"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andik dan Hanis
CAPTER 25
ANDIK DAN HANIS
Di apartemen Lusi baru saja keluar dari kamar mandi. Ia sama sekali tidak melirik ke ponsel yang ditaruh di meja rias. Semua sudah terbungkus dengan kain debu termasuk tempat tidur. Lusi segera berpakaian kemudian berdandan tipis, yang terpenting tidak menampakkan wajah sedihnya. Untuk baju kotor yang ia pakai tadi dimasukkan ke kantong hitam, termasuk handuk dan jubah mandi ia masukkan juga.
Lusi sudah siap, ponsel di meja rias ia ambil untuk memesan taksi. Baru dibuka, riwayat panggilan tak terjawab tertera termasuk chat dari Angga terpajang. Lusi membuka chat itu namun tidak membalasnya, hanya membaca saja.
“Pasti dia sudah di butik,” gumam Lusi.
Setelah memesan taksi ia masukkan lagi ponsel ke dalam tas, mengambil koper kecil dan juga bungkus plastik berisi baju kotor. Berjalan ia keluar dari kamar namun tiba-tiba terhenti. Lusi teringat dengan kotak hadiah yang berisi setelan pakaian kerja yang ia beli kemarin sore.
Kembali Lusi berbalik ke kamar, koper dan kantong hitam ia taruh di dekat kursi. Kotak hadiah itu sendiri
berada di meja rias, lekas ia menyambarnya. Lusi keluar dengan membawa kotak itu, sempat bingung apa yang akan dilakukannya dengan kotak itu Lusi berdiri agak alam di dekat koper dan kantong hitam.
Sesuatu terlintas, ia melangkah mendekati meja dan menaruh kotak hadiah itu di sana. Dibukanya tas selempang yang ia kenakan, mengeluarkan buku catatan dan pen. Secara acak Lusi membuka buku catatan kecil di tangannya, kemudian menulis sesuatu. Ditatapnya tulisan itu beberapa saat sebelum dirobek dan disimpan ke dalam kotak hadiah. Meletakkan secarik kertas itu di atas sepatu, lalu menutupnya kembali.
Langkah Lusi sudah mantap saat keluar dari apartemen namun sebelum masuk pintu lift ia menoleh, memperhatikan sejenak apartemennya yang ia tinggalkan. Sosok Angga berdiri di depan pintu hadir di benaknya, bahkan masih terlihat jelas senyum laki-laki itu.
“Maaf....” ucapnya, mengusir bayangan itu menghantui dirinya.
Detik berikutnya ia sudah berada di lantai satu apartemen, ia duduk di sana menunggu taksi yang tak lama datangnya. Sebelum ke bandara ia singgah dulu di tempat laundry untuk mencuci pakaian.
"Berapa biayanya?!" tanya Lusi setelah baju ditimbang.
"Dua puluh satu ribu!" jawab petugas laundry.
Lusi menyerahkan selembar uang lima puluh, ia juga tidak menunggu kembalian. Malah sebaliknya memberikan kembalian itu padanya. Bergegas ia kembali ke taksi yang parkir di depan tempat laundry.
"Ayo Pak!" ucap Lusi pada supir taksi, begitu duduk di kursi belakang. Segeralah taksi itu meluncur deras di jalanan menuju international airport.
Kembali ke rumah Hasan, dua orang sudah berangkat kerja tinggal Andik yang memang menerapkan lima hari belajar. Laki-laki itu tengah duduk santai belum mandi saat Hanis keluar dari kamar hendak mencuci baju.
"Loh Kamu kok masih nyantai? Nggak kuliah? Nggak ada acara sama teman?" cerca Andik bertanya.
"Nggak, lagi kosong!" jawab Hanis singkat.
"Ohh!" seru Andik tidak bertanya lagi.
Hanis sudah berlalu dari hadapan Andik tapi selang tak begitu lama ia muncul lagi. Mengangetkan Andik yang tengah fokus pada layar laptop, sontak ia menoleh.
