SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 BANK MENUNGGU
Dokter datang tidak lama setelah Olivia menyampaikan bahwa pihak bank sudah berada di gedung yang sama.
Pemeriksaan Bu Sari berjalan jauh lebih cepat dari yang Arkan bayangkan. Tidak ada antre panjang, tidak ada petugas yang menyuruh mereka bolak-balik loket, tidak ada tatapan lelah dari orang yang menganggap pasien biasa harus menunggu giliran tanpa kepastian.
Semua sudah diatur.
Dokter penyakit dalam memeriksa tekanan darah Bu Sari, menanyakan keluhan, riwayat sakit, pola makan, kualitas tidur, dan rasa nyeri yang sering ia tahan. Setelah itu, perawat membawa Bu Sari untuk pemeriksaan darah, rekam jantung, dan beberapa pemeriksaan tambahan.
Naya ikut menemani ibu mereka.
Arkan menunggu di ruang privat bersama Olivia.
Tidak sampai satu jam, hasil awal keluar.
Dokter menjelaskan dengan bahasa yang tenang. Bu Sari tidak mengalami kondisi gawat, tetapi tubuhnya terlalu lama dipaksa bertahan. Tekanan darahnya tidak stabil, kadar gula dan kolesterol perlu diawasi, dan tanda-tanda kelelahan kronis cukup jelas. Ia butuh pola makan lebih baik, istirahat cukup, kontrol rutin, dan pemeriksaan lanjutan beberapa minggu ke depan.
Bu Sari tampak ingin berkata bahwa semua itu tidak perlu.
Namun Arkan lebih cepat.
“Ambil paket perawatan terbaik yang sesuai kebutuhan Ibu,” katanya kepada dokter.
Dokter mengangguk profesional. “Baik, Pak. Kami akan buatkan jadwal kontrol dan rekomendasi lengkap.”
Bu Sari menoleh ke Arkan.
Arkan hanya menatapnya lembut, tetapi tegas.
“Bu, ini sudah keputusan.”
Tidak ada perdebatan panjang.
Bu Sari akhirnya diam.
Naya juga tidak membantah. Justru ia terlihat lega, seperti seseorang yang akhirnya melihat ibunya tidak lagi disuruh kuat sendirian.
[Sistem mencatat keputusan kesehatan.]
[Status: tepat.]
[Catatan: Tuan Rumah akhirnya memahami bahwa tubuh ibu tidak bisa diperbaiki dengan kalimat “nanti kalau ada uang”.]
Arkan menatap layar ponselnya sekilas, lalu menyimpannya kembali.
Setelah urusan dokter selesai, Olivia langsung berdiri.
“Pak Arkan, pihak bank sudah menunggu di ruang pertemuan sebelah. Saya sarankan pertemuan ini tidak lebih dari tiga puluh menit.”
Arkan mengangguk.
“Baik.”
Bu Sari dan Naya tetap di ruang privat dengan ditemani perawat. Olivia sudah mengatur makanan ringan dan minuman hangat untuk mereka, lalu membawa Arkan melewati koridor eksekutif menuju ruangan lain.
Langkah Arkan terasa lebih mantap.
Bukan karena ia sudah sepenuhnya terbiasa.
Melainkan karena ia mulai sadar bahwa semakin lama ia ragu, semakin banyak orang akan mencoba mengatur dirinya.
Di depan ruang pertemuan, Olivia berhenti sebentar.
“Pak Arkan,” katanya pelan, “di dalam ada Nadira dan dua pejabat senior bank. Mereka akan sangat sopan, tetapi tetap punya kepentingan.”
“Kepentingan apa?”
“Menjaga Bapak tetap menjadi nasabah mereka.”
Arkan menatap pintu.
Sistem muncul di layar ponsel.
[Pihak bank memiliki motivasi tinggi.]
[Tujuan utama: mempertahankan dana.]
[Tujuan sekunder: menawarkan produk.]
[Tujuan terselubung: memahami siapa sebenarnya Tuan Rumah.]
[Rekomendasi: bicara singkat, jangan terlihat mudah diarahkan.]
Arkan memasukkan ponsel ke saku.
“Masuk.”
Olivia membuka pintu.
Di dalam ruangan, tiga orang langsung berdiri.
Seorang perempuan yang suaranya Arkan kenali dari telepon kemarin berada di tengah. Nadira. Usianya sekitar tiga puluhan, rapi, senyumnya profesional, tetapi matanya menyimpan ketegangan yang halus.
Di sebelahnya ada pria berkacamata dengan jas abu-abu. Satu lagi pria lebih tua, mungkin pimpinan cabang atau pejabat wilayah.
Mereka semua menunduk sopan.
“Selamat pagi, Pak Arkan,” kata Nadira. “Terima kasih sudah berkenan bertemu.”
Arkan duduk setelah Olivia menarik kursi untuknya. Gestur itu sederhana, tetapi langsung mengubah suasana ruangan. Bukan Arkan yang datang meminta layanan. Mereka yang menunggu keputusan Arkan.
“Silakan langsung ke inti,” kata Arkan.
Nadira tampak sedikit terkejut, tetapi segera menguasai diri.
“Tentu, Pak. Pertama, kami ingin memastikan seluruh dana Bapak berada dalam status aman. Tidak ada blokir, tidak ada kendala hukum, dan sistem kami sudah menempatkan rekening Bapak dalam perlindungan prioritas tertinggi.”
Pria berkacamata menambahkan, “Kami juga menyarankan diversifikasi rekening dan pembentukan beberapa lapisan pengamanan transaksi agar aktivitas keuangan Bapak tidak terpusat di satu jalur.”
Olivia menatap pria itu. “Dokumen teknisnya nanti kirimkan kepada saya. Pak Arkan tidak perlu dibebani detail produk di pertemuan pertama.”
Pria itu langsung mengangguk. “Tentu, Bu Olivia.”
Arkan melirik Olivia sekilas.
Efisien.
Sistem memberi komentar.
[Subjek Olivia Tan berhasil memangkas basa-basi bank.]
[Nilai guna: tinggi.]
Nadira melanjutkan dengan lebih hati-hati.
“Kami juga ingin menawarkan relationship manager khusus untuk kebutuhan Bapak, layanan transaksi properti, private investment, fasilitas kartu prioritas, serta akses lounge dan layanan concierge.”
Arkan tidak terlihat antusias.
Bukan karena ia tidak mengerti semua itu berguna.
Tetapi karena sebagian besar hal itu belum menjadi fokusnya.
“Saya butuh tiga hal,” kata Arkan.
Ketiga orang bank itu langsung memperhatikan.
“Satu, semua komunikasi lewat Olivia kecuali saya minta langsung. Dua, keluarga saya tidak boleh dihubungi. Tiga, transaksi kesehatan, pendidikan, rumah, dan kendaraan hari ini harus berjalan tanpa gangguan.”
Nadira mengangguk cepat. “Bisa, Pak.”