NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kontras

Di depan teras rumah sederhana itu, lambaian tangan keluarga Rama perlahan turun seiring hilangnya mobil mini Naira di belokan gang. Rama masih berdiri mematung di tempatnya, menatap aspal kosong dengan sisa senyuman tipis yang belum sepenuhnya hilang dari sudut bibirnya yang lebam.

"Ciee... Kak Rama! Diliatin terus tuhhh sampai mobilnya hilang, sambil senyum-senyum sendiri lagi!"

Suara cengengan Dika tiba-tiba memecah keheningan. Anak SMP itu menyenggol pinggang kakaknya dengan heboh, menirukan gaya orang yang sedang jatuh cinta dengan mata yang dikedip-kedipkan secara berlebihan.

"Apa sih, Dik. Enggak," sahut Rama, langsung mengubah ekspresi wajahnya kembali lempeng dalam waktu satu detik. Dia berbalik untuk masuk ke dalam rumah.

"Halah, gak usah ngeles, Kak! Ibu, lihat tuh Kak Rama, mukanya langsung merah kayak kepiting rebus!" adu Dika sambil berlari menjauh ke arah dapur, menghindari jangkauan tangan kiri Rama yang siap menjitak kepalanya.

Bapak dan Ibu yang melihat kelakuan kedua putranya hanya bisa tertawa menggeleng-gelengkan kepala. Rumah kecil itu kembali dipenuhi riuh rendah obrolan hangat, bau sisa semur jengkol, dan tawa Dika yang masih asyik menggoda kakaknya.

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, roda mobil Naira perlahan berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Penjaga rumah dengan sigap membukakan pagar, menyambut kedatangan sang putri pemilik rumah.

Naira mematikan mesin mobilnya di dalam garasi yang luas. Dia mengembuskan napas panjang, merapikan tas olahraganya, lalu melangkah keluar. Begitu pintu utama berbahan kayu jati mewah itu diketuk dan dibukanya, sebuah atmosfer yang sangat akrab namun paling dia benci langsung menyergap indra perasanya.

Sunyi. Dan sepi.

Tidak ada aroma tumis bumbu dapur seperti di rumah Rama. Yang ada hanyalah aroma pengharum ruangan otomatis beraroma pinus yang dingin dan steril. Tidak ada suara tawa adik yang menjengkelkan atau sapaan hangat seorang ibu. Langkah kaki Naira yang beralas sandal rumah terdengar menggema di sepanjang lorong ruang tengah yang luas dan kosong.

Papa dan Mamanya jelas tidak ada di rumah entah sedang sibuk dengan urusan bisnis atau sengaja menghindari ketegangan pasca pertengkaran hebat tadi malam.

Naira berjalan menuju kamarnya di lantai dua, merasa seolah dia baru saja melompat dari dunia penuh warna yang hangat, kembali jatuh ke dalam akuarium kaca yang dingin dan tak berjiwa. Rumah megah ini terasa begitu luas, namun entah mengapa, terasa jauh lebih sempit dan menyesakkan daripada rumah papan milik Rama.

Naira menjatuhkan tubuhnya di atas kasur king-sizenya yang empuk. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi, merasakan kesepian itu mulai merayap naik ke dadanya.

Namun, sebelum rasa sedih itu sempat menguasai dirinya, Naira teringat sesuatu. Dia buru-buru meraih ponsel dari dalam tasnya. Layar menyala, menampilkan fotonya yang tampak ceria.

Naira membuka aplikasi pesan, jarinya dengan cepat mengetik sebuah kalimat di ruang obrolannya dengan Rama.

> Naira:Ram, aku udah sampai rumah dengan selamat yaa. Gak lewat jalan sepi kok tadi hehe.