"Ada apa?!" tanyanya khawatir sesuatu terjadi.
Hanis melempar senyum, berjalan semakin mendekat sebelum menjawabnya. Andik memicingkan mata, ia waspada setengah berburuk sangka pada wanita itu. Sebelum sesuatu menimpa ia berbalik badan, bersiap akan hal apa yang akan Hanis perbuat padanya.
"Ada apa sih?!" tanyanya bertambah penasaran.
"Nggak ada cuma mau nanya apa mau nitip cucian?!" kata Hanis akhirnya menjawab.
"Cucian?!" seru Andik mengulangi.
"Iya, mungkin ada yang kotor! Mumpung aku mau nyuci baju!" kata Hanis menegaskan.
"Udah sana, biar aku cuci sendiri!" kata Andik menolak.
Ia kaget saja dengan perhatian Hanis yang terbilang dadakan, berasa seperti mimpi. Juga ia tak nyaman dengan tawaran itu, malu pula.
"Kenapa nggak mau? Toh aku nyucinya kan di mesin nggak pakai tangan!" seru Hanis tidak tinggal diam.
Andik tidak menghiraukan wanita itu lagi, berbalik badan dan menfokuskan diri pada garapan yang tadi ia kerjakan. Hanis menyerah pada akhirnya, kembali ia ke belakang untuk mencuci baju.
“Ada apa sama itu anak?!” gumam Andik bertanya-tanya sebelum menatap layar laptop lagi.
Selesai mencuci Hanis langsung menyelinap masuk ke kamar mandi, cukup lama di sana setidaknya hampir setengah jam ia membersihkan diri. Maklumlah wanita, entah apa saja yang dikerjakan di kamar mandi. Syukurlah Andik tidak terburu-buru sehingga ia tidak ingat lagi dengan Hanis.
Saat berjalan melewati Andik wanita itu memilih bungkam, tidak ada lagi senyum di wajahnya. Ia juga memandang Andik dengan pandangan acuh, kembali ke bentuk semula. Mata Andik melirik sewaktu Hanis membuka pintu kamar.
"Ngambek kayaknya," gumam Andik tapi tidak mau ambil pusing.
Setelah menyelesaikan garapannya ia lekas mengambil handuk dan masuk kamar mandi. Hanis di kamar sudah berganti pakaian, berdandan juga. Karena tidak ada kegiatan ia memilih bermalas ria di atas kasur. Kini ia juga jarang keluar bersama teman-temannya, tidak seperti dulu yang bentar-bentar keluar apalagi di waktu libur.
"Ngapain ya enaknya?!" gumam Hanis mulai jenuh dan bosan.
Ponsel ia geletakkan begitu saja di samping dirinya. Dengan malas Hanis turun dari atas tempat tidur, menyeret kakinya melangkah keluar kamar.
Rupanya ia datang ke kamar sebelah, tangannya mengetuk daun pintu dan memanggil Andik. Di dalam Andik sedang berpakaian, ia tengah menerapkan pewangi badan di bagian tubuh atas kala mendengar suara
Hanis memanggilnya.
"Ya ada apa?!" jawab Andik dari dalam.
"Kak, boleh masuk?!" sahut Hanis.
Belum juga dijawab Hanis malah membuka pintu. Andik kaget, ia menoleh ke pintu yang terbuka bersamaan dengan mata Hanis yang memperhatikan dirinya bertelanjang dada.
"Hanis!" sentak Andik.
"Maaf!" ucap Hanis, langsung menutup kembali pintu.
"Bocah itu!" gumam Andik.
Lekas ia berpakaian, menyisir rambut cepat-cepat kemudian keluar dari kamar. Hanis kala itu duduk di kursi menunggu dirinya. Saat melihat sosok Andik keluar ia langsung bangun, berhambur mendatangi Andik yang juga berjalan ke arahnya.
"Ada apa?!" tanya Andik.
"Aku bosan di rumah aja...." jawab Hanis bermanja.
