NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Genderang Perang Ditabuh

Setelah Nicholas Baskoro kabur dari Wijaya Tower dengan membawa rasa malu dan ketakutan yang mendalam, suasana di dalam ruangan Direktur Utama kembali tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama bagi Kirana. Meskipun dia merasa sangat lega melihat Nicholas yang angkuh itu berlutut tanpa perlawanan, pikiran logisnya sebagai seorang lulusan bisnis tetap berjalan. Dia tahu betul bahwa Baskoro Group bukanlah lawan sepele yang akan menyerah begitu saja hanya karena ancaman verbal.

Kirana berjalan kembali ke balik meja kerjanya, lalu duduk sambil menatap kosong ke arah draf kontrak akuisisi yang ditinggalkan oleh Nicholas di lantai. Aku melangkah mendekat, mengambil dokumen berlapis kulit buaya itu, lalu merobeknya menjadi dua bagian tanpa ragu sebelum membuangnya ke tempat sampah.

"Adrian," Kirana membuka suara, nadanya dipenuhi kecemasan yang tertahan. "Apa yang kamu katakan pada Nicholas tadi... tentang suap dua triliun dan proyek tol Sumatera... apakah itu benar? Jika Baskoro Group benar-benar memiliki pengaruh sebesar itu di ibu kota, mereka bisa dengan mudah menghancurkan jalur logistik dan memboikot seluruh mitra bisnis Wijaya Group di kota ini hanya dalam hitungan hari."

Aku berjalan mendekatinya, lalu duduk di tepi meja kerja jatinya sambil menatap mata indahnya dengan penuh keyakinan. "Kirana, di dunia bisnis tingkat atas, raksasa seperti Baskoro Group terlihat menakutkan karena tidak ada yang berani menyentuh fondasi mereka. Tapi begitu fondasi yang penuh dengan kebusukan itu digali dan diekspos, mereka akan runtuh lebih cepat daripada rumah kartu yang tertiup angin."

Aku menggenggam kedua tangannya yang terasa sedikit dingin. "Percayalah padaku. Mereka tidak akan punya waktu untuk menyerang Wijaya Group, karena mulai detik ini, merekalah yang harus berjuang mati-matian untuk menyelamatkan diri mereka sendiri."

[Ding! Mengaktifkan Aliansi Jaringan Informasi Sistem...]

[Data Finansial Rahasia Baskoro Group Berhasil Diunduh Sempurna.]

[Opsi Misi Utama Tahap Dua: Runtuhkan Dinasti Baskoro Group dalam waktu 3 Hari!]

[Langkah Pertama: Hancurkan harga saham Baskoro Group di lantai bursa sebesar 30% dalam waktu 12 jam.]

Mendengar suara digital dari Sistem Penguasa Dewa yang menggema di dalam kesadaranku, aku menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rencana mematikan. Sistem ini benar-benar tidak memberi ampun pada lawan.

Aku merogoh ponsel usangku dari saku celana. Meskipun casing ponsel ini sudah lecet di sana-sini, di dalam sistem dalamnya telah tertanam enkripsi militer tingkat tinggi yang diberikan oleh Sistem, memungkinkanku terhubung dengan jaringan keuangan global secara anonim tanpa bisa dilacak oleh badan intelijen mana pun.

Aku menekan sebuah nomor kontak khusus yang baru saja muncul di dalam daftar panggilan Sistem. Telepon itu hanya berdering sekali sebelum langsung tersambung.

"Tuan Adrian," sebuah suara pria paruh baya dengan aksen bahasa Inggris yang sangat formal terdengar di ujung telepon. Dia adalah Marcus, kepala pengelola dana lindung nilai (*hedge fund*) rahasia di Wall Street yang seluruh modalnya berasal dari rekening dana pribadi milikku yang diberikan oleh Sistem.

"Marcus," ujarku dingin menggunakan bahasa Inggris yang sangat fasih, membuat Kirana yang mendengarnya di sampingku langsung membelalakkan mata karena takjub. "Mulai operasi peminjaman saham (short selling) besar-besaran terhadap seluruh aset anak perusahaan Baskoro Group yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sekarang juga."

"Baik, Tuan. Berapa kapasitas dana segar yang ingin Anda gunakan untuk mengguyur pasar?" tanya Marcus dengan nada siap tempur.

"Gunakan tiga puluh triliun rupiah. Pinjam saham mereka sebanyak mungkin di harga pembukaan, lalu jatuhkan harganya tanpa ampun. Di saat yang sama, aku akan mengirimkan dokumen audit palsu dan bukti suap proyek tol Trans-Sumata mereka ke seluruh media keuangan internasional," perintahku tegas.

"Perintah dilaksanakan, Tuan. Dalam waktu tiga jam, kami akan memastikan lantai bursa berubah menjadi lautan darah untuk keluarga Baskoro," jawab Marcus sebelum menutup sambungan telepon.