Naira menatap pesan terkirim itu dengan senyuman kecil yang perlahan kembali terbit di wajahnya. Kamar ini mungkin sepi, dan rumah ini mungkin sunyi, tapi Naira tahu, di luar sana ada seseorang yang sedang menunggu kabarnya dengan cemas. Dan memikirkan hal itu saja sudah cukup untuk membuat sudut ruangan yang dingin ini terasa sedikit lebih hangat.

Di seberang sana, di dalam kamar sederhananya yang hanya berpasang kipas angin dinding kecil, Rama sedang duduk di tepi kasur sambil mengoleskan minyak tawon ke saku lengannya yang terasa pegal. Begitu ponsel di sampingnya bergetar pendek, cowok itu langsung meletakkan botol minyak dan menyambar benda pipih tersebut dengan tangan kirinya.

Sebuah senyuman tipis yang tak kentara muncul di wajah lempengnya saat membaca pesan dari Naira. Ada rasa lega yang amat sangat di dadanya mengetahui gadis itu sudah berada di balik dinding rumahnya dengan aman.

Jemari Rama dengan cepat mengetik balasan pendek, khas dirinya yang tidak pandai merangkai kata-kata puitis tapi selalu sarat akan perhatian.

Rama: Oh iya Ra. Bagus deh kalau aman. Langsung bersih-bersih terus istirahat, besok kita sekolah. Thanks for today, Ra. Masakan Ibu dihabisin kan? Haha.

Rama menekan tombol kirim, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas bantal. Dia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar sambil melipat tangan kirinya di bawah kepala. Pikirannya mendadak berputar kembali ke kejadian di dapur tadi saat wajah Naira yang penuh busa sabun berada hanya beberapa senti dari wajahnya, dan bagaimana mata indah gadis itu menatapnya tanpa ada jarak.

Rama berdeham kaku sendirian di kamarnya, mencoba mengusir bayangan itu meski detak jantungnya kembali berulah.

Sementara itu di kamarnya yang mewah namun sunyi, ponsel Naira berdenting. Naira yang tadinya sedang melamun langsung menyambar ponselnya dengan gerakan kilat.

Membaca balasan dari Rama, senyuman Naira langsung merekah lebar, mengusir seluruh rasa sepi yang sempat mengungkungnya sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Kalimat "Thanks for today, Ra" dari Rama terasa jauh lebih menenangkan daripada alunan musik klasik mana pun di dunia.

Naira berguling di atas kasurnya yang empuk, memeluk gulingnya erat-erat sambil menatap layar HP dengan pipi yang merona merah.

Naira: Dihabisin dong! Malah sekarang aku kangen semur jengkol Ibu kamu tahu! 😝 Kamu juga istirahat, Pelatih Rama. Sampai ketemu besok di kelas!

Malam itu, dinginnya ruko megah Naira tak lagi terasa menyiksa. Di dua tempat yang berbeda kasta, di bawah langit malam yang sama, kedua remaja itu memejamkan mata dengan perasaan hangat yang baru. Sekolah besok pagi yang biasanya terasa membosankan, mendadak menjadi hari Senin yang paling mereka tunggu-tunggu sepanjang minggu

Naira menghentikan langkahnya di tengah kantin yang mendadak bising oleh kasak-kusuk. Kepalanya serasa berdenyut hebat. Begitu dia membalikkan badan dan menatap tajam ke arah sumber suara, dadanya makin bergemuruh hebat bukan main.

Hari Senin pagi di SMA terasa berbeda bagi Naira. Langkah kakinya yang biasa malas melewati koridor sekolah, kini terasa lebih ringan. Sambil memeluk satu buku tebal biologi di dadanya, matanya bergerak lincah menyisir kerumunan siswa, mencari sosok cowok berjaket parasut kusam yang semalam memenuhi isi kepalanya.

Puk.

Sebuah tepukan pelan di bahunya membuat Naira menoleh kilat. Rama sudah berdiri di sana, menyandang tas ranselnya di satu bahu. Wajahnya selempeng biasa, tapi matanya menatap Naira lekat.