Itu adalah kali pertama wanita itu merengek, bermanja pada Andik. Cukup terpengaruh, jantung Andik bahkan berdebar mendapati rengekan Hanis, manjanya juga.
"Terus?!" seru Andik sekedar menggoda saja.
"Bawa aku keluar, kemana gitu yang penting nggak di rumah...." sahut Hanis semakin bermanja.
"Aku ada workshop habis ini, kalo Kamu mau ikut ayo!" kata Andik sejujurnya.
Hanis tidak langsung menjawab, tampak ia mempertimbangkan sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan ikut meski tidak begitu bersemangat saat bersuara.
"Ya dah aku ikut...." ucapnya lemah membuat dada Andik semakin berdebar saja.
Saat Hanis masuk kamar Andik tak hentinya menggerutu, memarahi diri sendiri yang terlalu berlebihan padahal Hanis sama sekali tidak merayu. Tak berselang lama Hanis keluar lagi, berganti pakaian yang sedikit lebih formal. Ia mendatangi Andik yang terpaku memperhatikan dirinya.
"Ayo!" kata Hanis.
"Oh ayo!" sahut Andik setelah sadar kembali.
Berdua mereka keluar, Hanis menunggu di depan garasi sementara Andik sedang mengeluarkan motor. Begitu laki-laki itu nampak Hanis berhambur, mengambil helm yang disodorkan padanya kemudian naik ke boncengan.
"Lama nggak Kak?!" tanya Hanis.
"Jangan panggil kakak, panggil mas!" tegur Andik.
"Nggak aku panggil kakak aja, lama nggak Kak?!" tanya Hanis mengulangi.
"Nggak begitu lama," kata Andik jelas berbohong. Mana ada workshop yang sebentar, paling cepat juga lebih tiga jam lamanya.
Motor mulai melaju pelan melewati halaman rumah, juga pintu pagar yang terbuka. Andik membawa motor dengan kecepatan agak cepat lantaran workshop itu akan dimulai tepat jam sembilan.
Waktu sudah mendekati jam sembilan, pengumuman keberangkatan disiarkan. Sebelum bangkit dari duduknya Lusi lebih dulu membuka ponsel, terus ia terbayang wajah Angga. Hatinya menyuruh Lusi mengirim pesan pada Angga, meminta maaf karena tidak memberitahu laki-laki itu sebelumnya. Chat sudah terkirim tapi Angga yang tengah sibuk belum menyentuh ponselnya. Lusi mengerti, ia tidak menunggu balasan dan berjalan menuju pintu keberangkatan. Saat sudah melewati pemeriksaan ponsel ia matikan, tidak ingin ada sesuatu yang membuat tekadnya untuk kembali rusak.
"Mungkin ini yang terbaik, semoga hatimu tak terlalu sakit!" ucap Lusi, menatap keluar kaca jendela pesawat.
Waktu istirahat siang akhirnya datang juga, Angga yang sedari pagi sibuk dengan launching katalog baru membuatnya tak ada niat sekedar memegang ponsel. Barulah saat semuanya sudah rampung ia pun memutuskan kembali ke butik, ponsel belum ia sentuh sama sekali. Ia juga fokus berkendara, juga tidak mampir kemana-mana.
Begitu tiba ia bergegas memasuki butik, langkahnya yang cepat dan tak tahu jika dari dalam Lisa hendak keluar. Ia berencana makan siang di kafe dekat butik sekaligus janjian dengan cowoknya, Rian.
"Oh sorry!" kata Angga yang sama-sama berada di tengah pintu.
Lisa hanya melempar senyum tipis tidak membalasnya. Segera Angga bergeser ke samping, mengalah dan memberi Lisa jalan. Saat dirinya melangkah keluar dari pintu dan melewati Angga langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Soal yang kapan hari itu, makasih!" ucapnya menyentak Angga.
"Ah kesurupan apa ini cewek bicara sama aku?!" kata batinnya.
"Santai saja!" balas Angga.