Kirana yang duduk di hadapannya menelan ludah dengan susah payah. Tiga puluh triliun rupiah? Angka yang baru saja diucapkan oleh suaminya terdengar seperti dongeng fantasi. Seluruh kekayaan keluarga Wijaya bahkan tidak mencapai satu triliun, tapi Adrian mengendalikan puluhan triliun rupiah hanya dengan satu panggilan telepon yang santai.

"Adrian... kamu... kamu benar-benar akan menghancurkan mereka?" bisik Kirana dengan tubuh yang sedikit merinding, bukan karena takut padaku, melainkan karena kagum dengan kekuatan absolut yang sedang kukendalikan saat ini.

"Mereka yang pertama kali mencoba merampok apa yang menjadi milikmu, Kirana. Aku hanya mengembalikan hukum tabur tuai pada mereka," jawabku lembut sambil mengelus pipinya.

Sementara itu, di sebuah jet pribadi yang sedang terbang dengan kecepatan tinggi kembali menuju ibu kota, Nicholas Baskoro duduk di kursi kulit mewahnya dengan wajah yang masih pucat pasi. Di sampingnya, dua pengawal pribadinya sedang merintih kesakitan sambil mengompres rahang dan dada mereka yang cedera akibat pukulanku.

Nicholas dengan tangan gemetar menekan nomor telepon ayahnya, Teguh Baskoro, sang pimpinan tertinggi Baskoro Group.

"Ayah...!" Nicholas langsung berteriak panik begitu telepon tersambung. "Kita dalam masalah besar! Proyek tol Sumatera... rahasia suap dua triliun kita... bajingan bernama Adrian di daerah ini tahu segalanya! Dia mengancam akan mengirimkan semua buktinya ke KPK jika kita tidak menarik diri dari pasar saham besok siang!"

Di ujung telepon, suara bariton yang berat dan penuh wibawa dari Teguh Baskoro mendadak meninggi. "Apa?! Bagaimana mungkin seorang menantu sampah di daerah terpencil bisa mengetahui proyek rahasia negara itu?! Apakah kamu sudah gila, Nicholas?!"

"Aku tidak bohong, Ayah! Dia bahkan melumpuhkan dua pengawal tingkat tinggiku hanya dalam hitungan detik dengan tangan kosong! Dia bukan manusia biasa, Ayah! Dia adalah monster!" ratap Nicholas dengan suara yang hampir menangis karena trauma mental yang kuberikan.

Teguh Baskoro terdiam di ujung telepon selama beberapa saat. Sebagai seorang rubah tua yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia politik dan bisnis ibu kota, dia merasakan firasat buruk yang sangat kuat. Namun, keangkuhannya sebagai pemilik aset belasan triliun membuatnya menolak untuk tunduk begitu saja.

"Tenang, Nicholas! Jangan memalukan nama keluarga Baskoro!" bentak Teguh tegas. "Hanya karena dia tahu sedikit informasi, bukan berarti dia bisa menyentuh kita. Ayah memiliki koneksi dengan para petinggi hukum di negara ini. Begitu kamu mendarat, Ayah akan mengirimkan tim pembunuh bayaran terbaik untuk melenyapkan bajingan bernama Adrian itu dari muka bumi! Tidak ada satu pun orang yang boleh menghalangi jalan Baskoro Group!"

Namun, tepat saat Teguh Baskoro selesai mengucapkan kalimat sombongnya, suara pintu kantor pribadinya di ibu kota mendadak didobrak kasar dari luar. Suara kepanikan sekretarisnya terdengar samar-samar melalui telepon Nicholas.

"Tuan Besar! Masalah besar! Harga saham seluruh anak perusahaan kita di bursa efek mendadak anjlok dua puluh persen hanya dalam waktu sepuluh menit! Ada raksasa keuangan misterius dari luar negeri yang sedang melakukan short-selling massal pada aset kita! Kita kehilangan lima triliun rupiah dalam sekejap!" teriak sang sekretaris dengan suara histeris.

"Apa?!" Teguh Baskoro berteriak syok, ponsel di tangannya hampir saja terjatuh.

Di saat yang sama, di dalam ruang kerja Wijaya Tower, aku melihat ke arah layar monitor besar yang menampilkan pergerakan grafik bursa saham. Garis merah menukik tajam ke bawah seperti air terjun, menandakan runtuhnya kekayaan keluarga Baskoro.

Aku menyilangkan dada, menatap pemandangan itu dengan mata yang berkilat dingin. Genderang perang telah resmi ditabuh, dan dalam waktu tiga hari, aku akan memastikan nama Baskoro Group terhapus selamanya dari daftar konglomerat negeri ini.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!