"Pagi, Ra. Nih, titipan Ibu," ucap Rama tanpa basa-basi, menyodorkan sebuah kotak mika kecil yang dibungkus kantong plastik putih.

Lewat plastiknya yang agak transparan, Naira bisa melihat potongan semur jengkol dan sejumput nasi yang ditata rapi.

Mata Naira langsung berbinar. "Wah! Beneran dibawain? Makasih ya, Ram! Salam buat Ibu!"

"Iya. Sini buku kamu, berat itu," kata Rama, langsung menyambar buku biologi tebal dari pelukan Naira dengan tangan kirinya yang bebas, mengabaikan perban di tangan kanannya yang sebenarnya sudah agak mendingan.

Naira tersenyum lebar, berjalan beriringan dengan Rama menyusuri koridor. Kehadiran Rama yang selalu perhatian dengan cara yang tenang membuat dada Naira menghangat. Namun, kenyataan bahwa Rama harus membagi waktunya antara sekolah dan kerja paruh waktu di sebuah ruko grosir sepulang sekolah, membuat Naira memutar otak. Dia ingin memberikan sesuatu sebagai bentuk terima kasih atau mungkin, sebagai alasan agar bisa terus bertemu.

Sore harinya, sepulang sekolah, Naira sengaja mendatangi ruko tempat Rama bekerja paruh waktu. Menggunakan mobil mininya, Naira turun sambil menenteng sebuah tas belanja bermerek besar. Di dalamnya ada jaket gunung bermerek mahal yang bahannya sangat premium dan tahan air, serta satu set sepatu olahraga baru untuk Dika.

"Rama!" panggil Naira, melangkah masuk ke dalam ruko yang sedang agak sepi.

Rama yang sedang mendata kardus-kardus barang menoleh, dahinya berkerut melihat kedatangan Naira, apalagi melihat tas belanja mewah di tangannya. "Ra? Ngapain ke sini? Tempatnya berdebu, kamu pulang aja."

"Ih, aku mau ngasih ini," Naira menyodorkan tas belanja itu dengan semangat. "Ini jaket baru buat kamu kerja biar gak kedinginan kalau malam, terus ada sepatu buat Dika juga. Bagus banget tahu, Ram!"

Rama tidak langsung menerima. Cowok itu menatap tas mewah itu, lalu beralih menatap Naira dengan pandangan yang mendadak berubah redup. Ada helaan napas berat yang keluar dari mulutnya. Harga diri Rama sebagai cowok yang dibesarkan dalam kesederhanaan mendadak terusik.

"Ra, bawa pulang aja," ucap Rama, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya.

Naira tertegun, senyumnya agak luntur. "Loh, kenapa? Aku tulus kok ngasihnya, sebagai tanda terima kasih karena kamu udah nolongin aku."

"Aku bantuin kamu malam itu bukan karena butuh barang-barang mahal begini, Ra," kata Rama, menatap langsung ke mata Naira dengan tegas. "Aku kerja di sini buat nyari uang yang halal, bukan karena butuh dikasihani atau disantuni. Jangan belikan barang kayak gini lagi ke keluarga aku. Dunia kita beda, Ra."

Kata-kata Rama yang dingin dan menohok itu langsung menusuk dada Naira. Niatnya yang murni ingin berbagi malah dianggap sebagai bentuk "rasa kasihan".

Naira menggigit bibir bawahnya, matanya mendadak memanas. "Kamu... kamu mikir aku ngasih ini karena kasihan? Kamu egois banget ya, Ram! Aku cuma mau bikin kamu sama Dika seneng!" Dengan perasaan terluka, Naira membanting tas belanja itu ke atas meja ruko, lalu berbalik dan berlari pergi meninggalkan Rama yang terpaku menatap lantai dengan perasaan campur aduk antara bersalah dan gengsi.