Ia masih berdiri di sana, memperhatikan Lisa yang berjalan ke trotoar. Saat sudah tak nampak di pandangan barulah ia mendorong pintu kaca itu, berjalan masuk dengan langkah santai. Tidak tergesa-gesa seperti yang tadi.
Sebelum kembali ke ruang kerja Angga lebih dulu naik ke lantai empat, ke rooftop dimana di sana terdapat kantin yang diperuntukkan bagi karyawan. Juga ada musholla serta ruang terbuka untuk sekedar leya-leya.
Agak cepat Angga menuju toilet laki-laki sebelum keluar lagi dan langsung menuju musholla. Tidak terlalu banyak orang di sana, segera ia menunaikan sholat.
Rasanya lumayan enteng bagi Angga, pekerjaan sudah selesai, sholat pun sudah. Melihat karyawan yang lain banyak beristirahat di luar musholla ia datang bergabung.
"Kok kelihatannya lesu banget,Pak?!" kata Iwan.
"Iya, rasanya hari ini benar-benar menguras tenaga!" sahut Angga.
Ia ikutan yang lain, merebahkan punggungnya sejenak di lantai yang tak ada alasnya. Iwan yang tadi bangun kembali tiduran.
"Jam berapa sekarang?!" tanya Angga.
Iwan melirik ke jam dinding sebelum menjawab, "Setengah satu Pak!."
"Oh ... Bangunkan aku ya kalo sudah jam satu!" pinta Angga.
"Iya Pak!" jawab Iwan kemudian menyusul Angga yang lebih dulu memejamkan mata.
Tidak butuh waktu lama bagi Angga terlelap, begitu juga dengan Iwan. Memang tak jarang waktu istirahat siang digunakan untuk tidur oleh mereka, terutama karyawan di bagian penjualan online. Maklum mereka menatap layar komputer dan itu membuat mata mereka lelah.
Setengah jam kemudian Iwan terbangun, itu berkat Edo yang membangunkan dirinya. Kepala masih terasa berat saat tangannya mengguncang lengan Angga.
"Emm...." Angga bergumam kemudian bangun.
Iwan lebih dulu bangun, berjalan cepat ke pancuran air di luar musholla untuk menyegarkan kembali dirinya kemudian berlari menyusul Edo. Angga tidak langsung bangkit, ia duduk selonjoran menunggu rasa pening yang masih kuat terasa. Agar lekas hilang tangan kanannya memijat kepalanya sendiri.
Teringat dengan chat yang ia kirim ke Lusi tadi pagi Angga buru-buru mengecek ponsel. Senyumnya mengembang mendapati balasan dari Lusi meski tidak tahu isinya apa. Tak sabar ia ingin segera membaca dan berbalas pesan.
Namun tiba-tiba senyum itu sirna bersama dengan pesan yang ia baca 'maaf aku kembali'. Pesan itu singkat saja tapi mampu memporak porandakan hati serta batin Angga kini. Entah kenapa kata itu mengandung makna lain baginya, sebuah perpisahan kuat tersirat.
Dadanya terasa menyempit, menghambat nafasnya yang akan keluar. Kelopak matanya tak henti berkedip, menyeka air mata yang sepertinya mulai mengintip.
"Kenapa nggak ngasih tahu kalo mau balik?!" gumam Angga menatap tulisan di layar ponsel.
Setelah kesadarannya mulai berkumpul Angga berusaha menghubungi nomor kontak Lusi, sayang itu sudah tidak bisa tersambung. Ia bertambah gusar, bahkan tidak bisa menggunakan otaknya dengan baik. Terus ia menghubungi hingga akhirnya menyerah sendiri dan kemudian mengirim pesan.
Angga bangkit, berjalan lunglai ke lantai tiga dan kembali ke meja kerja. Ekspresi wajah Angga tidak bisa digambarkan, hampir semua karyawan di ruang itu menatapnya meski tidak berani bertanya.
Iwan mencubit lengan Edo, bertanya dengan suara rendah. “Kenapa ya? Tadi kayaknya nggak gitu?!.” Edo menggeleng rendah, ia juga tidak tahu bahkan bertanya-tanya.
