Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Melihat kedatangan Nona Liu ke villa bunga dan keberaniannya yang menerobos masuk ke dalam kamarnya membuat Pangeran Zhao Li sangat marah. Apalagi melihat Mei Yin ditampar di depan matanya membuat Pangeran Zhao Li semakin marah dan mengambil pedang yang dibawa Liang Yi dan mengarahkannya ke leher wanita itu.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena telah menyakiti wanita yang sangat aku cintai," ucap Pangeran Zhao Li dengan marah sambil mengangkat pedangnya ke arah Nona Liu.
"Jangan lakukan itu Paduka. Maafkanlah permaisuri, aku mohon," ucap Mei Yin sambil duduk bersujud di depan Pangeran.
Bukan hanya Mei Yin yang memohon, tapi Liang Yi juga ikut memohon kepada sahabatnya itu agar tidak melakukan hal yang bisa saja membuat sahabatnya itu menyesal.
Melihat Mei Yin yang duduk dan bersujud di depannya membuat hati Pangeran Zhao Li menjadi luluh. Perlahan, Liang Yi mengambil pedang di tangan Pangeran Zhao Li dan menyarungkan kembali pedang itu.
"Bangkitlah, kamu tidak usah memohon untuk wanita ini. Dia tidak pantas untuk mendapatkan rasa hormat darimu," ucap Pangeran Zhao Li sambil memegang bahu Mei Yin dan mengajaknya untuk berdiri.
"Maafkan, hamba. Hamba hanya ingin menemani Pangeran karena hari ini adalah hari peringatan kematian Ibu Suri," ucap Mei Yin sambil menunduk di depan Nona Liu.
"Sudah puas kamu? Sekarang juga kamu kembali ke kamar dan tunggu aku di sana!!" ucap Pangeran Zhao Li menyuruh Nona Liu untuk pergi.
Dengan menahan air mata dan rasa takut yang sempat merasuk di hatinya karena Pangeran Zhao Li yang hampir saja membunuhnya, membuat dia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
"Aku minta maaf, karena tadi Permaisuri memaksa untuk masuk. Atas kelalaianku maka silahkan Pangeran memberikan hukuman padaku," ucap Liang Yi sambil duduk bersujud di depan Pangeran Zhao Li.
"Bangkitlah, jangan seperti itu. Aku tahu bagaimana keras kepalanya wanita itu dan kamu pasti kewalahan karena ulahnya itu," jawab Pangeran Zhao Li sambil mengajak sahabatnya itu untuk bangkit.
"Tunggulah di luar, aku ingin berbicara dengan Huanran," lanjut Pangeran Zhao Li dan Liang Yi pun keluar dari tempat itu.
Pangeran Zhao Li kemudian mendekati Mei Yin dan mengelus pipinya yang ditampar oleh Nona Liu. Pipi yang awalnya putih kini berubah memerah. Dengan mesra, Pangeran Zhao Li mengecup pipinya itu dan mendekap tubuh gadis itu kedalam pelukannya. "Maafkan aku, maafkan aku karena dia telah menyakitimu. Aku tidak akan membiarkannya menyakitimu lagi."
Perlahan, Mei Yin melepaskan pelukan Pangeran Zhao Li dan menatapnya dengan air mata yang mulai jatuh di sudut matanya.
"Maafkan aku, jangan menangis aku mohon," pinta Pangeran Zhao Li sambil menghapus air mata gadis itu.
"Aku tahu perasaan Pangeran sangat tulus padaku. Aku tahu Pangeran begitu mencintaiku, tapi aku minta maaf karena aku tidak mungkin bisa menerima Pangeran. Aku mencintaimu dengan setulus hatiku, tapi aku takut rasa cinta ini akan melukai kita berdua. Izinkan aku untuk pergi dari kehidupanmu dan biarkan semesta yang akan menentukan jodoh kita. Andai semesta mempertemukan kita kembali, maka aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," ucap Mei Yin dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.
Pangeran Zhao Li terdiam. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Dia tidak ingin merasakan kerinduan yang bisa saja membunuhnya secara perlahan. "Tidak bisakah kamu terus menemaniku di sini? Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku ingin menjalani kehidupan ini bersamamu. Àpakah kamu ingin melihatku tersiksa karena menahan kerinduanku padamu?"
Mei Yin kemudian memeluk tubuh Pangeran Zhao Li dan menangis dalam pelukannya. "Aku ingin melakukan seperti apa yang kamu harapkan, tapi keadaan yang memaksa kita untuk berpisah. Aku mencintaimu, tapi rasa cinta ini hanya akan menyakiti kita berdua. Biarkan waktu yang akan mempertemukan kita kelak."