Keesokan harinya di sekolah, ketegangan di antara mereka belum mereda. Naira sengaja berjalan melewati Rama tanpa menegur, sementara Rama hanya diam menatap kepergian Naira dengan mode lempengnya yang kembali mengeras.

Retaknya hubungan mereka ternyata menjadi angin segar bagi seseorang.

Reno, cowok hits dari kelas sebelah yang sudah menaksir Naira sejak kelas 10, memperhatikan interaksi dingin itu dari ujung koridor. Reno yang memang sejak awal tidak suka melihat cowok "miskin dan kuper" seperti Rama berani mendekati Naira yang spek putri keraton, langsung melihat ini sebagai kesempatan emas.

Di kantin saat jam istirahat, Arga sengaja berkumpul dengan anak-anak sirkelnya, tepat di dekat meja tempat teman-teman sekelas Naira sedang duduk. Dengan suara yang sengaja dikeraskan, Arga mulai melancarkan aksinya.

"Eh, kalian tahu gak sih motif aslinya si Rama deketin Naira?" celetuk Arga sambil memutar-mutar kunci motornya di jari.

"Emang kenapa, Ga?" tanya salah satu temannya memancing.

Arga tertawa sinis, matanya melirik ke arah Naira yang baru masuk ke kantin. "Yaa... pikir aja pake logika. Cowok sekampung Rama, yang sepulang sekolah kerja kasar di ruko, tiba-tiba sok jadi pahlawan buat Naira.

Kemarin gue lihat sendiri, si Rama itu sengaja minta barang-barang mewah, jaket bermerek, sampai sepatu mahal ke Naira. Modusnya sok nolongin pas dibegal, ujung-ujungnya morotin anak orang kaya! Dasar cowok gak tahu diri, manfaatin kekayaan cewek buat modal hidup!"

Bisik-bisik langsung menjalar cepat di seisi kantin. Teman-teman Naira mulai menatap Rama yang baru saja masuk ke kantin untuk membeli air mineral dengan tatapan sinis dan jijik.

Naira yang mendengar fitnah keji itu langsung menghentikan langkahnya. Tubuhnya gemetar hebat karena marah. Dia tahu betul bahwa dialah yang memaksa memberikan barang-barang itu, dan Rama justru menolaknya dengan keras demi harga diri.

Naira menoleh, menatap Arga dengan pandangan menghunus, siap untuk melabrak cowok itu di depan semua orang. Di saat yang sama, Rama yang namanya sedang dihancurkan, hanya berdiri diam di dekat stan minuman. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi, seolah fitnah itu sama sekali tidak bisa menyentuh harga dirinya yang kokoh.

Cowok yang sedang berdiri dengan angkuh sambil memutar-mutar kunci motor Tidak lain dan tidak bukan, dia adalah Arga

Mantan pacar Naira saat kelas 10 dulu. Sosok yang pernah menghancurkan kepercayaan Naira berkeping-keping karena ketahuan berselingkuh dengan Arini sahabat dekat Naira sendiri yang sudah dianggapnya seperti saudari kandung. Keberadaan dua orang itu di masa lalu adalah alasan terbesar mengapa Naira menutup diri menjadi gadis yang dingin dan sinis di sekolah.

Di sebelah Arga, Arini berdiri sambil bersedekah dada, melemparkan senyum sinis yang dibuat-buat ke arah Naira.

"Aduh, Ga. Kamu jangan keras-keras dong ngomongnya. Kasihan tuh ksatria berkuda putihnya Naira, nanti telinganya kepanasan," sindir Arini memanasi, memancing tawa remeh dari sirkel mereka.

Arga mendengus, melangkah maju dua langkah mendekati meja Naira dengan gaya sok jagoan. "Gue cuma ngomong fakta, Rin. Lagian kasihan aja gue sama mantan gue ini. Udah pinter, kaya, tapi seleranya merosot tajam. Mau-maunya dimanfaatin sama cowok ruko yang modal tampang lempeng doang buat morotin harta."