Angga menjatuhkan diri di kursi, kepalanya tersandar ke belakang. Tangan kirinya mengeluarkan ponsel dan melempar pelan ke meja. Ia terpejam beberapa saat lamanya sebelum tangan kanannya meraih mouse dan menatap layar komputer. Mencoba mengubur kesedihan dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Di tempat lain Hanis yang memilih ikut bersama Andik menghadiri sebuah workshop kini terbangun dari tidur. Menoleh ia ke samping, "Kapan ini selesainya?!" tanya Hanis merengek.
Andik tak kuasa melihatnya, tangan kanannya mendarat di kepala Hanis mengusap pelan sembari berucap, "Ini udah sambutan penutup!."
"Aku kita keluar duluan," kata Hanis bertambah rengeknya.
"Duh ini anak mulai lagi mainin perasaanku," batin Andik menjerit.
Merasa tak dihiraukan Hanis mulai bertambah rewelnya, tangan kirinya mengguncang lengan Andik mengajak laki-laki itu keluar lebih dulu. Tak tahu harus berbuat apa Andik justru menarik Hanis ke dekapan, mendekap kepalanya dan mendaratkan ciuman ke ubun-ubun wanita itu.
"Tunggu bentar ya ... Nggak lama lagi...." ucap Andik rendah.
Benar juga tak lama setelahnya acara pun berakhir. Andik mengemasi buku serta pen ke dalam tas selempang kecil. Hanis bersemangat untuk segera melangkah keluar, bangunlah ia lebih dulu dan menarik tangan Andik.
"Ayo jangan lelet...." omelnya setengah rewel.
"Iya!" sahut Andik.
Tangan kanan Andik bergerak ke pundak Hanis, bertengger di sana sambil melangkah keluar dari ruangan workshop.
"Kita sholat dulu yuk! Habis itu cari makan!" kata Andik memberi usulan.
"Hmm...." jawab Hanis tidak berdebat.
Mereka berdua melangkah lurus ke ujung kiri gedung itu; mengikuti arah panah dengan gambar tempat sholat dan toilet. Andik dan Hanis berpisah tepat di bawah panah berhubung toilet itu berseberangan.
Di sana mereka tidak terlalu lama apalagi Hanis, agak singkat sholatnya. Sambil menunggu Andik muncul ia memoles wajah sedikit kemudian keluar dari tempat sholat menunggu di depan. Baru beberapa menit menunggu,Andik keluar berjalan menghampiri Hanis.
"Mau makan apa?!" tanya Andik.
"Apa saja yang bikin kenyang tapi tempatnya yang enak!" jawab Hanis.
"Oh gitu ya?! Ayo!" seru Andik.
Tangannya merangkul pundak Hanis, membawanya keluar dari ruangan di lantai empat gedung. Di dalam lift Andik masih menunjukkan perhatian lebihnya, tidak melepas sama sekali dan Hanis juga tidak memprotesnya.Hingga berada di lantai dasar dan berjalan ke tempat parkir, perhatian itu belum berkurang.
"Jangan langsung balik ke rumah ya?!" pinta Hanis sebelum Andik menjalankan motor.
"Loh kenapa?!." Andik malah balik bertanya.
"Aku sudah ikut Kakak workshop seharian setidaknya bawa aku jalan-jalan dulu!" seru Hanis setengah memprotes.
Andik tertawa, "Kayak menyesal gitu kedengarannya?!" ujar Andik sambil menjalankan motor.
"Iyalah, aku ngajak keluar soalnya bosan ternyata malah dibikin tambah bosan!" seru Hanis.
"Habis ini aku senangin dirimu!" ucap Andik.
Laki-laki itu membawa Hanis ke sebuah tempat makan di dekat pantai meski jarak yang di tempuh cukup jauh dan memakan waktu. Setidaknya hampir sejam ia berkendara bahkan Hanis yang hanya duduk di boncengan tak hentinya bertanya kapan mereka sampai dan kemana Andik akan membawanya.