Mei Yin kemudian melepaskan pelukannya dan menundukkan wajahnya seraya memberi hormat pada Pangeran Zhao Li dan diapun melangkah pergi meninggalkan Pangeran Zhao Li yang lemas dan terduduk di lantai kamar dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
Liang Yi yang melihat Mei Yin keluar dengan sisa air mata yang masih membekas tak kuasa menahan rasa sedihnya. Dia paham kalau saat ini gadis itu sedang bersedih.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Liang Yi ketika Mei Yin sudah berada di dekatnya. Mei Yin hanya mengangguk dan berjalan di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam membisu. Mereka tidak berkata sepatah katapun. Liang Yi paham dan memilih untuk diam, walau sebenarnya dia ingin memeluk gadis itu dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Aku ingin kita pergi ke suatu tempat." Tiba-tiba saja Mei Yin membuka kata dan Liang Yi pun menuruti permintaannya itu.
Setelah melewati beberapa ruas jalan, mereka akhirnya sampai di suatu padang bunga yang cukup luas. Tempat itu tidak asing bagi Liang Yi karena dia sering melewati padang bunga itu. Namun, dia tidak menyangka kalau padang bunga itu terlihat sangat indah.
Saat itu, bunga-bunga yang berwarna putih itu sedang bermekaran. Entah mengapa, bunga-bunga di tempat itu tidak pernah berhenti mekar. Setiap kali dia datang, bunga-bunga itu selalu menyambutnya dengan aroma harum yang tercium dari serbuk sari. Terkadang, bunga-bunga itu berterbangan mengikuti arah angin seakan bunga-bunga itu ingin menyambut kedatangannya.
Liang Yi berjalan di belakang mengikuti langkah Mei Yin yang terlihat semakin cepat, seakan dia ingin segera sampai di tujuannya. Perlahan, langkah Liang Yi terhenti ketika melihat Mei Yin yang tiba-tiba saja duduk dan menangis di depan sebuah gundukan tanah yang di tumbuhi sebuah pohon sakura yang mulai mengeluarkan bunganya yang berwarna merah muda.
Tanpa berkata apapun, Liang Yi hanya bisa memandangi gadis itu yang mulai sesenggukan dan sesekali menyeka air matanya.
"Sepertinya itu adalah sebuah makam. Siapa sebenarnya yang dimakamkan di tempat ini dan mengapa Huanran menangis di depan makam itu?" batin Liang Yi dalam hati hingga membuatnya semakin penasaran.
Tiba-tiba saja angin meniup dengan perlahan dan menjatuhkan bunga-bunga sakura yang berterbangan di atas kepala mereka.
Mei Yin kemudian menghapus air matanya seakan dia mengerti kalau angin yang bertiup dengan lembut itu seakan menghadirkan seseorang yang mengelus lembut wajahnya. Dia memejamkan matanya dan merasakan sentuhan angin yang membelai wajahnya itu. Dengan mata yang masih terpejam, Mei Yin menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang sangat indah seakan dia sedang tersenyum kepada kekasih hatinya. Liang Yi begitu terpana dengan senyuman itu hingga membuatnya tak bisa berpaling. Perlahan, angin itu mulai menghilang bersamaan dengan Mei Yin yang mulai membuka kedua matanya.
Liang Yi merasa heran dengan kejadian itu, tapi dia enggan bertanya. Dia merasakan sesuatu yang aneh di tempat itu. Sesuatu yang sulit untuk dia pahami.
"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Mei Yin yang bangkit dari depan gundukan tanah itu dan melangkah pergi. Liang Yi yang masih heran hanya bisa mengikuti langkah gadis itu dari belakang.
"Aku tahu kamu pasti bertanya-tanya, tapi untuk saat ini aku belum bisa menjelaskan padamu. Aku janji, suatu saat nanti aku pasti akan menceritakan tentang sosok yang dimakamkan di tempat ini dan juga tentang diriku," ucap Mei Yin yang sudah terlihat lebih tenang.
Liang Yi hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum. Di dalam hatinya, dia merasa bersyukur karena gadis itu akan kembali lagi ke rumahnya dan kejadian tadi pasti akan membuatnya tidak ingin kembali lagi ke istana.
Di dalam kamarnya, Nona Liu sedang duduk dengan wajahnya yang terlihat pucat. Dia masih merasakan sisa ketakutan karena baru kali ini dia melihat Pangeran Zhao Li yang terlihat sangat marah.
Tiba-tiba saja dia terkejut ketika melihat Pangeran Zhao Li masuk ke kamarnya. Dengan perasaan takut, Nona Liu kemudian duduk dan berlutut di depan Pangeran Zhao Li. "Maafkan kelancangan hamba, itu semua hamba lakukan karena hamba cemburu melihat kedekatan Paduka dengan gadis itu," ucap Nona Liu dengan suaranya yang bergetar.