"Jaga mulut kamu ya, Arga!" bentak Naira, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi roknya. "Kamu gak tahu apa-apa soal Rama! Jangan berani-berani sebar fitnah murahan kayak gitu!"

"Fitnah?" Arga tertawa lepas, terdengar sangat menyebalkan di telinga seisi kantin. "Kemarin sore gue lihat sendiri lo bawa tas belanjaan mewah ke ruko tempat dia kerja, Nai. Mau ngeles apa lagi? Si miskin ini pasti sengaja pasang muka melas biar lo iba, kan?" Arga menunjuk Rama dengan dagunya, menatap cowok berbaju OSIS rapi itu penuh penghinaan.

Rama yang ditunjuk tetap berdiri tegak di posisinya dekat stan minuman. Botol air mineral di tangan kirinya bahkan tidak bergetar sama sekali. Wajahnya tetap datar, seolah-olah Arga hanyalah seekor lalat yang sedang berisik di siang bolong. Namun, tatapan mata Rama perlahan mengunci Arga dengan dingin saat melihat mata Naira mulai berkaca-kaca karena menahan emosi yang teramat sangat.

Naira melangkah maju, memangkas jarak dengan Arga. "Aku yang maksa ngasih barang itu, Arga! Dan Rama menolaknya mentah-mentah!" teriak Naira di depan wajah mantannya itu, suaranya serak. "Gak semua orang di dunia ini punya mental sampah kayak kamu dan Arini! Kalian yang pengkhianat, gak usah sok suci menilai orang lain!"

Mendengar nama masa lalu mereka disebut, wajah Arga dan Arini seketika berubah masam. Arga yang merasa harga dirinya jatuh di depan umum langsung maju selangkah, hendak menunjuk wajah Naira dengan emosi. "Lo—"

Brak.

Sebelum jari Arga sempat mengarah ke Naira, sebuah tangan kiri yang kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Arga dengan sangat kuat, menghentikan gerakannya di udara.

Rama sudah berdiri di sana, mengadang di depan Naira, memisahkan gadis itu dari jangkauan Arga. Dengan perban yang masih melilit tangan kanannya, tubuh tinggi Rama membuat Arga refleks mendongak.

"Lepas! Apa-apaan sih lo?!" bentak Arga,

mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman tangan kiri Rama yang biasa dipakai untuk latihan karate dan mengangkat kardus grosir itu terasa seperti jepitan besi.

"Urusan kamu itu sama saya, bukan sama Naira," ucap Rama. Suaranya sangat tenang, sangat lempeng, namun mengandung penekanan yang membuat bulu kuduk merinding.

Rama menatap Arga dari atas ke bawah, lalu melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan sampai Arga agak terhuyung mundur.

"Kalau mau buat cerita fantasi, jangan di kantin sekolah. Di toko buku banyak," lanjut Rama datar, membuat beberapa murid di pojok kantin spontan menahan tawa. "Dan satu lagi. Harga diri saya memang tidak semahal jaket yang dibawa Naira kemarin.

Tapi maaf, harga diri saya juga tidak semurah kesetiaan kamu yang bisa dibagi-bagi ke sahabat pacar sendiri."

O00HHH!

Sorakan tertahan langsung menggema di seisi kantin. Serangan verbal dari Rama yang super lempeng tapi langsung menusuk ke ulu hati itu sukses membuat wajah Arga merah padam kehabisan kata-kata, sementara Arini langsung salah tingkah dan membuang muka karena malu rahasia busuk mereka dikuliti di depan umum.

Naira menatap punggung tegap Rama dari belakang. Rasa sakit hati akibat pertengkaran mereka kemarin sore di ruko mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh debaran hangat yang luar biasa hebat. Di saat dunianya kembali diserang oleh orang-orang dari masa lalu, cowok kaku ini kembali berdiri di depannya, menjadi perisai yang paling aman.

