Ibu yang kuminta saat ini."
Bu Lilis akhirnya sadar, apa pun yang dikatakannya sekarang, keputusan Aini sudah tak bisa diubah lagi. Rasa takut dan rasa tanggung jawab Aini terlalu besar untuk dilawan.
Dengan napas berat dan dada yang sesak oleh kesedihan, Bu Lilis akhirnya mengangguk pelan. Ia memeluk Aini dan Syafa bersamaan, memeluk mereka seerat-eratnya seolah tak ingin melepaskan, seolah ingin memindahkan seluruh kasih sayang dan doanya ke dalam pelukan itu.
"Ya sudah... kalau itu keputusanmu... Ibu tidak bisa menahan lagi," ucap Bu Lilis lirih di sela-sela isak tangisnya.
"Pergilah, Nak... Pergilah cari tempat yang aman. Ingat satu hal... rumah kecil ini, pintu ini, dan hati Ibu... akan selalu terbuka lebar buat kalian. Ke mana pun kalian pergi, Ibu akan selalu mendoakan kalian. Semoga Tuhan selalu melindungi langkah kaki kalian, menjauhkan dari bahaya, dan memberikan kebahagiaan yang panjang....selamanya."
Aini mengangguk. Matanya sembab terlalu banyak menangis. Ia tahu, perpisahan ini menyakitkan, tapi ini adalah awal dari perjalanan baru yang akan dia tempuh bersama kedua buah hatinya.
Matahari mulai tenggelam sepenuhnya, menyisakan cahaya remang di gubuk itu. Aini bangkit berdiri, menggendong Satria, menggenggam tangan kecil Syafa, dan mengangkat tas kain sederhana miliknya. Ia melangkah keluar pintu, meninggalkan rumah yang menjadi saksi perjuangannya, meninggalkan wanita yang menjadi malaikat penolongnya.
Bu Lilis berdiri di ambang pintu, memegang tiang kayu dengan tangan gemetar, menatap kepergian mereka.
"Ya Allah! Lindungi anak dan cucu hamba. Dia sendirian ya Rabb....perjuangannya masih sangat panjang."
Air matanya terus mengalir, namun di dalam hatinya ia tahu....Aini adalah ibu yang hebat, dan ke mana pun mereka pergi, kebaikan serta ketulusan hati Aini akan menjadi pelindung terbesar bagi kedua anaknya.
Bu Lilis melangkah tergesa ke dalam rumah. Tak lama dia kembali dan memanggil.
"Aini....Nak! Tunggu sebentar....."
*****