Tapi begitu tiba di sana Hanis langsung sumringah, tanpa disuruh ia turun segera. Melepas helm dan menyerahkan segera ke Andik. Ia malah tidak menunggu laki-laki itu, seenaknya saja berjalan duluan. Andik cepat-cepat menanggalkan helm kemudian berlari menyusul.
"Benar-benar Kamu ini!" kata Andik memarahi tapi Hanis tidak terpengaruh.
"Aku lapar, ayo kita cari tempat makan yang enak!" kata Hanis sebaliknya.
"Panggil aku mas dulu?!" goda Andik.
"Nggak malas, aku panggil kakak aja!" kata Hanis menjawabnya.
Andik dan Hanis memilih tempat makan nomor dua yang berjejer rapi menghadap bibir pantai. Di sana Andik memilih meja yang di luar agar bisa menyaksikan pemandangan pantai yang tak begitu jauh jaraknya.
"Hanis, pesan apa kamu?!" tanya Andik menawarkan.
"Aku mau udang bakar," jawab Hanis segera.
Sambil menunggu makanan datang mereka berdua terlibat obrolan santai dan akrab, tidak ada perdebatan apalagi cekcok seperti biasanya.
"Kakak...." panggil Hanis pelan.
"Hmm...." gumam Andik.
"Kakak, kenapa perhatiannya Kakan itu nggak menentu? Kadang perhatian kadang biasa aja?!" kata Hanis mulai
berbicara serius.
"Itu kan menurutmu! Lagian kenapa nanya kayak gitu?!" balas Andik setengah abai.
Hanis tidak lagi bersuara namun batinnya tak henti mengomel. Wajah Hanis tertunduk perlahan, posisi duduknya juga bergeser membuat jarak. Andik bisa merasakan itu, kedua bola matanya melirik.
"Hanis...." Andik menarik Hanis agar kembali dekat.
"Kakak, nyuruh aku nggak boleh ngelihat yang lain terus minta menganggap Kakak sebagai pria, tapi...." ucap Hanis tiba-tiba namun terpotong.
"Tapi kenapa?!" sambung Andik ingin tahu kelanjutannya.
"Berilah aku kejelasan, kalo suka ya bilang," kata Hanis tapi dipotong oleh Andik.
"Jangan diteruskan!" perintahnya.
Mulut Hanis tertutup seketika, dadanya terasa panas mendengar perkataan Andik barusan. Sangat mudah bagi air matanya akan tumpah namun tak jadi karena Andik kembali bersuara.
"Hanis, mari kita menikah," ucap Andik tiba-tiba.
Jika tadi dadanya terasa panas kini berganti, berdebar-debar seolah mau copot saja. Senyum dengan sendirinya mengembang, Hanis menoleh. Menatap lekat Andik, mencari keseriusan di raut wajahnya.
"Kenapa langsung menikah? Bukan pacaran dulu?!" kata Hanis mencerca Andik pertanyaan.
Andik mendekatkan mulutnya ke telinga Hanis, bersuara cukup rendah tapi terdengar jelas di telinga wanita itu.
"Karena mas takut nggak bisa menjaga diri, bukankah lebih baik menikah?!" ucap Andik memberikan jawaban.
Hanis tidak merespon, tidak tahu harus bagaimana. Lanjut Andik memberi penjelasan, kali ini ia tidak lagi berbicara di dekat telinga Hanis. Ia membetulkan posisi duduknya, sedikit bersandar dan melipat kedua tangan.
"Mas ini bukannya Ilyas yang lugu, juga nggak seperti Ilham yang kaku sama cewek apalagi mas Hasan yang ketahanannya di level delapan! Kalo mas memilih pacaran apa ada jaminan mas bisa mengontrol diri? Kalo Hanis yakin sama mas berikan mas jawaban secepatnya tapi kalo masih ragu mas berikan waktu!" kata Andik.
"Beri aku waktu, tapi ... Selama aku belum ngasih jawaban Kakak nggak boleh ngelirik yang lain!" kata Hanis.