"Jangan pernah kamu menyakitinya lagi. Hari ini adalah hari pertama dan terakhir aku memasuki kamar ini. Dan mulai sekarang, kamu bukanlah istriku lagi. Aku tahu niatmu untuk menjadi permaisuri karena kamu ingin keluargamu memiliki kekayaan dan memperoleh kekuasaan atas namamu. Kalau kamu masih menginginkan itu, maka tetaplah menjadi permaisuri dan jangan coba-coba menggangguku dengan rengekan seakan kamu sangat mencintaiku," ancam Pangeran Zhao Li yang membuat Nona Liu menundukkan wajahnya.
"Apakah aku tidak pantas untuk mencintaimu? Apakah kamu tidak merasa kalau aku melakukan semua ini karena aku cemburu? Apakah kamu tahu kalau aku sudah mencintaimu sejak kita masih kecil dulu?" tanya Nona Liu dengan air mata yang mulai menetes.
"Aku tidak peduli dengan perasaanmu padaku karena di hatiku hanya ada Huanran dan tempatmu tidak pernah ada di hatiku," jawab Pangeran Zhao Li sambil melangkah keluar dari kamar.
Nona Liu kemudian bangkit dan segera memeluk Pangeran Zhao Li dari belakang. "Aku mencintaimu, aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini," ucap Nona Liu memohon sambil memeluk tubuh Pangeran Zhao Li dengan erat. Pangeran Zhao Li tidak mempedulikan isakan gadis itu. Dia kemudian melepaskan pelukan gadis itu dan melangkah pergi meninggalkannya yang sudah terduduk di lantai kamar dengan isakan tangis yang kian menjadi.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, jangan harap kamu bisa dimiliki oleh gadis itu," ucap Nona Liu dengan sorot matanya yang tajam karena menahan rasa amarah yang sudah tidak mampu lagi dia tahan.
Semenjak kejadian itu, Pangeran Zhao Li tidak pernah bertemu lagi dengan Mei Yin. Yang bisa dia lakukan hanyalah menanyakan kabar gadis itu dari Liang Yi. "Apakah Huanran bahagia selama tinggal di rumahmu?" tanya Pangeran Zhao Li ketika bertemu dengan Liang Yi.
"Melihatnya yang selalu bersama ibu dan adikku, aku pikir mungkin saja dia bahagia. Namun, aku tidak bisa memastikan apakah dia benar-benar bahagia atau tidak karena aku tidak bisa menerka perasaannya."
"Apa menurutmu aku terlalu egois karena aku mencintainya? Apa menurutmu keegoisan cintaku telah melukainya?"
Liang Yi terdiam. Entah dia harus menjawab apa. Apa dia harus mengatakan kalau dia juga mencintai gadis itu dan berharap agar Pangeran Zhao Li melepaskannya? Apakah dia egois kalau dia mengakui kalau dia juga mencintai gadis itu dan berharap kalau dialah yang lebih pantas mendampingi gadis itu karena dengan begitu tidak ada hati yang akan terluka?
"Kenapa kamu tidak menjawab? Apa pertanyaanku terlalu sulit?"
"Kalau kamu sangat mencintainya, maka biarkan dia bahagia walau tanpa dirimu di sampingnya. Lebih baik dia bahagia tanpamu daripada dia harus terluka saat bersamamu. Mungkin itu adalah jalan yang terbaik dan biarkan waktu yang akan menentukan pada siapa akhirnya hatinya akan berlabuh," jawab Liang Yi seakan semua perkataannya itu juga di tujukan untuk dirinya.
"Kalau itu adalah saranmu, aku akan ikuti. Aku akan membiarkan dia bahagia di sana walau aku sangat merindukannya. Aku akan biarkan hatiku merana asalkan dia tidak terluka saat bersamaku. Liang Yi, bantulah aku agar bisa melewati semua ini. Aku akan berusaha menjadi Raja yang baik, Raja yang adil dan bijaksana sesuai dengan permintaan Huanran. Bantulah aku agar aku tidak terlalu memikirkannya, karena sekarang tujuan hidupku hanya menjadi Raja yang sesuai keinginannya walau dia tidak mendampingiku," ucap Pangeran Zhao Li dengan tatapan matanya yang terlihat sedih.
Liang Yi mengangguk tanda mengiyakan. Dia telah bertekad untuk membantu sahabatnya itu untuk menjadi Raja yang adil dan bijaksana. Tanpa mempedulikan perasaanya pada Mei Yin, dia bertekad akan terus membantu sahabatnya itu walau dia tahu kalau mereka berdua mencintai gadis yang sama dan dia memilih untuk memendam perasaannya sampai semesta menentukan ke mana hati gadis itu akan berlabuh.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