Suasana kantin SMA yang tadinya bising oleh bisik-bisik, mendadak hening total setelah serangan verbal dari Rama yang begitu menohok. Arini tampak kelabakan, wajahnya memerah menahan malu karena aib masa lalunya dikuliti habis-habisan di depan umum.

Naira, yang kini merasa memiliki kekuatan penuh karena Rama berdiri kokoh di depannya, melangkah maju dari balik punggung cowok itu. Matanya yang tajam dan berkaca-kaca menatap lurus ke arah Arini yang mulai salah tingkah.

"Arini," panggil Naira, suaranya bergetar namun sarat akan penekanan yang dingin. "Kamu jangan pernah merasa diri kamu lebih baik dari siapa pun di sini. Orang baik mana yang tega merebut milik orang lain? Orang baik mana yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri demi cowok kayak dia?"

Naira menunjuk Arga dengan tatapan paling jijik yang pernah dia miliki. Arini yang ditunjuk seperti itu langsung bungkam, merapatkan bibirnya rapat-rapat sambil meremas ujung seragamnya. Teman-teman di sekitar mereka mulai berbisik sinis, memandang Arini dengan tatapan menghakimi.

Belum selesai sampai di situ, Naira mengalihkan pandangan menghunusnya tepat ke manik mata Arga. Cowok hits itu masih berusaha memasang wajah angkuh, walau rahangnya sudah mengeras menahan amarah.

"Dan buat kamu, Arga..." Naira tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh penghinaan. "Kamu merasa kamu lebih baik dari Rama hanya karena kamu lebih kaya, Arga? Oh, tidak. Kamu gak lebih baik dari siapa pun. Bahkan, kamu adalah laki-laki terbusuk dan paling hina yang pernah aku kenal seumur hidupku!"

DEG!

Kata-kata Naira yang telak dan tanpa ampun itu bergema di langit-langit kantin. Arga merasa seperti ditampar di depan ratusan pasang mata yang menonton mereka. Harga dirinya sebagai cowok yang selalu dipuja karena kekayaannya hancur berkeping-keping dalam satu detik.

"Lo...!" Arga hendak maju dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, namun Rama dengan sigap menggeser tubuhnya, kembali menutup akses jalan Arga untuk mendekati Naira. Tatapan mata Rama yang tajam seolah memberi peringatan: melangkah satu senti lagi, perban di tanganku gak akan menghalangi tangan ku untuk menonjok mukamu.

Arga yang melihat gelagat Rama langsung mengurungkan niatnya. Dia tahu betul Rama bukan tandingannya kalau urusan fisik.

"Cabut, Rin! Gak level gue ladenin orang-orang kayak mereka!" cicit Arga keras kepala, mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya yang sudah runtuh. Dia berbalik dengan kasar, menarik lengan Arini, dan berjalan cepat meninggalkan kantin dengan langkah terburu-buru diiringi tatapan remeh dari seisi sekolah.

Setelah sepasang pengkhianat itu hilang dari pandangan, ketegangan di kantin perlahan mencair. Naira mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan rileks. Dia mendongak, menatap punggung tegap Rama yang perlahan berbalik menghadapnya.

Rama menatap Naira dengan mode lempeng andalannya, lalu menyodorkan kembali botol air mineral yang dipegangnya sejak tadi.

"Minum dulu, Ra. Jangan nangis, nanti dikira aku yang bikin kamu repot," ucap Rama pelan, suaranya kembali tenang seolah badai besar baru saja lewat tanpa menyentuhnya.

Naira menerima botol itu, setetes air mata haru akhirnya lolos melewati pipinya. Namun kali ini, dia tersenyum lebar. Rasa kesal karena pertengkaran mereka kemarin di ruko benar-benar sirna. Di tengah ramainya kantin, Naira tahu, keputusannya untuk jatuh cinta pada cowok kaku di depannya ini adalah hal paling tepat yang pernah dia lakukan.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!