"Tapi Kak? Boleh aku tahu gimana perasaannya Kakak ke aku?!" tanya Hanis lagi yang memang penasaran, ingin tahu jawabannya.
Andik melempar senyum, "Entah mas juga nggak tahu perasaan apa ini? Yang pasti saat kamu rewel seperti tadi dada mas berdebar, ingin menarikmu kepelukan! Memilikimu seutuhnya!" kata Andik memuaskan hati Hanis.
"Terus hubungan kita ini apa?!" lanjut Hanis menuntut kejelasan.
"Tidak ada hubungan," kata Andik memancing kemarahan.
"Aku nggak mau nikah sama Kamu kalo hubungan kita sekarang nggak jelas!" Hanis berujar.
Bangkitlah ia hendak pergi meninggalkan Andik, tapi itu hanyalah siasat untuk memancing Andik memberi kejelasan yang ia anggap tidak jelas. Mudah sekali bagi Andik terpancing, baru saja Hanis menggeser kursi tangannya sudah disambar oleh Andik. Laki-laki itu meminta Hanis duduk kembali dan tidak beranjak.
Dengan patuh Hanis duduk tapi ia tidak bersuara, menoleh pun tidak. Andik melirik ke dia sesaat kemudian tangan yang masih mencengkram itu merenggang dengan sendirinya. Beralih menggenggam punggung tangan Hanis.
"Kenapa kamu ngotot minta kejelasan hubungan sementara pas waktu aku ajak nikah kamu masih ragu? Bukannya menikah itu suatu kejelasan hubungan dibandingkan hubungan yang lain seperti pacaran?!" kata Andik santai tapi serius.
"Aku minta Kamu nggak ngelirik yang lain, apa itu juga belum jelas?" lanjut Andik.
"Kamu pilih mana nama dari sebuah hubungan atau keseriusan dalam hubungan?!" tambah Andik, membungkam kerewelan Hanis.
Hanis belum juga menjawab saat makanan yang mereka pesan datang, tak jadilah mulutnya bersuara. Bahkan Andik juga melepaskan genggaman tangannya, menggeser makanan yang dipesan Hanis lebih dekat lagi.
"Makasih," ucap Andik sebelum pelayan itu pergi dari hadapan dirinya.
"Ayo makan!" kata Andik tidak membicarakan hal yang tadi.
Hanis masih gundah hatinya lantaran belum memberi jawaban, makanan yang ia pesan tidak ia sentuh. Sebaliknya ia memalingkan muka, menoleh ke Andik yang menyeruput minuman. Sadar jika Hanis memandanginya laki-laki itu tidak menoleh melainkan menundukkan muka. Tangannya bergerak meraih sendok dan garpu.
"Kalo ... Aku jawab iya lantas ... kapan Kakak berencana menikahiku?!" tanya Hanis rendah, sedikit keraguan pula pada nada suaranya.
Tangan Andik yang sudah memegang sendok dan garpu kembali melepaskan, ia menoleh ke Hanis yang masih memandangnya.
"Secepatnya begitu Kamu bilang iya! Tapi hanya akad saja, tidak ada pesta...." jawab Andik.
Hanis melempar senyum, "Aku jawab nanti," ucapnya memberi jawaban.
"Sudah ayo makan!" kata Andik enggan membahas hal itu lagi.
Perut kenyang mereka berdua jalan-jalan menyusuri bibir pantai sebelum duduk di taman mangruv yang berada tak jauh dari sana. Bergabung dengan banyak pasangan dan keluarga yang menghabiskan waktu juga.
“Kakak, kenapa ini berasa seperti mimpi?!” ucap Hanis. Andik hanya tersenyum, tidak menoleh tetap lurus ke depan.
“Mulai kapan Kakak ada rasa ke aku?!” ucapnya lagi bertanya.
Andik menoleh, menatap Hanis kemudian berucap, “Mas jawab nanti ya!.”
“Emm ... Kakak....” gumam Hanis kecewa.
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura